NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Sumpah sang Putra Mahkota

Sepertiga malam terakhir membawa kabut tipis yang menyelimuti seluruh kompleks Mansion Ketiga. Di dalam kamar rawat Alana, keheningan terasa begitu rapuh, seolah-olah satu jentikan jari saja bisa memecahkan atmosfer yang tegang itu. Alana duduk bersandar di ranjangnya, memandang ke luar jendela besar yang menampilkan siluet mawar hitam yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Fisiknya masih lelah, namun matanya memancarkan ketenangan seorang penguasa yang tahu bahwa kepingan catur terakhirnya akan segera datang.

Tepat pukul tiga pagi, pintu kamar rawat bergeser terbuka tanpa suara mekanis yang keras.

Sesosok pria dengan tubuh tegap dan masif melangkah masuk dari kegelapan koridor. Dominic Garrick. Namun, malam ini, tidak ada lagi aura keangkuhan mutlak yang biasa mengelilingi sang putra mahkota pertama. Langkah kakinya terasa berat, dipenuhi oleh beban pengkhianatan yang baru saja menghantam dunianya hingga berkeping-keping. Rambutnya sedikit berantakan, dan setelan jasnya tidak lagi serapi biasanya. Sepasang mata elang yang biasanya berkilat tajam kini meredup, menyiratkan luka emosional yang mendalam dari seorang anak yang menyadari bahwa ayahnya sendiri telah menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkannya.

Di dalam kamar, suasana langsung berubah menjadi siaga satu.

Dari balik kegelapan sudut ruangan, Xavier dan Julian melangkah maju dengan tangan yang langsung meraba senjata di balik jas mereka. Di dekat pintu, Cedric yang sejak sore tadi tidak pernah meninggalkan pos jaganya, langsung menaruh jarinya di atas pelatuk senapan serbu, siap memuntahkan peluru ke arah kakak tertuanya jika pria itu menunjukkan tanda-tanda agresi.

"Mundur, Dominic," geram Cedric, suaranya rendah seperti serigala yang menjaga teritorinya. "Kamu tidak punya hak untuk menginjakkan kaki di sini setelah apa yang kamu lakukan kemarin."

Dominic bahkan tidak melirik laras senjata Cedric yang mengarah tepat ke dadanya. Pandangannya lurus terkunci pada sosok Alana yang duduk dengan tenang di atas ranjang. Dengan gerakan yang sangat lambat untuk menunjukkan bahwa dia tidak membawa niat buruk, Dominic mengangkat tangan kanannya, merogoh saku dalam jasnya, dan mengeluarkan sebuah benda yang paling sakral di Faksi Utama.

Sebuah stempel besi padat berbentuk kepala elang berlapis emas—stempel komando tertinggi yang mengendalikan seluruh pasukan elite, jalur logistik, dan otoritas domestik Faksi Utama di seberang laut.

Bruk.

Suara lutut yang berbenturan keras dengan lantai marmer menggema di dalam ruangan yang sunyi. Dominic Garrick, sang putra mahkota yang digadang-gadang akan menjadi penerus tunggal Victor, berlutut dengan satu kaki di lantai yang dingin tepat di hadapan ranjang Alana. Dia menundukkan kepalanya yang kokoh, lalu mengulurkan kedua tangannya ke depan, menyodorkan stempel komando itu di atas telapak tangannya yang gemetar.

"Aku menyerah, Alana," suara bariton Dominic terdengar parau dan hancur, menahan badai amarah dan kehampaan di dalam dadanya. "Pesanmu benar. Ayah tidak pernah menginginkanku di takhta itu. Dia hanya menginginkan algojo yang bisa dia buang kapan saja. Malam ini... aku menyerahkan seluruh pasukanku, seluruh asetku, dan sisa hidupku kepadamu. Pimpin aku, Alana. Berikan aku perintah untuk meruntuhkan pria tua yang menyebut dirinya sebagai ayah kita."

Xavier, Julian, dan Cedric seketika mematung di tempat mereka berdiri. Menyaksikan Dominic—pria yang paling keras kepala dan setia di keluarga ini—berlutut dan menyerahkan kekuasaannya adalah pemandangan yang hampir tidak masuk akal. Sifat posesif gila para kakak laki-laki Alana seketika bergolak. Mereka tahu, dengan bergabungnya Dominic, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh Alana di dunia bawah tanah ini.

Alana menatap stempel emas di tangan Dominic, lalu beralih menatap wajah kakak tertuanya yang dipenuhi oleh luka pengkhianatan. Di sinilah sisi manusiawi Alana yang selama belasan tahun ini tersembunyi di balik dinding es mulai muncul. Dia melihat dirinya sendiri di dalam diri Dominic—seorang anak yang dibuang dan dikhianati oleh darah dagingnya sendiri demi sebuah kekuasaan.

Alana tidak mengambil stempel emas itu dengan kejam. Dia justru mengulurkan kedua tangan mungilnya, menangkup telapak tangan Dominic yang besar dan dingin, lalu mendorong stempel itu kembali ke dada Dominic.

"Genggam kembali senjatamu, Kak Dominic," ucap Alana. Suaranya tidak lagi dingin atau manipulatif seperti malam sebelumnya; suaranya terdengar sangat lembut, jernih, dan dipenuhi oleh ketulusan seorang adik perempuan yang menyembuhkan luka kakaknya. "Aku tidak membutuhkan stempel ini untuk mengetahui bahwa Kakak adalah panglima terbaik yang kita miliki. Berdirilah. Seorang Garrick tidak boleh membiarkan lututnya menyentuh lantai hanya karena pengkhianatan seorang pria tua."

Dominic mendongak, matanya yang merah menatap Alana dengan keterpanaan yang mendalam. Kehangatan tangan Alana dan panggilan "Kak Dominic" yang tulus seketika meruntuhkan sisa-sisa paranoia di dalam kepala sang putra mahkota. Naluri protektif seorang kakak tertua yang selama ini mati di dalam dirinya, mendadak bangkit dengan kekuatan yang masif.

Dominic berdiri perlahan, tubuh tegapnya kini melangkah maju dan berdiri di sisi kanan ranjang Alana, bergabung dengan Xavier, Julian, dan Cedric. Benteng pertahanan itu kini telah utuh. Lima kepala dinasti Garrick kini telah berada di bawah satu poros yang sama.

Hanya dalam waktu satu jam, kamar rawat Alana berubah menjadi ruang rapat darurat paling berbahaya di Eropa. Adrian dipanggil masuk dengan laptop militernya, bergabung dengan keempat kakaknya yang kini mengelilingi ranjang Alana dengan formasi yang sangat protektif.

Dinamika posesif kelima kakak laki-laki Alana kini terlihat secara penuh dan ugal-ugalan. Mereka tidak lagi memperebutkan takhta Victor, melainkan saling unjuk gigi tentang siapa yang bisa memberikan fasilitas dan perlindungan terbaik untuk Alana.

"Mulai pagi ini, seluruh sistem keamanan Mansion Ketiga akan diintegrasikan dengan satelit militer pribadiku," Dominic membuka suara dengan nada otoriter yang luar biasa protektif. "Tidak boleh ada satu pun lalat milik intelijen Ayah yang bisa lewat tanpa izin dariku."

"Aku sudah memesan helikopter medis pribadi kelas satu yang akan siaga 24 jam di atap mansion ini, Alana," potong Xavier tidak mau kalah, membelai rambut hitam Alana dengan gerakan posesif yang protektif. "Uang bukan masalah. Jika kamu merasa sedikit saja tidak nyaman, kita bisa memindahkan seluruh rumah sakit terbaik di Monako ke kamar ini."

Julian menyesap tehnya, matanya berkilat dingin di balik kacamata. "Aku sudah menempatkan racun saraf tak terdeteksi di dalam pipa air ruang kerja Ayah. Jika Alana memberi perintah, pria tua itu tidak akan bisa melihat matahari terbit besok pagi."

Alana melihat kelima kakaknya yang saling berargumen demi keselamatannya, dan sebuah senyuman hangat—yang benar-benar manusiawi—terukir di wajah pucatnya. Untuk pertama kalinya, Alana merasa bahwa hidupnya sudah mulai terasa "cukup". Dia memiliki uang yang melimpah dari Xavier, keamanan mutlak dari Dominic dan Cedric, serta kecerdasan dari Julian dan Adrian. Yang terpenting, dia memiliki orang-orang yang tulus menyayanginya.

"Terima kasih... Kakak semua," sela Alana dengan suara lirih namun sanggup menghentikan perdebatan kelima pria kejam tersebut dalam seketika. "Tapi kita akan bermain dengan cara yang bersih dan mematikan. Kita tidak akan membunuh Ayah di dalam kegelapan seperti pengecut. Kita akan merebut mahkotanya di siang bolong, di depan seluruh dunia bawah tanah, agar dia tahu bahwa era Victor Garrick telah berakhir."

Alana kemudian mulai membagi tugas taktis dengan presisi yang sangat kejam untuk musuhnya:

"Kak Dominic dan Kak Cedric, gabungkan seluruh pasukan elite Faksi Utama dan militer Faksi Pertama untuk mengepung kompleks Mansion Utama dari dalam. Pastikan seluruh pengawal setia Ayah dilucuti tanpa suara."

"Dipahami," sahut Dominic dan Cedric serempak, menundukkan kepala mereka dengan kepatuhan gila.

"Kak Julian dan Kak Adrian, matikan total seluruh jaringan komunikasi, CCTV, dan akses darurat yang terhubung ke ruang kerja Ayah saat jam menunjukkan pukul delapan pagi. Dan Kak Xavier, siapkan dana jaminan untuk menstabilkan saham pasar saham Monako begitu berita kejatuhan Ayah tersebar."

"Serahkan padaku, Adik Kecil," ucap Xavier dengan seringai puas.

Pukul delapan pagi tepat, matahari terbit dengan kilauan keemasan di atas langit Monako, namun bagi Mansion Utama, ini adalah fajar kegelapan.

Pintu gerbang besar Mansion Utama terbuka perlahan. Alana melangkah keluar dari Mansion Ketiga. Luka di punggungnya masih terasa sedikit ngilu, namun dia berjalan dengan tubuh yang tegak sempurna, mengenakan gaun panjang hitam yang anggun bak seorang ratu yang siap menghadiri upacara penobatan.

Di sekelilingnya, kelima kakak laki-lakinya berjalan beriringan membentuk barikade protektif yang tak tertembus oleh peluru sekalipun. Dominic dan Cedric berjalan di baris depan dengan setelan jas hitam legam dan aura membunuh yang memancar pekat, tangan mereka siap mencabut senjata dari balik jas. Di kiri dan kanan Alana, Xavier dan Julian berjalan mendampingi dengan pandangan mata yang tajam menyapu setiap sudut halaman, sementara Adrian berjalan di belakang sambil memegang alat pelacak digitalnya.

Setiap pengawal luar yang mereka lewati langsung berlutut dan menurunkan senjata mereka begitu melihat Dominic dan Cedric berada di pihak Alana. Seluruh sistem pertahanan dinasti Garrick telah berpindah tangan hanya dalam waktu satu malam tanpa perlu menumpahkan satu tetes darah pun di permukaan.

Alana berhenti tepat di depan pintu jati raksasa ruang kerja utama Victor Garrick. Dia menatap gagang pintu emas tersebut, lalu melirik kelima kakaknya. Tatapan dingin Alana melunak sejenak saat melihat abang-abangnya yang berdiri kokoh melindunginya, sebelum akhirnya dia kembali memasang ekspresi tenang yang berwibawa.

​Mereka tidak datang untuk melakukan kudeta berdarah atau mempermalukan sang ayah seperti musuh rendahan. Alana hanya ingin mengambil apa yang sudah menjadi haknya, merebut takhta dengan elegan, dan memaksa pria tua itu mengakui bahwa era baru telah lahir di tangan anak-anak yang pernah dia sia-siakan.

​Alana mengulurkan tangan mungilnya, lalu mengetuk pintu jati tebal itu tiga kali dengan ketukan yang konstan dan penuh tata krama.

​"Masuk," suara bariton Victor yang berat dan sarat akan otoritas terdengar dari dalam.

​Dominic melangkah maju dengan sikap tenang namun waspada, meraih gagang pintu emas tersebut, dan membukanya dengan perlahan tanpa suara yang mengejutkan. Pintu terbuka lebar, menampilkan Victor Garrick yang sedang duduk di balik meja kerja raksasanya, menyesap anggur merah sembari menatap kedatangan mereka dengan sepasang mata elang yang dingin namun berkilat penuh antisipasi.

​Alana melangkah masuk paling pertama dengan keanggunan seorang putri sejati, diikuti oleh kelima kakak laki-lakinya yang berbaris rapi di belakangnya seperti benteng pelindung yang tak tertembus. Langkah mereka serempak, tenang, namun membawa tekanan psikologis yang luar biasa masif ke dalam ruangan tersebut.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!