NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

​​"Ga! Gawat, Cok! Beneran gawat!"

​Langkah kaki Helga di ambang pintu kelas 12 IPS 2 terhenti begitu tangan Varen menyambar lengan jaketnya. 

​Helga melirik pergelangan tangannya yang dipegang erat, lalu menepisnya pelan. 

"Lu bisa gak sih gak usah teriak-teriak pas gua baru nyampe?"

​"Ini bukan soal teriak-teriak, Anjir!" Varen mengacak rambutnya sendiri hingga makin tidak beraturan. 

Kemeja seragamnya tercabut dari pinggang celana, dua kancing teratasnya terbuka memperlihatkan kaos dalam yang sudah agak menguning. 

"Pak Toto nemuin kaset bekas itu di loker pojok! Loker anak-anak yang biasa buat nimbung barang!"

​Helga tidak menunjukkan reaksi histeris. 

Ia melangkah santai menuju deretan bangku bagian belakang, menyusuri lorong sempit di antara meja-meja kayu yang penuh coratan tip-ex. 

Jarinya mengusap debu tipis di atas meja tempat duduknya sendiri sebelum meletakkan tas kain hitam yang sudah mengelupas di beberapa bagian.

​Brak.

​Tas itu jatuh bertumpu di atas meja kayu.

​"Bukannya lu ditaruh di dalam tas lu kemarin?" tanya Helga pendek sambil mendudukkan diri di kursi kayu.

​Varen menyusul cepat, menduduki tepi meja di depan Helga hingga meja itu berderit nyaring. 

Kriiiik. 

"Kemarin pas hujan turun, gua panik! Gua pikir Pak Toto mau razia tas ke kelas-kelas, jadi gua titipin ke loker bawah dekat anak-anak nongkrong. Siapa yang tahu kalau Pak Toto malah bawa kunci serep jam tujuh kurang sepuluh pagi ini?!"

​Renan yang baru saja datang membawa plastik es teh manis dan dua bungkus gorengan ikut mendekat. 

Ia meletakkan bungkus pisang gorengnya di meja Helga tanpa permisi.

​"Lagian lu ngapain bawa-bawa kaset rental gituan ke sekolah, Ren?" celetuk Renan sambil menyedot es tehnya. 

Srrrpt. 

"Kan bisa ditaruh jok motor."

​"Motor gua kemarin dibawa abang gua!" balas Varen sengit. "Lagian itu kaset bukan gua yang ambil! Anak Tunas Bangsa yang numpuk billing pas balap game, terus kasetnya ketukar! Gua cuma mau balikin biar gak diincer lagi di jalan rel!"

​Andreas yang sedang memutar-mutar penggaris plastik di bangku sebelah menoleh sambil tertawa miring. 

"Tapi nama lu yang ditagih, kan? Lu emang hobi banget narik masalah ke kelas IPS."

​"Diem lu, Ndre," sungut Varen. 

Ia kembali memandang Helga yang sedang mengeluarkan sebuah pulpen hitam bekas dari dalam saku seragamnya. 

"Ga, gimana nih? Pak Toto kan tau itu loker sering dipakai sama rombongan kita."

​Helga berkedip dua kali. 

Tangannya sibuk mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke atas permukaan meja. 

​"Gua udah bilang kemarin di kafe," sahut Helga datar. "Jangan dibikin ribet. Tinggal dibilang kasetnya nemu di lapangan."

​"Mana percaya Pak Toto sama kata 'nemu'!" Varen melipat kedua tangannya di dada, napasnya terengah-engah. 

"Terakhir kali si Varen dibilang nemu helm di parkiran aja dipanggil orang tuanya!"

​"Itu beda cerita, Bodo," timpal Renan tenang, lalu mengunyah pisang gorengnya hingga berbunyi renyah. Kruk.

​Jumat pagi, pukul 06.55 WIB. 

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca kelas 12 IPS 2 masih terasa redup, membawa sisa-sisa hawa dingin dari hujan deras semalam. 

Di luar, suara langkah anak-anak yang berlarian di lorong sekolah beradu dengan derit gerbang utama yang sedang didorong oleh penjaga sekolah.

​Helga menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang dingin. 

Ibu jarinya meraba bekas luka gores di buku jarinya yang kemarin sore sempat basah oleh air hujan di rumah sakit.

​"Gua mau beli kopi dulu," kata Helga pendek. 

Ia mulai berdiri dari kursinya.

​"Woi! Lu gak dengerin gua dari tadi?!" Varen menahan bahu Helga. "Pak Toto lagi di ruang piket!"

​"Gua denger," balas Helga pelan. "Tapi kantin buka sampai jam tujuh pas. Kalau gua gak beli sekarang, pas istirahat gua malas antre."

​"Gila lu emang," gumam Andreas sambil menggeleng-gelengkan kepala, tapi penggaris di tangannya tetap berputar cepat. 

​Belum sempat Helga melangkah dua pijakan dari mejanya, suara deris statis yang tajam terdengar dari arah pengeras suara di sudut atas dinding depan kelas.

​Krrrrr... Pung! Pung!

​Suara ketukan mikrofon dari ruang piket memantul di seluruh lorong gedung SMA Negeri 1, membungkam keriuhan tipis di kelas IPS 2.

​"Tes, tes. Satu, dua." Suara bas Pak Toto—guru kesiswaan yang terkenal dengan kumis tebal dan nada bicaranya yang berat—menggema memenuhi koridor sekolah.

​Seluruh murid di kelas terdiam sejenak. 

Varen membeku di atas meja, tangannya yang semula berada di bahu Helga meluncur turun.

​"Diberitahukan kepada siswa yang bernama Helga Barisma, Varen Alzio, Andreas Pratama, dan Renan Altair dari kelas 12 IPS," lanjut suara dari pengeras suara itu dengan jeda penekanan di setiap nama. 

"Harap segera mendatangi Ruang Bimbingan Konseling sekarang juga. Sekali lagi, Helga Barisma dan kawan-kawan, segera ke Ruang BK."

​Klik.

​Suara sambungan mikrofon terputus, menyisakan keheningan canggung di dalam kelas.

​"Tuh kan..." bisik Varen pelan. Suaranya gemetar tipis. "Gua bilang juga apa. Kan."

​Renan menghentikan kunyahan pisang gorengnya.

 Ia membungkus sisa gorengan itu kembali ke dalam plastik transparan dengan cepat. "Anjir, nama gua ikut dibawa-bawa. Padahal gua cuma beli es teh."

​"Lu kan sering ikutan duduk di loker itu pas jam istirahat," cetus Andreas sambil meletakkan penggaris plastiknya ke meja dengan bunyi pukulan keras. 

Tuk! 

"Udah lah, cabut aja sekarang. Makin lama diperlama makin ngamuk tuh kumis."

​Anak-anak kelas IPS 2 mulai saling berbisik, beberapa melirik ke arah empat cowok yang berdiri di sudut belakang tersebut. 

Shinta yang kebetulan lewat di depan lorong kelas IPS 2 sambil membawa tumpukan map OSIS sempat mengintip dari balik pintu kaca, matanya membelalak kaget sebelum cepat-cepat berjalan kembali menuju gedung IPA.

​Helga menelan ludah. 

Tenggorokannya terasa kering, seperti ada hawa antiseptik RSUD semalam yang mendadak melintas kembali di pangkal lidahnya.

​"Ga," panggil Varen sambil menatap Helga dengan wajah pucat. "Gimana?"

​Helga merogoh saku celananya, memastikan ponsel murahnya berada di sana. 

Kertas resep obat dari RSUD untuk ibunya yang semalam ia lipat kecil-kecil masih tersimpan rapat di balik casing ponsel.

​"Jalan aja," kata Helga pendek.

​Ia mendahului ketiga temannya melangkah keluar pintu kelas. 

Sepatu kets hitamnya menginjak ubin koridor dengan langkah datar, tanpa ketergesaan, meskipun bahunya sedikit mengencang.

​Saat melewati belokan koridor utama menuju arah ruang BK, Helga melihat sosok Regina Anatasya berdiri di dekat mading sekolah. 

Regina sedang memegang clipboard OSIS bersama pengurus lainnya, namun matanya langsung tertuju ke arah Helga dan rombongannya yang berjalan beriringan.

​Pandangan mata Regina mengunci posisi Helga. 

Alis tipis gadis itu bertaut rapat, bibirnya terkatung sedikit seolah ingin menanyakan sesuatu, persis seperti pesan SMS yang ia kirimkan semalam.

​Helga tidak menghentikan langkahnya. 

Ia hanya menoleh pendek, memberi isyarat mata yang amat tipis ke arah Regina sebelum memalingkan wajah kembali ke depan pintu kayu berlabel RUANG BK yang berjarak sepuluh meter di depannya.

​Gagang pintu alumunium ruang BK itu tampak mengkilap tertimpa cahaya lampu neon koridor. 

Dari balik kaca buram pintu, bayangan tubuh Pak Toto yang tinggi besar sudah berdiri menunggu di samping meja kerja.

​Helga menarik napas pendek melalui hidung, membiarkan jemari tangannya menyentuh gagang pintu yang dingin.

​Helga mendorong pintu alumunium itu pelan—Kreeek...—sementara di dalam hatinya ia membatin dengan pahit:

​Gawat, pasti Pak Toto gak akan percaya.

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!