Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU — D.G.W BAB 23 — KALKULASI ULANG DOPAMIN DAN STATUS BARU
...SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA...
...BAB 23 — KALKULASI ULANG DOPAMIN DAN STATUS BARU...
Suara tawa kecil yang tertahan dari balik selimut terdengar seperti melodi asing namun luar biasa menyenangkan bagi sistem pendengaran Dean. Dengan satu gerakan terukur yang sangat lembut, jemari kekarnya menarik perlahan kain tebal itu hingga mengekspos wajah Sinta yang merah padam dengan mata berbinar malu.
"Menyembunyikan variabel reaksi tidak akan mengubah fakta empiris yang terjadi tadi malam, Sinta," gumam Dean. Suara seraknya di pagi hari masih memiliki efektivitas seratus persen dalam membuat bulu kuduk mahasiswi kedokteran itu berdiri.
"Pak Dean... tolong jangan dibahas pakai bahasa laboratorium lagi," bisik Sinta pasrah, mencoba menutup seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. "Aku malu setengah mati..."
Dean menatap kedua telapak tangan mungil yang menutupi wajah istrinya. Bukannya menuruti permintaan tersebut, pria itu justru menunduk dan mendaratkan kecupan hangat tepat di punggung tangan Sinta. Sentuhan bibirnya yang lembut membuat Sinta terkejut dan perlahan menurunkan tangannya.
[POV Dean]
Tingkat kemerahan pada area pipi dan leher Sinta menunjukkan peningkatan respons vasodilatasi pembuluh darah sebesar empat puluh persen dari batas normal. Berdasarkan data literatur neurologi yang saya pelajari pukul tiga dini hari tadi—setelah memindahkan Sinta kembali ke tempat tidur—ekspresi malu yang dipadu dengan senyuman terkontrol merupakan indikator kuat dari pelepasan hormon oksitosin dan dopamin pasca-kontak intim.
Keputusan saya untuk menunda jadwal pemantauan bursa efek regional selama dua puluh menit terbukti membawa return on investment (ROI) emosional yang sangat signifikan. Status Sinta dalam memori inti saya telah diperbarui secara permanen: bukan lagi subjek perjanjian temporer, melainkan 'istriku' dalam parameter hukum, biologis, dan perasaan yang tidak terukur oleh formula matematis mana pun. Label 'pria membosankan' kini secara resmi dihapus dari database internal saya.
"Identifikasi istilah malu tidak masuk dalam kategori bahaya biologis," ucap Dean lempeng, memiringkan tubuhnya untuk menopang kepala dengan satu tangan sambil terus menatap Sinta tanpa kedip.
"Namun, jika sebutan 'istriku' memicu lonjakan denyut jantungmu hingga terdengar sejauh ini, saya akan meningkatkan frekuensi penggunaannya untuk mempercepat proses adaptasi."
"Pak Dean!" Sinta memukul pelan dada telanjang suaminya yang keras seperti batu. "Bisa tidak, berhenti bersikap terlalu analitis di atas kasur?"
"Analisis adalah fondasi kepastian," balas Dean tenang tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Dan kepastian pagi ini adalah: kamu milik saya, Sinta. Sepenuhnya."
Kata-kata tegas tanpa keraguan itu mengunci mulut Sinta seketika. Tidak ada lagi sapaan "Nona Sinta" yang berjarak dan kaku. Tatapan mata hitam Dean pagi ini terasa hangat, protektif, dan sarat akan kepemilikan yang mutlak.
Namun, saat Sinta mencoba bergeser untuk duduk, rasa pegal yang mendadak menyerang area pinggang membuat perempuan itu meringis pelan. Dean dengan refleks secepat kilat menahan kedua bahu Sinta, membantunya bersandar pada kepala ranjang dengan kehati-hatian yang sangat kontras dibanding kekuatan dominannya semalam.
"Tingkat rasa sakit?" tanya Dean serius, alis tebalnya bertaut cemas. "Skala satu sampai sepuluh? Perlu saya panggilkan dokter spesialis ortopedi?"
Sinta menepuk jidatnya sendiri, tidak tahu harus tertawa atau menangis menghadapi kepolosan suaminya yang kelewat metodis ini. "Skala dua, Pak Robot! Cuma sedikit pegal. Ini reaksi fisiologis yang sangat normal setelah... aktivitas semalam!"
Dean mengangguk pelan, mencatat informasi tersebut ke dalam ingatannya. "Baik. Kompres hangat dan nutrisi tinggi protein akan disiapkan dalam waktu lima belas menit untuk mempercepat pemulihan jaringan otot."
Pria itu kemudian bangkit dari tempat tidur tanpa canggung sedikit pun, memamerkan tubuh atletisnya yang terpahat sempurna saat meraih jubah mandi di sudut ruangan. Sebelum melangkah menuju kamar mandi, Dean menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sinta yang sedang menyembunyikan senyum bahagianya di balik bantal.
"Satu hal lagi," kata Dean dengan nada datar khasnya. "Mulai hari ini, panggilan 'Pak' di luar ruang kuliah kedokteran resmi dihapus dari regulasi rumah tangga kita. Cari alternatif panggilan yang memiliki tingkat keintiman yang setara."
Sinta mengepalkan tangannya gemas di balik selimut. "Kalau aku tidak mau?"
Dean menatapnya dalam, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman tipis yang sangat berbahaya bagi kesehatan jantung Sinta.
"Maka saya akan memberlakukan amandemen darurat jilid dua malam nanti."
SIANG HARI — PUKUL 12.30 WIB
Kesibukan kampus kedokteran hari ini benar-benar menguras energi Sinta. Namun, fokusnya beberapa kali terpecah akibat pesan singkat yang terus masuk dari nomor bertuliskan nama kontak: Suami ku
[11.45] Suami ku: Asupan glukosa dan protein wajib dipenuhi tepat pukul 12.00. Saya sudah mengosongkan jadwal rapat direksi untuk mengawasi proses nutrisi siang ini.
[12.15] Suami ku: Saya sudah berada di area parkir utara Fakultas Kedokteran. Koordinat posisi: di bawah pohon beringin, mobil SUV hitam.
Sinta memijat pelipisnya sambil berjalan menuju area parkir. Pria kaku itu benar-benar menepati ucapannya. Begitu Sinta mendekati mobil SUV ber-kaca gelap tersebut, pintu penumpang depan langsung terbuka dari dalam secara otomatis.
"Masuk," panggil suara berat dari dalam.
Sinta buru-buru melangkah masuk dan menutup pintu, takut diperhatikan oleh teman-teman kampusnya. Di dalam mobil, Dean tampak sangat gagah dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku, memamerkan jam tangan mewah dan lengan berototnya.
"Kenapa tidak makan di kafe luar saja, sih?" protes Sinta sambil menghembuskan napas panjang, mencoba menetralkan gugupnya saat memandang wajah tampan suaminya dari jarak dekat.
"Tingkat privasi kafe umum hanya berada di angka empat puluh persen. Potensi gangguan dari pihak luar terlalu tinggi," jawab Dean lempeng.
Tangannya bergerak meraih sebuah kotak makan stainless steel berlapis tiga yang diletakkan di kursi belakang.
"Lagi pula, koki pribadi rumah telah menyiapkan menu khusus sesuai kalkulasi kalori pemulihanmu."
Sinta membuka kotak makan tersebut. Matanya berbinar saat melihat steak daging sapi empuk, asparagus panggang, dan sup kaldu tulang yang aromanya sangat menggugah selera. Namun, sebelum Sinta sempat meraih sendoknya, Dean sudah lebih dulu mengambil alih alat makan tersebut.
"Pak Dean mau ngapain?" tanya Sinta bingung.
"Koreksi: Panggilan 'Pak' didenda satu kecupan," potong Dean tenang. Tanpa ragu, pria itu maju dan mencium singkat bibir Sinta yang sedikit terbuka. Mwah.
"Pak De—maksudku... Mas Dean!" pekik Sinta dengan wajah yang dalam sekejap kembali memerah seperti kepiting rebus.
"Ini di dalam mobil! Nanti kalau ada mahasiswa lain yang lihat bagaimana?!"
"Kaca mobil ini memiliki tingkat kegelapan delapan puluh persen dengan lapisan anti-intip. Transmisi visual dari luar adalah nol," balas Dean tanpa rasa bersalah. Pria itu menyendokkan sepotong daging sapi dan mengarahkannya tepat ke depan mulut Sinta.
"Buka mulutmu. Proses manipulasi energi harus dimulai sekarang."
Sinta hanya bisa pasrah. Dia menerima suapan demi suapan dari suaminya. Pemandangan seorang CEO dingin bernilai triliunan rupiah yang dengan telaten menyuapinya di dalam mobil parkiran kampus benar-benar terasa surealis.
"Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Dean saat menyadari mata bulat Sinta terus memperhatikan setiap pergerakan wajahnya.
"Masih belum terbiasa aja," gumam Sinta pelan setelah menelan makanannya.
"Mas Dean yang semalam... dan Mas Dean yang sekarang... beda banget sama gambaran dingin yang selama ini aku tahu."
Dean menghentikan gerakan tangannya sejenak. Matanya menatap Sinta dengan kedalaman yang sanggup meluluhkan pertahanan siapa pun.
"Perubahan parameter ini hanya berlaku eksklusif untuk satu individu," kata Dean pelan, suaranya terdengar begitu intim di dalam kabin mobil yang hening.
"Yaitu kamu, Sinta. Di depan dunia, saya adalah Dean Galang Wijaya yang rasional dan tanpa kompromi. Tapi di hadapanmu... saya hanyalah seorang suami yang sedang belajar cara mencintai dengan benar."
Jantung Sinta serasa melompat keluar dari tempatnya. Perkataan datar namun jujur tanpa pretensi dari Dean selalu berhasil menghantam perasaan paling dalamnya. Mahasiswi itu tersenyum manis, mengikis jarak di antara mereka, lalu mendaratkan ciuman lembut di pipi tegas Dean.
"Terima kasih, Mas," bisik Sinta tulus.
Dean sempat membeku selama tiga detik—sistem navigasi emosinya mendadak overload menerima serangan kasih sayang mendadak dari istrinya. Namun detik berikutnya, cengkeraman tangannya di sendok melonggar. Dia mengembangkan senyum tipis yang amat tampan, lalu merengkuh tengkuk Sinta untuk mendekatkan wajah mereka kembali.
"Sama-sama, istriku," bisik Dean parau di depan bibir Sinta. "Sekarang, habiskan makan siangmu, atau saya akan membatalkan sisa kuliah soremu dan membawamu pulang ke rumah detik ini juga."
Sinta langsung menyambar sendok dari tangan Dean dengan cepat, membuat pria kaku itu terkekeh pelan—sebuah suara tawa renyah yang menandai babak baru dalam hubungan mereka yang tak lagi sekadar di atas kertas.