NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 23. alasan yang tak pernah terungkap

Setelah konfrontasi yang panas dan penuh emosi tadi siang, suasana di seluruh rumah masih terasa berat dan hening. Raka memilih duduk sendirian di beranda paling ujung, membiarkan angin sore menyapa wajahnya yang masih terasa panas karena amarah dan kesedihan. Ia sudah tahu fakta bahwa Zahra dekat dengan Rendra, tapi satu hal yang belum sepenuhnya ia pahami mengapa Zahra begitu kukuh memutuskan hubungan sejak awal, bahkan sebelum rahasia ini terbongkar? Mengapa ia terlihat begitu yakin, seolah tidak ada keraguan sedikit pun?

Sore itu, Zahra menghampirinya dengan langkah pelan. Ia tahu, ia harus menyampaikan semuanya dengan jujur, tanpa menyembunyikan apa pun lagi meski kata-kata itu akan semakin menyakitkan bagi Raka.

“Ka... boleh aku bicara sebentar?” tanya Zahra lembut, berdiri beberapa langkah di hadapan Raka.

Raka menoleh perlahan, matanya masih tampak lelah dan kecewa. Ia mengangguk pelan, memberi isyarat agar gadis itu duduk di bangku kayu yang berjarak sedikit darinya.

“Kau ingin menjelaskan apa lagi? Bukankah semuanya sudah jelas?” tanyanya pelan.

“Belum semuanya,” jawab Zahra. “Kau tadi bertanya kenapa aku begitu kekeh ingin putus, kenapa aku tidak mau memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Sekarang aku akan katakan alasannya alasanku yang sebenarnya.”

Zahra menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara yang mantap namun penuh rasa haru.

“Sebenarnya, Ka... perasaan itu tidak datang tiba-tiba saat kau pergi. Benihnya sudah ada sejak lama, tapi aku sendiri tidak sadar atau tidak mau mengakuinya. Dulu aku pikir aku mencintaimu sepenuhnya. Tapi semakin lama kita bersama, semakin aku sadar bahwa apa yang kurasakan padamu hanyalah rasa nyaman, rasa terima kasih, dan rasa hormat sebagai teman baik. Itu bukan cinta yang membuat hati berdebar kencang, bukan cinta yang membuat seseorang ingin berbagi setiap detik hidupnya.”

Raka terdiam mendengarnya. Kata-kata itu menembus langsung ke lubuk hatinya yang paling dalam.

“Lalu... bagaimana dengan Rendra?” tanyanya bergetar.

“Dulu aku hanya melihatnya sebagai sahabatmu, orang yang kau banggakan,” lanjut Zahra. “Tapi seiring waktu, setiap kali aku berbicara dengannya, setiap kali aku melihat ketulusan dan keteguhan hatinya... aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa dipahami sepenuhnya, diterima apa adanya, dan ada kedamaian yang aneh namun nyata setiap kali berada di dekatnya. Saat kau pergi, jarak fisik kita justru membuka mataku aku tidak merindukanmu seperti seharusnya seorang kekasih merindukan pasangannya. Sebaliknya, justru dia yang selalu ada di pikiranku.”

“Kenapa kau baru katakan sekarang?” tanya Raka, matanya berkaca-kaca. “Kenapa kau biarkan aku berharap begitu lama? Kenapa kau berusaha menjodohkan dia dengan Rana jika hatimu sudah memilih dia?”

Zahra menunduk dalam, air mata mulai menetes. “Karena aku takut, Ka. Aku takut menyakiti hatimu. Aku takut menghancurkan persahabatan kalian. Aku juga takut pada diriku sendiri takut bahwa perasaanku ini salah, takut aku hanya terbawa suasana. Itulah sebabnya aku berusaha mendekatkan Rendra pada Rana. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa melepaskannya, bahwa hatiku tidak benar-benar condong ke arahnya. Tapi usahaku itu justru membuktikan sebaliknya: aku cemburu, aku tidak rela, dan aku tidak bisa berpura-pura.”

Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas, lalu melanjutkan dengan tegas.

“Itulah alasan aku begitu kekeh meminta putus saat kau pulang. Bukan karena aku tiba-tiba membencimu, bukan karena aku ingin menyakitimu. Tapi karena aku sadar aku tidak bisa lagi berpura-pura mencintaimu. Memaksakan hubungan ini hanya akan membuatmu tertipu, Ka. Aku tidak ingin kau menghabiskan sisa hidupmu bersama seseorang yang hatinya sebenarnya sudah milik orang lain. Itu ketidakjujuran yang paling kejam yang bisa kulakukan padamu.”

Raka mendengarkan setiap kata dengan saksama. Perlahan namun pasti, rasa marah di dadanya mereda, digantikan oleh rasa sedih yang dalam namun juga rasa lega yang aneh. Ia akhirnya paham: keteguhan Zahra bukan karena ia jahat atau tidak punya perasaan, melainkan karena ia ingin bersikap jujur meski kejujuran itu menyakitkan. Zahra tidak ingin membangun rumah di atas kebohongan.

“Jadi... kau sudah memikirkannya matang-matang, bukan keputusan yang diambil saat emosi?” tanya Raka pelan.

“Sudah sangat matang, Ka. Aku sudah berperang dengan diriku sendiri berbulan-bulan lamanya. Aku mencoba menyayangimu seperti dulu, tapi hati tidak bisa dipaksa. Hati memilih ke mana ia ingin pulang,” jawab Zahra lembut namun tak tergoyahkan.

Raka menatap jauh ke arah hamparan sawah yang mulai gelap. Ia teringat janji persahabatannya dengan Rendra, ingatannya pada Zahra, dan impian masa depan yang dulu mereka bangun bersama. Semuanya kini berubah bentuk. Namun di tengah kepahitan itu, ia mulai menyadari satu hal penting: jika ia terus memaksakan diri memiliki Zahra, ia hanya akan menahan kebahagiaan orang yang dicintainya. Dan ia juga tidak pantas mendapatkan pasangan yang hanya menjalin hubungan karena rasa kasihan.

“Terima kasih... kau sudah jujur padaku,” ujar Raka akhirnya, suaranya tenang namun berat. “Kau benar, cinta tidak bisa dipaksa. Aku kira kau berubah karena pengaruh orang lain, ternyata kau hanya menemukan apa yang sebenarnya kau cari selama ini dan ternyata itu bukan aku.”

Raka menoleh ke arah Zahra, lalu tersenyum tipis senyum yang penuh kepahitan namun juga tanda penerimaan.

“Aku mungkin butuh waktu lama untuk melupakan semua ini, untuk kembali menjadi sahabat yang baik bagi Rendra, dan untuk melupakanmu sebagai kekasihku. Tapi aku tidak akan menahanmu lagi, Zahra. Pergilah ke tempat yang membuatmu bahagia, ke tempat di mana hatimu merasa pulang. Aku melepasmu,” ucap Raka dengan tulus.

Mendengar itu, Zahra menangis lebih deras bukan karena sedih, melainkan karena terharu oleh kebesaran hati Raka. Ia ingin berterima kasih, namun kata-kata tak sanggup terucap. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berdiri dan berjalan perlahan pergi meninggalkan Raka yang masih duduk sendirian di sana.

Tak lama kemudian, Rendra datang menghampiri Raka. Ia tidak berani duduk terlalu dekat, hanya berdiri di samping sahabatnya itu dengan rasa bersalah yang masih tersisa.

“Ka... aku tidak bermaksud merebut apa yang menjadi milikmu,” ujar Rendra pelan.

Raka mendongak, menatap wajah sahabatnya yang penuh kegelisahan. Ia menghela napas panjang, lalu menepuk pelan lengan Rendra.

“Aku tahu, Ren. Cinta bukan soal siapa yang mengambil, tapi soal siapa yang dipilih. Kalau hatinya memilihmu, berarti memang takdirnya begitu. Hanya satu pesanku jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia menyesal telah memilihmu.”

Rendra mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. “Aku janji, Ka. Seumur hidup aku akan menjaganya.”

Malam itu, benang kusut yang selama ini melilit hati mereka perlahan mulai terurai. Raka akhirnya tahu alasan yang sesungguhnya, Zahra tak lagi harus menyembunyikan perasaannya, dan Rendra siap memikul tanggung jawab atas pilihannya. Meski masih ada luka, setidaknya kini mereka berjalan di jalan yang terang tanpa kebohongan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!