NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Sapaan di Lorong yang Sama

Suasana di sekelilingnya masih riuh, tawa dan candaan terdengar menyenangkan, namun hati Meloudy tetap terpisah, berat dan sunyi. Ia tersenyum, ikut tertawa — namun pikirannya tak lepas dari beban yang ia pikul seorang diri.

Ponsel di saku tasnya tiba-tiba bergetar, berdering pelan di tengah keramaian. Ia meminta izin sebentar, beranjak ke sudut ruangan yang agak sepi, lalu menatap layar. Nama yang muncul membuat napasnya tertahan — Nadine Cesa Wiguna.

Jantungnya berdebar. Sudah bertahun-tahun tak ada kabar.

"Halo…?" jawabnya pelan, suaranya sedikit bergetar.

Suara di seberang sana terdengar hangat, sedikit terengah namun penuh keakraban.

"Meloudy! Ini Kak Nadine! Akhirnya kau angkat, Sayang!"

"Kak Nadine…" Meloudy tersenyum tipis, mata mulai berkaca-kaca.

"Dari mana Kakak menelpon?"

"Dari lobi tunggu bandara! Aku baru saja mendarat! Langsung menelponmu begitu pesawat menyentuh tanah. Meloudy, Kakak sudah di Indonesia."

Meloudy terdiam sejenak, tak percaya.

"Kakak pulang?"

"Iya, pulang. Katakan padaku, kau sekarang di mana?"

"Aku… sedang di Hotel Medina, Kak," jawabnya pelan.

Suara Nadine terdengar terkejut seketika.

"Di hotel? Sedang apa kau di hotel, apa kau sedang bersama pacarmu, Meloudy?"

Mata Meloudy membelalak seketika, pipinya memerah mendengar dugaan itu.

"Eh, tidak, Kak! Tunggu dulu!" serunya sedikit terkejut, buru-buru meluruskan.

"Saya tidak punya pacar! Kakak salah paham!"

"Ah, maafkan Kakak ya…" suara Nadine terdengar malu sekaligus tertawa pelan.

"Kupikir kau datang ke sana berdua dengan seseorang. Lalu kenapa di hotel?"

"Saya bersama teman-teman sekolah dulu, Kak. Reuni sekaligus merayakan ulang tahun teman. Bukan berdua dengan siapa pun," jawab Meloudy, tersenyum getir.

"Belum ada yang namanya pacar bagi ku."

"Baiklah, Kakak mengerti. Maaf ya, Kakak asal nebak saja," ucap Nadine lembut.

"Lalu bagaimana keadaan Ibumu sekarang, Meloudy? Apakah kondisinya membaik? Apakah biaya perawatan sudah terpenuhi? Ceritakan pada Kakak, jangan ditahan sendiri."

Napas Meloudy tercekat. Selama ini ia tak pernah mengeluh, tak pernah memberitahu siapa pun betapa beratnya — tagihan yang menumpuk, kekhawatiran tiada henti, lelah yang tak berujung. Mendengar pertanyaan itu, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh pelan.

"Ibu… kondisinya masih sama, Kak," jawabnya lirih, menahan isak.

"Dokter bilang butuh perawatan lanjutan, dan biayanya… sangat besar. Aku sudah berusaha mencukupi, tapi rasanya tak pernah cukup. Aku tak ingin merepotkan siapa pun, apalagi Kakak."

"Kau tidak pernah merepotkan Kakak," potong Nadine lembut namun tegas.

"Kau keluarga. Dan Kakak ada di sini sekarang. Tetaplah di sana, Kakak ke tempatmu sekarang. Tunggu aku, ya? Kita akan bicara panjang lebar, lalu Kakak menemanimu ke rumah sakit menemui Ibumu. Tidak ada yang perlu kau pikul seorang diri lagi, Meloudy. Kakak sudah datang."

"Iya, Kak… saya tunggu."

Panggilan berakhir. Meloudy menurunkan ponsel perlahan, menyeka air matanya dengan punggung tangan. Dadanya terasa lega, seolah beban yang selama ini menindihnya perlahan terangkat sedikit. Kak Nadine datang. Ia tidak sendirian lagi.

Ia berbalik perlahan kembali ke arah teman-temannya, menyusun senyum yang kali ini terasa sedikit lebih ringan.

"Nah, karena semua sudah lengkap, ayo kita lanjut kulineran! Mumpung lagi kumpul lengkap, tempat makan enak di dekat sini sudah aku catat semuanya!" seru Gita riang, disambut tepuk tangan dan persetujuan teman-teman yang lain.

"Ayo, Meloudy! Ikut juga, pasti seru!" ajak Neneng sambil merapikan tasnya.

Semua mulai berdiri, bersiap beranjak — namun Meloudy menahan mereka dengan lembut, mengangkat tangan pelan.

"Tunggu dulu, teman-teman…" ucapnya tenang namun tegas.

"Kita belum pergi dulu ya."

Gita berhenti bergerak, menatapnya bingung.

"Lho, kenapa? Bukankah tadi kau bilang tidak ada apa-apa?"

Meloudy tersenyum tipis, menenangkan mereka.

"Tadi Kakak sepupuku baru saja menelepon. Dia sedang dalam perjalanan ke sini, mau menyusulku ke hotel ini. Kita tunggu dia datang dulu, boleh? Aku ingin kalian mengenalnya."

Beberapa orang saling berpandangan sejenak, lalu satu per satu kembali duduk.

"Tentu saja boleh," ucap Gita lembut, duduk kembali di sampingnya.

"Kakak sepupumu yang tinggal di luar negeri itu?"

Meloudy mengangguk pelan, matanya berbinar halus.

"Iya. Kak Nadine. Dia baru saja pulang, mendarat di Indonesia hari ini. Rasanya… sungguh aneh, setelah sekian lama akhirnya dia ada di sini."

"Berarti kau tidak sendirian lagi, Meloudy," ucap Neneng tulus.

Meloudy menghela napas panjang, merasa damai mendengar kata-kata itu.

"Ya. Aku tidak sendirian lagi."

**

**

Tak lama kemudian, pintu lobi utama terbuka perlahan. Seorang wanita berjalan masuk, menarik koper kecil di tangan, rambutnya terurai tertiup angin malam, wajahnya tampak lelah namun bersinar hangat. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok yang dirindukannya sekian lama.

Meloudy bangkit berdiri seketika, napasnya tertahan.

"Kak Nadine…"

Ia berjalan mendekat, pelan di awal lalu semakin cepat, tak peduli siapa yang melihat. Nadine melepaskan kopernya, membuka kedua lengannya — dan Meloudy masuk ke dalam pelukan itu, erat, hangat, menumpahkan segala rindu dan lelah yang selama ini dipendam sendiri.

"Meloudy… adik kesayanganku," bisik Nadine lembut, mengusap punggungnya, mencium ubun-ubun adiknya.

"Kau tumbuh dewasa begitu cepat, dan menanggung semuanya sendirian… maafkan Kakak yang baru datang sekarang."

Air mata Meloudy luruh tanpa ditahan lagi.

"Aku kira Kakak tak akan pernah pulang."

"Bagaimana mungkin Kakak tidak pulang? Kau dan Ibumu adalah keluarga. Kakak sepupumu ini tak akan pernah melupakan kalian."

Mereka melepaskan pelukan perlahan. Gita tersenyum lebar, lalu menepuk tangan pelan memberi isyarat ceria.

"Kak Nadine, ayo ikut kami makan! Kami berencana pergi ke tempat makan yang enak di dekat sini, sekalian merayakan kehadiran Kakak! Meloudy juga ikut, kan?"

Meloudy tersenyum setuju, hendak melangkah — namun Nadine menahan lengannya lembut.

"Tunggu dulu, Sayang. Kakak belum sempat menaruh barang-barang ini. Biarkan Kakak menyimpannya di kamar dulu, baru kita pergi bersama. Kakak sudah memesan satu kamar di hotel ini sebelum sampe ke sini."

"Baik, Kak. Aku temani Kakak ke kamarnya."

^^^Bersambung...^^^

1
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah wah, berharga di hatimu ya😄
My_Lucia
aduh... 🫣 melody di jadiin fantasi
My_Lucia
kasian banget sih... kerja capek-capek tapi gak bisa menikmatinya
Myz Pena
benar2 membuatmu terkesan ya vanno sampai hati mu susah melupakan suasana dengan meloudy walau hanya sebentar 🤭
Myz Pena
kehadiran vano bisa saling melengkapi dengan meloudy 👍
Myz Pena
ya harusnya pulang nggak usah lama2 kecuali vano udah demen pada meloudy 🤭
Myz Pena
yuhuuu vano udah muali terdekteksi ada rasa pada meloudy 🤣
Myz Pena
ya ibu mu benar ,, di cocok jadi calon suami mu di masa depan lagi pula dia adalah fans sejatimu meloudy 🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
gila sih si vano. kok aku ngeri ya.
ah cowok kan emang begitu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
duh ternyata si vano begitu ya🤧
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dia di dekat kamu
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
pengemar melody lain nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!