romansa islami story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Lampu gantung kristal Bohemian raksasa yang menghiasi langit-langit ruang tengah Mansion Hilton memancarkan pendar keemasan yang menyilaukan. Namun, kemewahan yang bernilai miliaran rupiah itu sama sekali tak mampu menghangatkan suasana yang kini membeku bak bongkahan es.
Beberapa jam yang lalu, Eva berdiri kaku di depan Nyonya Maya. Dengan suara monotonnya, asisten pribadi itu menjatuhkan bom waktu yang selama ini disembunyikan Dereen rapat-rapat. "Lapor, Nyonya Besar. Tuan Muda Dereen menolak pertunangan dengan Nona Angela. Tuan Muda ternyata masih nekat berhubungan dengan gadis beasiswa itu. Mereka menjalani hubungan secara diam-diam. Tuan Muda... menaruh perasaan yang sangat dalam pada gadis itu."
Laporan itu sukses memicu murka sang ratu. Cangkir teh melayang, menghantam dinding hingga hancur berkeping-keping. "Seret mereka berdua ke sini. Sekarang juga! Atas perintahku!" titah Nyonya Maya dengan suara melengking yang menggetarkan pilar-pilar marmer rumah itu.
Dan di sinilah Nadiva sekarang berada.
Gadis mungil berbalut gamis sederhana berwarna peach dan jilbab senada itu berdiri di tengah hamparan karpet persia yang harganya mungkin setara dengan biaya hidupnya seumur hidup. Di seberangnya, Nyonya Maya Hilton duduk angkuh di atas sofa beludru merah, bersilang kaki layaknya seorang hakim agung yang siap menjatuhkan vonis mati. Di sudut ruangan, Dereen berdiri dengan rahang mengeras dan napas memburu, ditahan oleh dua bodyguard berbadan tegap atas perintah ibunya.
Tanpa basa-basi, tanpa salam apalagi sapaan manusiawi, Nyonya Maya langsung menghunuskan belatinya.
"Apa jaminan anak saya bisa masuk surga jika dia merendahkan dirinya untuk pindah ke agamamu?!"
Suara Maya menggema tajam, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. Matanya menatap Nadiva dari ujung jilbab hingga ujung sepatu ketsnya yang mulai pudar, penuh dengan selidik dan jijik.
"Apa anak saya masih bisa disebut terhormat jika bersanding dengan kamu? Dengar, Gadis Kecil. Kamu ini orang susah. Kamu hanya hama yang mencari tumpangan hidup, sedangkan kami keluarga berkasta, darah biru, kaum terhormat!" Nyonya Maya bangkit, melangkah pelan memutari Nadiva layaknya predator yang sedang mengintimidasi mangsanya. "Saya hanya menginginkan putra saya bersanding dengan perempuan berpendidikan tinggi, yang punya kasta, yang seagama, dan yang paling penting... orang terhormat."
Maya berhenti tepat di depan Nadiva, mencondongkan tubuhnya dengan senyum merendahkan yang luar biasa kejam. "Orang rendahan seperti kamu tidak pantas menghirup udara yang sama di sekitar putra kami. Sana pergi. Cari orang yang sama miskin dan udiknya sepertimu!"
Udara di ruangan itu terasa raib. Dereen meronta keras dari pegangan para bodyguard. "MAMA! Cukup! Jangan hina dia!" raung Dereen, matanya memerah menahan murka dan putus asa.
Namun, yang menjadi pusat dari segala hinaan itu justru terdiam.
Nadiva tidak menangis. Ia tidak gemetar. Gadis yang biasanya meledak-ledak dan barbar itu kini berdiri setenang air danau. Ia menatap lurus ke arah Nyonya Maya dengan sepasang netra cokelat terangnya yang memancarkan keteguhan luar biasa. Ia meresapi setiap hinaan itu, menyimpannya, lalu menelannya bulat-bulat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri di depan wanita arogan itu, Nadiva memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi menuju pintu utama yang menjulang tinggi, menolak memberikan kepuasan pada sang nyonya besar dengan air matanya.
Melihat Nadiva berjalan pergi, tenaga Dereen mendadak berlipat ganda. Dengan satu entakan kasar, ia berhasil menghempaskan kedua bodyguard itu. Dereen berlari kencang, mengejar siluet Nadiva yang nyaris mencapai pintu besar mansion.
"Nadiva!"
Dereen berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu, menghentikan langkahnya dengan paksa. Napas cowok itu tersengal. Wajahnya pucat pasi, dipenuhi ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ketakutan akan kehilangan yang sesungguhnya.
"Nadiva, kamu mau ke mana?" suara Dereen bergetar, mencengkeram tangan Nadiva seolah itu adalah nyawanya sendiri. Matanya memohon. "Div, jangan pergi. Terus hubungan kita gimana? Kita udah janji buat berjuang sama-sama—"
"Kita?"
Nadiva memotong ucapan Dereen dengan cepat. Suaranya tak lagi pelan. Kali ini, gadis itu mendongak, menarik napas panjang, dan membiarkan sisi keberaniannya meledak. Ia sengaja meninggikan volume suaranya, memastikannya bergema memantul ke seluruh penjuru ruangan, menembus telinga sang nyonya besar yang masih berdiri angkuh di ruang tengah.
"Siapa yang kamu sebut dengan 'kita', Kak Dereen?!"
Nadiva mengentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Dereen. Matanya menyala, memancarkan kecerdasan dan keberanian seorang perempuan yang tahu betul harga dirinya.
"Apa yang dikatakan ibumu itu benar. Dosa terbesar seorang anak adalah melawan orang tuanya sendiri. Dan aku... nggak akan pernah sudi jadi alasan seorang anak durhaka pada ibunya!"
Suara Nadiva melengking jernih, membelah keheningan mansion mewah itu. Ia menatap Dereen, lalu memutar pandangannya menatap tajam ke arah Nyonya Maya di kejauhan.
"Ibu Anda bicara soal kasta?" Nadiva tersenyum, sebuah senyum sinis yang mengiris. "Andai di bumi ini hanya ada laki-laki saja tanpa ada perempuan, tidak akan pernah ada peradaban manusia berikutnya. Siapa yang akan menyebut kalian berkasta, jika semua manusia lahir dengan kasta yang sama? Tidak akan ada yang namanya agama, jika tidak ada keyakinan lain untuk membedakannya. Lalu... siapa yang akan mengakui kalian sebagai orang kaya, jika semua orang di dunia ini terlahir kaya raya?!"
Nyonya Maya terpaku di tempatnya. Kalimat filosofis yang menusuk itu meluncur begitu saja dari bibir gadis yang baru saja ia sebut 'rendahan'.
"Ingat ini baik-baik, Nyonya Besar," lanjut Nadiva, nadanya kini bergetar oleh amarah yang suci. "Harta, takhta, kasta... semua yang ada pada manusia itu hanya titipan dari Sang Pencipta! Sangat tidak tahu malu sekali ya, menyombongkan dan memamerkan titipan yang bahkan bukan miliknya sendiri!"
Nadiva mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Bagaimana? Jawabanku sangat lancang, bukan? Tapi begitulah kenyataannya!"
Skakmat.
Keheningan yang mematikan mencekik ruangan itu. Nyonya Maya Hilton, sosialita yang tak pernah kalah dalam berdebat, kini bungkam seribu bahasa. Wajahnya memerah padam. Tiba-tiba, ada rasa malu yang menampar hatinya dengan keras. Kata-kata gadis itu telak menelanjangi kesombongannya yang fana.
Setelah melepaskan beban yang menyesakkan dadanya, napas Nadiva berangsur teratur. Matanya yang tadi menyala penuh amarah, kini meredup saat kembali menatap wajah hancur Dereen di depannya.
Ego telah dituntaskan, kini saatnya hati yang mengambil alih.
Mata Nadiva mulai berkaca-kaca. Tembok ketegarannya runtuh perlahan. Ia menatap wajah cowok yang diam-diam telah mengukir nama di hatinya itu untuk yang terakhir kalinya.
"Aku nggak akan pernah memaksa kamu untuk pindah agama, Kak," bisik Nadiva, suaranya kini kembali melembut, mengalun penuh kepedihan yang menyayat hati. "Dan aku... tidak akan pernah mau melepaskan agamaku."
Dereen menggeleng pelan. Air mata akhirnya lolos dari pelupuk mata sang bad boy, menganak sungai di pipinya yang tegas. "Div, please... gue mohon..."
"Hiduplah yang bahagia terus, Dereen," sela Nadiva, menyelipkan senyum yang teramat perih di sela isak tangisnya. Ia memanggil nama cowok itu tanpa embel-embel 'Kak' untuk pertama sekaligus terakhir kalinya. "Doaku akan selalu ada buat kamu. Tapi kita nggak bisa sama-sama lagi. Takdir kita memang seperti ini, selamanya akan berjalan di rel yang berbeda."
Nadiva memundurkan langkahnya perlahan. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memberikan salam perpisahan.
"Tapi jauh di lubuk hatiku..." Nadiva menelan isaknya, menatap mata kelam Dereen yang kini dipenuhi lautan air mata, "...aku berterima kasih sama kamu. Terima kasih karena pernah membuat hidupku terasa sangat bernyawa."
Gadis itu membalikkan badan. Dan kali ini, tak ada lagi yang menghentikannya.
Nadiva melangkah keluar melewati pintu kayu ek raksasa itu, menembus dinginnya angin malam ibu kota. Ia sudah selesai. Tugasnya di sini telah usai. Tiket penerbangan ke Maroko sudah menunggunya besok pagi. Ia akan pergi, meninggalkan luka, meninggalkan pangeran esnya, dan meninggalkan mimpi-mimpi kecil yang sempat mereka rajut bersama dalam diam.
Di ambang pintu, Dereen jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Bahu kokohnya bergetar hebat, diiringi isakan tangis keputusasaan yang menggema di keheningan mansion.
Ia tidak mengejar. Kakinya seolah dipaku ke lantai oleh rantai rasa bersalah yang teramat berat. Ia tak bisa mencegah Nadiva pergi, karena ia sadar, dialah pihak yang paling bersalah. Karena ketidakberdayaannyalah, harga diri perempuan yang paling ia cintai diinjak-injak hingga hancur oleh keluarganya sendiri.
Malam itu, di bawah kemegahan lampu kristal Bohemian, Dereen Hilton belajar satu pelajaran paling kejam dalam hidupnya: bahwa uang dan kuasa tak akan pernah bisa membeli takdir. Dan kehilangan Nadiva, adalah bayaran termahal yang harus ia tanggung seumur hidupnya.