Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Mandi Bersama
Malam hari pemandangan Pantai semakin indah. Seruni dan Raifan berjalan di pesisir dengan telanjang kaki, sandal mereka di tenteng di tangan kiri. Menikmati sentuhan pasi di telapak kakinya.
"Aku tidak menyangka kalau kamu akan membawaku ke Pantai. Aku kira hanya jalan-jalan biasa saja"
Raifan tersenyum tipis, dia menatap istrinya yang terlihat sangat bahagia saat di bawa pergi jalan-jalan ke Pantai ini. Rambutnya yang berantakan karena tertiup angin, Raifan membenarkannya menyalipkan nya ke belakang tangan.
"Karena aku pikir Pantai adalah tempat yang indah"
"Benar, memang Pantai sangat indah"
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, sampai di Hotel yang tidak jauh dari sana. Raifan sudah memesan satu kamar untuk mereka berdua.
"Kau mandi saja dulu"
Seruni menatap suaminya, entah ada keberanian darimana sampai dia begitu lantang mengatakan hal ini. "Mas, mau mandi bersama?"
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya Seruni sudah tahu jawabannya. Tidak mungkin juga jika Raifan menolaknya. Sudah beberapa waktu mereka tidak menikmati waktu bersama, karena banyak hal yang selalu menjadi masalah diantara keduanya, yang berakhir menjadi pertengkaran.
"Kamu yang ngajak ya, bukan aku"
Raifan tersenyum penuh arti, dia mendekatkan wajahnya pada Seruni, sampai kening mereka saling menempel. Senyuman Raifan menunjukan semuanya, sementara Seruni hanya tersenyum tipis, sudah terlambat untuk menyesali ucapannya tadi.
Akhirnya Raifan menarik Seruni untuk segera masuk ke dalam kamar mandi. Menyalakan keran dan shower, membuat suara-suara mereka teredam dengan suara air.
Hampir satu jam mereka berada di dalam kamar mandi, sampai ketika keluar keduanya terlihat lelah. Tidak, hanya Seruni yang lebih terlihat lelah, sementara Raifan terlihat lebih segar. Mengusap rambut basahnya ke belakang.
"Aku bantu keringkan rambutmu"
Raifan memegang bahu istrinya dan membawanya ke sebuah sofa, mendudukan Seruni disana. Lalu dia mengambil handuk kecil di tangan Seruni dan mulai mengeringkan rambut basah istrinya dengan memberikan sedikit pijatan lembut.
"Mas, sebenarnya kenapa kamu meminta aku untuk berhenti bekerja dengan Riko?"
Tidak lagi memanggil Mas saat di depan suaminya, karena kemarahan Raifan lebih menakutkan.
"Aku tidak suka dengannya"
"Sepertinya kamu selalu tidak suka dengan semua pria yang dekat denganku. Bahkan Pandi saja masih sering kau curigai, iyakan?"
"Tentu saja"
Seruni hanya menggeleng pelan dengan tingkah suaminya ini, yang terkadang memang terlalu berlebihan. Tapi di balik sikapnya itu, lagi-lagi Seruni selalu merasakan jika Raifan begitu peduli padanya. Tapi, terkadang satu hal selalu menyadarkannya jika Raifan hanya terpaksa menikahinya.
"Kenapa dengan pundakmu ini?" tanya Raifan sambil mengelus pelan bekas luka di bahu Seruni, padahal sudah sering dia melihatnya, tapi baru bertanya sekarang.
"Oh ini" Seruni ikut memegang bahunya dan bekas luka itu. "Dulu aku hampir tertabrak mobil, beruntung masih selamat dan meninggalkan bekas luka ini"
"Ternyata kau sudah ceroboh dari dulu ya"
Seruni berdecak pelan. "Sebenarnya bukan ceroboh, tapi dari dulu aku memang sering kecelakaan dari yang kecil sampai hampir mati. Beberapa kali hampir tertimpa lampu besar dan barang besar saat pemotretan, lalu hampir tertabrak mobil, dan tertabrak motor sampai koma tiga hari. Dulu, aku tuh sering banget celaka. Tapi, setelah menikah sama kamu, aku rasa semuanya berubah jadi aman. Aku tidak lagi mengalami hal buruk seperti kecelakaan itu"
Raifan diam, dia melanjutkan mengeringkan rambut Seruni menggunakan alat pengering rambut. Tidak menjawab ucapan Seruni lagi, dia malah asyik bermain-main dengan rambut istrinya.
*
Riko berjalan ke dalam Restoran, menemui pelayan dan mengatakan ruangan VVIP yang sudah di pesan seseorang yang hari ini memiliki janji dengannya. Setelah sampai di ruangan VVIP itu, Riko tersenyum pada seseorang yang sudah menunggunya. Riko duduk di sofa depannya.
"Jadi, ada apa tiba-tiba ingin bertemu denganku?"
Tatapannya begitu serius, sementara Riko hanya menanggapi dengan santai. Melihatnya sekilas saja sudah membuat Riko paham apa yang di inginkan orang ini. Ketika bibirnya mulai berbicara, Riko hanya tersenyum saja dan menanggapi dengan santai.
"Aku ingin kita bekerja sama, karena tujuan kita sama"
Riko terkekeh pelan, dia menegakkan duduknya dan menyimpan kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja. Menatap orang di depannya dengan satu alis terangkat.
"Tujuan kita sama? Tentu tidak, aku tidak pernah berniat menyingkirkan Seruni"
"Tapi-"
"Aku bisa membantumu, tapi kalau aku benar-benar ingin. Karena aku rasa tidak ingin sampai Seruni kenapa-napa, karena targetku bukan dia. Kasihan sekali wanita cantik seperti dia harus jadi korban. Lebih baik aku mendapatkannya saja, menjadikannya ratu dalam hidupku"
"Terserah apa yang ingin kau lakukan, tapi buatlah dia menghilang dari hadapanku!"
Riko tersenyum sinis, dia memainkan jemari tangannya di atas meja. Mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya, menimbulkan suara yang mencekam di dalam ruangan yang hening.
"Kalau aku mau ya, karena aku bukan orang yang bisa di atur siapapun!"
*
Hari masih pagi buta, embun di jendela bahkan belum menguap. Tapi Seruni sudah bersiap untuk pergi melihat matahari terbit di Pantai. Menatap suaminya yang masih tidur, dia mulai merasa kesal.
"Mas, aku pergi sendiri saja ya. Nanti kamu nyusul aja"
"Tidak!" Tangan Raifan terangkat dari bawah selimut yang menggulung tubuhnya, Seruni cukup terkejut apalagi dengan suara suaminya yang keras. Raifan akhirnya keluar dari gelungan selimut tebal itu. "Tunggu aku sebentar, mandi dulu"
Seruni menghela napas, jika dia berani meninggalkannya, maka semuanya akan berakhir kemarahan Raifan yang tidak terkendali. Jadi, dia memilih menunggu di sofa sambil bermain ponsel. Satu pesan masuk semalam, tapi Seruni tidak sempat membukanya karena terlalu lelah dan langsung tidur dalam pelukan suaminya.
Jangan lupa sore ini ada rapat dengan klien baru ya.
Siap.
Setelah mengirim pesan balasan pada Riko, Seruni mematikan layar ponsel saat suaminya sudah keluar dari kamar mandi.
"Mas, sore ini aku ada rapat. Pulang agak sedikit malam sepertinya"
Raifan sedang memakai baju di depannya, dan sama sekali tidak menghiraukan keberadaan istrinya, dan Seruni juga terlihat biasa saja. Mereka menikah sudah hampir tiga tahun, dan semua hal-hal ini menjadi hal biasa yang tidak membuat malu lagi. Meski pada awalnya Seruni sempat begitu malu. Namun perlahan mulai terbiasa juga.
"Diantar Pandi"
"Iya, Mas"
Setelah mereka siap, langsung pergi ke Pantai untuk melihat matahari terbit pagi ini. Pemandangan indah yang entah akan bisa mereka saksikan berdua lagi, atau tidak.
Bersambung
bicarakan kembali tentang itu jika seruni ingin kamu berhenti maka kamu cari orang yg mau membantu mawar, tapi jika seruni mengijinkan maka terbukalah, atau biar seruni yg mengurus itu tanpa kamu , atau apalah yg terbaik, jadi pikirkan matang-matang dulu baru memutuskan tanpa emosi
kalo aku kalau mantan kamu sekarat aja didepan kamu nggak usah sok2 an bantu cari orang lain aja apalagi sembunyi2 membantu hadeh nggak sudi siap2 dia kehilangan anak istri nya jangan pernah ada urusan sama mantan apapun bentuknya
karena ingin tau apa yg akan terjadi dan keputusan seruni untuk mawar 🌹