Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan di Atas Bara
Aula utama benteng timur malam ini tampak seperti panggung sandiwara yang megah sekaligus mencekam. Puluhan lilin besar yang terbuat dari lemak paus digantung pada langit-langit batu, meneteskan lelehan lilin hangat yang menguapkan aroma malam yang pekat. Di bawahnya, para tetua klan dan bangsawan perbatasan duduk bersila di atas tikar sutra, berbisik-bisik di balik cawan-cawan arak mereka.
Namun, seketika Kai melangkah melewati pintu gerbang kayu yang tinggi, atmosfer ruangan itu mendadak mengendap. Bisik-bisik itu surut, digantikan oleh keheningan yang sarat akan penilaian.
Kai berjalan dengan dagu terangkat, mencoba mengabaikan rasa panas yang kembali merayap dari pangkal leher hingga ke pelipisnya. Di sebelah kirinya, Rei berjalan mendampingi dengan langkah yang begitu tenang, seolah ia adalah pemilik sah dari seluruh perhatian di ruangan ini. Sementara itu, Yuki memilih untuk melebur dengan bayang-bayang di barisan belakang, wajahnya kini telah tertutup rapat oleh topeng *kitsune* putihnya yang dingin.
"Tersenyumlah sedikit, Kai," bisik Rei tanpa menoleh, bibirnya yang merah merekah nyaris tak bergerak. "Para tetua sedang mencari celah untuk melihat apakah kutukan Naga Merah sudah mulai menggerogoti akal sehatmu."
"Aku tidak datang untuk menghibur mereka, Rei," jawab Kai dengan nada rendah yang sarat akan tekanan.
Di ujung aula, di atas podium yang agak meninggi, duduk seorang gadis dengan pakaian putih bersih tanpa cela, sangat kontras dengan dominasi warna merah dan hitam di ruangan itu. Dialah Hana. Rambut peraknya yang panjang dihiasi oleh tusuk konde emas berbentuk bangau, simbol kemurnian klan seberang. Saat pandangan mereka bertemu, Hana meletakkan cawan tehnya dengan gerakan yang sangat halus, lalu memberikan anggukan hormat yang terukur.
Kai melangkah mendekat dan mengambil tempat duduk di sisi seberang meja Hana, sementara Rei dengan anggun mengambil posisi tepat di sebelah kanan Kai, menegaskan posisinya sebagai penasihat sekaligus penengah politik yang tak tergantikan.
"Lama tidak berjumpa, Tuan Muda Kai," suara Hana memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar jernih, mirip lentingan lonceng angin di musim semi, namun ada ketegasan yang tak bisa dibantah di balik kelembutan itu. "Kudengar angin di benteng timur sedang bergolak akhir-akhir ini. Kuharap kedatanganku tidak mengganggu ketenanganmu."
Kai menatap sepasang mata Hana yang bening, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh gadis suci ini. "Kedatanganmu selalu membawa kehormatan bagi benteng ini, Hana. Hanya saja, tempat ini mungkin terlalu dingin untuk seseorang yang terbiasa dengan kehangatan istana selatan."
Hana tersenyum tipis, matanya melirik sekilas ke arah Rei yang sedang menuangkan arak ke dalam cawan Kai. "Dingin tidak akan menjadi masalah, selama api di dalam benteng ini tidak membakar orang-orang di sekitarnya. Keluargaku mengkhawatirkan... bisikan yang belakangan ini sering terdengar hingga ke luar perbatasan."
Atmosfer di meja itu seketika menegang. Pertanyaan Hana langsung menusuk ke inti masalah.
Sebelum Kai sempat merangkai kata, Rei memotong dengan tawa kecil yang terdengar sangat alami. "Nona Hana tampaknya terlalu banyak mendengarkan dongeng para pelancong di pasar. Api benteng timur selalu terkendali dengan baik di bawah tangan Kai. Bukankah begitu?"
Hana tidak mengalihkan pandangannya dari Kai, mengabaikan interupsi Rei dengan keanggunan yang mematikan. "Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut Tuan Muda Kai, bukan dari juru bicaranya."
Rasa panas di dada Kai mendadak menyengat hebat, seolah sang naga di dalam dirinya tersinggung oleh desakan itu. Semburat merah samar kembali melintasi pupil matanya. Tepat saat situasi mulai terasa berbahaya, sebuah bayangan bergerak di sudut pilar tak jauh dari meja mereka.
Sesosok wanita berambut merah kecokelatan yang bergelombang acak tampak bersandar malas di sana. Mai. Ia tidak mengenakan pakaian formal seperti yang lain; jubahnya tampak sedikit longgar dan ada kesan liar yang melekat kuat pada dirinya. Di jemarinya, sebuah belati kecil diputar-putar dengan kecepatan yang mengerikan, memantulkan cahaya lilin ke dinding-dinding batu.
Mai tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun tatapan matanya yang tajam dan senyum seringai tipis di sudut bibirnya seolah mengunci seluruh pergerakan di area itu. Ia adalah peringatan berjalan bahwa malam ini tidak ada yang benar-benar aman.
Kai menarik napas dalam-dalam, menekan gejolak darahnya, lalu membalas tatapan Hana dengan senyum yang dipaksakan tegak.
"Jika api ini memang berbahaya, Hana," ucap Kai, suaranya terdengar berat dan bergema halus, membuat Hana sedikit menahan napas. "Maka pastikan kau tidak berdiri terlalu dekat. Karena jika kutukan ini benar-benar bangkit, aku tidak bisa menjamin siapa yang akan hangus menjadi abu terlebih dahulu."
Hana terpaku sejenak, matanya melebar sebelum ia kembali menguasai diri dan menundukkan kepala dalam-dalam. Di sudut ruangan, putaran belati Mai mendadak berhenti, dan dari balik topengnya, Yuki tampak mengencangkan pegangan tangannya pada bilah kipas yang tersembunyi. Jamuan baru saja dimulai, namun bara api di bawah meja mereka sudah siap untuk meledak.