Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.
Napas Rafael memburu hebat, mengalun berat di keheningan kamar yang kini dipenuhi aroma pekat percintaan mereka. Tubuh kekarnya yang basah oleh keringat perlahan ambruk, menindih sebagian tubuh ringkih Freya yang sudah lemas tak berdaya. Kepala Rafael terbenam di ceruk leher menantunya, menikmati sisa-sisa kedutan intim yang perlahan mereda.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, hanya terdengar deru napas yang berangsur stabil.
Rafael perlahan menarik dirinya keluar dari tubuh Freya. Sebuah lenguhan kecil yang sarat akan rasa sakit dan pelepasan kembali lolos dari bibir Freya saat merasakan kekosongan mendadak itu.
Di atas sprei abu-abu yang kini berantakan, jejak-jejak penyatuan paksa mereka—bercampur dengan noda darah kesucian dan sisa cairan yang berlimpah—terekspos dengan begitu jelas.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Freya langsung menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang kini dipenuhi tanda kemerahan hasil perbuatan Rafael. Ia berbalik membelakangi pria paruh baya itu, meringkuk sekecil mungkin, dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Tangisnya yang sejak tadi tertahan kini pecah kembali, berupa isakan kecil yang terdengar begitu pilu dan hancur.
"Hiks... hiks..."
Rafael duduk di tepi ranjang, membelakangi Freya. Efek obat perangsang di tubuhnya kini telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kesadaran yang jernih.
Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dinding kamar dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat kepuasan yang mendalam, namun juga ada beban rasa bersalah yang besar ketika ia melirik bercak darah di atas sprei.
Ia menoleh, menatap punggung Freya yang bergetar hebat di balik selimut.
"Kau menangis karena merasa mengkhianati putraku?" tanya Rafael, suaranya kembali datar, berat, dan dingin—kembali pada mode Tuan Besar yang penuh wibawa, seolah pria yang baru saja menggila di atas ranjang ini bukanlah dirinya.
Freya tidak menjawab. Ia semakin menenggelamkan wajahnya, merutuki nasibnya yang kini telah melangkah terlalu jauh ke dalam dosa yang paling menjijikkan.
Rafael bangkit dari ranjang, berjalan tanpa busana menuju kamar mandi pribadinya. Tak lama kemudian, terdengar suara gemercik air shower. Di bawah guyuran air hangat, pikiran Rafael bekerja dengan cepat. Kejadian malam ini mengubah segalanya. Fakta bahwa Freya masih suci membuktikan bahwa Sean sama sekali tidak menganggap pernikahan ini ada.
Sean... kau benar-benar bodoh, batin Rafael dingin.
Setelah selesai membersihkan diri, Rafael keluar dengan hanya mengenakan jubah mandi (bathrobe) hitam yang longgar. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu duduk di sisi tempat Freya meringkuk. Tangan kokohnya terulur, mencoba menyentuh bahu Freya, namun wanita itu seketika tersentak ketakutan di balik selimut.
"Jangan sentuh aku... kumohon," bisik Freya dengan suara yang teramat serak dan bergetar.
"Dengar, Freya," ucap Rafael, nadanya tenang namun tidak menerima bantahan. "Apa yang terjadi malam ini adalah konsekuensi dari kebodohan Sean yang meninggalkanmu. Mulai detik ini, jangan pernah berpikir untuk kembali menjadi istri yang patuh padanya. Tubuhmu, kesucianmu, sudah menjadi milikku."
Freya memejamkan matanya rapat-rapat, meremas ujung selimut. Di dalam hatinya, rasa hampa dan kehancuran itu kini menjelma menjadi ketakutan yang absolut.
"Pergi... aku mohon, Papa keluar," isak Freya di balik selimut. Suaranya terdengar begitu rapuh, seolah jiwanya telah tercabik-cabik hingga tak tersisa. "Aku membencimu... aku membenci diriku sendiri... hiks..."
Rafael menatap gundukan selimut yang menyembunyikan tubuh menantunya itu. Mendengar kata 'benci' keluar dari bibir Freya, ada sedikit denyut asing di dada sang Tuan Besar. Namun, egonya yang setinggi langit menolak untuk menunjukkan kelemahan. Ia berdiri, mengencangkan tali jubah mandinya, lalu menatap dingin ke arah ranjang yang berantakan.
"Kau boleh membenciku sesukamu, Freya. Tapi kau tidak bisa mengubah kenyataan bahwa akulah pria pertama yang memiliki tubuhmu, bukan Sean," ucap Rafael dengan nada baritonnya yang tegas dan tak terbantahkan.
Pria paruh baya itu melangkah menuju lemari besar di sudut kamar, mengambil selembar selimut baru yang bersih dan sebuah kemeja sutra miliknya. Ia kembali ke tepi ranjang, lalu menarik paksa selimut yang menutupi wajah Freya.
"Ah! Jangan!" Freya memekik, mencoba menutupi tubuh polosnya dengan tangan yang gemetar.
"Pakai ini," perintah Rafael, melempar kemeja hitam itu ke hadapan Freya. "Dan pindahlah ke sisi ranjang yang bersih. Aku akan tidur di sofa."
Freya menatap kemeja itu dengan pandangan kabur karena air mata. Dengan gerakan perlahan dan gemetar karena sisa rasa sakit di intinya, ia memakai kemeja kebesaran milik ayah mertuanya. Aroma maskulin Rafael yang pekat langsung menguar dari kain sutra itu, seolah terus mengingatkan Freya pada dosa besar yang baru saja mereka lakukan.
Setelah Freya bergeser dengan tubuh yang masih lemas, Rafael dengan tenang mengganti sprei yang ternoda darah kesucian Freya dengan kain yang baru, lalu melempar sprei kotor itu ke dalam keranjang tertutup agar tidak ada pelayan yang melihatnya besok pagi. Semua ia lakukan dengan cekatan, menghapus jejak maksiat mereka dari mata dunia.
Rafael kemudian berjalan menuju sofa panjang di ujung kamar, merebahkan tubuh kekarnya di sana dengan berbantalkan lengannya sendiri. Sepasang matanya menatap langit-langit kamar yang temaram.
Di atas ranjang, Freya kembali menangis dalam diam. Pikirannya melayang pada Sean. Rasa bersalah yang teramat besar menghimpit dadanya. Bagaimana ia bisa menatap wajah suaminya nanti? Janjinya untuk menikah sekali seumur hidup dan menjaga kesuciannya kini telah hancur berantakan di tangan ayah mertuanya sendiri.
*
*
*
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean