Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Diajak Jalan-Jalan? Ya Sudah
Bel masuk berbunyi, dan setelah suasana lebih tenang dan dirasa aman, Ryuji perlahan keluar dari dalam salah satu bungker tempatnya bersembunyi—tempat pertahanan terbaik dari kejaran iblis bermuka dua—yaitu bilik toilet.
Kepalanya keluar dari bilik toilet lalu menoleh ke segala arah dengan cepat, memastikan pemangsa itu benar-benar pergi.
Ia menghela napas singkat dan siap kembali ke kelas. Ekspresi wajahnya terlihat tenang setelah merasa aman dari kejaran Moiro.
Saat kakinya baru melangkah keluar dari ruang toilet, ternyata ada Moiro yang bersandar di dinding luar toilet laki-laki. Ia sudah menunggu setan itu keluar dari persembunyiannya dengan wajah yang terlihat santai.
Ryuji mematung begitu menyadarinya. Ekspresinya berubah tegang seketika dengan keringat dingin membanjiri kepala.
Hayo.
Moiro hanya tersenyum tipis seolah memperlihatkan kalau dirinya tak membawa ancaman, meski suasana yang menyertainya sangat berkebalikan.
"Ke kelas bareng, yuk, Yamaguchi..." ajaknya pelan, terasa ringan dan santai namun jelas mencekik.
Ryuji menoleh, gerakannya terbata-bata saat menatap ke arahnya.
Tatapan mereka saling bertemu. Ryuji yang berkeringat dan Moiro yang tersenyum tipis tapi tatapannya tajam.
Wuing!
Ryuji langsung menggunakan jurus seribu langkah dan meninggalkan Moiro dengan cepat. Wajah paniknya bergejolak diiringi rintik hujan dari keringat karena ketakutan.
Tak menunggu lama, Moiro juga berlari mengejarnya. Matanya berkilat merah seperti monster mengerikan dalam cerita fiksi.
Kejar teros, sampe mmpos!
...***...
Beberapa hal berlalu, dan bel pulang sekolah telah berbunyi. Setelah pelajaran selesai dan waktu pulang juga telah tiba, Moiro kembali menghadap pada Ryuji yang hampir saja bonyok dibuatnya.
Ia mengulurkan tangan, lalu mengangkat-angkat semua jarinya serempak berulang seolah sedang meminta sesuatu. Wajahnya saat itu terlihat datar dan mencekam.
Ngeri amat si Moiro.
Ryuji yang paham langsung menyerahkan ponselnya setah diambil dari kantong. Tangannya gemetar, dan wajahnya tak berani diangkat untuk menatap Moiro.
Moiro mengambilnya cepat, dan langsung membuka galerinya untuk menghapus foto memalukan sebelumnya.
Saat itu, Mika mendekat karena penasaran dan ingin ikut melihat sembari memastikan tentang foto sebelumnya. Ia berdiri tepat di samping Moiro—begitu dekat.
Saat itu, Yuka yang duduk di depan mejanya Mika untuk membahas soal OSIS sebelumnya—yang di meja itu masih penuh tumpukan kertas seberat satu kilogram—hanya diam melongo menatap mereka yang terlihat sudah sangat dekat.
Entah kenapa, wajahnya tampak cemburu seolah sedang menginginkannya juga. Matanya kemudian beralih perlahan, menatap pada Ryuji yang malah bengong ketika ponselnya diacak-acak.
Moiro menggeser layar ponsel di tangannya, dan akhirnya menemukan foto mereka yang saling tatap dan berbalas senyum.
Keduanya memerah samar saat melihat foto itu, dan Moiro dengan segera menghapusnya.
Saat foto itu dihapus, gambar yang lain pun mengisi layar, dan mereka kembali dikejutkan saat melihat foto mereka yang lain—ketika mereka tertidur saling sandar di gerbong kereta.
Keduanya sontak membelalak saat melihatnya.
Moiro segera menjauhkan ponsel itu karena panik. Ia merasa malu melihat foto itu, begitu juga dengan Mika. Mereka tidak tau kalau saat di gerbong, mereka tertidur seperti itu. Keduanya menjadi canggung seketika, dan wajah keduanya saling menjauh dan bertolak arah.
Keduanya semakin merah setelah mengetahui kalau mereka seperti itu saat tertidur, dan lebih gilanya lagi, momen itu diabadikan oleh si teman setan.
"A-Aku akan segera menghapusnya," ucap Moiro terbata, kembali menatap ponsel milik Ryuji.
Mika hanya mengangguk cepat tanpa menoleh sekalipun.
Sementara itu, di depan mereka, terang-terangan Ryuji tersenyum lebar menatap keduanya yang seperti itu seolah sedang mengejek, bahkan sempat tertawa singkat.
Berani betul ni setan.
...***...
Setelah menyelesaikan berbagai masalah, akhirnya mereka pulang dari sekolah. Ryuji yang terlihat bonyok—setelah dihajar oleh Moiro dan Mika sebelumnya—sedang berjalan bersama Yuka di halaman sekolah menuju gerbang keluar. Saat itu, Yuka terlihat khawatir karena melihat Ryuji yang seperti itu.
"Hadeh. Ngapain, sih, kamu terang-terangan ketawa di depan mereka...?" bisik Yuka pelan sambil menatap ke arahnya, ekspresinya terlihat sedikit sebal. Kakinya terus melangkah di sebelah Ryuji.
"Soalnya reaksi mereka keliatan kocak," balas Ryuji yang masih bisa tersenyum lebar, meski wajahnya terlihat seperti habis disengat ribuan tawon.
I-Itu bukannya berlebihan...?
Yuka mengubah arah pandangnya, menatap ke depan—ke arah jalan, "Itu... gak sepenuhnya salah, sih."
"Ya, kan? Kau juga pasti gemes liat mereka kayak gitu."
"Begitulah..." pipi Yuka sedikit memerah saat matanya menatap ke jalan, masih berharap kisah kehidupannya juga romantis seperti mereka.
Minta ke Author lah.
Sementara Moiro dan Mika—yang sudah keluar lebih dulu—langsung berpisah di depan gerbang sekolah, dan berjalan menuju rumah masing-masing.
Saat itu, mereka masih merasa canggung meski sudah sedikit lebih baik. Pipi keduanya merona samar mengingat gambar di ponsel setan sebelumnya.
Namun, saat Moiro terus melangkahkan kakinya menjauh dari sekolah berisi makhluk angker itu, Mika tiba-tiba memanggilnya.
"M-Moiro!"
Moiro berhenti seketika, lalu menoleh perlahan ke arah belakang, dan mendapati kalau jarak keduanya belum terlalu jauh.
"Anu...!" lanjut Mika, yang masih merasa malu. Dua tangannya bergerak imut di depan tubuhnya, "Apa malam ini kamu senggang...?"
Mendengar pertanyaan tak biasa darinya, Moiro seketika menjadi bingung, tapi ia langsung menjawab pertanyaan itu tanpa basa-basi, "Senggang, sih... Memangnya kenapa?"
Mika terlihat berbinar setelah mendengar itu.
Ia mendekat pada Moiro, lalu berkata dengan hati berbunga padanya, "Kalau begitu, kamu mau jalan-jalan denganku di malam natal?"
Apakah akan ada alur sepesial lagi? Mwehehe.
"Malam natal?" pikir Moiro sejenak, lalu berdiri menghadap pada Mika tanpa kehilangan perasaan canggung yng lalu, "Benar juga, besok sudah memasuki natal."
Ujung bibir Moiro sedikit terangkat setelah memikirkannya, "Tidak ada salahnya menerima ajakannya. Lagi pula, aku pernah berkata akan dengan senang hati jika jalan dengannya lagi."
"Yah... anggap aja ini healing dari kerjaan mengerikan itu," lanjutnya sambil melirik ke samping, datar, wajahnya sedikit tegang dan aneh sedikit berkeringat, "Aku gak mau foto-foto lagi."
Trauma keknya.
Moiro kemudian mengangguk santai, kembali menatap ke arah Mika, "Boleh."
Mika kembali berseri. Wajahnya seketika memancarkan aura kebahagiaan saat dirinya tersenyum manis.
"Berarti sudah dipastikan, ya?" tanyanya memastikan, terdengar sangat antusias.
Moiro kembali mengangguk. Ujung bibirnya tak turun seinci pun.
Mika tersenyum halus lalu segera berbalik dan berjalan pulang dengan perasaan gembira. Ia sempatkan kembali menghadap pada Moiro, lalu melambaikan tangannya tinggi-tinggi sambil tersenyum lebih lebar, "Aku tidak sabar menunggu! Sampai jumpa, Moiro!"
Moiro membalas lambaian tangannya, lalu setelah Mika menghilang dari pandangan, ia juga kembali bejalan menuju rumahnya.
...***...
Di suatu tempat—lebih tepatnya di gerbang sekolah—ada dua orang yang mendengar percakapan itu tanpa sengaja. Mereka adalah Ryuji, dan Yuka yang hanya ikut-ikutan. Keduanya menatap mengintip Moiro dan Mika sambil sedikit menjongkok di dinding gerbang sekolah.
Ryuji menoleh cepat pada Yuka di sebelahnya dan berbisik, "Kau dengar itu, Yuka? Mereka bilang ingin jalan-jalan malam ini!"
Yuka menoleh datar, tatapannya tajam sedikit jijik, "Jangan bilang kamu mau menguntit mereka lagi?"
Tampar aja tu anak kalo masih macem-macem.
"Enggak, dong," balas Ryuji cepat sambil mengibaskan tangan, "Kita bakal ikut bareng mereka malam ini."
"Kirain mau nguntit," balas Yuka berbisik, lalu menghela napas lega sambil menunduk.
Ryuji sedikit mendekat, "Tapi, kau yang bilang pada mereka, ya?"
"Hah?!" Yuka terkejut, menoleh cepat, "Kenapa aku?!"
"Soalnya..." ujar Ryuji, lalu menceritakan suatu kejadian.
...----------------...
Saat... Gak tau kapan, pokoknya ada—Ryuji dengan semangat datang pada Mika untuk meminta bertukar kontak dengannya. Wajahnya terlihat berseri-seri.
"Mika! Ayo kita bertukar kotak!" serunya sambil mendekat pada Mika. Senyuman lebar terpampang jelas di wajahnya.
"Tidak mau," balas Mika setelahnya. Alisnya sedikit mengerut, "Dan sudah kubilang, jangan memanggilku dengan nama depan!"
Ryuji kecewa, dan segera beralih ke belakang—tempat Moiro duduk.
"Moiro...!" serunya.
"Ogah," potongnya datar, tanpa menatap ke arahnya.
"Tega amat!" sahutnya cepat, "Aku bahkan belum ngomong!"
Mampoa
...----------------...
"Begitu. Jadi aku tak punya kontak mereka di ponselku," lanjut Ryuji setelah menjelaskan pada Yuka, lalu tertawa sambil mendongak.
Setelah mendengar itu, Yuka hanya menatap datar, "Sepertinya kamu sudah terlihat buruk di mata mereka."
Ia sontak berhenti tertawa, lalu menatap Yuka dengan wajah polos dan bingung, "Buruk? Kenapa bisa?"
Yuka memalingkan wajahnya lalu memegang dahi, "Sudah jelas itu karena kelakuanmu... Apa kamu tidak sadar?"
"Tidak. Aku kan orang yang baik."
Baik matamu!
Yuka kembali menatapnya, terlihat lelah.
"Terserah sajalah," ucap Yuka setelahnya. Tangannya turun dari jidat.
"Hore!" seru Ryuji gembira, satu tangannya mengepal tinggi.
Ryuji kemudian berdiri dan mulai berjalan keluar gerbang, "Yaudah, kalo gitu, kita pulang juga."
Yuka mengangguk sambil tersenyum tipis, dan mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
BTW coba baca novel ku dong min, gw butuh masukan soal nya, barang kali ada kalimat yg sulit di pahami🗿🗿