“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: pasar malam
Malam yang sederhana itu, di ruangan rumah sakit yang sederhana pula, terasa begitu haru. Di sanalah aku dilamar — di depan Mama, orang yang paling kusayangi. Apakah ini mimpiku? Seorang gadis desa seperti aku, bisa menikahi sosok yang bagai pangeran... dan ternyata itu nyata. Hati ini begitu bahagia saat Kevin menginginkanku menjadi istrinya.
Penuh kebahagiaan, aku pun memeluk Mamaku erat.
"Bahagia selalu ya, Alya."
"Makasih, Mama."
Tak lama, jam kunjungan pun berakhir. Aku dan Kevin berpamitan untuk pulang.
"Kami pulang dulu ya, Bu. Jangan lupa makan ya," pesan Kevin lembut.
"Iya, hati-hati," jawab Mama sambil tersenyum bahagia.
Aku berjalan menuju mobil bersama Kevin. Tangan ku mencengkeram lengan bajunya erat.
"Kamu jangan pergi-pergi lagi ya. Aku tadi panik banget, takut kamu kenapa-napa keluar malam-malam begini," ucapku tak bisa menyembunyikan kegelisahan tadi.
Kevin tersenyum lembut, menggenggam tanganku erat. "Iya, nggak kemana-mana kok."
Ia membukakan pintu mobil untukku, lalu ikut masuk ke dalam. Mesin menyala pelan, dan di dalam kabin yang hangat itu ia menatapku sambil tersenyum menggoda.
"Jadi gimana, Calon Nyonya Mahendra?"
"Ih, apaan sih... ngeledek mulu," jawabku sambil memalingkan wajah malu, tapi tak bisa menahan senyum yang merekah.
"Kamu bakal jadi istriku, Alya. Resmi," ucapnya lembut namun tegas.
"Iya... iya dong," jawabku pelan, pipi terasa panas.
"Tapi aku nggak mau ya, kamu kan om-om," godaku balik sambil tertawa kecil.
Kevin tertawa renyah, lalu mendekat sedikit. "Tapi tetap tampan kan?"
"Iya... masih sih. Tapi tetap saja om-om," jawabku sambil menahan tawa.
"Kamu ini ya..." geleng-geleng kepala sambil tersenyum, lalu membantu memasangkan sabuk pengaman untukku dengan lembut.
Di dalam perjalanan, Alya tiba-tiba bertanya dengan nada penuh tanya.
"Kok kamu bisa tau aku ada di rumah sakit?"
Kevin terdiam seketika, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul — dialah yang menyuruh orang-orangnya mengawasi dan mengikuti Alya.
"Kebetulan saja..." jawabnya pelan, berusaha terdengar tenang.
Alya menatapnya tajam, tak percaya begitu saja.
"Kamu... ngikutin aku ya?"
"Bukan begitu, Sayang. Nggak kok," bantahnya cepat.
"Udah ah, jangan ngambek terus. Nanti cantiknya nambah lho kalau cemberut begitu," ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan sambil tersenyum lembut.
Alya membuang muka, tetap tak terima penjelasan itu.
"Ya sudah, aku ngambek terus saja."
"Ih, jangan dong..."
Tiba-tiba mataku menangkap pemandangan di pinggir jalan — pasar malam yang meriah! Wajahku langsung berseri, aku sangat menyukainya. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengajak Kevin.
"Kevin, kita ke pasar malam yuk!"
Kevin menoleh bingung. "Pasar malam itu apa?"
Alya terbelalak tak percaya. "Kamu... jadi nggak tahu pasar malam?"
"Nggak tahu."
"Sini aku tunjukin! Seru banget tau di sana!"
Kevin pun menepati janjinya, segera memarkirkan mobil di tempat yang aman. Ia belum pernah sekalipun ke pasar malam — wajar saja, tumbuh di keluarga kaya, ia tak pernah tahu tempat seperti itu ada. Sementara itu, hatiku penuh kenangan manis. Waktu kecil, Ibu sering membawaku ke sini. Kami makan permen kapas yang lembut dan es coklat yang manis — kenangan yang tak akan pernah kulupakan.
Alya langsung menarik lengan Kevin, matanya berbinar melihat kincir angin yang berputar perlahan dihiasi lampu-lampu warna-warni di kegelapan malam.
"Kevin, ayo naik itu!"
Kevin mendongak, lalu menatapnya ragu. "Itu tinggi sekali, Alya."
"Kamu takut?" godanya sambil tersenyum miring.
"Bukan takut... cuma tidak biasa," jawab Kevin berusaha tenang.
"Gimana badan kekar kayak gini, naik hal kayak gitu nggak mau?" ledeknya lagi.
Kevin menghela napas pasrah, lalu tersenyum. "Ya sudah... kita naik."
Ia pun berjalan membeli karcis, lalu menemani Alya naik kincir angin itu. Malam itu pasar malam terasa begitu meriah — lampu-lampu berkelap-kelip, suara tawa orang-orang, dan aroma jajanan yang menguar di udara. Alya berkeliling ke sana kemari seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, wajahnya berseri-seri penuh kepuasan.
Kapan lagi aku bisa merasakan kebahagiaan sederhana seperti ini... batinnya bahagia.
Kevin tersenyum bahagia melihat gadis di sampingnya tertawa lepas, seolah semua kesedihan tadi hilang seketika. Alya menggigit permen kapas berwarna merah muda yang lembut dan manis.
"Kamu jangan makan terlalu banyak ya, Alya. Nggak bagus kalau kebanyakan gula," tegur Kevin lembut.
"Ih, kamu ini bawel banget," cibir Alya, tapi tak bisa menyembunyikan senyumnya. "Tapi ini enak loh..."
Kevin menatap permen itu, lalu menatapnya. "Coba... aku ingin merasakannya juga."
Alya mendekatkan permen itu ke mulutnya, tapi Kevin justru menatapnya dalam.
"Benar... ini manis banget. Sama kayak kamu."
Alya memerah pipinya. "Yah... mulai gombalannya deh."
"Iya dong, cuma jujur kok," jawab Kevin sambil tersenyum manis.
"Sudah malam, kita harus pulang ya. Udah mulai dingin, nanti kamu masuk angin," ucap Kevin lembut sambil merapatkan jaketku ke tubuh.
"Oke, siap Bos!" jawabku ceria sambil memberi hormat kecil.
"Dasar anak nakal..." Kevin tersenyum geli, lalu menggenggam tangannya erat. "Ayo, kita pulang."
Aku berjalan di sampingnya dengan hati yang begitu ringan dan bahagia, menuju mobil yang menanti. Malam ini sederhana, tapi bagiku — sempurna.
Sepanjang perjalanan pulang, Alya terus bercerita dengan semangat, membuat suasana di dalam mobil terasa begitu hidup dan seru.
"Kevin, seru kan tadi ke pasar malam?"
"Iya, seru banget, Sayang."
"Nanti kamu sering-sering ke sini sama aku ya. Masih banyak permainan yang belum kita coba."
"Iya, Alya. Kita ke sini lagi."
Tanpa terasa mobil sudah sampai di depan apartemen. Kevin menoleh ke samping, dan melihat Alya sudah terlelap — wajahnya begitu tenang dan manis.
Ya ampun... dia tertidur. Sangat manis sekali.
Kevin melepas sabuk pengamannya sendiri, lalu bergerak pelan membuka sabuk Alya. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh gadis itu ke dalam apartemen, menuju lift — sementara Alya tetap tidur pulas di pelukannya.
Kevin membawa Alya masuk ke kamar tidur, lalu dengan lembut membaringkannya di atas kasur. Ia menarik selimut perlahan hingga ke bahu Alya.
"Gadis ini tidurnya pulas sekali ya..." gumamnya pelan sambil menatap wajah tenang itu sejenak, tersenyum hangat.
Setelah memastikan Alya nyaman, ia pun berdiri. Tubuhnya terasa gerah setelah seharian beraktivitas dan menggendong Alya tadi. Tanpa menunda, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku tiba-tiba terbangun dari tidur yang lelap.
"Ih... cape banget..." gumamku pelan sambil mengerjap.
Aku menatap sekeliling. Kok sudah ada di kamar? Pasti Kevin yang menggendongku tadi. Mataku lalu beralih ke sosok yang baru saja selesai mandi. Jantungku berdegup kencang — Kevin berdiri di sana, begitu tampan. Rahangnya tegas, tubuhnya tegap dan berotot... Ya ampun, calon suamiku mantap banget! batinku tak kuasa menahan kagum, tak berani menatapnya langsung.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya lembut sambil menatapku.
"Iya... maaf ya, tadi ketiduran," jawabku malu.
"Tidak apa-apa. Kamu juga pasti capek hari ini."
Aku memberanikan diri bertanya pelan. "Aku berat nggak pas digendong tadi?"
Kevin tersenyum menggoda. "Berat banget, sampai aku hampir pingsan."
"Ih... aku gendutan ya?" panikku.
"Bukan gitu. Tubuh normal kok. Aku cuma bercanda saja," hiburnya lembut.
"Tetap saja, pasti aku berat..."
"Nggak kok. Kalau pun kamu gendut, kamu tetap lucu di mata aku."
"Ih, Kevin... awas ya kamu!" ucapku sambil melempar bantal pelan, pipiku terasa panas.
Malam itu, di dalam kamar yang hangat, kami berdua tertawa dan bercanda bersama. Tak ada beban, tak ada kesedihan — hanya tawa yang tulus dan kebersamaan yang begitu berharga. Di sampingnya, aku merasa aman, dicintai, dan bahagia seutuhnya. Malam yang sederhana, namun menjadi salah satu momen paling indah dalam hidup kami.