Rumah tangga Xena dan Reyhan terlihat sempurna, penuh cinta dan kesetiaan. Apalagi dari dulu hingga sekarang, Reyhan selalu memperlakukan Xena dengan baik. Malah cenderung meratukan istrinya tersebut.
Tapi semuanya hancur ketika terdengar kabar bahwa Reyhan diam-diam menikahi wanita lain demi mendapatkan keturunan karena Xena tak kunjung hamil. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu adalah tetangga mereka sendiri yang selama ini terlihat baik di depan Xena.
Dikhianati setelah semua pengorbanannya, Xena memilih pergi. Tapi sebelum itu, ia membongkar identitas dan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Saat kebenaran terungkap, Reyhan baru sadar bahwa wanita yang ia sia-siakan ternyata bukan wanita biasa, dan penyesalannya datang ketika semuanya telah terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Begitulah Faktanya
"...sebenarnya, Aksara juga bukan anakku, Mas."
Hening seketika mencekik ruangan itu. Mata Reyhan membelalak sempurna, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan mengerikan.
"Apa?! Maksud kamu apa, Ndin?!"
Nadine tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat dramatis layaknya sebuah adegan dalam film melodrama, ia membalikkan tubuhnya lalu melangkah menjauhi Reyhan, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan, membiarkan punggungnya menjadi satu-satunya hal yang bisa dipandangi oleh suaminya.
Reyhan tidak tahan dengan permainan teka-teki ini. Dengan langkah lebar dan kasar, ia menyusul Nadine, mencengkeram bahu wanita itu dan memutarnya paksa agar kembali menghadapnya. Ia menodongkan wajahnya ke depan Nadine, menuntut penjelasan mendalam.
"Jelaskan padaku, Nadine, bagaimana bisa kamu yang hamil besar, kamu yang masuk ruang bersalin, tapi sekarang kamu bilang dia bukan anak kandungmu?! Logika macam apa ini?!" cecar Reyhan.
Nadine menatap suaminya, sama sekali tidak gentar dengan cengkeraman kasar di bahunya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Apakah kamu tidak curiga, Mas, bagaimana bisa aku langsung melayanimu di ranjang, padahal hitungannya aku masih dalam masa nifas?" bisik Nadine.
Reyhan tertegun. Cengkeramannya di bahu Nadine langsung mengendur. Otaknya terpaksa berputar mundur, mengingat kembali permainan yang belum lama ini. Benar juga. Mengingat hal itu, bulu kuduk Reyhan meremang.
Saat itu Nadine sama sekali tidak terlihat kesakitan. Bahkan rasanya tidak ada yang berbeda sama sekali dengan kondisi tubuh Nadine sebelum melahirkan. Nadine terlalu fit untuk dikatakan dalam masa nifas. Segala gaya bahkan mereka lakoni. Reyhan baru ngeh ke arah sana.
"Jadi kamu sebenarnya tidak pernah melahirkan? Lalu..."
Reyhan memegang kepalanya yang mendadak berdenyut pening. Terlalu banyak hantaman kenyataan pahit yang harus ia terima dalam beberapa hari. Dunianya serasa berputar secara abnormal.
"Iya, benar. Aku tidak pernah melahirkan Aksara. Aku sudah merencanakan ini semua dengan sangat matang sejak lama, Mas. Aku tidak betul-betul melahirkan. Selama sembilan bulan itu, aku hanya berakting memakai ganjalan di perutku. Dan saat hari di mana aku berpura-pura pecah ketuban, di kamar sebelahku ada seorang wanita yang sudah kubiayai seluruh masa kehamilan dan persalinannya. Begitu dia melahirkan, bayinya langsung diberikan kepadaku, seolah-olah akulah yang bertaruh nyawa melahirkannya."
Reyhan menatap Nadine dengan pandangan jijik dan tidak percaya. "Kamu benar-benar iblis, Nadine. Kenapa kamu tega melakukan hal sejauh ini?!"
"Kenapa?" Nadine berbalik, matanya berkilat penuh obsesi. "Aku memanfaatkan situasi, Mas. Aku memanfaatkan Mbak Xena yang tidak kunjung hamil demi bisa masuk ke dalam kehidupanmu. Kau selalu menolakku dulu, Mas. Kau mengusirku seolah aku ini sampah, dan aku paling tidak suka dengan penolakan."
"Kamu wanita gila!" maki Reyhan, "Bisa-bisanya kamu bermain drama sekotor ini. Kamu seperti tidak punya harga diri sama sekali. Kamu menjijikkan, Nadine."
Reyhan mundur beberapa langkah, membuang muka karena merasa mual melihat wajah wanita yang kini menjadi istrinya itu. "Tapi dengar ya, Nadine. Biar kubersumpah di depanmu sekarang. Aku tetap tidak mau melanjutkan rumah tangga dengan wanita licik dan manipulatif seperti kamu. Pernikahan kita selesai! Sekarang, kamu lebih baik bantu aku kembali pada Xena."
Mendengar nama Xena disebut, raut wajah Nadine yang semula santai langsung berubah menjadi dingin dan penuh intimidasi. Langkah kakinya kembali mendekati Reyhan. Kali ini ia mengeluarkan kartu As yang sudah ia simpan rapat-raut sejak lama. Kartu yang akan mengunci kebebasan Reyhan untuk selamanya.
"Kamu tidak bisa lepas dariku, Mas, kecuali kamu memang sudah siap untuk mendekam di dalam penjara."
Reyhan tercengang. "Penjara? Apa lagi ini?! Kenapa aku harus masuk penjara?!"
Nadine bersedekap menatap Reyhan dengan pandangan meremehkan. "Kamu lupa, Mas? Kejadian saat itu? Saat aku mengejar cintamu dan nekat hendak menemui Mbak Xena untuk mengaku tentang perasaanku?"
Ingatan Reyhan terlempar ke sebuah malam kelam itu. Malam di mana Nadine datang ke rumahnya dengan histeris, mengancam akan merusak rumah tangganya dengan Xena. Reyhan yang tersulut emosi saat itu bermaksud mengusir Nadine keluar dari rumahnya.
"Waktu itu kamu mengerasiku, Mas. Kamu mendorongku dengan sangat kasar dari teras rumahmu karena kamu panik takut Mbak Xena melihatku. Aku jatuh terguling, dan perutku menghantam pot bunga besar dari beton. Benturan keras itu menyebabkan pendarahan hebat di dalam, hingga rahimku rusak parah dan dokter terpaksa mengangkatnya."
Reyhan menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Saat itu, ia mengira Nadine hanya mengalami luka biasa dan ia sudah membiayai semua pengobatannya agar Nadine bungkam di depan Xena. Ia tidak tahu dampak medisnya sampai separah itu.
"Kamu harus bertanggung jawab dengan hidup bersamaku, Mas! Karena dengan kondisiku yang cacat seperti ini, tidak akan ada laki-laki lain yang mau menerimaku!" sentak Nadine, matanya mulai berkaca-kaca oleh amarah yang tertahan.
"Lagipula, pria lain tidak boleh menderita karena kondisiku ini. Biarlah kamu yang bertanggung jawab penuh atas diriku seumur hidupmu! Dan ternyata... siapa yang menyangka, takdir selucu ini ya, Mas? Kamu pun ternyata mandul!"
Nadine tertawa sumbang, sebuah tawa ejekan yang menggema pahit di ruangan itu. Mereka berdua sama-sama tidak bisa memberikan keturunan, sebuah ironi yang luar biasa.
Reyhan mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. Ia merosot duduk di sofa, merasa benar-benar kalah dan tidak berkutik. Nadine menjabarkan seluruh bukti medis masa lalu, lengkap dengan laporan visum yang sengaja disimpannya, yang kapan saja bisa diserahkan ke polisi untuk menyeret Reyhan ke balik jeruji besi atas tuduhan penganiayaan berat yang menyebabkan kecacatan permanen.
Tepat di saat atmosfer di dalam rumah itu berada di titik paling mencekam, terdengar suara ketukan pintu, disusul dengan pintu depan yang terbuka.
"Reyhan? Nadine? Kok pintunya tidak dikunci, Nak?"
Bu Mirna melangkah masuk ke dalam rumah. Beliau ujug-ujug datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
Reyhan makin pusing bukan main. Kehadiran ibunya di saat seperti ini seperti menambah beban di kepalanya yang sudah hampir pecah.
Bu Mirna yang belum tahu apa-apa mengenai badai rumah tangga anak dan menantunya, berjalan mendekat dengan senyuman hangat yang masih tersisa di wajah senjanya.
"Lho, Rey kamu kenapa? Kok wajahmu pucat sekali seperti orang sakit?" tanya Bu Mirna.
Belum sempat Reyhan menjawab, Bu Mirna beralih menatap Nadine. Sikapnya langsung berubah manis. "Nadine sayang, untung kamu di rumah. Oh ya, Ibu ke sini sebenarnya mau bicara dengan Reyhan..."
"Silahkan bicara dengan Mas Reyhan, Bu. Aku pamit bawa Aksara ke kamar."
"Iya sayang."
Kini Bu Mirna berbicara empat mata dengan putranya.
"Rey, kamu punya hutang kepada Rika. Ibu bayar berobat boleh pinjam sama dia. Nanti jangan lupa dibayar sebagai bentuk baktimu. Ibu mau menginap di sini dulu, di rumah tak ada makanan. Hanya ada bapakmu yang terus-terusan menganggur." Kata Bu Mirna sembari berlalu, menepuk pundak Reyhan lalu masuk ke dalam kamar tamu tanpa tahu penderitaan anaknya.
Kepala Reyhan rasanya mau retak.
Bersambung.