Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
"Ma, Hari ini Vania ke kampus bawa motor ya?" Rengek gadis cantik dengan dandanan tomboi, baju hem panjang tanpa kancing dengan dalaman kaos lengan pendek, celana jeans yang sobek sobek, rambut panjang kuncir ekor kuda dengan topi yang dipakai terbalik.
Andriana menatap tajam dan geram melihat penampilan Vania.
"Vania!!!...kamu mau pergi kuliah atau mau nongkrong!"
Vania tersenyum lebar lalu merangkul pundak ibunya.
"Ma, kita belajar kan pakai otak, ngapain sih ribut masalah baju".
"Kamu nih, jangan asal Van, kamu anak gadis harus jaga penampilan, dandan yang benar!" Gertak Andriana dengan mata masih melotot tajam.
"Ma, jangan salah dengan penampilan Vania, meskipun dandan kayak gini otak Vania lebih cerdas dari mereka yang dandan sok cantik, udah deh ma! Vania berangkat dulu, pinjam motor mama ya da..." Tanpa menunggu jawaban dari mamanya, Vania meraih kunci motor di atas nakas dan pergi tanpa menoleh lagi.
Andriana menggeleng pelan lalu mendengus kasar
"Devan, dia mirip sekali denganmu " Batinnya sebelum bersiap berangkat ke perusahaan farmasi cabang, tempat kerja baru yang harus dikelolanya sesuai amanah dari presdir pusat.
Andriana sudah lama melepaskan status kedokterannya tapi kemampuan medisnya masih sama. Ia sering membantu warga sekitar yang sakit ingin berobat tapi tidak memiliki biaya, dengan suka rela tanpa imbalan apapun ia selalu menolongnya.
...
Di kampus.
Vania memarkirkan motornya di tempat parkir khusus motor, tapi tiba tiba ada beberapa gadis datang mendekatinya.
"Dasar anak kampungan, kok bisa sih masuk di kampus ini? Gak pantas tau!" Umpat mereka kompak.
Vania geram namun harus menahan dirinya agar tidak membuat masalah lagi.
"Kalian siapa bisa bisanya mengatur siapa yang boleh masuk kampus ini, memangnya kalian anggota dewan dekan?" Jawab Vania malas.
Tiba tiba seorang pemuda berlari menghampirinya.
"Maaf nona nona, sepertinya kalian harus segera masuk kelas karena mata kuliah sudah mau dimulai" Ucapnya dengan senyum tipis yang menggoda.
"Betul, mari kita ke kelas" Jawab Vania kemudian menarik lengan sang pemuda untuk menjauh dari gadis gadis pembawa masalah itu.
"Hei nona! Kamu mau membawaku ke mana?"
Vania melotot tajam lalu melepaskan seketika pegangan tangannya.
"Eh iya sorry sorry a-aku lupa, ehm sebagai permintaan maafku gimana kalau aku traktir kamu minum kopi di cafe depan nanti pulang dari kuliah".
"Boleh, nama kamu siapa?"
"Eh iya kita belum kenalan ya? Namaku Vania Arnova" Jawab Vania sambil menjulurkan tangannya.
"Arvan, Arvan Ardana Collin" Jawab pemuda itu menyambut uluran tangan Vania.
"Kamu tahu Arvan? Kamu orang pertama yang mau berteman denganku setelah aku pindah di sini".
''O iya? Benarkah?"
"Ehem, apalagi para gadis bodoh itu, boro boro berteman, mereka suka membuli dan ngatain aku kampungan lah ini itu"
"Terus kamu gak marah dikatain mereka" Tanya Arvan masih dengan senyumnya yang menawan.
Vania menggeleng " Enggak tapi kesel".
"Hahaha...Sama saja Vania"
"Hahaha...iya itu maksudku Arvan"
Mereka pun saling bercanda, tertawa tanpa beban sebelum akhirnya berpisah di depan kelas masing masing, karena Vania mengambil kelas kedokteran, sedangkan Arvan di kelas bisnis manajemen.
Setelah pulang dari kampus mereka pun pergi ke cafe untuk ngopi dan bercerita tentang kehidupan masing masing.
"Arvan, jadi kamu hanya tinggal bersama papa kamu?"
"Ehem"
Vania tertawa lebar " Hahaha...."
Arvan mengeryitkan dahinya " Vania, kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu?".
"Iya lucu, lucu sekali" Jawab Vania.
"Apanya yang lucu?"
Vania berhenti tertawa dan menatap lekat wajah tampan yang ada di depannya.
"Yang lucu itu hidup ini Van, lucu sekali, bagaimana tidak lucu Arvan, di rumahku hanya ada aku dan mamaku yang sangat cerewet, sedangkan di rumahmu hanya ada kamu dan papa kamu yang tak banyak bicara tapi sangat perhatian dan menyayangimu..Ehm sepertinya mereka berjodoh, apa kita nikahkan saja mereka berdua, biar kamu merasakan punya mama yang super cerewet, apa apa di larang, ini gsk boleh itu gak boleh" Jawab Vania yang membuat Arvan terdiam.
"Kalau mereka menikah kita jadi saudara dong" Gumamnya lirih.
Vania terdiam sejenak, ia menatap Arvan lekat.
Arvan pun membalas tatapan itu, ia dapat melihat ada luka yang tersembunyi di dalam tatapan mata Vania.Luka yang tak bisa disembuhkan karena terlalu dalam dan tak ingin siapapun mengetahuinya.
Arvan menggenggam tangan Vania " Vania mulai sekarang aku adalah temanmu, kamu tidak sendiri lagi".
Vania terdiam sejenak lalu menunduk dengan mata berkaca kaca.
"Hei, Vania? Ayolah pliss kamu wanita kuat dan tangguh, tetap semangat kita capai mimpi kita meskipun keluarga kita jauh dari kata sempurna. Kita tunjukkan pada dunia kita akan sukses"
Mendengar kata kata Arvan membuat Vania kembali bersemangat dan mengangkat wajahnya sambil mengusap air matanya yang mulai menetes.
"Ehem, makasih Arvan" Jawab Vania dengan senyumnya yang manis.
Arvan tak mengalihkan pandangannya, ia terus menatap wajah Vania yang bertambah cantik. Wajah yang polos alami tanpa polesan make up yang tebal, bahkan kedua alisnya pun dibiarkan tumbuh alami tanpa sulam ataupun cetakan.
Wajah yang begitu cantik alami membuat tuan muda satu ini gila dan tidak bisa melupakannya walau sedetik pun.