Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
"Rani, apa semuanya sudah siap?"
"Sudah, Bu. Semua sudah disiapkan dengan baik." Rani menunjukkan catatan di tangannya. Viola menggeser pandangan dari satu meja ke meja lainnya. Aneka cake, tart, pastry, dan dessert tersusun rapi dalam kotak-kotak khusus.
"Bagaimana dengan jumlahnya? Tidak ada yang kurang, kan?"
"Semua sudah dihitung sebelum dimasukkan ke dalam kotak. Ibu jangan terlalu khawatir."
Viola menghembuskan napas panjang. "Aku hanya ingin memastikan agar tamu undangan yang mencicipi produk kita tidak ada yang kecewa."
Ia kembali memeriksa satu per satu kotak di hadapannya. Malam ini bukan sekedar pesanan dalam jumlah besar. Produk Sweet Cake akan berada di salah satu acara terbesar yang pernah mereka tangani. Di mana terdapat banyak pengusahaan-pengusaha dari berbagai perusahaan berkumpul.
"Kalau ada yang kurang, kita bisa segera membuatnya sebelum berangkat."
"Tidak ada yang kurang, Bu. Saya sudah memastikan semuanya pas." Rani tersenyum melihat atasannya yang sejak tadi tidak berhenti memeriksa pesanan.
Suara pintu yang dibuka mengalihkan pandangan keduanya.
"Selamat sore."
Asisten Kim masuk bersama dua orang yang membawa beberapa kotak kosong untuk keperluan pengangkutan.
"Bagaimana persiapannya?" tanya pria itu.
"Sudah hampir selesai," jawab Viola. Ia berjalan menghampiri mereka. "Anda bisa langsung membawanya."
Asisten Kim memberi isyarat pada dua orang pegawainya untuk mulai mengangkut semua pesanan. Rani dan Siska ikut membantu.
"Apa Sweet Cake hari ini tutup lebih awal?" tanya Asisten Kim. Matanya berpendar ke sekeliling toko yang tampak sepi pengunjung. Etalase yang biasanya dipenuhi aneka cake pun terlihat kosong.
"Kami tutup lebih awal untuk memaksimalkan pesanan," jawab Viola. Ia memang sengaja menutup toko dua jam lebih awal agar bisa lebih fokus menyiapkan pesanan.
Asisten Kim mengangguk pelan. Ia kemudian menyerahkan sebuah paperbag berukuran besar pada Viola. "Ini untuk Anda."
Viola menatap paperbag dengan logo butik ternama yang tercetak elegan di permukaannya. "Untuk saya?"
"Benar, Nona."
Viola menerima paperbag itu dengan kedua tangannya. "Tapi untuk apa?"
"Tuan Han ingin Anda mengenakannya malam ini," jawab Asisten Kim.
Viola menatap paperbag tersebut beberapa saat sebelum menggeleng. "Tidak perlu. Sebaiknya Anda bawa kembali saja." Ia menyerahkan kembali paperbag itu namun Asisten Kim menolaknya.
"Tolong pakai saja, Nona."
Viola mengerutkan kening. "Kenapa beliau sampai mengirimkan pakaian untuk saya? Saya datang ke acara itu sebagai bagian dari pelayanan toko kami, bukan sebagai tamu undangan."
Asisten Kim menatapnya beberapa detik. "Saya kurang tahu alasan pastinya. Beliau hanya berpesan agar Nona datang ke pesta nanti malam dengan mengenakan pakaian yang beliau kirimkan."
Viola akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tolong sampaikan terima kasih saya pada beliau."
"Bu Viola, semua kotak kue sudah berada di mobil." Rani kembali mendekat untuk memberi laporan.
Pandangan Viola beralih pada Rani. "Kalau begitu, kamu, Siska, dan Dimas bisa pergi duluan untuk menyiapkan semuanya di sana."
"Baik, Bu," jawab Rani.
Beberapa saat kemudian, mobil yang mengangkut semua pesanan beserta ketiga karyawan Sweet Cake meninggalkan area parkir menuju tempat acara. Di saat itulah Viola baru bisa menghela napas lega. "Semoga setelah ini Sweet Cake semakin banyak dikenal orang," gumamnya penuh harap.
Setelah memastikan toko dalam keadaan aman, Viola mengunci pintunya lalu bergegas menuju bangunan tempat tinggalnya yang berada tepat di belakang Sweet Cake. Ia harus segera membersihkan diri lalu bersiap menyusul ketiga karyawannya.
Selesai membersihkan diri, Viola menatap paperbag yang tergeletak di atas tempat tidur. Tangannya mulai mengeluarkan kardus dari dalam paperbag itu, lalu perlahan mengangkat tutupnya. Begitu terbuka, matanya langsung terpaku pada isi di dalamnya.
Sebuah gaun malam berwarna Champagne-ivory terlipat rapi di antara lapisan kertas pembungkus lembut. Potongannya tampak anggun dengan bagian leher transparan yang dihiasi bordir dan kilauan kecil seperti kristal. Detail renda memenuhi bagian dada hingga pinggang, membentuk siluet yang ramping sebelum melebar perlahan ke bagian bawah.
Kainnya jatuh panjang dan lembut, dengan lapisan tipis berkilau yang membentuk ekor gaun di belakangnya. Setiap kali terkena cahaya, permukaannya memantulkan kilauan halus.
"Ini pasti mahal," gumam Viola pelan.
Ia menatap gaun itu lagi. Semakin lama melihatnya, semakin berat rasa tidak nyaman di dadanya. Ia berniat datang ke acara itu sebagai pemilik Sweet Cake. Sebagai mitra yang bertanggung jawab atas hidangan yang mereka pesan. Bukan sebagai tamu istimewa, meskipun Seokjin sebenarnya sudah mengirimkan undangan resmi untuknya.
"Seharusnya Tuan Han tidak perlu melakukan ini." Viola menghembuskan napas panjang. "Aku bukan Viola yang harus berpakaian mewah seperti dulu."
Namun, setelah beberapa saat Viola sempat merasa ragu dan bimbang. Ia akhirnya memutuskan untuk memakai gaun mahal tersebut.
Keputusan itu bukan karena Viola merasa pantas menerima pemberian semahal itu. Ia hanya ingin menghormati niat baik Seokjin.
Beberapa saat kemudian Viola sudah siap pergi dengan mengenakan gaun malam tersebut. Kainnya membingkai tubuhnya dengan sempurna. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sementara ia hanya mengenakan perhiasan sederhana.
Viola berdiri cukup lama di depan cermin. Untuk sesaat, bayangan wanita di hadapannya terasa asing.
Dulu ia memang terbiasa mengenakan pakaian seperti ini. Menghadiri pesta perusahaan, bertemu para pengusaha, berdiri di tengah ruangan penuh orang penting. Namun, sekarang semuanya berbeda.
Ia bukan lagi CEO perusahaan besar. Ia hanya Viola. Pemilik sebuah toko kue yang sedang berusaha membangun kembali hidupnya dari awal.
"Aku datang sebagai bentuk tanggung jawabku pada Sweet Cake." Ia mengambil tas kecilnya lalu berjalan keluar.
Baru saja hendak membuka aplikasi taksi online, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Asisten Kim muncul di layar.
Asisten Kim memintanya menunggu hingga sepuluh menit ke depan karena mobil yang akan menjemputnya masih berada di perjalanan.
Viola mengernyit. "Lagi-lagi ...." Jemarinya berhenti di atas layar.
Ia sebenarnya ingin menolak. Namun, setelah beberapa detik, akhirnya ia hanya menghela napas dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan bangunan tempat tinggalnya. Viola bergegas masuk dan mobilmu kembali melaju.
Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam. Lampu-lampu kota mulai menyala. Jalanan semakin ramai, sementara pikiranya justru dipenuhi berbagai hal.
Beberapa menit kemudian, mobil mewah itu berhenti di depan sebuah hotel mewah milik Dhanubrata Group sekaligus tempat digelarnya pesta ulang tahun perusahaan tersebut.
Viola turun dari mobil. Begitu kakinya menyentuh lantai lobi, ia menarik napas dalam-dalam.
Pintu-pintu kaca di belakangnya tertutup perlahan. Viola mengangkat wajah. Tatapannya kembali tenang.
Malam ini ia memang tidak datang sebagai seorang CEO perusahaan besar seperti dulu. Namun, harga dirinya masih sama, kepercayaan dirinya masih ada. Dan malam ini, ia datang membawa nama Sweet Cake yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
"Tidak ada yang perlu dirisaukan." Ia menggenggam tali tas kecilnya, lalu kembali melangkah.
Tanpa Viola sadari, malam itu bukan sekedar malam untuk memperkenalkan Sweet Cake pada lebih banyak orang.
Malam itu akan menjadi awal dari sebuah pilihan. Sebuah pengorbanan yang kelak menuntut sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
**** Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor