Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23—Matahari terbenam
Musim dingin telah tiba. Atap rumah-rumah di Wistoria tertutup oleh salju.
Meskipun begitu, pagi hari ini Serena tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa. Namun kali ini, ia mengenakan sebuah syal merah bermotif putih, lengkap dengan jaket hitam dan stocking panjangnya.
Setiap hembusan napasnya melepaskan uap putih dari mulutnya. Tubuhnya sedikit menggigil dan lesu.
"Huh, dingin banget. Kenapa musim dingin gini jam masuk akademi diundur sedikit, gitu? Jam tujuh di sini dingin banget, asli," gumamnya dengan wajah malas.
Sesampainya di kelas, Serena langsung duduk di kursinya dan menyandarkan kepalanya di meja. Dari ketiga orang yang ada di sana, tidak ada satu pun yang membuka topik pembicaraan. Lylian tertidur dalam posisi duduk di mejanya, sementara Celia sibuk dengan novelnya.
Beberapa jam pun berlalu sejak pelajaran dimulai.
Ketika Kael telah memberikan materi untuk ditulis, semua murid mengerjakannya dengan tertib. Namun, Serena terlihat sedikit kurang fokus akibat suhu yang dingin dan kondisi tubuhnya yang kurang sehat.
𝘕𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘢𝘴𝘭𝘪, 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳.
Pikirnya sambil menahan kantuk. Matanya melirik kursi kosong yang berjarak sekitar satu meter di depannya. Bangku itu adalah tempat Allwin, dan hari ini ia tidak berangkat.
Dalam benaknya, sudah sangat jelas bahwa Allwin bolos. Karena mustahil orang seperti dia bisa sakit.
Akhirnya, hari itu Serena memilih mengambil cuti dan kembali ke asramanya untuk beristirahat.
Di asramanya, Serena langsung mengganti pakaiannya menjadi piyama berwarna ungu dengan motif bunga bintang, lalu ia menyelimuti dirinya dan terlelap.
Di dalam mimpinya, ia berada pada sebuah pemukiman yang terasa sangat 𝘬𝘶𝘯𝘰. Itulah hal pertama yang ia pikirkan ketika berada di sana.
Saat itu, ia masih tidak sadar sama sekali bahwa dunia itu adalah mimpi. Sambil berkeliling di pemukiman itu, Serena terus bertanya dalam benaknya, 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢? 𝘛𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪?
Pemukiman itu sangat jauh berbeda dengan pemukiman dari eranya. Tempat itu terlihat seperti kota kuno yang telah ditinggalkan, dan yang jelas tempat itu bukanlah Wistoria sama sekali.
Mungkin, tempat itu berasal dari ratusan tahun sebelum eranya. Bahkan rumah-rumah di sekitarnya masih seluruhnya terbuat dari kayu, dan hanya sedikit yang menggunakan batu.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah rumah beton dengan atap berwarna biru, sementara di pintunya terdapat sebuah simbol bintang magis.
"Aneh, tempat apa ini?" Serena mulai sadar bahwa dunia ini bukan sekadar mimpi, atau mungkin, ini memang mimpi yang sangat nyata? Suasananya terasa mencekam, aneh, atau mungkin abstrak. Tempat itu seperti dikelilingi kabut meskipun hal itu sebenarnya tidak nyata.
Ditambah lagi, di kota seluas itu, tidak ada penghuninya sama sekali. Sangat kosong, bahkan hewan sekalipun tidak ada.
Ia mengernyit, perasaannya sungguh tidak enak. Mual, pusing, bingung, semuanya itu terjadi di waktu yang bersamaan.
Akhirnya, ia memilih untuk membuka pintu di hadapannya. Kriitttt... Pintu dengan logo bintang magis itu terbuka dengan suara derit kayu yang sudah lapuk.
Apa yang dilihatnya di balik pintu sungguh berbeda dengan apa yang ia bayangkan.
SRUK!
Sebelum ia sempat melangkah, sebuah pedang jagal yang besar menembus tubuhnya dari belakang.
*Ugh...
Serena terbelalak dengan tangan yang mencoba meraih pedang itu dengan gemetar. Aneh, ia ingin berteriak, namun suaranya seperti tertahan.
Srek... Pedang itu tercabut, membiarkan tubuh Serena terjatuh ke tanah.
"Sakit... Ini sakit, sakit, sakit, sakit. Sakit... Sekali... Siapapun..." ucapnya merintih kesakitan sambil memegang erat bagian lukanya. Ia berteriak sangat kencang dalam pikirannya, namun mulutnya tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam keadaan terbaring miring di tanah, ia memaksakan kepalanya untuk mendongak. Mata kosongnya itu mulai berkaca-kaca, berusaha untuk melihat sosok yang membunuhnya.
Dari balik kabut tebal, seorang pria berseragam seperti jenderal lengkap dengan topinya berdiri. Mata merahnya menyala terang bagaikan predator, dan pada tangan kirinya terdapat sebuah ban lengan merah dengan logo swastika pada sebuah lingkaran putih.
"Siapa?" gumam Serena yang perlahan menutup matanya.
———
Di sebuah ruangan, terdengar suara samar yang memanggilnya. "Serena, kau sudah bangun?" Suaranya begitu lembut, sepertinya... Suara wanita itu terdengar tidak asing di telinganya.
𝘋𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶? Serena yang masih terbaring perlahan mencoba membuka matanya.
"AAAAKHHHHH!"
Sebelum ia sempat mengetahui di mana dirinya berada, Serena seketika berteriak histeris sambil memegang bagian bawah dadanya.
Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba saja terbayang oleh pikirannya. "Lho..." Serena terdiam. "Apa yang terjadi?" Pandangannya tertuju pada luka di bagian bawah dadanya yang telah menghilang, bahkan pakaiannya pun masih terlihat begitu bersih.
Ia kemudian melihat ke sekitarnya. Saat ini ia berada di sebuah ruangan putih seperti rumah sakit dengan dirinya sebagai pasien yang sedang dirawat, dan seorang wanita duduk dengan tenang di kursi samping kasurnya.
"Elyssia?" ucap Serena secara refleks ketika melihat wanita berambut kelabu dengan gaun hitam itu duduk di sampingnya.
"Hai, sudah sadar? Tidurmu nyenyak sekali, ya? Apa kau mimpi indah?" Elyssia menyandarkan dagunya pada telapak tangan, sementara kaki kanannya menyilang di atas kaki kirinya.
"Indah katamu? Buruk, benar-benar buruk." jawab Serena dengan datar sambil menghela napas.
Elyssia tertawa kecil sebelum berbicara. "Kalau hanya mimpi, maka tak perlu dipikirkan. Ada banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu."
"Oh, ya? Apa itu? Kuharap hal itu adalah perkara penting." ucap Serena dengan nada tidak percaya dan meremehkan.
"Sudah pasti penting, jadi, dengarkan baik-baik." ucapnya menjelaskan. "Dalam satu bulan lagi kau akan memulai perjalananmu sebagai penyihir pengembara, dan untuk itu aku akan memberikanmu peringatan." Gadis itu berhenti untuk mengubah pose duduknya menjadi lebih formal. "Selama perjalanan, jangan pernah percaya pada seseorang berpakaian militer dengan mata merah menyala."
Mendengar hal itu, terbersit sosok yang ia lihat di dalam mimpinya tadi, meskipun sekilas dan sedikit samar.
"Memangnya kenapa?" tanya Serena.
"Kau tidak perlu tahu, intinya dia adalah seseorang yang paling berbahaya yang pernah hidup di dunia, dia adalah sang Chaos Creator. Jika kau mempercayainya, bahkan jika hanya satu kata, maka sudah dipastikan kau tidak akan pernah bisa selamat." jelas Elyssia dengan wajah serius.
Serena hanya bisa menelan ludah ketika mendengar kata 'Chaos Creator'.
"Jadi kapan aku akan bertemu dengannya?"
"Kapan?" ia terkekeh. "Tidak ada yang tahu, biarkan takdir menuliskannya sendiri untukmu."
"Itu ngga menjawab apa pun. Lantas, hanya itu yang akan kau sampaikan?" Serena menatap datar Elyssia.
"Bukan hanya itu. Jika kau melihat atau bertemu dengan gadis yang mengaku sebagai primordial takdir, jauhin aja. Walaupun terlihat lemah, dia punya manipulasi takdir yang sangat tinggi, bahkan bisa saja mengubah hukum realitas seperti menulis ulang sebuah buku cerita." jelas Elyssia. "Tapi, kalau kau ngga ketemu dia baguslah, ngga perlu dicari."
Elyssia menghela napas dan mengubah nada bicaranya menjadi lebih santai. "Sisanya kau tak perlu khawatir, kau sudah memiliki dua skill otoritas, kan? Nah. Kau gunakan itu sebaik mungkin, karena skill otoritas adalah puncak dari segala skill."
Serena terbelalak. "Puncak segala skill??" ucapnya dengan nada tidak percaya.
"Ya, tidak salah lagi. Itulah mengapa tidak banyak orang yang memiliki skill seperti itu." jawabnya santai. "Oh, ya! Aku lupa, saat ini dua raja iblis sins sudah mati. Jadi karena kau terlibat konflik itu, jangan pernah dekati atau berbicara dengan raja iblis sins manapun yang kau temui atau lihat." jelas Elyssia dengan nada yang tetap santai.
"Kalau itu sih... Aku juga tahu... Tapi—" Serena baru saja ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini, namun...
"Baik! Sepertinya waktu kita sudah habis." Elyssia berdiri dan langsung memotong dialog Serena. "Sampai jumpa lagi." Elyssia tersenyum kecil dengan tatapan mata seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Bersamaan dengan itu, ruangan di sekitar Serena perlahan menghilang.
Klik.
Saat ia berkedip, ruangan itu sudah berganti menjadi kamarnya. Langit sudah gelap, hujan salju turun dan memenuhi atap asramanya.
Sambil menatap ke luar jendela, Serena melihat sebuah cahaya merah sekilas, tetapi jelas itu bukan halusinasi.
◆◆◆
Beberapa hari berikutnya pun berjalan dengan santai. Tidak ada materi yang diberikan, karena di bulan-bulan terakhir sebelum lulus, para guru disibukkan oleh nilai dan pencapaian muridnya untuk dikonfirmasi dan menetapkan gelarnya.
Pada jam istirahat itu, Serena terbaring santai di ruang UKS.
Sementara Allwin berada di meja sambil membaca komiknya. Saat ini Allwin mendapatkan giliran piket sebagai penjaga UKS.
Mendengar Serena yang terus mendesah, Allwin meliriknya dan berkata, "Lu kenapa? Kayaknya lesu amat. Make lu?"
"Mana ada! Gw cuma lagi ngga mood aja," Serena menghela napas dan perlahan duduk. "Gw belakangan ini mimpi buruk mulu, kampret," ucap Serena sambil mengernyit.
"Halah, mimpi doang." sahut Allwin dengan ketus.
Mendengar itu, jelas Serena langsung tersinggung. "Lu mana ngerti." Ia menghela napas. "Intinya, gw cuma capek mental doang, ngga lebih."
"Oh... Hm..." Senyum tipis dengan nuansa jahil itu terukir di wajah Allwin. "Kalau itu sih... Gw yakin lu cuma kurang asupan makanan manis."
"Hah!? Maksudnya? Gw kurang gula darah gitu? Apa hubungannya, dah?" balas Serena dengan sudut bibir turun sebelah sementara salah satu alisnya naik.
Allwin terkekeh setelah mendengar hal itu. "Berdasarkan beberapa riset, katanya makanan manis bisa nurunin stres lumayan tinggi." Setelah mengucapkan itu, sebuah Gate termanifestasi dan langsung melemparkan sebatang coklat bungkus pada Serena.
"Aww," refleks Serena ketika sebuah coklat menghantam kepalanya. "Apa ini? Coklat?" Serena memperhatikan coklat yang diberikan Allwin itu.
"Makan aja, 100 persen aman, kok." ucap Allwin dengan senyuman santai di wajahnya.
Walaupun Serena sedikit curiga pada raut wajahnya itu, ia tetap membuka bungkus coklat itu sebelum memakannya. "Manis." gumamnya pelan.
𝘠𝘢𝘢... 𝘐𝘯𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢, pikir Serena sembari mengunyah coklatnya. 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯? 𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯? 𝘛𝘢𝘱𝘪... 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘌𝘭𝘺𝘴𝘴𝘪𝘢, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘱𝘰𝘪𝘭𝘦𝘳. Serena terdiam tenggelam dalam pikirannya. Setelah beberapa minggu terakhir sering mendapatkan mimpi yang aneh dan terasa begitu nyata, akhirnya ia memilih untuk menyambung setiap misteri dalam mimpinya itu sebagai persiapan.
Setelah jam pelajaran berakhir, Serena memilih untuk jalan-jalan melepaskan penatnya.
Kota Wistoria yang menjelang sore itu semakin ramai, para pedagang menyalakan lentera maginya pada kios mereka.
Pejalan kaki seperti petualang, pedagang keliling, dan pemburu yang kembali dari hutan membawa hasil buruannya bersama anjing pemburunya.
"Kalau ramai gini... Jalan-jalan doang ngga ada gunanya, mending gw mampir ke suatu toko atau kafe gitu... Tapi di mana?" gumam Serena sambil mengusap dagunya.
Sembari melangkah melewati kerumunan yang cukup ramai itu, Serena mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya.
Dari sela-sela keramaian, pandangannya tertuju pada sebuah kafe.
Di kafe tersebut terlihat sosok wanita berambut blonde panjang dengan seragam akademi yang sama dengannya. Orang itu adalah Lylian.
Lylian terlihat sedang berbicara dengan dua orang di hadapannya, orang itu ternyata Celia dan Alisa.
"Gw ikut gabung mereka kali, ya?" gumamnya sambil melangkah mendekati mereka.
Lylian terlihat sedang menceritakan sesuatu dengan antusias, sementara yang lainnya mendengarkan sekalian bertukar cerita.
"Hai, lagi pada ngapain?" ucap Serena menghentikan langkahnya tepat di meja mereka sebelum duduk di kursi yang kosong.
"Oh! Serena, kondisimu gimana? Udah agak mendingan?" sambut Alisa. Rambut abu keemasannya yang terkena cahaya matahari sore terlihat begitu berkilau, sementara sebuah pita mengikat rambutnya dalam gaya kuncir kuda.
Mata hijau miliknya melirik Serena dengan senyum tipis yang terasa kalem dan tenang.
Ya, melihat penampilan dan gaya Alisa yang cukup dewasa, Serena sontak terdiam sesaat sebelum menjawab, "Ya. Gw udah lumayan mendingan," sambil meletakkan tas selempang akademinya ke bawah kursi.
"Bagus kalau begitu, karena sekarang musim dingin datang lebih cepat dari biasanya. Jadi wajar saja jika kondisimu menjadi kurang sehat." sahut Alisa dengan suara yang lembut dan pelan.
Celia terlihat tetap seperti biasa, ia hanya mengawasi dengan senyum kecil di wajahnya sementara telapak tangannya menghangatkan diri pada gelas berisi cokelat panasnya.
"Hei, hei. Serena, lu tahu? Beberapa hari yang lalu?" ucap Lylian yang sepertinya ingin menceritakan sesuatu.
"Ya? Tahu apa?" sahut Serena pelan.
"Jadi waktu itu, lu tahu runtuhan kuno di kaki gunung Astrea?"
"Ya, gw tahu, kenapa?"
Lylian akhirnya menceritakan pengalamannya itu dengan panjang lebar. Bahwa sekitar beberapa hari yang lalu, tepat setelah ujian akhir, Lylian mengunjungi reruntuhan tersebut dengan niat menjelajah karena penasaran.
Tempat itu sudah lama ditinggalkan dan dilupakan karena ketika ilmuwan mencoba menelitinya, mereka hanya mentok pada sebuah pintu raksasa dengan segel Magi yang rapat.
Dan hari itu, Lylian berhasil masuk ke dalamnya. Tanpa sengaja, ia mengaktifkan mekanisme yang digunakan untuk membuka pintu tersebut. Ketika pintu tersebut terbuka, Lylian mengira bahwa ruangan tersebut akan gelap gulita. Ternyata, di balik pintu tersebut sebuah ruangan berlapis emas di seluruh temboknya terbentang luas, lengkap dengan singgasana yang masih diduduki oleh seorang kerangka mati.
Karena ia takut, akhirnya Lylian memilih untuk langsung pergi, namun... Kakinya tersandung sebuah buku ketika ingin berlari keluar dari ruangan tersebut.
Saat ini buku itu sudah berada di atas meja mereka.
"Jadi, buku apa ini?" tanya Serena.
"Aku juga masih belum tahu, buku ini sepertinya memiliki sesuatu yang menyegelnya." jawab Alisa sambil mengusap dagunya sementara pandangannya tertuju pada gambar kuno yang terdapat pada sampul buku tersebut.
Pada sampul tersebut terdapat sebuah gambar satu mata besar dengan enam sayap yang terlihat terdapat beberapa mata kecil di sekitar sayapnya. Sementara di belakang gambar tersebut terdapat sebuah diagram sihir bintang suci dan sebuah tulisan kecil tepat di bawah gambar yang bertuliskan 'คгร ๏ςยl๏гย๓ ๔є๏гย๓ ค tєภtค'
"Tulisan itu..." Serena memperhatikan tajam tulisan kuno itu. "Ten—ta?" ucapnya dengan sedikit ragu sambil menyilangkan tangannya.
Tidak ada yang mengerti kalimat tersebut, mereka hanya bisa memandanginya dan mencari arti dari tulisan yang paling jelas atau memiliki bentuk yang bisa mereka baca seperti 'Tenta'.
"Eummm, mungkin ini bukan buku biasa. Tapi seperti sebuah kitab." kata Celia dengan sedikit yakin.
Mendengar itu, yang lainnya hanya bisa mengangguk setuju, karena petunjuk yang ada hanya gambar sampul dan tulisan 'คгร ๏ςยl๏гย๓ ๔є๏гย๓' yang tidak mereka mengerti.
"Apa mungkin ini adalah kitab agama dari peradaban kuno? Lagian bukunya juga terletak di reruntuhan kuno." Suara itu berasal dari Lylian.
"Ya, ada kemungkinan begitu, tapi. Kalau ini kitab, kenapa harus disegel?" sanggah Alisa terhadap perkataan Lylian dan Celia.
"Ada benarnya juga, apa mungkin saja ini adalah buku yang berisi doktrin kuno? Mungkin seperti teknologi, proyek atau upacara tertentu di zaman kuno?" kata Serena mencoba meyakinkan bahwa itu bukan sekadar kitab.
"Hm, aku setuju... Tapi, kalau hanya sebuah catatan peradaban, kenapa mesti di segel? Pastinya di dalamnya berisi sesuatu yang sangat terlarang, kan?" imbuh Celia.
"Ya, untuk saat ini argumen Celia memang yang paling masuk akal, bisa saja isinya adalah sisi gelap peradaban kuno seperti mantra terlarang, atau mantra kontrak iblis atau mantra untuk memanggil sesuatu?" sahut Alisa yang terlihat seolah sudah mengerti tentang buku itu walaupun kenyataannya tidak.
Tapi untuk sementara, perkataan Alisa dan Celia merupakan petunjuk atau informasi yang paling masuk akal mengenai buku tersebut.
Setelah beberapa jam memikirkan hal itu, mereka memilih untuk pergi dari kafe itu dan melanjutkan jalan sore mereka.
Untuk masalah buku tadi, benda tersebut dipercayakan pada Alisa.
Akhirnya mereka tiba di taman bunga Asteria yang sedikit tertutupi salju.
Sementara itu, dari arah timur, matahari perlahan bergerak semakin rendah.
"Wah... Indahnya!" gumam Lylian secara refleks.
Sementara Alisa sedang membenarkan posisi syalnya.
Serena dan Celia langsung duduk pada sebuah kursi taman di situ. Lalu mengajak keduanya untuk duduk juga, sambil melihat matahari yang sudah mendekati bukit. Mereka saling bertukar cerita tentang keseharian mereka selama ini, Alisa juga menyatakan bahwa ia merasa sangat senang bisa mengenal mereka selama tiga tahun penuh, walaupun mereka berbeda kelas.
Hari kelulusan akan menjadi momen terakhir mereka bersama, mengingat kelulusan hanya tersisa satu minggu lagi.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah lulus nanti, Alisa?" Celia menanyakan hal itu tanpa mengalihkan pandangannya dari matahari terbenam.
"Ah! Untuk itu, ya?" Ia berpikir sejenak sebelum menjawab. "Mungkin aku akan menjadi ksatria atau menjadi bagian dari organisasi ordo ksatria."
Mendengar jawaban itu, mereka bertiga menyemangati dan memuji tujuan Alisa yang mulia, karena di kerajaan manapun ordo ksatria suci adalah tingkatan tertinggi dalam hierarki ksatria. Gelar tersebut terikat oleh janji turun-temurun untuk melindungi rakyat dan kerajaan sepenuh jiwanya.
Hal itu tidak membuat mereka heran kenapa Alisa memilih tujuan tersebut. Pada dasarnya, Alisa memiliki fisik yang cukup kuat sebagai wanita dan memiliki keterampilan ilmu pedang dan sihir yang hebat secara bersamaan.
Tentu saja bakat yang lengkap itu bisa mendorongnya menjadi murid terbaik pertama dalam angkatan Serena di akademi, sementara Serena di posisi kedua dan Allwin ketiga. Mungkin Allwin berada di posisi ketiga karena sering bolos.
"Hei, kalian lihat," ucap Serena menatap senja.
"Matahari terbenam itu... Sangat 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩, kan?" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari matahari yang perlahan menghilang dari balik bukit.
◆◆◆
Sementara di sisi lainnya.
Allwin dan Kael berada di bukit bersalju melihat langsung matahari terbenam dari jauh.
Allwin berbalik badan menghadap Kael dan membelakangi matahari.
"Oi, gimana? Gw udah menuhin janji gw, nih." ucap Allwin mencoba menagih sesuatu dari Kael.
"Janji?" Kael terkekeh. "Maksudmu... Janji lima tahun yang lalu?"
"Tentu saja, sekarang gw udah jauh lebih kuat dari apa yang gw janjikan, bahkan menguasai hampir 80 persen sihir tingkat atas dan dua Surgawi." jawab Allwin dengan percaya diri.
"Oh, bagus kalau begitu, kupuji kau. Tapi! Kau masih gagal dalam menentukan arah hidupmu."
"Arah hidup..." Allwin bergumam pelan setelah mendengar itu. Mengingat lagi tujuan sebelumnya adalah menjadi yang terkuat, dan walaupun ia masih belum tahu apakah ia yang terkuat di dunia ini atau tidak.
Akhirnya Allwin membulatkan tekadnya. "Tidak, gw ngga gagal. Gw baru aja nemu tujuan gw." Tatapan Allwin secara mengejutkan tiba-tiba serius.
Melihat itu, Kael pun memperlihatkan ekspresi bangga padanya. "Kalau begitu, apa tujuanmu?"
Allwin memejamkan matanya sebentar sebelum menjawab. "Tujuan gw adalah..." Allwin membuka mata merahnya. "Membasmi hama yang berkeliaran di semesta ini." lanjutnya sambil tersenyum percaya diri seolah makhluk yang akan ia basmi tidak lebih dari sekadar mangsa.
Ia berdiri tegak dengan tangan di saku celana, membiarkan angin dingin menerpa pakaiannya.
Pemandangan itu jelas membuat Kael sedikit terbelalak. Namun, di balik tatapan serius Allwin, Kael merasakan sebuah potensi raksasa yang berkobar di dalam tubuh pemuda itu.
◆◆◆
Beberapa hari berlalu, akhirnya hal yang paling dinantikan tiba.
Sebelum upacara kelulusan berlangsung, Kael mentraktir muridnya sarapan di kedai makanan favoritnya.
Setelah menghabiskan makanan, Kael, Lylian, Celia, Allwin, Michael dan murid lainnya termasuk Serena mulai bercerita dan mengucapkan kata perpisahan. Ada yang membahas ke mana mereka akan pergi, apa yang mereka lakukan setelah ini, dan ada juga yang sudah menentukan tujuan untuk menjadi petualang ternama bersama.
"Jadi, Serena. Bagaimana barang-barangmu? Sudah kau bereskan semua yang di asrama?" tanya Kael sambil menggoyangkan gelas minumannya.
"Oh, tentu sudah. Aku juga sudah menyiapkan semua barang yang akan kubawa untuk perjalanan." sahut Serena setelah mengelap mulutnya dari sisa makanan.
"Kau sudah menentukan akan pergi ke mana sebagai permulaan?" Michael ikut bersuara menanyakan tujuan Serena.
"Entahlah, mungkin... Aku akan mengikuti rute perjalanan saja, jadi kemungkinan aku akan melewati Dinasti Shen terlebih dahulu." Serena meneguk tehnya sedikit. "Lalu setelahnya aku akan melintasi Kerajaan Nusantara." lanjutnya.
"Wah... Jauh juga, apa yang bakal lu pake buat perjalanan?" celetuk Allwin setelah menghabisi sebotol minumannya.
"Tongkat sihir." jawab Serena dengan singkat. Namun ekspresinya jelas seperti menyombongkan diri.
"Heh, tongkat? Tongk—" sebelum Allwin menyelesaikan kalimatnya, Serena sudah memunculkan sebuah tongkat sihir panjang dengan sebuah batu Magi ungu di ujungnya.
"Ini tidak hanya digunakan untuk menembakkan sihir, tapi aku juga bisa menggunakannya sebagai tumpangan yang digerakkan menggunakan skill telekinesis." jelas Serena dengan tegas sambil terkekeh.
"Oh, gw penasaran di mana lu dapetin itu tongkat." balas Allwin dengan meremehkan.
◆◆◆
Beberapa jam berlalu. Akhirnya upacara kelulusan pun dimulai.
Upacara itu berjalan cukup mulus dengan pidato kepala sekolah dan naiknya tiga murid terbaik dalam angkatan tersebut untuk diberikan penghargaan sekaligus diumumkan sebagai 'Great Mage', sebuah gelar tertinggi dalam hierarki penyihir, di atas Mage, High Magician, dan Archmage.
Orang yang mendapatkannya adalah Alisa, Serena dan Allwin. Tepuk tangan dan pujian diberikan dengan meriah pada mereka, namun tidak sedikit juga yang iri dengan pencapaian ketiganya.
Beberapa menit setelah upacara selesai.
Allwin memanggil Serena untuk bertemu di belakang gedung akademi.
"Apa? Kenapa tiba-tiba ngajak ke sini?" tanya Serena sambil menyilangkan tangannya.
"Sebagai salam perpisahan, gw mau ngasih lu beberapa barang yang pastinya bakal berguna buat lu." balas Allwin dengan santai sementara sebuah Gate sudah menganga di sampingnya.
Walaupun Serena tidak tahu barang apa yang akan diberikan Allwin, namun Serena tetap diam dan tidak protes. 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢? Pikir Serena sambil memiringkan kepalanya.
Allwin mengulurkan tangannya pada Gate dan meraih sebuah buku kecil. "Hm?" gumam Serena, dari bentuk dan ukurannya yang hanya sebesar telapak tangan, mungkin itu adalah buku catatan yang biasa digunakan dalam mencatat sesuatu seperti resep dan teknik sihir.
"Ini." Allwin memberikan buku itu pada Serena.
Ia menerima buku tersebut dan langsung membukanya. Ternyata isinya adalah beberapa catatan dan resep makanan. Kelihatannya itu bukanlah resep makanan dari dunia ini, karena beberapa resep menunjukkan menu seperti pizza, kentang goreng dan berbagai makanan yang jelas menu tersebut benar-benar asing bagi Serena.
"Apa ini? Resep?" ucap Serena sambil mengalihkan pandangannya pada Allwin.
"Ya, menurut gw itu bakal berguna buat lu. Biar setidaknya lu punya banyak pilihan makanan di perjalanan." balas Allwin dengan senyum kecil di wajahnya.
"Oh, ya? Hanya ini?" Hal itu sepertinya tidak membuat Serena puas dan ia mencoba menagih hal lain dari Allwin.
Allwin berpikir sejenak sebelum mengambil sesuatu dari dalam Gate. "Hmm, masih ada beberapa, sih... Tunggu."
Ting...
Akhirnya setelah berpikir beberapa saat, sebuah kalung hitam dengan deretan kristal ungu jatuh ke tangan Allwin.
Serena terdiam ketika melihat kalung itu. 𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢𝘳𝘢𝘯? 𝘕𝘨𝘨𝘢, 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯, 𝘴𝘪𝘩... Pikirnya.
"Pakai ini." Allwin dengan santai melempar aksesoris itu pada Serena. Setelah itu, ia berkata, "barang ini punya fungsi yang paling penting dari yang tadi, ada 5 kristal dan setiap dua kristal kecil bisa menghidupkan atau menyelamatkanmu dari suatu bahaya." jelas Allwin. "Dan kristal bertuliskan 'S' itu adalah yang akan terpakai terakhir, lu bakal tau fungsinya sendiri nanti."
"Ok? Hanya ini? Baiklah, gw terima dengan senang hati." jawab Serena sambil memasukkan kalung tersebut ke saku roknya.
Beberapa menit setelah itu, Allwin menyuruh yang lainnya untuk berkumpul. Mungkin, hanya untuk mengobrol atau apa.
Setelah semuanya berkumpul seperti biasa.
Allwin mengambil sesuatu dari Gate-nya, lalu menyuruh Serena dan yang lainnya berdekatan dan berpose. Ya, jelas Allwin mengambil sebuah kamera dari Gate-nya.
"Lu geser dikit, El," ucap Allwin kepada Michael sambil mengatur kamera kecilnya.
Mendengar itu, Michael sedikit menggeser langkahnya mendekati Lylian.
Flash!
Allwin menekan tombol kamera dan menangkap gambar mereka berempat.
"Gimana? Gw mau lihat hasilnya." ucap Serena sambil melangkah cepat mendekati Allwin dengan ekspresi yang cukup antusias, sementara yang lainnya hanya menyusul dengan santai di belakang.
"Sabar dulu," Allwin mengibaskan kartu hasil potret tadi sebelum menunjukkannya.
"Wah... Benar-benar bagus, ya. Kupikir akan lama." refleks Michael sambil memandangi foto tersebut.
Akhirnya, mereka menghabiskan beberapa menit untuk mengambil foto bersama, dan tidak lupa dengan Kael.
Beberapa foto berhasil diambil, seperti Lylian, Celia dan Serena bertiga, lalu foto semuanya bersama Kael dan Allwin dengan Serena.
Setelah perkumpulan terakhir mereka selesai, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan hal yang harus mereka lakukan. Begitu pula dengan Serena yang sedang mempersiapkan barang-barangnya ke dalam magic bagnya. Seperti buku, pulpen, Desert Eagle, magazen, peta dunia, kompas dan lainnya.
"Sip, dengan ini semuanya beres, aku akan berangkat besok pagi." gumam Serena setelah menyiapkan semuanya.
◆◆◆
Keesokan paginya, setelah sarapan, Serena kembali mempersiapkan pakaiannya.
Untuk perjalanan, ia mengenakan turtleneck putih tanpa lengan dan sebuah rok pendek hingga paha, lengkap dengan jaket penyihir berwarna hitam yang dipadukan dengan syal ungu di lehernya. Tidak lupa dengan stocking panjangnya.
"Sip! Dengan begini semuanya siap, ya. Mungkin masalahnya sekarang adalah... Semoga ngga ketemu badai salju, deh..." Serena menuruni tangga dari lantai dua dan bertemu dengan kedua orang tuanya.
Ibu Serena dengan santai menawarkan bekal untuknya sambil tersenyum hangat. "Serena. Meski tidak seberapa, bawa ini dan makanlah di perjalanan. Sekarang cuaca sangat dingin."
Serena menerima bekal itu sebelum memasukkannya ke dalam magic bag. "Ya, terima kasih, Bu."
Sambil berjalan menuju pintu, Serena diberikan sebuah kantung berisi koin dari ayahnya. "Ambil, gunakan ini untuk hal yang penting, jangan boros."
"Ya, ya, pasti kupakai dengan baik." Meski tatapannya sedikit datar, Serena memasukkan kantung itu ke tasnya.
Klik. Pintu terbuka, namun ia masih belum melangkahkan kakinya. Ia justru menoleh ke arah kedua orang tuanya sambil tersenyum. "Aku pergi dulu, ya. Ayah, Ibu."
Keduanya mengucapkan "selamat jalan" sambil mengangguk tanpa menghilangkan senyum di wajah mereka.