Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kupu-kupu Kelam
Di sisi lain kota, jauh dari kemegahan pesta Nathan Greck, suasana di The Velvet Underground—sebuah klub malam eksklusif yang gelap dan berisik—jauh dari kata tenang. Savhelicha duduk di meja VIP paling sudut, dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang juga memiliki reputasi sebagai sosialita papan atas yang gemar bergosip.
Botol-botol vodka dan tequila kualitas tertinggi telah tandas, menciptakan kabut alkohol yang membuat mata Savhelicha sayu dan perilakunya menjadi tidak terkendali. Ia tidak lagi peduli pada riasan wajahnya yang sedikit luntur; yang ada di pikirannya hanyalah api kebencian yang berkobar hebat.
"Sialan wanita itu!" Savhelicha membanting gelasnya ke meja hingga berdenting keras. "Berani-beraninya dia menatapku seperti aku adalah debu di bawah kakinya!"
Salah satu temannya, seorang wanita dengan gaun sutra ketat yang memancarkan aroma parfum menyengat, tertawa sinis sambil menuangkan minuman ke gelas Savhelicha. "Sudahlah, Sav. Kita semua tahu siapa dia. Halra itu hanyalah wanita kampung yang beruntung bisa menikah dengan Sano. Dia tidak punya kelas, tidak punya latar belakang keluarga Wiragata yang sesungguhnya."
"Benar," timpal teman yang lain sambil menatap layar ponselnya, memperlihatkan foto Halra di pesta tadi. "Lihat gaun merah yang dipakainya. Sangat berusaha keras untuk terlihat 'seksi', bukan? Padahal menurutku, itu terlihat sangat murahan. Dia mencoba meniru gayamu, tapi hasilnya malah terlihat seperti pelacur kelas teri."
Savhelicha tertawa hambar, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti isak tangis yang tertahan. Alkohol telah melonggarkan kendali atas lidahnya. "Kalian tidak tahu saja... dia tidak tahu apa yang sedang ia mainkan. Dia pikir dia sudah menguasai Sano? Dia bahkan tidak tahu bahwa Sano masih mencariku setiap kali dia merasa tidak puas dengan hidupnya yang membosankan itu."
Gosip pun mengalir deras seiring dengan gelas yang terus terisi. Mereka merangkai cerita-cerita palsu, merendahkan martabat Halra, dan menertawakan setiap detail kecil tentang gaun, cara bicara, hingga tatapan mata Halra di pesta tadi. Bagi mereka, Halra adalah musuh bersama—sebuah anomali yang harus disingkirkan dari lingkaran mereka.
"Sav, menurutku kau harus melakukan sesuatu," ucap teman yang duduk di sampingnya, suaranya merendah. "Jika kau membiarkannya terus menonjol seperti itu, lama-lama posisi Sano di keluarga Joharo akan sepenuhnya terpengaruh oleh pengaruh wanita itu. Kita harus mempermalukannya didepan publik sekali lagi. Kali ini, tanpa ada Sano yang melindunginya."
Savhelicha menyandarkan kepalanya ke sofa kulit, menatap langit-langit klub yang berkedip dengan lampu laser. Pikirannya melayang pada rencana pria bermasker itu, namun pengaruh alkohol membuatnya merasa memiliki kekuatan besar untuk bertindak sendiri.
"Kalian benar," gumam Savhelicha, matanya berkilat jahat. "Dia pikir dia bisa memenangkan malam ini? Dia belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku akan memastikan dia menyesal pernah berani menginjakkan kakinya di dunia kita."
Mereka terus bergosip, larut dalam kemabukan dan kebencian. Di meja yang penuh dengan botol kosong itu, Savhelicha merasa sedikit lebih lega karena memiliki pendengar yang membenarkan segala kebusukan hatinya. Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik pintu klub itu, seorang informan—mungkin suruhan Tazam—sedang memperhatikan segalanya. Setiap kata, setiap rencana, dan setiap hinaan yang dilontarkan Savhelicha malam ini akan segera sampai ke telinga Halra.
Malam itu, di tengah dentuman musik bass yang menggetarkan dada, Savhelicha merasa dirinya adalah sang pemburu. Ia tidak tahu bahwa dalam permainan yang sedang berlangsung, ia sebenarnya sedang memancing predator yang jauh lebih cerdas untuk segera menyergapnya.
Savhelicha sudah mulai menyusun rencana balas dendam setelah dipermalukan. Apakah informasi mengenai pesta mabuk-mabukan dan rencana busuk mereka ini akan menjadi senjata baru yang digunakan Halra untuk menghancurkan reputasi Savhelicha di depan publik?
Malam itu, udara dingin menusuk tulang di luar klub The Velvet Underground. Savhelicha melangkah keluar dengan langkah yang kacau, tubuhnya terhuyung-huyung akibat pengaruh alkohol yang telah mematikan logikanya. Dunianya berputar, dan hanya ada satu wajah yang terbayang di benaknya—wajah pria bermasker yang selalu hadir saat ia berada di titik terendah.
Di sudut bayangan dekat pintu keluar, sosok pria misterius dengan kacamata hitam dan masker medis itu sudah berdiri tegak, seolah menunggu mangsanya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu menangkap lengan Savhelicha yang hampir terjatuh, memapah tubuh wanita itu yang lemas ke arah mobil sedan hitam yang terparkir tersembunyi.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah tua itu, Savhelicha terus meracau tentang Halra, tentang penghinaan di pesta, dan tentang kebenciannya yang murni pada Sano. Pria itu hanya diam, rahangnya mengeras, fokus menatap jalanan yang sepi.
Begitu sampai di rumah tua yang fasadnya terlihat angker namun menyimpan interior mewah dan berkelas di dalamnya, pria itu membopong Savhelicha masuk. Ia membaringkan wanita itu di atas tempat tidur dengan seprai sutra yang halus di kamar yang temaram. Namun, alih-alih melepaskan pegangannya, Savhelicha justru menarik kerah jaket kulit pria itu dengan paksa.
Nafsu yang terpendam, bercampur dengan efek alkohol dan rasa putus asa, membuat Savhelicha bertindak di luar kendali. Ia menarik ritsleting jaket pria itu, lalu merobeknya hingga terbuka lebar, memperlihatkan tubuh pria itu yang tegap dan berotot di balik kemeja hitam tipis.
Jangan pergi..." desis Savhelicha, suaranya bergetar hebat.
Pria itu terdiam, napasnya sedikit memberat, namun ia masih berusaha menjaga jarak. Namun, Savhelicha tidak memberi ruang. Dengan gerakan yang sengaja dibuat menggoda, ia bangkit dari posisi tidurnya, memutar tubuhnya hingga posisi gaunnya yang terbuka tersingkap. Satu per satu, tali pengikat gaun itu ia lepas, membiarkannya meluruh ke lantai.
Dengan seringai liar, Savhelicha melepas bra-nya dan melemparkannya tepat ke wajah pria itu. Dua buah dada yang besar, putih, dan bulat sempurna menyembul di udara, menantang kegelapan kamar dengan keindahan yang provokatif. Ia berbaring kembali, membusungkan dadanya dengan posisi yang sangat memuja gairah, menatap pria itu dengan mata yang sayu namun menuntut.
"Puaskan aku malam ini," ucap Savhelicha, suaranya pecah di antara isak dan napas yang memburu. "Jadikan aku milikmu, hancurkan aku, atau apa pun yang kau mau... asal jangan biarkan aku memikirkan pria tua bangka itu lagi."
Pria itu menatap lekuk tubuh Savhelicha dengan tatapan yang sulit diartikan—ada gairah yang terselubung di balik kacamata hitamnya, namun ada juga aura dominasi yang mengerikan. Ia perlahan melepaskan maskernya, memperlihatkan wajah yang dingin namun sangat menarik, lalu mengunci pintu kamar dengan satu gerakan tangan yang mantap.
Ia melangkah mendekat ke ranjang, bayangannya menyelimuti tubuh Savhelicha yang telanjang. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke arah Savhelicha yang sedang menunggu dalam antisipasi yang liar.
"Kau tahu konsekuensi jika kau memintaku melakukan ini, Savhelicha?" bisik pria itu, suaranya rendah dan mengintimidasi.
Savhelicha tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan pria itu dan menekannya ke dadanya yang sedang naik-turun menahan detak jantung yang menggila. Malam itu, di dalam rumah tua yang terisolasi dari dunia luar, Savhelicha menyerahkan satu-satunya hal yang tersisa padanya—tubuhnya—sebagai tumbal atas dendam yang semakin membakar.
Di luar, angin malam menderu, namun di dalam kamar itu, kesunyian hanya diisi oleh napas yang semakin berat dan dimulainya sebuah pertemuan yang akan mengubah takdir permainan mereka selamanya. Pria itu tidak lagi menahan diri; ia melabuhkan ciuman yang sarat akan rasa lapar dan kekuasaan, menanggapi permintaan Savhelicha dengan cara yang jauh lebih dalam dan lebih menuntut daripada yang pernah ia bayangkan.
Suasana di dalam kamar yang temaram itu seketika berubah menjadi medan perang gairah yang panas dan penuh obsesi. Ketika pria itu akhirnya menembus pertahanan Savhelicha dengan miliknya yang besar, kokoh, dan tegang, sebuah jeritan tertahan keluar dari bibir wanita itu. Rasanya penuh, menyesakkan, dan membakar, membuat Savhelicha melengkungkan punggungnya dengan mata yang terpejam rapat.
Namun, di tengah gelombang kenikmatan yang menyakitkan itu, kesadaran Savhelicha justru melayang ke tempat yang salah. Dengan suara lirih yang parau, ia mengerang, "Sano... oh, Sano..."
Nama itu seperti racun di telinga pria misterius yang sedang menguasainya. Pria itu menegang sejenak, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia tahu Savhelicha tidak sedang bersamanya dalam pikiran; wanita itu sedang terjebak dalam delusi masa lalu dengan pria yang begitu ia benci sekaligus ia rindukan.
Pria itu tidak peduli. Cintanya yang gelap dan posesif terhadap Savhelicha jauh lebih besar daripada rasa cemburunya. Jika ia harus berbagi ruang di kepala Savhelicha dengan bayangan Sano, maka ia akan melakukannya dengan cara yang paling brutal. Ia terus menghujam dengan ritme yang buas, menghantam titik-titik terdalam di rahim wanita itu, memaksa Savhelicha untuk sepenuhnya merasakan kehadirannya di sana.
"Sebut namaku," perintah pria itu dengan suara berat yang menggetarkan dada.
"Sano... ah, Sano..." gumam Savhelicha berulang kali, suaranya kini pecah, tenggelam dalam desah panjang yang tak mampu ia tahan.
Pria itu tidak lagi menuntut pengakuan. Ia justru turun ke bawah, melepaskan cengkeramannya pada pinggul Savhelicha dan memposisikan dirinya di antara kedua kaki wanita itu. Dengan kemahiran yang tak terduga, ia mulai menjilati dan melumat setiap inci dari area paling sensitif milik Savhelicha. Lidahnya yang panas bekerja dengan ritme yang sangat presisi dan menuntut, menciptakan sensasi yang membuat seluruh saraf di tubuh Savhelicha menjerit.
Savhelicha menggeliat liar di atas seprai sutra. Ia kewalahan. Setiap kali pria itu melumat titik kenikmatannya, dunianya seolah meledak. Ia tidak bisa lagi menahan diri, tangannya bergerak naik dan mencengkeram erat rambut pria itu, menariknya lebih dalam, mendesak pria itu untuk terus menyiksanya dengan kenikmatan yang tak tertahankan.
"Ya... teruslah... Sano..." rintih Savhelicha, lidahnya kelu, tubuhnya bergetar hebat saat puncak kenikmatan mulai menyerang syaraf-syarafnya.
Pria itu tidak berhenti. Ia semakin agresif, melumat hingga Savhelicha melengking tinggi, memanggil nama Sano untuk terakhir kalinya sebelum tubuhnya lemas tak berdaya. Pria itu seolah ingin menghapus jejak Sano dari ingatan Savhelicha melalui sentuhan fisik yang begitu dominan. Ia terus memacu hingga wanita di bawahnya itu mencapai klimaks berkali-kali, tubuhnya yang molek kejang-kejang hebat dalam dekapan pria yang diam-diam telah mencintainya.
Pria itu tidak lagi memberikan jeda. Intensitas yang ia bangun selama berjam-jam mencapai titik didih yang tak terelakkan. Dengan napas yang memburu dan otot-otot yang menegang hebat, ia memacu ritmenya satu kali lagi dengan satu hantaman yang sangat dalam, menekan hingga ke batas terdalam.
Saat puncak itu akhirnya merenggut kesadarannya, pria itu melepaskan segalanya. Ia menyemprotkan sebagian besar benihnya ke dalam liang intim Savhelicha, sebuah tanda kepemilikan yang kasar dan tanpa ampun, membanjiri bagian terdalam wanita itu hingga Savhelicha melenguh panjang dalam kondisi setengah sadar.
Namun, ia tidak berhenti di sana. Pria itu menarik diri tepat sebelum semuanya habis, memutar tubuhnya, dan dengan gerakan yang sarat akan dominasi, ia menyemprotkan sisa cairan hangat miliknya tepat ke wajah cantik Savhelicha. Cairan kental itu mengalir perlahan, menodai kulit wajah yang tadi tampak begitu angkuh di klub, kini terlihat berantakan, basah, dan pasrah di bawah tatapan tajam pria itu.
Savhelicha terkesiap, matanya terbelalak menatap langit-langit kamar dengan napas yang putus-putus. Wajahnya yang cantik kini tertutup noda putih yang kontras, bukti nyata dari kegilaan yang baru saja terjadi.
Pria itu terengah-engah, keringatnya menetes jatuh di atas kulit Savhelicha. Ia meraih dagu Savhelicha dengan jemarinya yang kasar, memaksa wanita itu untuk menatap matanya.
"Dengar baik-baik," bisik pria itu dengan suara yang dingin dan penuh penekanan. "Setiap kali kau memanggil namanya, setiap kali kau memikirkan dia saat aku menyentuhmu... kau hanya akan semakin terikat padaku. Aku adalah satu-satunya yang bisa memberimu apa yang pria itu tidak akan pernah berikan. Mulai sekarang, setiap kali kau melihat bayanganmu di cermin dengan noda ini di wajahmu, kau akan ingat siapa yang benar-benar memilikimu malam ini."
Savhelicha hanya bisa terdiam, tubuhnya masih sedikit gemetar akibat sisa-sisa orgasme yang belum sepenuhnya hilang. Ia menatap pria itu dengan pandangan kosong yang bercampur benci, namun di saat yang sama, ia merasakan sebuah kepuasan yang ganjil dan mengerikan.
Pria itu bangkit dari ranjang, mengenakan kembali kemejanya dengan tenang, seolah tidak baru saja melakukan hal yang merusak jiwa wanita di depannya. Ia menatap Savhelicha sekali lagi—wanita yang hancur, basah, dan tak berdaya—sebelum melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan bau maskulin yang kental dan sisa-sisa gairah yang menyesakkan di dalam ruangan tersebut.
Savhelicha menyeka wajahnya dengan punggung tangan, namun noda itu justru semakin melebar. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, membiarkan isak tangis yang tertahan akhirnya pecah. Ia telah menang melawan rasa kesepiannya malam ini.
Savhelicha tidak segera beranjak. Ia membiarkan cairan hangat itu mengering di kulit wajahnya. Tidak ada kebencian di matanya saat ia menatap punggung pria itu yang menjauh. Justru, yang ada adalah rasa ketergantungan yang menyesakkan.
Di dunia yang penuh dengan pengkhianatan dan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkannya—terutama Sano dan Joharo—pria bermasker ini adalah satu-satunya sosok yang tidak pernah berpaling. Dia adalah satu-satunya orang yang peduli untuk mengobati setiap luka di tubuhnya, satu-satunya orang yang mendengarkan keluh kesahnya, dan satu-satunya orang yang tidak pernah memperlakukannya sebagai pion atau budak.
Sebaliknya, ia merasa aman. Di balik kegilaan dan kekasaran tindakan mereka tadi, Savhelicha merasakan sebuah perlindungan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun. Pria itu adalah pelabuhan terakhirnya, orang yang bersedia menanggung segala kehancuran jiwanya tanpa pernah menghakimi.
Pria itu keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di lehernya. Ia mendekat, melihat Savhelicha yang masih terdiam, lalu duduk di tepi ranjang. Dengan jemari yang lembut—kontras dengan kekasarannya beberapa menit lalu—ia mengusap sisa-sisa cairan di wajah Savhelicha hingga bersih.
"Apa kau merasa lebih baik?" bisik pria itu, suaranya kini melunak, penuh dengan perhatian yang tulus.
Savhelicha mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi candu baginya.
"Terima kasih," bisik Savhelicha, suaranya tulus tanpa kepura-puraan. "Hanya kau... hanya kau yang ada untukku di saat aku tidak memiliki siapa-siapa lagi."
Pria itu membelai rambutnya dengan penuh kasih. Ia tahu bahwa Savhelicha adalah wanita yang hancur, namun ia juga tahu bahwa di bawah reruntuhan itu, Savhelicha memberikan hatinya yang tersisa kepada satu-satunya orang yang sudi memungutnya. Di dalam rumah tua yang sunyi itu, mereka terjebak dalam sebuah aliansi yang bukan lagi sekadar dendam, melainkan keterikatan emosional yang semakin dalam dan berbahaya. Savhelicha telah menemukan tempatnya, dan ia tidak akan pernah membiarkan pria itu pergi dari sisinya.