Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Anak itu menyodorkan manisan hawthorn kepada adiknya. Ia menelan ludah dengan susah payah, menatap saat adiknya memakannya dengan lahap. Ada kepuasan tulus di matanya.
"Ini untukmu."
Seina menyodorkan manisan yang masih ia pegang kepada anak itu.
Anak itu mengerjap bingung. "Kau tidak memakannya?"
"Ini memang untukmu. Cepatlah makan. Kalau aku ingin, kakakku pasti akan membelikannya nanti."
Anak itu melirik Raka sekilas. Melihat pakaian rapi dan pembawaan pemuda itu, ia tahu mereka bukan orang miskin sepertinya. Seharusnya uang itu dipakai untuk gadis kecil yang bersamanya, bukan diberikan kepada mereka.
"Mengapa kau begitu baik pada kami?"
Ia tak langsung menerimanya, menatap Seina penuh keraguan.
"Tolong aku sebentar saja."
Kali ini anak itu mundur selangkah, waspada.
"Jangan takut. Ini hanya permohonan kecil. Kau pasti sanggup melakukannya."
"Katakan dulu apa yang harus kulakukan."
"Kau hanya perlu menyampaikan selembar pesan kepada seseorang. Berikan saja, tak perlu bicara apa pun lagi."
Melihat hal itu sederhana, akhirnya anak itu menerima manisan itu.
Sementara itu, Pangeran Julian dan pengawalnya sedang melakukan penyelidikan rahasia. Kabar yang mereka dapatkan menyebutkan bahwa pemuda yang mereka cari ternyata masih hidup dan bersembunyi di Kota itu, tepatnya di sekitar Jalan Barat.
"Kau yakin informasi ini benar?"
Pengawal melapor dengan tunduk hormat. "Benar, Tuan. Pasukan rahasia melihat seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang wajahnya sangat mirip dengan almarhum Ratu muncul di sana."
Saat mereka sedang berdiri diam, seorang pengemis tiba-tiba menabrak Julian dan berlalu pergi. Pengawalnya hampir mencabut pedang, namun dilarang oleh tuannya. Dalam keramaian itu, sosok pengemis itu lenyap seketika.
"Aku yang lengah."
"Tidak perlu disalahkan."
Mereka terlalu fokus mencari seseorang hingga lupa bahwa di tempat ini, nyawa mereka pun bisa menjadi incaran. Saat hendak melangkah lagi, Julian merasakan ada sesuatu di pinggangnya. Ia mengambilnya dan mendapati selembar kertas kusut yang tergulung kecil.
Di atasnya tertulis tulisan tangan yang sangat indah dan rapi:
Jika kau ingin tahu keberadaan Pangeran Ketujuh, letakkan dua ratus tael perak di belakang patung Buddha di reruntuhan Kuil Dewa Kota, Jalan Barat. Segera tinggalkan tempat itu setelahnya. Kau akan mendapat petunjuk selanjutnya.
Peringatan: Jangan sampai ada yang mengawasi gerak-gerikmu. Jika tidak, kau takkan pernah melihat Pangeran Ketujuh lagi.
Di sudut bawah tertulis satu kalimat singkat: Liontin berbentuk naga dari batu giok putih.
Mata Julian menyipit tajam.
"Tuan, ini bisa jadi jebakan penipuan," tegur pengawal cemas.
Namun kalimat terakhir itu membuatnya ragu. Liontin giok berbentuk naga itu adalah benda rahasia yang hanya diketahui sedikit orang, bahkan Kaisar sekalipun tak tahu detailnya. Itu adalah pesan terakhir yang disampaikan iparnya sebelum wafat.
Benar atau tidak, ia harus mencobanya.
"Kau, pergilah ke Kuil Dewa Kota yang rusak di Jalan Barat."
"Siap, Tuan."
Sesampainya di sana, kuil itu sudah lama tak terurus, sunyi dan berdebu. Sesuai petunjuk, Julian melangkah ke arah belakang patung Buddha, namun dihalangi kedua pengawalnya.
"Tuan, waspada akan bahaya!"
"Aman saja."
Dengan perlindungan dari depan dan belakang, mereka memeriksa tempat itu. Benar-benar kosong. Julian memerintahkan pengawal meletakkan dua ratus tael perak, lalu mereka pergi menjauh. Setelah agak jauh, pengawalnya bertanya:
"Apakah Tuan ingin kami mengawasi tempat itu?"
"Kau sembunyi di tembok belakang dan perhatikan siapa yang datang mengambilnya."
Ia segera melaksanakan perintah itu. Hampir satu jam ia menunggu, hingga akhirnya terlihat sekelompok anak pengemis memasuki kuil membawa makanan. Mereka masuk dan keluar, namun tak ada yang mencurigakan.
Dua jam berlalu, begitu pengawalnya menyelinap masuk dan menemukan bahwa uang itu sudah hilang. Ia segera kembali melapor.
"Hanya anak-anak di bawah dua belas tahun?"
"Benar, Tuan."
"Selidiki mereka secara diam-diam. Jangan lukai siapa pun yang tak bersalah."
Sang pengawal menghela napas lega, lalu kembali menyusup ke dalam kelompok pengemis dengan menyamar.
Sementara itu, Seina dan Raka membawa kakak-beradik itu ke klinik. Dari anak itu, mereka mengetahui bahwa nama kakaknya Guka dan adik perempuannya Guyu. Mereka datang ke kota ini karena bencana yang menimpa keluarga, namun adiknya jatuh sakit karena kelaparan dan kedinginan.
Melihat adiknya hampir tak berdaya, Guka melakukan apa saja hanya untuk memenuhi permintaan terakhir adiknya yaitu mencicipi manisan hawthorn.
Kini Seina berganti pakaian lusuh milik Guyu, wajahnya berdebu agar tak dikenali. Ia menyusup bersama mereka ke kuil, menyelinap saat sepi untuk mengambil uang itu dari balik patung.
"Jangan lupa beri obat adikmu tepat waktu," pesan Seina. Ia menyodorkan sebagian uang perak itu. "Ambil sembilan belas tael ini untuk beli obat dan makanan bergizi."
Dalam hati ia tetap cemas. Ia sudah melibatkan mereka, namun ia yakin mereka takkan berani bicara demi keselamatan Guyu.
"Dokter bilang adikku tak menderita penyakit berat, tapi tubuhnya terlalu lemah. Terima kasih telah menyelamatkannya hari ini," ucap Guka dengan mata berkaca-kaca. "Izinkan kami mengabdi padamu. Kami rela bekerja seumur hidup sebagai ganti nyawa adikku."
Seina menggeleng. "Kau tak perlu melakukan itu."
"Aku bersumpah takkan pernah membocorkan apa pun yang terjadi hari ini. Jika aku berucap satu kata pun, biar aku mati seketika."
Guka tak peduli siapa sebenarnya penolong mereka. Yang ia tahu, keluarga inilah yang menyelamatkan nyawa adiknya yang satu-satunya.
cerita nya juga seru