NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 Kakak yang Mengawasi dari Jauh

Pagi itu Alkina terbangun dengan perasaan aneh. Mimpi tentang Arkan semalam masih terasa begitu nyata. Suara hangat itu, cara seseorang menggenggam tangannya semuanya terasa terlalu jelas untuk sekadar mimpi biasa.

“Kak Arkan…” bisiknya pelan.

Entah kenapa dadanya terasa sesak sekaligus hangat, sudah bertahun-tahun ia membayangkan sosok kakaknya hanya dari cerita dan foto lama.

Namun semalam rasanya seperti Arkan benar-benar ada di dekatnya.

Di lantai bawah, Mira sedang berbicara serius dengan seseorang melalui telepon.

“Dia mulai bergerak lebih cepat.” Suara laki-laki di seberang terdengar berat.

“Hendro menyewa beberapa orang untuk mencari lokasi rumah.” Tatapan Mira langsung berubah dingin.

“Berapa dekat mereka?” tanya Mira.

“Belum menemukan titik pasti. Tapi mereka mulai menyebar di area sekitar.” Mira memejamkan mata sebentar.

Semuanya mulai semakin berbahaya dan yang paling mengkhawatirkan Alkina sama sekali belum siap menghadapi semua kebenaran ini.

“Apa Tuan muda akan muncul?” tanya laki-laki itu pelan.

Mira menoleh ke arah lantai atas tempat Alkina berada.

“Belum saatnya.”

“Tapi dia terus mengawasi Nona Alkina.”

“Saya tahu.” Dan itu memang benar.

Di tempat lain…

Sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan dekat toko buku tempat Alkina dulu bekerja.

Seorang laki-laki duduk diam di kursi belakang sambil melihat rekaman CCTV lama.

Di layar terlihat Alkina membantu anak kecil memilih buku sambil tersenyum kecil, tatapan laki-laki itu perlahan melembut.

“Ternyata dia masih suka buku…” Suara pria itu nyaris seperti bisikan.

Anak buahnya yang duduk di depan tidak berani berbicara karena hanya saat melihat Alkina… wajah dingin bosnya berubah sedikit manusiawi.

“Tuan muda,” ujar laki-laki itu hati-hati, “apakah Anda yakin tidak ingin bertemu nona sekarang?”

Laki-laki itu terdiam sangat lama.

“Aku belum siap bertemu dengan dia.” Kalimat itu terdengar lirih.

Untuk orang lain, laki-laki itu mungkin terlihat kuat dan penuh kendali amun sebenarnya ia takut.

Takut Alkina membencinya karena menghilang bertahun-tahun. Takut Alkina menangis saat tahu semua kebenaran. Dan yang paling menyakitkan takut melihat seberapa hancur Alkina sekarang.

“Aku gagal melindungi dia, aku...” bisiknya pelan.

Sementara itu di rumah keluarga Wiratmaja Ranti mulai berubah drastis. Ia tidak lagi menghadiri acara sosial. Tidak lagi peduli penampilan. Dan hampir setiap malam menangis di kamar Alkina sama seperti saat ia kehilangan Arkan.

Setiawan bahkan mulai khawatir melihat kondisi istrinya yang sekarang.

“Kamu harus makan.” Ratna hanya diam sambil memeluk buku catatan lama milik Alkina.

“Ayah…” suaranya sangat pelan.

“Apa Alkina masih mau memanggilku Ibu kalau kita bertemu nanti?” Pertanyaan itu membuat Setiawan terdiam karena bahkan dirinya pun tidak tahu jawabannya.

Tok

Tok

Tok

Pintu rumah keluarga Wiratmaja diketuk pelan malam itu. Pelayan membuka pintu dan menemukan sebuah amplop lagi.

Tanpa nama pengirim lagi.

Setiawan langsung membawanya ke ruang kerja.

Ranti yang melihat amplop itu langsung tegang karena sejak paket foto kemarin mereka tahu seseorang sedang mengawasi mereka.

Setiawan membuka amplop perlahan dan isi di dalamnya membuat wajahnya membeku. Sebuah foto Alkina.

Foto terbaru. Gadis itu sedang tertidur di sofa sambil memeluk Rian kecil. Namun di foto itu wajah Rian tidak terlihat.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding saat di rumah mereka. Ranti langsung menangis melihatnya.

“Alkina sayang…” Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia melihat putrinya tampak damai.

Namun di balik foto itu ada tulisan.

“Dia akhirnya bisa tidur tanpa rasa takut.” Tubuh Ranti langsung gemetar hebat.

Karena kalimat itu terlalu menyakitkan berarti selama tinggal bersama mereka Alkina bahkan tidak pernah merasa aman untuk tidur.

Setiawan membalik foto itu ada satu kalimat tambahan.

“Kalau kalian benar-benar menyesal jangan hancurkan ketenangan yang baru dia dapat.”

Tatapan Setiawan perlahan berubah serius. “Orang ini…”

Ranti mengusap air matanya. “Dia melindungi Alkina.”

Dan anehnya untuk pertama kalinya Ranti merasa berterima kasih pada seseorang yang menyembunyikan anaknya karena orang itu memberi Alkina sesuatu yang gagal ia berikan selama bertahun-tahun.

Rasa aman.

Di sisi lain Sisil mulai kehilangan kendali.

Hari-harinya berubah kacau. Teman-temannya menjauh. Uangnya habis Ranti benar-benar memperlakukannya seperti orang asing sekarang.

“Aunty bahkan nggak lihat aku lagi…” Tangisnya pecah saat berbicara pada Livia.

Bukannya menenangkan anaknya, perempuan itu justru tampak kesal.

“Berhenti lah nangis! Dasar cengeng, dikit-dikit nangis.”

“Aku takut ma…” ucap Sisil.

“Kamu pikir Mama nggak takut hah!” Livia berjalan mondar-mandir panik.

“Kalau Alkina kembali, habis semuanya!” Sisil menggigit bibir.

Lalu perlahan teringat sesuatu. Foto Alkina yang diam-diam dikirim seseorang ke ponselnya beberapa hari lalu.

Foto blur dari kejauhan dan di belakang foto terlihat tanda nama jalan kecil. Tatapan Sisil perlahan berubah.

“Mungkin…” bisiknya pelan, “…aku tahu harus mulai cari dari mana.” ucapnya sambil mengusap air matanya.

******

Hari-hari berikutnya berubah pelan namun terasa aneh bagi Alkina.

Awalnya ia tidak terlalu memikirkan apa pun sampai ia mulai menyadari beberapa hal kecil.

Laki-laki asing yang selalu berada tidak jauh dari rumah, mobil hitam yang kadang parkir di ujung jalan, dan Mira yang kini hampir tidak pernah membiarkannya pergi sendirian.

“Kak Alkina, tunggu aku!” seru Rian kecil saat Alkina hendak keluar halaman.

Namun sebelum Alkina membuka pagar, seorang laki-laki berbadan besar sudah lebih dulu mendekat.

“Biar saya saja yang antar nona.” Alkina langsung mengernyit.

“Tidak perlu, pak. Toko buku dekat kok.” laki-laki itu tersenyum sopan.

“Ini perintah dari bu Mira.”

Deg.

Lagi, kalimat itu lagi yang ia dengar. Sudah hampir seminggu semua kegiatan Alkina selalu diawasi diam-diam. Awalnya ia mengira Mira hanya khawatir namun sekarang rasanya jauh lebih besar dari itu.

Malam harinya Alkina duduk di ruang tamu sambil membaca buku, tetapi fokusnya buyar. Tatapannya beberapa kali tertuju ke jendela. Di luar rumah, ia melihat siluet seseorang berdiri di dekat gerbang.

Bukan sekali dua kali, elalu ada orang berjaga.

“Nenek Mira…” Mira yang baru turun tangga langsung menoleh.

“Ada apa Alkina?”

Alkina menutup bukunya perlahan. Wajahnya terlihat serius.

“Sebenarnya siapa aku?” Pertanyaan itu membuat langkah Mira berhenti.

“Apa maksud kamu?” tanya Mira dengan tenang.

“Aku merasa…” suara Alina pelan, “…aku ini seperti disembunyikan.”

Sunyi.

Tatapan Mira melembut namun juga dipenuhi kekhawatiran.

“Kamu takut?” Alina menggeleng kecil.

“Aku cuma bingung... Juga penasaran.”

Mira duduk di sampingnya lalu menggenggam tangan gadis itu lembut.

“Ada beberapa orang yang mungkin bisa menyakiti kamu Alkina.”

Tubuh Alkina langsung menegang.

“Apa itu Sisil?” tebak Alkina.

Setahu Alkina, hanya Sisil yang tidak menyukai dirinya.

Mira tidak langsung menjawab dan diamnya sudah cukup.

“Aku sama sekali tidak mengerti…” suara Alkina mulai bergetar. “Kenapa semuanya jadi seperti ini sekarang?”

Mira mengusap kepala Alkina pelan, lembut.

1
Adinda
kenapa gk lapor polisi
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!