Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas Kelompok
Bab 23
Bel tanda berakhirnya jam kuliah pagi baru saja berbunyi. Suara kursi yang bergeser dan obrolan mahasiswa langsung memenuhi ruang kelas besar yang digunakan bersama oleh beberapa kelas dari jurusan yang sama.
Di depan kelas, dosen masih berdiri sambil merapikan buku-bukunya.
"Sebelum pulang, saya ingatkan sekali lagi. Minggu depan setiap kelompok harus mempresentasikan hasil observasi lapangan. Anggotanya saya gabungkan antara kelas A dan kelas B supaya kalian belajar bekerja sama dengan teman yang berbeda kelas."
Beberapa mahasiswa langsung mengeluh pelan.
"Pak, jangan digabung lagi..."
"Kelompok lama saja, Pak..."
Dosen hanya tersenyum tipis.
"Kalau nanti sudah bekerja, kalian juga tidak bisa memilih rekan kerja. Biasakan dari sekarang."
Ruangan pun dipenuhi suara tawa kecil.
Karin menutup buku catatannya sambil mengembuskan napas.
"Syukurlah selesai juga."
Nia yang duduk di sebelahnya langsung meregangkan kedua tangannya.
"Aku kira beliau mau nambah materi lagi."
"Kamu memang dari tadi sudah nggak fokus."
"Bukan nggak fokus." Nia mengusap perutnya. "Lapar."
Karin terkekeh kecil.
"Baru dua jam kuliah."
"Perutku nggak kenal jam."
Mereka berdua ikut berjalan keluar bersama mahasiswa lainnya. Koridor fakultas langsung dipenuhi mahasiswa dari berbagai kelas yang baru selesai mengikuti mata kuliah gabungan.
Di dekat papan pengumuman, beberapa orang tampak berkerumun melihat daftar kelompok yang baru ditempel.
"Ayo lihat," ajak Nia.
Karin mengangguk.
Mereka menyelip di antara kerumunan hingga akhirnya berhasil melihat daftar tersebut.
Kelompok Tiga.
Karin.
Kai.
Nia.
Raka.
Karin membaca nama-nama itu dua kali untuk memastikan dirinya tidak salah lihat.
"Eh..." gumam Nia. "Kita sekelompok lagi."
Belum sempat Karin menjawab, sebuah suara riang terdengar dari belakang.
"Wah! Rezeki anak soleh."
Raka muncul sambil membawa tas yang hanya disampirkan di satu bahu.
"Nggak nyangka langsung dapat kelompok sama kalian."
Nia melipat kedua tangan di depan dada.
"Kamu yakin bakal ikut ngerjain tugas?"
Raka langsung memasang wajah dramatis.
"Nia..."
"Apa?"
"Kamu melukai harga diriku."
Nia mendengus pelan.
"Harga diri mahasiswa yang sering bolos?"
Raka pura-pura memegang dada.
"Sakit, tapi memang benar."
Karin tidak bisa menahan tawanya. Baru beberapa kali bertemu, ia mulai memahami kenapa Kai pernah mengatakan kalau Raka memang aneh, tetapi baik.
Saat suasana masih dipenuhi candaan, Kai datang menghampiri sambil membawa salinan daftar kelompok.
"Sudah lihat?"
"Iya," jawab Karin.
Kai mengangguk pelan.
"Bagus."
"Itu doang?" Raka langsung menyela. "Minimal bilang, 'senang bisa satu kelompok sama kalian'."
Kai menatap sahabatnya datar.
"Nggak."
"Lihat kan?" Raka menoleh kepada Karin. "Dia begini kalau sama aku."
"Kasihan kamu."
"Nah! Karin lebih perhatian."
Kai hanya menggeleng kecil sebelum memasukkan daftar kelompok ke dalam mapnya.
"Kapan kita mulai?"
Karin berpikir sejenak.
"Besok sore?"
"Boleh."
Nia ikut mengangguk.
"Di perpustakaan saja."
"Setuju."
Raka mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Aku juga setuju."
Nia langsung menyipitkan mata.
"Kamu jangan tiba-tiba hilang lagi."
"Tenang." Raka tersenyum lebar. "Aku sudah tobat."
"Tobat seminggu?"
"Minimal ada niat."
Suasana kembali dipenuhi tawa.
Di tengah obrolan mereka, seorang mahasiswi berhenti beberapa langkah dari kerumunan.
Maureen berjalan melewati koridor sambil membawa beberapa berkas. Begitu melihat Kai bersama Karin, ia menghentikan langkahnya.
"Hai, Kai."
Kai menoleh.
"Oh... Maureen."
"Aku nggak ganggu, kan?"
"Nggak."
Maureen tersenyum tipis.
"Kemarin kamu belum sempat ambil formulir . Aku sekalian bawain."
Ia menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Kai.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Tatapan Maureen kemudian beralih kepada Karin dan Nia.
"Halo."
"Halo," jawab Karin ramah.
Beberapa detik suasana menjadi hening. Maureen akhirnya tersenyum lagi.
"Semoga tugas kelompoknya lancar."
"Makasih," sahut Karin.
Setelah berpamitan, Maureen berjalan meninggalkan mereka. Namun ketika jaraknya sudah cukup jauh, langkahnya melambat.
Ia kembali mengingat pesan Gio.
Jangan terlalu terburu-buru. Buat dia percaya dulu.
Maureen mengembuskan napas pelan.
Aku sudah mulai mendekatinya. Tinggal berharap semuanya cepat selesai.
Ia sama sekali belum menyadari bahwa perasaan manusia tidak pernah berjalan sesuai rencana.
-
-
-
Keesokan harinya...
Pukul 15.40 sore, perpustakaan kampus mulai dipenuhi mahasiswa yang mengerjakan berbagai tugas. Suasana relatif tenang. Sesekali hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik atau bisikan pelan antar mahasiswa.
Karin datang lebih dulu bersama Nia. Mereka memilih meja di sudut ruangan yang cukup luas untuk empat orang.
"Raka belum datang?" tanya Karin sambil mengeluarkan buku catatan.
Nia melirik jam tangan.
"Masih lima menit sebelum jam janjian."
Belum sempat pembicaraan berlanjut, Raka muncul tergesa-gesa sambil membawa ransel yang tampak penuh.
"Aku datang!"
Nia menghela napas lega.
"Ajaib."
"Lho, kenapa?"
"Kamu datang tepat waktu."
Raka terkekeh.
"Aku lagi proses jadi mahasiswa teladan."
"Masih jauh."
"Tapi sudah mulai."
Karin ikut tersenyum melihat tingkah mereka.
Tak lama kemudian, Kai datang membawa beberapa buku referensi yang dipinjam dari rak teknik.
"Maaf, tadi cari buku dulu."
"Nggak apa-apa," jawab Karin.
Mereka pun mulai membahas pembagian tugas observasi. Berbeda dengan Raka yang lebih sering melontarkan candaan, Kai langsung menyusun kerangka pekerjaan di atas selembar kertas.
"Observasi bengkel kita bagi empat bagian." Ia menunjuk catatan nya. "Aku bagian proses perbaikan. Karin bagian pelayanan pelanggan. Nia mencatat administrasi. Lalu Raka dokumentasi."
Raka mengangkat tangan.
"Kenapa aku dokumentasi?"
"Soalnya kamu paling banyak jalan."
Jawaban Kai membuat Karin dan Nia tertawa.
"Masuk akal juga," kata Nia.
Raka menggeleng sambil tersenyum pasrah.
"Baiklah. Demi nilai."
Mereka kembali berdiskusi. Kali ini suasana benar-benar serius. Bahkan Raka yang biasanya sulit diam ikut mencatat beberapa poin penting.
Sekitar satu jam kemudian, seseorang menghampiri meja mereka.
"Permisi."
Mereka serempak menoleh.
Maureen berdiri sambil membawa beberapa map berwarna biru.
"Maaf mengganggu."
"Nggak apa-apa, Kak," jawab Karin.
Maureen tersenyum ramah.
"Aku cuma mau ngasih tahu kalau surat izin observasi kelompok kalian sudah selesai diproses."
Ia menyerahkan map itu kepada Kai.
"Kebetulan tadi lewat ruang administrasi, jadi sekalian aku ambil."
Kai menerimanya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Raka yang sedari tadi diam tiba-tiba berbisik pelan kepada Nia.
"Wah..."
"Apa lagi?"
"Rajin banget, ya."
Nia menyenggol lengannya.
"Pelan."
Maureen sempat melirik isi catatan yang sedang mereka kerjakan.
"Kalau observasinya di bengkel tempat Kai kerja, sepertinya datanya bakal lebih mudah didapat."
Kai mengangguk singkat.
"Iya."
"Semoga lancar."
Setelah mengucapkan itu, Maureen kembali berpamitan.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh sekilas ke arah Kai yang kembali fokus menjelaskan pembagian tugas kepada teman-temannya.
Tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajahnya.
-
-
-
Sore itu, Maureen duduk sendirian di halte kampus sambil memandangi lalu lintas yang mulai ramai. Ponselnya bergetar. Nama Gio muncul di layar.
Maureen mengangkat panggilan itu.
"Halo."
"Bagaimana?"
"Aku sudah mulai mendekatinya."
"Ada perkembangan?"
Maureen terdiam sejenak.
"Belum banyak."
"Jangan terlalu lambat."
Nada suara Gio tetap tenang, tetapi terdengar seperti perintah.
"Aku butuh informasi tentang dia."
"Aku tahu."
"Dia mulai percaya?"
"Belum."
"Kalau begitu buat dia percaya."
Sambungan telepon terputus.
Maureen menatap layar ponselnya beberapa saat.
Entah kenapa, ia mulai merasa tidak nyaman setiap kali berbicara dengan Gio.
Ia memang berutang budi kepada pria itu. Namun semakin lama menjalankan permintaan tersebut, semakin besar rasa bersalah yang muncul dalam hatinya.
"Aku cuma membantu sebentar..." gumamnya pelan. "Setelah itu semuanya selesai."
Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
-
-
-
Sementara itu, di bengkel...
Kai sudah kembali mengenakan seragam kerjanya. Tangannya sibuk membongkar mesin sebuah motor matic yang baru masuk.
Pemilik bengkel memperhatikan dari balik meja kasir.
"Tugas kuliah banyak?"
"Cukup."
"Masih sempat kerja?"
Kai tersenyum tipis.
"Harus sempat."
Pemilik bengkel mengangguk bangga.
"Kalau semua anak muda kayak kamu, orang tua pasti tenang."
Kai hanya membalas dengan senyum kecil.
Baginya, bekerja bukan sesuatu yang pantas dibanggakan.
Itu hanya kewajiban.
-
-
-
Di rumah keluarga Wirawan...
Hesti sedang menyiapkan makan malam ketika Karin pulang.
"Capek?"
"Lumayan."
"Kelompok tugasnya bagaimana?"
"Seru."
Hesti tersenyum melihat wajah putrinya yang tampak jauh lebih ceria dibanding beberapa minggu lalu.
"Kelihatannya teman-temanmu menyenangkan."
"Iya."
Karin membantu ibunya menata piring.
Tanpa sadar, ia teringat kembali pada Maureen. Perempuan itu memang terlihat ramah. Namun entah mengapa, setiap kali melihat Maureen berbicara dengan Kai, muncul perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan marah. Bukan juga benci. Melainkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
"Ada apa?"
Suara Hesti membuyarkan lamunannya.
"Nggak apa-apa, Ma."
"Kamu dari tadi senyum sendiri, terus melamun."
Karin buru-buru menggeleng.
"Mungkin capek."
Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya.
Kenapa rasanya sedikit tidak suka ketika melihat perempuan lain mendekati Kai?
Pertanyaan itu terus mengikutinya hingga malam tiba.
Sementara di tempat lain, Gio menatap layar ponselnya yang menampilkan laporan singkat dari Maureen.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Pelan-pelan saja..." gumamnya. "Kalau Kai mulai membuka diri kepada Maureen, Karin pasti akan mulai merasakan sesuatu."
-
-
-
Bersambung...