NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Sang CEO

Pernikahan Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegangan Giovani dan Nathaniel

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Nathaniel nampak terdiam. Ia kemudian tersenyum sangat tipis.

"Kenapa bertanya seperti itu?" Rautnya terlihat datar, nada bicaranya juga santai.

Aurelia menghembuskan napas pelan, ia mundur selangkah dengan tatapan yang tidak beralih dari Nathaniel.

"Karena sepertinya begitu. Wajahmu sangat tidak asing."

Setelah Aurelia mengatakan itu, mereka sama-sama diam. Udara malam semakin dingin, angin mulai berhembus kencang. Beberapa pengawal berdiri dibawah mereka, berjaga dan mengawasi mansion.

"Mungkin pernah bertemu secara tidak sengaja." Ucap Nathaniel. Kembali meletakkan kedua tangannya di pagar balkon.

"Maksudmu kebetulan?" Kedua alis Aurelia terangkat.

"Mungkin." Timpal Nathaniel singkat. Pria itu terlampau tenang, ekspresinya datar, terlihat seperti tidak sedang memikirkan apapun. Sehingga Aurelia sulit sekali menebak ekspresi wajah Nathaniel. Aurelia tidak ingin melanjutkan percakapan, tapi kemudian Nathaniel bertanya lebih dulu.

"Apa kau mengingat sesuatu?" Kening Nathaniel mengerut.

Aurelia mengangkat bahunya.

"Iya."

"Mungkin kau salah orang." Ucapan Nathaniel terdengar acuh.

"Mungkin." Aurelia menjawab datar, wanita itu memilih mendudukkan dirinya di kursi, tubuhnya tegap dengan kedua kaki yang ia lipat.

"Jangan memikirkan hal yang tidak penting."

Aurelia langsung menoleh pada Nathaniel setelah pria itu berucap.

"Tapi bagiku penting." Ucapnya seraya merapihkan rambutnya yang tertiup angin.

"Kalau begitu pertajam lagi ingatanmu. Apa yang kau temui saat itu saya, atau orang lain." Ucap Nathaniel, menatap wajah Aurelia cukup lama sebelum akhirnya meninggalkan balkon.

Aurelia terdiam, matanya mengikuti pergerakan Nathaniel, hingga punggung pria itu menghilang dari pandangannya. Ia mengalihkan tatapan, lalu menghembuskan napas panjang.

Tangannya perlahan terkepal erat.

"Pernikahan sebentar lagi. Tapi kita memilih untuk saling menutupi beberapa hal." Aurelia tersenyum getir.

...****************...

Semua orang berkumpul di ruang tamu. Begitu juga dengan Aurelia yang baru saja mendudukkan dirinya di samping Nathaniel. Mereka membahas masalah konsep pernikahan, tamu undangan, bahkan sampai rencana bulan madu.

Aurelia dan Nathaniel hanya mengikuti rencana yang mereka inginkan, meskipun sesekali memberi saran jika beberapa hal yang tidak sesuai.

"Kalian akan pergi ke butik weekend nanti, hanya berdua. Masalah konsep sudah kita atur, tamu undangan akan kita pilih, hanya beberapa orang penting saja. Tapi media tetap ada." Sarah sibuk mencatat beberapa poin penting, wanita itu begitu antusias membahas mengenai ini.

"Lalu masalah bulan madu bagaimana sayang? Kalian akan pergi kemana? Nanti biar Mama siapkan tiketnya." Valerian duduk di samping Pradana, wanita itu cukup antusias, sedari tadi ide konsep pernikahan banyak muncul darinya, seleranya memang tidak usah diragukan.

Aurelia dan Nathaniel saling beradu pandang. Aurelia tersenyum canggung meminta jawaban yang tepat kepada Nathaniel.

Nathaniel dengan raut datarnya berdehem.

"Kita akan membahas itu setelah pernikahan, Ma. Aku yang akan menyiapkan tiket sendiri." Ucapnya, menatap semua orang tanpa senyuman.

Valerian mengangguk cepat.

"Baiklah kalau begitu. Sekarang bagaimana masalah cincin?" Valerian menatap Aurelia dan Nathaniel.

"Nah, itu yang aku ingin pertanyakan sedari tadi." Sarah menyela lebih dulu, tangannya bergerak mencomot makanan yang tersedia di meja.

"Mau kalian pilih kapan? Apa harus dengan Mama?"

Aurelia diam, begitu juga dengan Nathaniel.

Kemudian Aurelia tersenyum, tangannya menyentuh punggung tangan Nathaniel yang sedari tadi diletakkan di atas paha.

"Kita pilih sendiri setelah dari butik?" Itu sebuah pertanyaan yang Aurelia lontarkan pada Nathaniel. Pria itu sedikit terkejut, apalagi dengan sentuhan tangan Aurelia di lengannya.

"Iya, itu ide bagus." Timpal Nathaniel menyetujui, ia berusaha tersenyum.

"Ada satu hal yang ingin saya minta, Pradana."

Semua orang spontan menoleh pada Giovani. Pria itu duduk dengan santai, kedua tangannya memegang pembatas sofa.

"Silahkan, Giovani." Pradana berucap.

Sebelum menjawab, Giovani melirik Aurelia sekilas, lalu beralih pada Nathaniel.

"Aku ingin setelah pernikahan... Aurelia tetap menangani kantornya." Giovani melipat kakinya, suasana berubah seketika.

Aurelia menoleh pada Giovani, hatinya tiba-tiba tersentil lagi. Jemarinya meremas lengan Nathaniel perlahan, wanita itu tidak menyadari tangannya masih berada di punggung tangan Nathaniel.

Pandangan Nathaniel jatuh pada remasan tangan Aurelia. Kemudian beralih menatap Giovani.

"Permintaan itu berlaku saat ini karena anda adalah ayah dari Aurelia. Tapi setelah pernikahan, semua keputusan tentang Aurelia harus melalui persetujuan saya." Nathaniel berucap tanpa ragu, suaranya terdengar lantang.

Jemari Aurelia berhenti bergerak, ia baru menyadari dan menarik lengannya. Untuk sesaat ia ingin menolak tentang apa yang Giovani bahas, ia tidak nyaman dengan ini semua.

Terdengar kekehan kecil dari Giovani.

"Aurelia memang akan menikah denganmu. Tapi bukan berarti kau mencuri hakku sebagai ayah, bukan?" Alisnya mengerut tajam.

Aurelia mendengar suara kekehan Giovani, terdengar seperti sebuah candaan. Tapi bagi Aurelia... Itu adalah sebuah peringatan bahwa Giovani sedang merasa harga dirinya di pertanyakan.

Nathaniel ikut terkekeh, ia menyatukan kedua lengannya di atas paha.

"Dan anda tidak sepenuhnya memberikan kepercayaan kepada saya?" Nathaniel memiringkan kepalanya, kedua matanya menyipit tajam.

Sarah menatap percakapan mereka dengan tegang. Lalu Valerian menyentuh tangan Pradana, ia tahu situasi ini tidaklah baik.

Sedangkan Aurelia masih diam. Ia bahkan tidak berniat menatap Giovani ataupun Nathaniel, pikirannya terpecah, ia benci dalam situasi seperti ini.

"Tidak perlu dibawa serius. Kita bahas ini dengan kepala dingin. Ayo.... Giovani, Nathan. Kalian tidak usah membuat suasana hangat menjadi tidak enak." Pradana tertawa kecil. Ia menatap Nathaniel, sorot matanya penuh arti.

"Sepertinya, kalau urusan pekerjaan... Aurelia yang harus memutuskan sendiri, bukan?" Sarah menyela. Wanita itu tersenyum kikuk. Untung saja Lilia sudah tidur setelah menelpon Jacob.

"Itu benar." Sahut Valerian lalu menatap Aurelia.

"Bagaimana, nak? Setelah pernikahan, kamu ingin tetap bekerja atau tidak?" Pertanyaan itu terdengar lembut, tanpa ada tekanan di dalamnya.

Aurelia menatap Valerian. Senyumnya sudah hilang sejak tadi.

"Aku akan tetap bekerja." Ucap Aurelia. Ia ingat tentang kontrak pernikahan mereka, bahwa pernikahan ini tidak akan mengganggu pekerjaannya.

Tapi kenapa Nathaniel seolah menolak permintaan Giovani. Apa dia sudah lupa? Aurelia diam karena Giovani membahas hal yang tidak perlu dibahas di sini. Ia sudah tahu dan memiliki keputusan sendiri bahkan tanpa diminta, ia akan tetap memilih bekerja.

Nathaniel menatap Aurelia.

Tak lama Pradana berucap, "Tidak masalah, nak. Kau akan tetap bekerja setelah pernikahan. Pesan om hanya satu, meskipun nanti kamu sibuk dengan pekerjaan. Jangan lupakan tugas sebagai seorang istri. Tapi om percaya... Kamu pasti sudah memikirkan semua dengan matang." Kalimat pria itu terdengar seperti sebuah wejangan.

Valerian mengangguk seruju. "Tapi alangkah baiknya. Kurangi jadwal kerjamu, jangan terlalu capek. Mungkin sedikit ubah prinsip hidupmu. Sekarang kamu bekerja untuk mengisi waktu luang, bukan mencari uang. Karena semua kebutuhan kamu akan dijamin Nathaniel." Valerian sebenarnya tidak menginginkan Aurelia bekerja. Tapi ia menghargai keputusan calon menantunya. Mungkin selebihnya akan dibahas setelah pernikahan nanti.

"Iya, tante. Aku mengerti." Aurelia berusaha mengembangkan senyum tulus, meskipun tidak sepenuhnya.

Suasana kembali mencair. Mereka mulai melanjutkan membahas tentang daftar tamu undangan.

Tak lama kemudian ponsel Aurelia berdering. Ia melirik layar ponselnya, sebuah panggilan tanpa nama, tapi Aurelia sudah mengetahui orang itu.

"Angkat saja, nak." Valerian melihat Aurelia yang hendak menolak panggilannya.

Ekor mata Nathaniel melirik layar ponsel Aurelia.

"Baik, tante. Aku permisi dulu." Aurelia beranjak dari sana. Kakinya melangkah tidak jauh, tangannya bergerak mengangkat panggilan dan menempelkannya pada telinga.

"Saya berhasil menemukan satu dokumen lama tentang tuan Nathaniel. Beberapa file sudah saya kirimkan."

Satu kalimat itu membuat jantung Aurelia berpacu cepat. Ia menoleh kebelakang sebentar, memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Tanpa membalas percakapan, jemarinya bergerak mematikan panggilan. Ia buru-buru membuka file yang dikirim.

Matanya bergerak membaca layar ponsel. Tentang dokumen lama, dan namanya yang tercantum disana.

Aurelia Evandra.

Wanita itu menyipitkan matanya tajam, jemarinya meremas ponsel erat.

Kenapa namanya berada dalam daftar dokumen Nathaniel?

Ia menoleh kebelakang, menatap Nathaniel yang masih duduk di sana dengan raut dingin.

"Apa yang kau sembunyikan, Nathaniel?"

1
Yayaa
seruu
Yayaa
lanjut ka
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Yayaa
semangat
Yayaa
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!