NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 "Gagak Yang Jatuh Cinta Pada Elang"

Chapter 23

Empat belas tahun yang lalu, di sudut sebuah ruangan beton yang dingin dan terisolasi di Birdcage, seorang anak perempuan kecil duduk membungkuk. Kedua tangan kecilnya menggenggam kepalanya erat-erat, jemarinya meremas rambutnya sendiri dalam dorongan rasa bingung dan ketakutan yang mencekat. Dari balik celah jendela berjeruji, matanya menatap lekat-lekat ke luar. Di sana, curahan hujan deras abadi Birdcage terus membentur kaca, seolah tak pernah berniat untuk berhenti.

Anak itu adalah Belial kecil. Sosoknya merupakan persilangan antara manusia dan makhluk Cataclysm. Tubuhnya berdiri tegak bagai anak manusia normal, namun kulit, struktur tubuh, dan rona wajahnya memperlihatkan wujud Cataclysm yang asing dan menakutkan. Bahkan di dalam pembuluh darahnya, mengalir cairan berwarna oranye pekat—darah khas makhluk jahat yang dibenci dunia.

Meskipun wujudnya dianggap mengerikan oleh semua orang, sebuah pintu besi di ruangan itu sesekali terbuka dengan lembut. Seorang suster dengan seragam putih bersih melangkah masuk membawa nampan berisi makanan hangat. Suster itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau jijik. “Ayo, buka mulutmu sedikit lagi, Sayang...” bisik suster itu penuh kehangatan, perlahan menyuapkan sendok demi sendok makanan ke mulut Belial kecil. Suster itulah satu-satunya titik terang dalam hidup Belial. Dengan sabar, wanita itu memandikannya, membersihkan jemari kecilnya, memeluknya saat dingin merengkuh, dan membacakan dongeng-dongeng pengantar tidur. Di mata suster tersebut, wujud Belial yang dianggap buruk rupa oleh orang lain tak pernah menjadi halangan. Belial diperlakukan sebagai anak kecil biasa yang berhak mendapat kasih sayang.

Namun, kedamaian kecil itu tidak berlangsung lama. Bagi para petinggi The Hawk, Belial bukanlah seorang anak—melainkan sebuah aset, bakal senjata biologis yang harus dibentuk menjadi sosok mesin pembunuh yang dingin. Tanpa peringatan, sepasang tentara berlarat besi menerobos masuk dan menyeret sang suster keluar secara paksa. Belial hanya bisa mengerang sedih tanpa bisa bicara. Melihat satu-satunya sosok penyayang ditarik dan didorong kasar, raungan amarah meledak dari dalam dada Belial. Aura Cataclysm dalam dirinya membumbung tinggi, mengubah ketakutannya menjadi amukan yang liar. Dalam kekacauan dan kepanikan itu, Belial melesat membela sang suster, hingga secara tak sengaja salah satu tentara The Hawk tewas akibat hempasan energinya.

Aksi amukan itu dibayar mahal. Petinggi The Hawk membalasnya dengan penderitaan yang jauh lebih brutal. Tubuh Belial yang masih sangat muda dipindahkan ke fasilitas eksperimen mendalam. Di sana, ia diteliti, disiksa, dan dijadikan bahan uji coba tanpa belas kasihan. Jarum suntik berisi racun ditancapkan ke dalam pembuluh darahnya, tembakan peluru diujicobakan pada kulitnya, dan mata pisau menusuk dagingnya, semua dilakukan hanya untuk mengukur sejauh mana kemampuan regenerasi dan batas ketahanan tubuhnya.

Ketika eksperimen usai untuk hari itu, tubuh Belial yang penuh luka dan lebam dilemparkan kembali ke dalam sel isolasinya. Ia tergeletak lemah di atas lantai semen yang dingin, meneteskan darah oranye dari luka-lukanya. Di tengah keputusasaan yang merajam, tanpa orang yang dicintai dan dikelilingi penderitaan tanpa akhir, Belial kecil hanya bisa meringkuk memeluk dirinya sendiri.

Pada masa yang sama, di bagian lain dari kompleks Birdcage. Shin kecil yang kala itu baru berusia empat tahun sudah memperlihatkan tanda-tanda kecerdasan luar biasa. Ia selalu berfikir kritis dan dipenuhi rasa ingin tahu, namun tetap memiliki hati yang sangat lembut. Suatu pagi, Shin kecil berdiri di depan kaca tebal yang membatasi koridor Birdcage. Matanya menatap tajam ke arah gemuruh air hujan yang membasahi pelataran. “Suster... kenapa hujan di sini tidak pernah berhenti?” tanya Shin polos, namun dengan nada suara yang penuh rasa penasaran yang dalam.

Suster yang berdiri di sampingnya membetulkan posisi berdirinya, terdiam sejenak sebelum merespons dengan suara datar tanpa emosi. “Jangan banyak bertanya, Shin. Sekarang, minumlah obatmu.” Wanita itu menyodorkan sebutir pil kecil berwarna putih di atas telapak tangannya. Shin menatap butiran obat itu sesaat, tidak membantah, lalu mengambil dan menelannya tanpa kata. Setelah itu, ia kembali menempelkan keningnya ke kaca dingin, menatap lebatnya tirai air yang memisahkan dirinya dari dunia luar.

Sifatnya yang hangat dan ramah membuat Shin kecil sangat disukai. Ia dengan mudah menjalin persahabatan dengan siapa saja di Birdcage. Di antara sekian banyak anak, ada empat sosok yang paling dekat dengannya. Sua, Lei, Sei, dan Mei.

Bersama Sua, Shin kerap menghabiskan waktu berteduh di teras, bermain permainan sederhana dan berbagi tawa polos anak-anak. Jika bersama Lei, keadaannya selalu lebih riuh, Shin dan Lei kerap bekerja sama mengerjai Sua hingga gadis kecil itu memanyunkan bibirnya kesal, sebelum akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.

Berbeda lagi hubungannya dengan Sei. Sei yang saat itu sangat rapuh dan cengeng selalu menempel pada Shin. Di dekat Shin, Sei menemukan perlindungan dan pemahaman yang tak pernah ia dapatkan dari anak-anak lain. Sementara dengan Mei yang berwatak lebih tenang, Shin sering duduk berdampingan di perpustakaan kecil, membantu menjelaskan materi pelajaran yang sulit dipahami Mei. Bagi mereka semua, keberadaan Shin adalah lentera hangat di tengah dinginnya Birdcage.

Suatu sore, saat Shin kecil sedang berjalan sendirian menyusuri lorong-lorong terdalam Birdcage, langkah kakinya terhenti. Di ujung koridor, ia melihat sekumpulan tentara The Hawk dan suster berseragam khusus sedang menyeret paksa Belial kecil yang terus berontak. Dorongan rasa penasaran membuat Shin melangkah pelan, mengikuti jejak mereka secara diam-diam. Langkahnya terhenti tepat di balik kaca tebal sebuah laboratorium rahasia. Apa yang disaksikan matanya saat itu membuat jantung Shin berdegup kencang, dan seluruh tubuh kecilnya mendadak gemetar hebat.

Di dalam sana, Belial diikat pada meja logam dan disiksa tanpa rasa kemanusiaan. Raungan melengking penuh kesakitan dari anak itu menggelegar menembus celah suara lab. Mata Shin melebar, diselimuti rasa ngeri dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tubuhnya membeku, terikat oleh rasa horor. Ketika kesadarannya kembali, Shin berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong sepi. Namun, jeritan kesakitan Belial tidak pernah benar-benar hilang—suara itu terus bergema di telinganya dan menancap dalam ke dalam ingatan Shin.

Hari-hari berlalu, namun Shin tidak pernah bisa melupakan apa yang dilihatnya. Rasa iba yang teramat sangat menyiksa batinnya. Suatu hari, ketika hujan mengguyur amat lebat, Shin nekat memanjat dan menyelinap ke area luar sel isolasi Belial. Belial yang sedang termenung menatap jendela kaget saat melihat sebuah tangan kecil melambaikan jari-jarinya dari luar. Tak lama, Shin menggeser jendela tersebut dengan susah payah.

Shin menatap Belial dengan mata berbinar, lalu mengulurkan tangannya menembus jeruji. “Ayo, ikut denganku... kita cari tempat yang aman dari mereka!” Belial menatap tangan itu dengan penuh kewaspadaan. Namun, melihat ketulusan di mata Shin, jemari bersisik milik Belial perlahan menyambut dan menggenggam tangan hangat itu. Bersama-sama, mereka menyelinap keluar dari ruang isolasi, menerobos hujan deras yang membasahi bumi. Mereka akhirnya berlindung di bawah naungan pohon rindang berukuran raksasa di tengah kompleks Birdcage. Air hujan menetes dari dedaunan di atas mereka.

“Kamu... sebenarnya ini apa?” tanya Shin dengan polos sambil memiringkan kepalanya, memperhatikan wujud unik Belial. Belial tidak bisa menjawab dengan bahasa manusia. Ia hanya mengeluarkan erangan samar, matanya berkedip bingung. Shin menyunggingkan senyum, tak mempedulikan ketidakmampuan Belial berbicara. “Tak apa! Ayo kita bermain!”

Shin menarik tangan Belial ke area terbuka di bawah guyuran hujan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Belial merasakan sensasi air hujan yang dingin membasahi kulitnya bukan sebagai penderitaan, melainkan sebagai permainan. Belial mulai melompat-lompat gembira, tertawa dalam erangan kecilnya. Shin yang melihat tingkah polos itu tidak bisa menahan tawa hangatnya.

Tiba-tiba, Belial tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur. Lutut dan lengannya tergores batu tajam, mengeluarkan cairan oranye pekat. Shin langsung menghampirinya dengan raut khawatir. “Aduh, kamu terluka...” gumam Shin. Shin sempat ragu sejenak melihat warna darah yang asing itu. Namun, rasa khawatirnya mengalahkan segalanya. Shin mendekatkan bibirnya dan menghisap sedikit darah oranye di lengan Belial.

“Jangan khawatir,” ucap Shin sambil tersenyum menenangkan. “Ini supaya lukamu tidak infeksi.” Belial menatap lengan bajunya, lalu menatap Shin. Ia mengerang pelan sambil menunjuk ke arah taman bermain, seakan bertanya apakah mereka masih bisa melanjutkan permainan. “Iya, nanti kita main lagi. Oke?” jawab Shin lembut. Mendengar itu, Belial yang diliputi rasa gembira langsung melingkarkan kedua tangannya, memeluk Shin erat-erat di bawah pohon tersebut. Sambil berteduh kembali, Shin mengambil sebuah buku cerita tebal yang terbungkus plastik kedap air dari dalam tas kecilnya. “Namaku Shin... Nama kamu siapa?” tanya Shin pelan.

Belial kembali mengerang, tak mampu menyebutkan nama. Shin tersenyum mengerti, lalu membuka halaman buku tersebut. “Kalau begitu, aku bacakan cerita ini ya...” Dengan suara kecilnya yang merdu, Shin mulai membaca dongeng tentang Burung Elang dan Burung Gagak.

“Dahulu kala, seekor gagak terlahir cacat. Sayapnya terlalu lemah untuk mengepak di udara. Dari atas tanah, ia selalu menengadah, menatap seekor elang yang gagah dan indah melayang bebas menguasai langit. Hati sang gagak yang rapuh jatuh cinta pada elang itu. Dengan sisa keberaniannya, sang gagak mendekat dan menemani elang di kala sepi. Sang elang yang tinggi hati pun akhirnya luluh dan jatuh hati padanya. Suatu hari, elang mencengkeram tubuh gagak dengan jemari cakarnya yang kuat, membawanya terbang bersama menembus langit biru yang luas. Mereka melayang tinggi, seolah dunia hanya milik berdua. Namun... kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Cakar sang elang yang tajam tanpa sengaja melukai tubuh rapuh sang gagak. Dalam rintihan kesakitan yang amat sangat, gagak terlepas dari cengkeraman... lalu jatuh terhempas ke bumi.”

Saat Shin selesai membaca, Belial menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata menetes dari matanya, membasahi bahu Shin. Anak itu menangis sedih meresapi akhir cerita yang tragis tersebut. Shin menepuk-nepuk punggung Belial dengan lembut. “Cup... cup... jangan menangis. Kisahnya memang sedih... tapi aku yakin, akhir cerita kita tidak akan pernah seperti itu. Aku janji.” Saat kata-kata itu diucapkan, hal ajaib terjadi. Awan mendung tebal di atas Birdcage mendadak terbelah. Hujan abadi berhenti sejenak, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, sinar matahari menembus masuk, membentangkan pelangi yang sangat indah di atas langit Birdcage. Kedua anak itu menengadah, mengagumi warna-warni yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Namun, kebahagiaan itu dihancurkan secara brutal. Derap langkah sepatu laras menggelegar. Pasukan The Hawk bersama para pengawal mengepung tempat berteduh mereka. “jangan sampai Subject terluka!” teriak komandan pasukan. Para tentara menarik paksa Belial. Shin kecil berusaha menahan dan berteriak, “Lepaskan dia! Jangan menyakitinya!” Dalam perkelahian dan kepanikan itu, seorang tentara secara tak sengaja mendorong dan menggores lengan Shin dengan sangkur. Darah merah segar menetes dari lengan Shin, mengenai kulit Belial.

Pada detik itulah, Belial terkristalisasi dalam kenyataan yang pahit. Ia menatap darah merah milik Shin, lalu menatap darah oranye di tubuhnya sendiri. Di dalam benak kecilnya yang polos, ia akhirnya menyadari sebuah kebenaran yang kejam bahwa dirinya dan Shin adalah dua makhluk dari dunia yang sepenuhnya berbeda.

Masa Kini Pertempuran melawan Cataclysm baru saja berakhir. Hujan deras kembali mengguyur bumi saat unit Bird of Paradise berhasil ditahan dan dijatuhkan Pigeon dan Sparrow. Pintu kokpit terbuka secara manual. Sua menerobos masuk ke dalam kabin dengan napas terengah-engah. Wajahnya yang biasa tenang kini memerah, dipenuhi amarah dan kepanikan yang membakar. Begitu melihat sosok Belial yang terduduk lemas di sebelah Shin yang tak sadarkan diri, emosi Sua pecah tak terkendali.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Belial, meninggalkan bekas kemerahan yang kentara. “Ini semua gara-gara kamu!” jerit Sua dengan suara parau bercampur tangis emosi. “Kau membuat Shin menderita sampai seperti ini! Pergilah kau dari sini, Dasar Monster!” Belial terdiam kaku. Pipi dan kepalanya terlempar ke samping akibat benturan tamparan itu. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga tempur. Ia tidak membalas, tidak juga berusaha membela diri.

Pandangan mata Belial yang meredup perlahan beralih ke samping menatap tubuh Shin yang terbaring lemah. Wajah Shin pucat pasi, napasnya terengah patah-patah, sekarat akibat menanggung beban Resonansi dan perubahan fisik yang disebabkan oleh hubungan batin di antara mereka. Hati Belial terasa hancur berkeping-keping. Sosok yang selama belasan tahun ini selalu ia cari dalam diam, sosok yang dulu menjadi satu-satunya orang yang mengulurkan tangan hangat di tengah dinginnya hujan kini justru terancam hancur akibat keberadaan dirinya.

Belial perlahan memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata terus menetes dari sudut kelopaknya. Dengan suara yang sangat lirih, bergetar, namun syarat akan rasa sakit hati dan penyesalan yang tak tertahankan, ia akhirnya bersuara. “Kau benar...” gumam Belial, nadanya begitu hampa dan pecah. “Aku... memang sebuah monster...”

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!