Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DARAH YANG DI JUAL
"Bagaimana dengan Velyn, anak Alea dan Hans?" tanyanya lagi.
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat seperti kabut tebal yang enggan pergi. Aku menatap wajah Tuan Ajimo yang mulai dipenuhi garis-garis keriput akibat waktu dan penderitaan yang ia lalui. Wajahnya yang tadinya dipenuhi keharuan kini berubah menjadi kebingungan.
Aku menghela napas perlahan, mencoba merangkai kata-kata yang paling tidak menyakitkan, padahal kenyataannya begitu keji.
"Velyn telah dijual oleh ayahnya sendiri, Hans, demi kesepakatan bisnis," jelasku dengan suara yang sengaja kupelankan.
Kening Tuan Ajimo berkerut dalam. Ia tampak tidak mengerti, seolah telinganya menolak untuk memproses kalimat yang baru saja meluncur dari bibirku.
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Ajimo, suaranya parau dan penuh tanda tanya.
Aku menarik napas panjang, menenangkan deburan di dadaku yang terasa sesak. Dengan ketenangan yang kupaksakan, aku menjelaskan, "Velyn telah dinikahkan dengan seorang pria yang usianya sebaya denganmu, Paman. Aku tidak tahu persis siapa yang membawa Velyn pergi. Hanya saja, sebelum Alea meninggal, ia sempat memohon kepadaku untuk menyelamatkan putrinya. Aku menyesal... aku tidak bisa menyelamatkannya."
Suaraku bergetar di akhir kalimat. Rasa bersalah itu seperti duri yang menusuk ulu hati, menusuk tepat di bagian yang paling sensitif.
Mendengar pernyataanku, raut wajah Tuan Ajimo berubah drastis. Amarah yang membara membakar habis sisa kebingungannya. Matanya memerah seperti bara api yang disiram minyak. Dadanya naik-turun dengan napas yang tidak beraturan, memburu seperti ombak yang menghantam karang di tengah badai. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hans! Akan kubalas kau!" geram Tuan Ajimo, suaranya menggelegar penuh emosi yang tertahan selama belasan tahun. Tubuhnya yang masih lemah seketika dialiri kekuatan oleh dendam.
Melihat kondisi Tuan Ajimo yang semakin tidak stabil, Vanka segera datang mendekat. Dengan sigap, ia mendekap lengan Tuan Ajimo dan menuntunnya perlahan menuju ranjang.
"Sudah, Paman. Lebih baik Paman beristirahat dulu. Pulihkan kesehatan Paman. Jika Paman sudah pulih, kita akan menjebloskan Manajer Hans beserta semua yang terlibat ke dalam penjara. Kita tidak boleh gegabah," ujar Vanka dengan suara lembut namun tegas, berusaha menenangkan lautan amarah yang bergolak di dalam diri pamannya.
Tuan Ajimo akhirnya mengangguk pasrah. Ia membaringkan tubuhnya yang masih ringkih di atas kasur yang empuk. Napasnya masih berat. Kami pun sepakat untuk meninggalkan Tuan Ajimo di dalam kamar agar ia dapat memulihkan tubuh dan jiwanya yang terkoyak.
_Kreekk..._ Pintu kayu itu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang penuh tanda tanya di luar kamar.
Baru beberapa langkah aku menjauh dari pintu, Vanka membuatku terkejut. Tanpa memberi aba-aba, ia tiba-tiba menarik tanganku dengan kasar.
"Vanka, ada apa? Lepaskan!" seruku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya yang begitu erat.
"Naya, aku ingin tahu semuanya," pinta Vanka, tatapannya tajam menghujam tepat ke mataku.
"Apa yang ingin kau tahu?" tanyaku, mau tidak mau aku harus mendongakkan kepala menatap mata Vanka karena tubuhku yang sedikit mungil dibandingkan dengannya.
"Semuanya, Naya. Apa hubunganmu dengan Manajer Hans, dan bagaimana kau bisa menyelamatkan Tuan Ajimo?" ujar Vanka dengan nada yang begitu tegas, tidak memberi ruang untuk kebohongan.
Aku menarik kursi di samping meja bundar dan duduk. Kucoba merangkai kembali kepingan-kepingan ingatan kelam milik tubuh yang kupinjam ini.
"Ini semua berawal dari Hans yang memfitnahku. Ia mengatakan aku merayunya, padahal dialah yang memakai namaku untuk melakukan hubungan kotornya bersama Mely di hotel. Dengan sengaja, ia menyuruh seorang pria untuk memberi obat di dalam minumanku. Ia menganggapku lemah, seakan-akan aku berada di dalam genggamannya. Namun, aku mulai melawannya dan mencari bukti agar ia bisa jatuh," jelasku secara rinci kepada Vanka.
Mereka semua diam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulutku seolah-olah mereka sedang mendengarkan sebuah pengakuan dosa yang menyayat hati. Keheningan menyelimuti kami, hanya detak jam dinding yang terdengar samar.
"Aku akan membantu kalian. Manajer Hans tidak lama lagi akan tahu kalian berada di kedai ini. Tempat ini sudah tidak aman lagi," ujar Vanka sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menunjukkan keseriusan seorang pemimpin.
Puri dan Alex secara bersamaan mengangguk setuju dengan perkataan Vanka. "Benar, Naya. Tempat ini sudah tidak aman," sahut mereka hampir bersamaan.
Dani yang sejak tadi diam mendengarkan pernyataan itu akhirnya angkat bicara dan memberi ide, "Bagaimana jika kalian tinggal di rumahku saja? Di sana lebih aman."
"Tidak. Naya dan Tuan Ajimo akan tinggal di apartemenku. Mereka bisa tinggal di sana untuk sementara waktu, dan aku akan memperketat keamanan untuk kalian," ujar Vanka memberi penekanan. Wajar saja ia bisa berkata demikian, ia memang berasal dari keluarga konglomerat dan merupakan seorang CEO perusahaan kosmetik terbesar di kota ini.
Mendengar itu, Dani melangkah menghampiri Vanka dan menarik kerah kemeja Vanka dengan emosi. "Jika terjadi sesuatu kepada Naya, kau tidak akan kumaafkan," ancamnya dengan dada membusung, menunjukkan rasa cemburu dan kekhawatiran yang meluap.
"Sudah cukup! Bukan waktunya kalian untuk bertengkar!" ucap Puri, sigap memisahkan Vanka dan Dani sebelum perkelahian benar-benar pecah.
Akhirnya, keputusan pun diambil. Aku dan Tuan Ajimo bersiap untuk pindah ke apartemen milik Vanka. Kami melangkah keluar dari kedai Dani. Puri dan Alex membantuku membawa beberapa barang seadanya. Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, Dani tiba-tiba menarik tanganku lembut, sementara Tuan Ajimo dan Vanka sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Tanpa kusangka, Dani memelukku dengan erat.
"Jaga dirimu, Naya. Andai saja waktu bisa diulang, aku akan selalu mengejarmu," bisik rayuan yang keluar dari mulut Dani, suaranya begitu tulus dan penuh penyesalan.
Aku melepaskan pelukan Dani dengan lembut dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Dani, atas semua kebaikanmu. Semua itu hanya masa lalu. Sekarang kita hanya berteman dan itu tidak akan pernah berubah," jawabku, memberi penegasan kepada cinta pertama Naya, pemilik asli tubuh ini.
Aku berbalik menatap Puri dan Alex. "Puri, Alex, aku harap kalian baik-baik saja. Terima kasih. Jaga diri kalian. Untuk sementara waktu kita tidak akan bertemu. Aku takut para anak buah Hans mengawasi kita dan membahayakan kalian," ujarku sambil tersenyum dan menggenggam tangan mereka dengan hangat.
Aku masuk ke dalam mobil. Puri dan Alex menatapku dengan wajah sedih, seolah hati mereka tidak sanggup untuk berpisah walaupun hanya sementara waktu. Air mata Puri menetes dengan perlahan, membasahi wajah imutnya yang polos. Alex berusaha menenangkannya dengan memegang lengannya dengan lembut.
Entah kenapa, rasanya begitu berat untuk berpisah dengan mereka. Setiap hari kami selalu bersama di rumah kecil itu. Di duniaku yang dulu, aku tidak pernah merasakan apa arti keluarga yang sesungguhnya. Namun, di dunia yang modern ini, untuk pertama kalinya aku merasakan arti kekeluargaan yang hangat, seperti mentari pagi yang menyinari hati yang beku.
Mobil melaju dengan cepat, menerobos angin malam kota. Vanka yang duduk di samping kursi kemudi sibuk dengan benda pipih bercahaya di tangannya, entah apa yang sedang ia lakukan.
Setelah keheningan panjang di dalam mobil berlangsung, mobil itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi ke langit. Aku melihatnya dan tubuhku sedikit merinding. Bagaimana bisa manusia modern membangun istana setinggi itu, yang seolah-olah ingin menyentuh langit?
Vanka membukakan pintu untukku dan menyodorkan tangannya seolah ingin membantuku keluar dari dalam mobil. Aku tidak menggapai tangannya dan keluar sendiri, lalu diikuti oleh Tuan Ajimo. Kami berjalan memasuki gedung tinggi itu. Vanka membantu Tuan Ajimo berjalan karena tubuhnya yang masih sedikit lemah.
Di dalam gedung, banyak orang berlalu-lalang. Lampu kristal bergelantungan dengan megah, memantulkan cahaya yang silau. Tibalah kami di sebuah ruang kecil yang bisa berjalan, dengan kaca transparan, sehingga pemandangan keindahan kota bisa terlihat jelas dari dalamnya. Namun, aku tidak bisa menikmati itu semua. Ruang kecil berjalan yang disebut lift itu membuatku sedikit pusing, dunia terasa berputar. Hampir saja aku terjatuh.
"Naya, kau tidak apa-apa?" ujar Vanka sigap menangkap tubuhku yang hampir terjatuh.
Aku menggeleng dan memberi isyarat bahwa aku baik-baik saja.
Ruang kecil berjalan itu tiba-tiba berhenti dengan hentakan pelan, sehingga membuatku panik bukan kepalang.
*Bersambung...*