Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09.
"Terus tadi..." Alesha mulai melanjutkan ceritanya dengan wajah antusias.
Kevin langsung menatapnya.
"Nah, mulai panjang."
Alesha mengabaikannya.
"Aku tadi jadi tahu kalau Kak Kevin ternyata cukup terkenal di sekolah."
Oma langsung menoleh ke arah Kevin dengan senyum kecil.
"Terkenal?"
Kevin menghela napas.
"Nggak juga."
Alesha langsung menyela.
"Terkenal, Oma. Banyak yang kenal dia."
Opa yang mendengar hanya tersenyum kecil.
"Memang dari dulu Kevin begitu. Tidak banyak bicara, tapi orang-orang tetap memperhatikannya."
Kevin hanya diam sambil mengambil minum.
"Terus aku juga kenalan sama teman-temannya."
"Siapa saja?" tanya Oma.
"Namanya Arka, Alvian, sama Reza."
Kevin mengangguk kecil.
"Mereka teman gue."
Alesha tersenyum.
"Mereka unik."
"Unik bagaimana?" tanya Opa penasaran.
"Yang satu banyak ngomong, yang satu santai, yang satu lagi dingin banget."
Kevin langsung tahu siapa yang dimaksud.
"Arka."
"Iya, dia."
Oma tertawa kecil melihat cara Alesha menceritakan semuanya dengan penuh semangat.
Setelah beberapa saat bercerita, Alesha akhirnya menyadari waktu sudah mulai sore.
"Kayaknya aku mau istirahat dulu, deh."
Kevin mengangguk.
"Bagus. Jangan lupa nanti makan."
Alesha berdiri sambil membawa tasnya.
"Siap, Kak."
Ia pun berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Kevin bersama opa dan omanya di ruang keluarga.
Sesampainya di kamar, Alesha langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Hari pertama ternyata nggak seburuk yang aku pikirin," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.
Ia lalu mengambil ponselnya dan membuka beberapa pesan dari teman lamanya di Bandung.
Beberapa pesan masuk menanyakan kabarnya di sekolah baru.
Teman: Gimana sekolah barunya? Udah dapat teman belum?
Alesha tersenyum kecil lalu membalas.
Alesha: Udah. Lumayan seru, kok.
Setelah mengirim pesan, ia meletakkan ponselnya di samping bantal.
Tiba-tiba terdengar suara dari sudut kamar.
"Kwek..."
Alesha langsung menoleh.
"Pingky, kamu bangun?"
Bebek putih itu hanya bergerak kecil di dalam tempatnya.
Alesha terkekeh.
"Kamu juga harus adaptasi sama tempat baru, ya."
Pingky kembali bersuara seolah menjawab.
Alesha tersenyum sambil menggeleng.
"Dasar."
Sementara itu, di lantai bawah, Kevin masih duduk bersama opa dan omanya.
"Kamu yakin Alesha akan baik-baik saja di sekolah baru?" tanya Oma.
Kevin menatap ke arah tangga sebentar.
"Yakin. Dia gampang beradaptasi."
Opa tersenyum kecil.
"Karena sifatnya yang berbeda denganmu."
Kevin hanya diam, lalu tersenyum tipis.
"Iya. Dia memang begitu."
Di rumah itu, hari pertama Alesha di sekolah barunya pun berakhir dengan tenang.
Keesokan harinya, suasana rumah kembali ramai sejak pagi.
Alesha sudah turun dari kamarnya dengan seragam yang rapi dan rambut yang tertata. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini ia terlihat lebih santai karena sudah mengetahui suasana sekolah barunya.
Di meja makan, Kevin sudah lebih dulu duduk sambil menikmati sarapan.
"Pagi, Kak."
Kevin mengangkat pandangan.
"Pagi. Tidur nyenyak?"
Alesha mengangguk sambil duduk di kursinya.
"Nyenyak. Pingky juga."
Kevin langsung berhenti makan.
"Kenapa jadi Pingky lagi?"
Alesha menatapnya polos.
"Dia juga bagian dari keluarga."
Kevin hanya menghela napas kecil.
"Oke."
Oma yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum geli.
"Kalian ini kalau sudah membahas Pingky tidak ada habisnya."
Alesha terkekeh.
Setelah selesai sarapan, Kevin mengambil kunci motor.
"Ayo berangkat."
Alesha berdiri sambil mengambil tasnya.
"Hari kedua sekolah. Semoga makin seru."
Kevin hanya menggeleng kecil melihat semangat adiknya.
Mereka pun berangkat bersama menuju sekolah.
Namun, tanpa mereka sadari, hari kedua Alesha akan membawa kejadian baru yang membuat namanya semakin dikenal di sekolah.
Sesampainya di sekolah, suasana sudah cukup ramai. Para siswa berjalan menuju kelas masing-masing, beberapa berkumpul di koridor sambil mengobrol.
Begitu motor Kevin memasuki area parkir, beberapa siswa yang melihat langsung mengenali mereka.
"Itu Kevin sama adiknya lagi."
"Iya, yang murid baru itu."
Alesha yang turun dari motor hanya melirik sekitar.
"Kayaknya mereka masih suka lihat gue, ya."
Kevin melepas helmnya.
"Biasakan."
Alesha menghela napas kecil.
"Padahal gue cuma datang sekolah."
"Memang begitu."
Sebelum Alesha pergi, Kevin memastikan tas adiknya sudah dibawa.
"Masuk kelas langsung."
"Iya, Kak."
Alesha kemudian berjalan menuju gedung kelasnya.
Di dekat parkiran, Arka, Alvian, dan Reza baru saja datang. Mereka melihat Kevin yang masih berdiri di sana.
"Jadi lo masih nganterin adik lo setiap hari?" tanya Alvian.
Kevin mengangguk singkat.
"Untuk sementara."
Reza tersenyum usil.
"Perhatian banget."
Kevin menatapnya datar.
"Dia adik gue."
Arka hanya melirik ke arah Alesha yang sudah berjalan menjauh.
"Dia cepat beradaptasi."
Kevin mengikuti arah pandangan Arka.
"Iya."
Sementara itu, Alesha sudah sampai di depan kelas. Begitu masuk, beberapa temannya langsung menyambutnya.
"Les!"
Alesha tersenyum.
"Pagi."
"Pagi, Les," balas Dinda sambil tersenyum.
Alesha meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk.
"Gimana? Hari kedua masih semangat?"
Alesha mengangguk tanpa ragu.
"Masih. Malah lebih santai dari kemarin."
Dinda tertawa kecil.
"Baguslah. Berarti lo udah mulai betah."
"Iya."
Tak lama kemudian, beberapa teman sekelas lainnya mulai menghampiri mereka.
"Les, nanti istirahat bareng lagi, kan?"
Alesha mengangguk.
"Boleh."
Melihat Alesha yang sudah mulai akrab dengan banyak orang, Dinda tersenyum kecil.
"Lo cepat banget punya teman."
Alesha mengangkat bahu.
"Ya harus. Kalau nggak, nanti siapa yang diajak ngobrol?"
Mereka tertawa kecil.
Tak lama kemudian, guru masuk ke dalam kelas dan suasana kembali tenang.
Sementara itu, di kelas Kevin, suasana tidak jauh berbeda. Beberapa temannya masih membicarakan tentang Alesha.
"Adik lo kayaknya gampang banget dikenal, Vin."
Kevin yang sedang membuka buku hanya menjawab singkat.
"Dia memang begitu."
Alvian yang kebetulan lewat di depan kelas Kevin hanya tertawa kecil.
"Kayaknya sebentar lagi bukan Kevin yang dikenal, tapi Alesha."
Kevin hanya menggeleng pelan.
Namun, dalam hatinya ia merasa senang melihat adiknya bisa menikmati kehidupan barunya.
Hari kedua sekolah berjalan semakin lancar. Alesha mulai terbiasa dengan jadwal pelajaran, suasana kelas, dan teman-teman barunya.
Saat jam istirahat tiba, seperti kemarin, Alesha pergi ke kantin bersama Dinda dan beberapa teman lainnya.
"Les, lo udah tahu makanan favorit di kantin belum?" tanya Dinda.
Alesha menggeleng.
"Belum. Kemarin gue cuma coba satu."
"Kalau gitu gue kasih rekomendasi."
Mereka pun berjalan sambil mengobrol santai.
Sesampainya di kantin, Alesha langsung melihat suasana yang lebih ramai dari kemarin. Ia memilih tempat duduk sambil menunggu pesanannya datang.
Tiba-tiba seseorang dari belakang menyapanya.
"Alesha."
Alesha menoleh.
"Oh, Kak Kevin."
Kevin berdiri bersama Arka, Alvian, dan Reza.
"Lo makan di sini lagi?"
"Iya. Kenapa?"
"Nggak."
Reza langsung tertawa kecil.
"Dia cuma memastikan adiknya nggak bikin masalah."
Alesha langsung memasang wajah tidak percaya.
"Kak, gue kelihatan seperti pembuat masalah?"
Kevin diam sebentar.
Alesha menyipitkan mata.
"Kak."
"...Kadang."
"Ya ampun."
Alvian dan Reza langsung tertawa mendengar percakapan mereka.
Sementara Arka hanya duduk diam sambil menikmati minumannya.
Namun, tanpa mereka sadari, interaksi sederhana itu kembali membuat beberapa siswa di sekitar mereka memperhatikan.
Bukan hanya karena Kevin, tapi karena Alesha yang terlihat begitu santai saat bersama kakaknya.