Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Ice kembali ke apartemen ditemani oleh Howard.
Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya terdiam. Penjelasan dokter terus terngiang di benaknya.
Howard melirik ke arahnya.
“Ice, apa kau masih merasa tidak enak badan?”
Ice tersenyum tipis.
“Aku sudah lebih baik. Maaf... aku sudah merepotkanmu.”
Howard menggeleng pelan.
“Jangan dipikirkan. Sekarang masuklah dan istirahat. Kalau butuh bantuan, hubungi saja aku.”
“Baik.”
Ice berjalan menuju pintu apartemennya, lalu memasukkan kata sandi.
Namun, sebelum masuk, ia menoleh ke arah lorong sebelah kiri, seolah sedang mencari seseorang.
Howard memperhatikannya.
“Ada apa?”
“Aku sedang menunggu pria yang membawaku ke apartemen ini. Tidak tahu selama aku di rumah sakit apakah dia pernah datang mencariku.”
Howard tetap memasang wajah tenang.
“Kalau memang ada yang mencarimu, petugas keamanan pasti sudah memberi tahu. Memangnya kenapa?”
“Dia bilang apartemen ini milik temannya. Aku hanya ingin menemuinya untuk menanyakan kapan aku harus pindah.”
Howard tersenyum tipis.
“Bukankah kau sudah merasa nyaman tinggal di sini? Kenapa harus memikirkan hal itu?”
Ice menundukkan kepala.
“Aku tidak bisa terus tinggal di rumah milik orang lain. Apartemen ini terlalu mewah, aku juga tidak sanggup membayar sewanya. Aku harus mencari tempat lain.”
Howard menatap Ice beberapa saat sebelum berkata pelan,
“Kalau pemiliknya memang berniat menyewakannya kepadamu dengan harga murah, bukankah tidak ada masalah?”
“Itu tetap tidak benar,” jawab Ice sambil menggeleng. “Aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan orang lain. Cepat atau lambat aku harus pergi.”
Mendengar jawaban itu, Howard hanya tersenyum tipis.
“Kalau begitu... tunggu saja sampai pemiliknya datang.”
“Aku tidak bisa tinggal di sini. Aku harus mencari tempat lain dulu. Kalau suatu saat pemiliknya tiba-tiba datang dan meminta apartemen ini kembali, aku harus ke mana? Mencari tempat tinggal juga butuh waktu,” jawab Ice sambil melangkah masuk ke apartemennya dengan wajah lesu.
Pintu tertutup perlahan.
Howard berdiri diam di depan pintu yang sudah tertutup itu.
Tatapannya berubah sedikit lebih dalam.
“Apa yang mengganggu pikirannya?” gumamnya pelan. “Sejak keluar dari rumah sakit, dia seperti menyimpan sesuatu.”
Howard menarik napas pelan, lalu melirik ke arah pintu apartemen itu sekali lagi sebelum berbalik pergi.
Di dalam, Ice bersandar di pintu yang baru saja ditutup.
Ia memejamkan mata sejenak dan kemudian duduk di lantai.
"Apa yang akan terjadi pada hidupku kalau mataku buta suatu saat nanti? Operasi butuh banyak biaya. Tempat tinggal aku juga tidak punya. Kenapa nasibku begitu malang?" gumam Ice.
Di seberang apartemen itu, sebuah mobil hitam terparkir dalam diam.
Di dalamnya, seorang pria paruh baya mengamati setiap gerak-gerik yang terjadi di sekitar gedung apartemen tersebut. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.
“Bos,” suara asistennya dari kursi pengemudi memecah keheningan. “Howard Wang belakangan ini tinggal di apartemen ini. Dia juga sering menemani gadis itu. Sepertinya hubungan mereka cukup dekat.”
Pria paruh baya itu menyipitkan mata.
“Howard yang kukenal bukan orang yang mudah peduli pada siapa pun,” ucapnya pelan. “Dia dulu dikenal berdarah dingin, lalu tiba-tiba menghilang dari dunia ini di usia muda. Tapi anak buahnya masih tersebar di mana-mana.”
Ia berhenti sejenak, menatap ke arah jendela apartemen.
“Kalau dia sampai turun tangan langsung, berarti gadis itu sangat penting baginya.”
“ Apa langkah selanjutnya?” tanya asistennya.
Pria itu tersenyum tipis.
“Jo, dekati gadis itu. Tapi hati-hati. Jangan sampai Howard menyadari.”
“Baik, Bos.”
Di unit apartemen Howard.
Pria itu berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar.
Di tangannya, sebuah ponsel masih menyala.
“Besok kau datang menemuinya. Ambil saja uang sewa dari Ice Meng. Jangan sampai dia curiga,” perintah Howard dengan suara rendah.
“Baik, Bos,” jawab suara di seberang telepon.
Telepon itu ditutup.
Howard kembali menatap ke luar jendela.
“Ice Meng…” gumamnya pelan.
“Seluruh hidupmu penuh dengan penderitaan... semua karena keluargamu sendiri. Aku hanya perlu mengubah hidupmu perlahan. Tanpa kau sadari. Sepertinya kau sudah benar-benar melupakanku. Tapi tidak masalah... sekarang kau sudah ada di sisiku.”
Keesokan paginya.
Ice sedang menggoreng cakwe di dapur kecil apartemennya ketika ponselnya berdering.
Ia melirik layar, lalu menjawab.
“Hallo?”
“Apakah Anda putri dari Nyonya Lulu dan Tuan Meng?” suara seorang wanita terdengar dari seberang telepon.
“Ada apa?” tanya Ice sambil tetap fokus menggoreng.
“Orang tua Anda, kakak, dan adik Anda saat ini berada di rumah sakit. Mereka tidak bisa membayar biaya perawatan. Pihak rumah sakit meminta kami menghubungi Anda untuk segera datang melakukan pembayaran.”
Gerakan tangan Ice terhenti sejenak.
“Kenapa mereka tiba-tiba masuk rumah sakit?” batinnya.
Namun nada suaranya tetap tenang.
“Maaf,” jawab Ice datar. “Sampaikan pada mereka, cari cara sendiri untuk membayar biaya rumah sakit.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung memutus panggilan.
Tiiit—
Suasana kembali sunyi.
Ice menatap ponselnya lama.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi matanya tampak sedikit bergetar.
"Biaya operasiku saja aku tidak ada, mana mungkin aku membayar biaya pengobatan kalian,"gumam Ice.
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya