Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bangkitnya Orang Mati
Kabut tebal masih menggantung rapat di antara pepohonan tua.
Raden Jayengrana terbaring telentang di atas tanah lembap. Dadanya kembang kempis, menghela udara segar perlahan-lahan. Ia mengangkat kedua telapak tangannya sendiri ke hadapan mata.
Masih dipenuhi kerak darah. Masih dihiasi jelaga luka.
Namun... rasa nyeri dahsyat yang tadi hampir merenggut nyawanya kini telah mereda secara gaib. Luka robek yang menganga di dada dan perutnya memang belum sirna sepenuhnya, tetapi jalinan daging dan kulitnya telah bertaut kembali.
Ia mengepalkan jemarinya. Tenaga itu... kembali mengalir.
Perlahan, Jayengrana mencoba duduk. Sendi-sendi tulangnya berkerotok pelan, seakan raga itu baru saja terlelap selama berabad-abad.
"Aku..." bisiknya lirih, "...masih hidup?"
Kalimat itu terdengar begitu asing di telinganya sendiri.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada lagi sosok Penunggang Api. Tak ada lagi bekas jejak Kuda Geni. Seolah-olah peristiwa mengerikan yang baru saja ia alami hanyalah halusinasi di ambang maut.
Namun, saat jemarinya meraba area dada... ia merasakannya.
Di bawah lapisan kulitnya—tepat di atas posisinya jantung berdetak—terpatri sebuah bekas luka melingkar seukuran uang kepeng. Terasa hangat dan berdenyut lembut, menyelaraskan diri dengan ketukan dadanya.
Jayengrana mengernyitkan dahi. "Itukah... tanda kontrak?"
Tak ada jawaban. Hutan tetap membisu.
Ia memaksa tubuhnya bangkit berdiri. Kaki-kakinya sempat limbung, namun tumpuannya cukup kokoh untuk menopang raga. Tak jauh dari batu nisan tua tempat ia dibuang, tombak pusakanya masih tergeletak. Bilah bajahnya ternoda darah yang mengering hitam.
Jayengrana meraihnya. Begitu jemarinya membalut gagang tombak tersebut, sebuah ketenangan aneh merayapi batinnya. Senjata itu seolah-olah mengenali kembali sang tuan.
Setelah menyampirkan tombak ke punggung, ia melangkah meninggalkan kompleks pekuburan tua tersebut.
Baru puluhan langkah berjalan... langkahnya terhenti secara mendadak.
Hidungnya menangkap sebuah aroma.
Asap? Bukan.
Darah. Dan darah itu... masih hangat.
Padahal embusan angin malam bertiup dari arah sebaliknya.
Jayengrana menoleh ke kanan. Di balik kerapatan semak-semak yang berjarak belasan tombak darinya, seekor kijang tergeletak dengan perut robek. Belum lama mati.
Ia terdiam terpaku. Dalam jarak sejauh ini, adalah hal yang mustahil bagi seorang manusia biasa untuk mencium bau darah sejelas ini.
"Efek dari kontrak..." batinnya.
Jayengrana kembali melangkah. Kini, setiap bunyi sekecil apa pun mendadak terdengar begitu bising di telinganya. Ranting yang patah perlahan, gesekan daun jati, kepakan sayap burung malam, bahkan jatuhnya bulir embun di ujung dedaunan... semuanya terekam jelas oleh indranya yang telah berevolusi.
Sementara itu, di batas luar Hutan Kematian...
Empat prajurit yang semalam membuang raga Jayengrana sedang berjalan santai menyusuri jalan setapak.
"Besok pagi, paling-paling tubuhnya tinggal tulang belulang," seloroh salah seorang dari mereka.
"Hahaha! Kalau tidak habis dikoyak harimau duluan!" timpal yang lain.
"Sudah, tutup mulut kalian," potong perwiranya gusar. "Hutan ini membuat bulu kudukku berdiri dari tadi."
Mereka sengaja tertawa untuk mengusir rasa mencekam yang terus membayangi.
Tiba-tiba, langkah salah seorang dari mereka terhenti.
"Tunggu dulu..."
"Ada apa lagi?"
"Aku... mendengar sesuatu."
Tak.
Tak.
Suara langkah kaki. Pelan, konstan, dan berirama seragam.
Keempat prajurit itu serentak menoleh ke belakang dengan dada berdebar.
Dari balik kabut tipis yang merayap, bermunculan sesosok pria berzirah hitam. Zirahnya compang-camping tergores senjata dan dipenuhi bercak darah yang mengering. Sebilah tombak panjang menyilang di punggungnya. Wajah pria itu pucat bak mayat, namun sorot matanya tajam menembus kegelapan.
Sekejap, keempat prajurit itu membeku di tempat. Seorang di antaranya bahkan tak sadar menjatuhkan tombaknya hingga berdentang di tanah.
"T-tidak mungkin..."
"Bukankah itu..."
"Senopati...?"
Jayengrana menghentikan langkahnya sekitar sepuluh langkah di hadapan mereka. Tatapannya datar tanpa pendar emosi.
"Aku ingin bertanya," ucap Jayengrana pelan.
Keempat prajurit itu saling pandang dengan tubuh gemetar. Tak seorang pun sanggup memproduksi kata-kata.
"Di mana Wiradipa?"
Suara Jayengrana terdengar begitu tenang. Namun, justru ketenangan dingin itulah yang menyerap habis keberanian mereka.
"K-kau... Kau sudah mati!" jerit perwira mereka histeris.
Jayengrana menghela napas pendek. "Aku bertanya sekali lagi. Di mana Wiradipa?"
Salah seorang prajurit mendadak panik dan berteriak ketakutan, "Dia hantu! Bunuh dia!"
Empat mata tombak langsung dilesakkan ke depan secara bersamaan!
Jayengrana hanya menggeser tubuhnya satu langkah ke kiri. Gerakannya terlihat sangat sederhana, namun jauh lebih presisi dan cepat dibanding kemampuan fisiknya di masa lalu.
Dua tombak menusuk angin hampa. Satu tombak ditangkisnya menggunakan gagang tombak di punggung, sementara tombak terakhir... ia cengkeram mata bilahnya dengan tangan kosong!
Mata keempat prajurit itu membelalak tak percaya. Bahkan Jayengrana sendiri sempat terkejut—refleks dan kecepatan reaksi tubuhnya kini berada di luar nalar manusia biasa.
Dengan satu sentakan, Jayengrana melempar balik tombak yang dicengkeramnya.
Wusss!
Tombak itu meluncur kilat dan menancap dalam-dalam di batang pohon besar—tepat di sela-sela kepala dua prajurit.
Seketika, mereka berempat mundur teratur dengan lutut lemas.
"Aku tidak berniat menghamburkan darah kalian," ujar Jayengrana dingin. "Jawab pertanyaanku."
Keempatnya saling tatap. Keringat dingin mengucur deras di dahi mereka.
Mereka sadar betul, sosok yang berdiri tegak di hadapan mereka memanglah Raden Jayengrana. Namun, ada sesuatu yang sangat asing, gelap, dan mengerikan yang kini bersemayam di dalam raga sang Senopati.