Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — Hujan Turun, Tapi Tak Berlangsung Selamanya
Beberapa hari kemudian, langit berubah kelabu pekat sejak pagi hari. Angin bertiup makin lama makin kencang, lalu rintik air mulai jatuh perlahan, lama-lama makin deras hingga membasahi seluruh jalanan. Aku berteduh di bawah atap kecil sebuah bangunan tua, menatap butiran air yang jatuh bertubi-tubi memukul tanah, seakan tak ada hentinya. Dinginnya udara menyusup perlahan ke balik pakaianku, dan entah mengapa, pemandangan itu seakan mencerminkan isi hatiku persis — sepi, dingin, dan seakan tak akan pernah berhenti berderai.
Aku berdiri diam di sana, membiarkan pikiranku melayang jauh kembali ke masa lalu. Mengapa semua ini harus terjadi padaku? Bukankah aku sudah berusaha sebaik mungkin? Bukankah aku sudah memberi semuanya — waktuku, tenagaku, hatiku, bahkan masa depanku? Lalu mengapa pada akhirnya aku ditinggalkan begitu saja, seakan tak pernah ada apa-apa di antara kita? Pertanyaan itu berputar-putar terus di kepalaku, tak pernah benar-benar menemukan jawabannya. Air hujan turun terus-menerus, membasuh debu di jalanan, sekaligus menyamarkan jejak air mata yang tak sengaja jatuh kembali di pipiku.
Lalu perlahan aku memperhatikan sekelilingku. Air hujan jatuh ke mana saja, ke tanah keras maupun ke tanah lunak, ke bunga yang indah maupun ke rumput yang tak terlihat. Hujan tak membedakan siapa yang pantas dan siapa yang tidak. Ia turun saja, menurut jalannya. Dan lihatlah tanah yang kering retak — lama-lama menyerap air itu perlahan, lalu perlahan tumbuh kembali rumput hijau yang sempat layu, bunga yang sempat layu kembali mekar segar. Yang tadi terasa berat dan dingin, lama-lama berubah jadi sumber kehidupan yang menyuburkan segalanya. Kalau begitu, mungkin kesedihanku ini pun begitu. Terasa berat dan dingin sekarang, tapi suatu hari nanti ia akan menyuburkan hatiku, membuatku tumbuh lebih kuat, lebih understanding, lebih bijaksana than before.
Hujan terus turun, tapi makin lama makin pelan. Derasnya perlahan berkurang, rintiknya makin jarang, lalu akhirnya berhenti sama sekali. Awan kelabu perlahan tergeser angin, menyisakan langit yang jauh lebih bersih dan terang dari sebelumnya. Udara yang berhembus kini terasa segar sekali, membawa wangi tanah yang baru saja dibasuh air. Di kejauhan, cahaya matahari mulai menyelinap keluar perlahan, menyinari tetesan air yang masih tertinggal di daun-daun hingga berkilau bagai permata. Semua yang tadi tampak suram dan gelap kini tampak berwarna segar kembali.
Saat itulah aku tersadar satu hal yang sederhana namun begitu berarti. Tak ada hujan yang turun selamanya. Tak ada mendung yang bertahan abadi. Tak ada kesedihan yang tak ada akhirnya. Semua yang datang pasti akan berlalu, dan yang gelap pasti akan berganti terang pada waktunya. Aku tak perlu takut pada hujan yang sedang turun ini. Aku cukup berteduh dengan sabar, menjaga hati tetap tenang, dan percaya bahwa di balik awan gelap itu, matahari tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertutup sebentar, dan pasti akan kembali bersinar terang seperti sediakala. Begitu juga hatiku. Sekarang memang sedang musim hujan di hatiku, memang sedang masa sulit yang terasa tak ada habisnya. Tapi ini pun akan berlalu. Luka ini pun akan sembuh pelan-pelan, meninggalkan bekas yang tak lagi perih, melainkan mengingatkan betapa hebatnya aku mampu bertahan melewati hari-hari terberat ini seorang diri. Dan saat hari cerah kembali datang nanti, aku tak akan lagi sama seperti dulu. Aku akan tumbuh lebih kuat, lebih teguh, lebih bijaksana, dan jauh lebih berharga dibanding diriku yang dulu masih berjalan menumpukan harapan pada orang lain. Karena justru di saat-saat terberat inilah, aku perlahan menemukannya kembali — kekuatan yang selama ini tersembunyi di dalam diriku sendiri, kekuatan yang tak akan pernah hilang atau dirampas siapa pun, selamanya.