"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."
Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.
Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.
Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam Tangan yang Ditinggal
Langkah kaki Bellatrix Wijaya bergema rapuh di atas lantai beton gudang yang lembap. Kedua lengannya yang gemetar mendekap tubuhnya sendiri, mencoba menghalau dingin yang merayap dari gaun rajutnya yang basah oleh sisa gerimis. Sepatu kulit tipisnya sesekali menginjak palet kayu yang lapuk, menciptakan bunyi derit yang seketika tenggelam oleh gemuruh petir di luar bangunan.
Beberapa menit lalu, dunia di sekelilingnya meledak dalam suara tembakan yang memekakkan telinga. Suara itu begitu dahsyat, mengguncang langit-langit seng tua hingga serpihan debu berjatuhan bagai salju kelabu. Belkatrix telah bersembunyi di balik sebuah kontainer berkarat, menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, memejamkan matanya rapat-rapat sembari berdoa agar semua kengerian ini hanyalah mimpi buruk.
Tetapi, ketika keheningan kembali menguasai ruangan, aroma belerang yang tajam dari asap mesiu mulai menusuk indra penciumannya. Bau itu bercampur dengan sesuatu yang lain, aroma besi yang kental dan anyir.
Bellatrix memberanikan diri melangkah keluar dari balik bayangan besi kontainer. "Papa...?" bisiknya. Suaranya begitu kecil langsung tertelan oleh desau angin malam yang menyelinap dari dinding gudang yang jebol.
Ia melangkah melewati tumpukan mesin pabrik yang berkarat. Pandangannya yang buram oleh air mata menyusuri lorong remang-remang yang hanya diterangi oleh pendar kilat dari luar. Tepat di dekat sebuah pilar beton besar yang retak, langkah kaki Bellatrix mendadak tertahan. Seluruh persendian tubuhnya serasa meloloskan diri membuatnya nyaris terjatuh.
Di bawah siraman air hujan yang menembus atap seng yang bocor, sesosok tubuh tambun tergeletak kaku dengan posisi telungkup. Setelan jas leceknya yang semula berwarna kelabu kini telah berubah warna menjadi merah tua yang pekat di bagian punggung dan dada. Cairan kental yang hangat masih mengalir deras dari bawah tubuh itu, melebar membentuk genangan darah di atas beton berdebu.
"Papa!"
Lengkingan jerit Bellatrix membelah keheningan gudang tua. Gadis itu berlari tunggang-langgang, mengabaikan lututnya yang menghantam lantai saat ia menjatuhkan diri di samping jasad ayahnya. Tangannya yang putih bersih seketika dinodai oleh kehangatan darah kental saat ia mencoba membalikkan tubuh tambun Gaizka Wijaya.
Ketika wajah ayahnya menghadap ke atas, Bellatrix membekap mulutnya sendiri. Rasa ngeri mengunci tenggorokannya. Sepasang mata Gaizka melotot lebar, menatap kosong ke arah langit-langit tanpa ada sisa cahaya kehidupan sedikit pun. Di tengah dada kirinya, sebuah lubang menganga bekas tembakan jarak dekat yang hancur terbakar menyemburkan sisa sisa asap tipis yang getir.
"Papa... bangun, Pa... Bella di sini..." Bellatrix mengguncang pundak jasad ayahnya dengan histeris. Air matanya jatuh berhamburan, membasahi pipi pucat Gaizka yang kian mendingin. Suara tangisnya pecah menjadi raungan pilu yang menyayat hati, menggema di antara dinding-dinding beton yang bisu. Pria yang selama puluhan tahun menjadi menara pelindungnya, pria yang selalu memanjakannya dengan segala kemewahan dunia, kini tak lebih dari seonggok daging tak bernyawa di atas lantai yang kotor.
Bellatrix memeluk kepala ayahnya, menenggelamkan wajahnya di dada Gaizka yang sudah tidak lagi berdenyut. Ia menangis hingga tubuhnya berguncang hebat, merasakan kehancuran total dari dunianya yang selama ini aman dirasanya. Tapi hanya dalam satu malam, ia kehilangan segalanya.
Rasa frustrasinya perlahan mereda menjadi isak tangis yang terputus-putus. Saat Bellatrix mencoba mengangkat kepalanya dari dada sang ayah, pandangannya yang basah menangkap kilatan cahaya yang tidak wajar di bawah temaram pendar kilat dari luar.
Sebuah benda tergeletak tepat di samping genangan darah ayahnya yang kian melebar. Jaraknya hanya beberapa puluh sentimeter dari ujung jari tangan Gaizka.
Bellatrix mengulurkan tangannya yang gemetar, mengambil benda tersebut dari atas lantai beton yang berdebu. Ketika ia mengangkatnya ke dekat pendar cahaya lampu luar yang meremang, jantung Bellatrix seolah berhenti berdetak sesaat.
Itu adalah sebuah jam tangan kronograf platinum mewah.
Desainnya yang unik dengan ukiran logo huruf 'J' dengan perak metalik di bagian dalamnya, sebuah logo sama yang ia lihat menyala terang di layar utama aula lelang amal dan di atas dokumen investasi Wijaya Group. Jam tangan bernilai miliaran rupiah ini hanya dimiliki oleh satu orang pria di seluruh Jakarta. Pria yang dalam satu minggu terakhir selalu mengantarkannya pulang, pria yang menyelimutinya dengan jaket blazer abu-abu di dermaga Marina Ancol, dan pria yang ia kagumi sebagai pahlawan.
Liam Jeren.
Bellatrix menatap jam tangan itu dengan mata yang melebar dipenuhi rasa tidak percaya yang luar biasa dahsyat. Otaknya menolak untuk menjahit kenyataan ini, tapi memori ototnya mengenali aroma parfum dan tembakau mahal yang masih melekat kuat pada strap kulit jam tangan tersebut, aroma yang sama yang mengepung indra penciumannya saat pria itu meraba rambutnya di bawah rintik hujan.
“Masa depan di mana jalanku dan jalanmu tidak lagi terpisahkan,” kata-kata lembut Liam di dermaga semalam mendadak bergema kembali di kepalanya, namun kali ini suaranya terdengar begitu mengerikan.
Bellatrix mencengkeram jam tangan platinum itu begitu kuat hingga sudut logamnya memotong telapak tangannya sendiri. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tamparan kenyataan yang baru saja merobek jiwanya. Pria yang ia cintai setengah mati, pria yang ia anggap sebagai malaikat penyelamat ternyata adalah iblis yang malam ini datang untuk mencabut nyawa ayahnya.
Semua pertemuan mereka, semua perhatian manis, dan senyuman menawan itu... hanyalah sebaris skenario palsu untuk menjebak keluarganya.
Bellatrix mendongak, menatap ke arah kegelapan labirin gudang tua dengan pandangan yang kosong. Isak tangisnya terhenti, hanya digantikan oleh kekosongan. Di bawah guyuran hujan yang kian menderu di atas atap seng, Bellatrix menyadari satu hal dengan kenyataan yang teramat pahit. Pria itu sengaja meninggalkan arloji mahalnya di sana sebagai petunjuk yang menyatakan bahwa permainan belum selesai, dan dia adalah mangsa berikutnya yang sedang mengantre di dalam daftar kematian.
...****************...
Sementara itu, beberapa ratus meter di luar perimeter gudang tua, sedan hitam mewah milik Liam Jeren meluncur membelah kegelapan malam tanpa menggunakan lampu utama. Di balik kemudi, Liam menatap lurus ke arah jalanan aspal yang basah. Wajah pualamnya tidak memancarkan emosi apa pun setelah mengeksekusi paman kandungnya sendiri.
Di saku kirinya, ia bisa merasakan ruang kosong tempat jam tangan platinumnya biasanya melingkar. Sebuah umpan petunjuk telah diletakkan dengan sempurna di tempat kejadian.
"Bellatrix udah nemuin jam tangan lu, Liam," suara Belladona berbisik pelan dari balik earphone mikro di telinganya. Ada nada tidak nyaman dalam vokal sang hacker. "Gua... gua gak tahu apa ini pilihan yang bener bikin cewek polos itu nanggung dendam sebesar ini, Liam,"
"Dia harus tahu siapa yang membunuh ayahnya, Dona," Liam menjawab. "Dendam Bellatrix akan memaksanya bergerak mencari perlindungan, dan satu-satunya tempat yang tersisa untuknya berlindung hanyalah target kita berikutnya."
Liam mengulas senyum tipis di bibir pucatnya. Bellatrix akan menjadi kompas hidup yang akan menuntun langkahnya langsung menuju ke markas pertahanan Jenderal Jendra, membiarkan sang mentor Phantom bersiap menghadapi balasan yang sebenarnya.