NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24_Arsenio di tangkap

"Aku sudah muak melihat Arsenio terus berkeliaran seolah tidak pernah melakukan kesalahan." Edgar mengepalkan tangan di atas meja. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras, sementara urat di pelipisnya tampak menonjol menahan amarah.

Nathan yang duduk di hadapannya mengembuskan napas pelan. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu menatap sahabatnya dengan tenang.

"Kalau hanya membalas dengan kemarahan, dia tidak akan benar-benar hancur." Nathan menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi sorot matanya terlihat serius.

"Kita harus membuat semua orang melihat wajah aslinya." lanjut Nathan dengan suara mantap. Tatapannya berubah tajam, memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

Edgar menganggukkan kepala.

"Itu juga yang kupikirkan." ucapnya lirih. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan, melainkan pertanda bahwa rencana besar akan segera dimulai.

Nathan lalu menggeser sebuah map tebal ke hadapan Edgar.

"Aku sudah mengumpulkan semuanya." katanya pelan. Senyum tipis menghiasi wajahnya.

Edgar membuka map tersebut. Matanya langsung membulat ketika melihat isi dokumen di dalamnya.

"Bukti transfer."

"Laporan peretasan."

"Percakapan Arsenio dengan hacker."

"Rekaman CCTV."

"Bahkan ada rekaman suara saat dia menyuruh orang merusak perusahaan Elvara."

Edgar tersenyum tipis.

"Bagus... sangat bagus." katanya pelan. Sorot matanya dipenuhi kepuasan untuk pertama kalinya.

Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku sudah mengawasi Arsenio sejak lama. Awalnya memang karena aku curiga padanya. Tapi setelah tahu dia menyakiti Elvara..." Nathan berhenti sejenak. Tatapannya berubah lembut saat menyebut nama wanita itu. "Aku tidak akan membiarkannya lolos."

Edgar menatap Nathan beberapa detik.

"Kau masih mencintai adikku?" tanyanya pelan. Alisnya sedikit terangkat, sementara wajahnya tampak serius menunggu jawaban.

Nathan tersenyum pahit.

"Aku tidak pernah berhenti." jawabnya jujur. Senyumnya begitu tipis, tetapi kedua matanya menyimpan rasa rindu yang selama ini dipendam dalam diam.

Edgar terdiam.

Selama ini ia tahu Nathan selalu berada di belakang Elvara. Saat Elvara menangis, Nathan diam-diam memastikan keselamatannya. Saat Elvara kehilangan segalanya, Nathan tetap percaya suatu hari wanita itu akan bangkit.

Namun Nathan tidak pernah memaksa. Ia memilih mencintai dalam diam.

Edgar akhirnya menepuk bahu Nathan.

"Kalau semua ini selesai... aku tidak akan menghalangimu lagi." katanya tulus. Wajahnya mulai melunak, sementara tatapannya di penuhi rasa hormat kepada pria yang selama ini menjaga adiknya tanpa mengharapkan balasan.

Nathan tersenyum kecil.

"Aku tidak meminta balasan. Yang penting Elvara bahagia." ucapnya pelan.

Edgar mengangguk pelan.

"Itulah alasan aku mempercayaimu." jawabnya mantap.

Keesokan paginya...

Gedung hotel mewah tempat Arsenio mengadakan presentasi dipenuhi para investor besar, klien internasional, serta beberapa pejabat yang bekerja sama dalam proyek perusahaan.

Arsenio berdiri percaya diri di atas panggung.

Setelan jas hitam mahal membungkus tubuhnya dengan sempurna. Senyumnya terlihat angkuh.

"Terima kasih atas kepercayaan seluruh klien kepada perusahaan kami." Arsenio membungkukkan badan sedikit. Senyumnya semakin lebar karena merasa semua berada dalam kendalinya.

Para tamu bertepuk tangan.

Di sudut ruangan...

Edgar dan Nathan masuk tanpa menarik perhatian. Keduanya mengenakan jas hitam. Di belakang mereka, beberapa petugas berpakaian sipil ikut memasuki ruangan secara diam-diam.

Nathan melirik jam tangannya.

"Waktunya." ucapnya singkat.

Edgar menganggukkan kepala.

"Mulai." perintahnya tegas.

Nathan segera memberi kode kepada seseorang di ruang kontrol.

Beberapa detik kemudian...

Layar LED raksasa yang semula menampilkan logo perusahaan Arsenio tiba-tiba berubah menjadi hitam.

Seluruh tamu saling berpandangan.

Arsenio mengernyitkan dahi.

"Apa yang terjadi?" tanyanya bingung. Senyum angkuhnya perlahan memudar, berganti raut wajah gelisah.

Belum sempat panik...

Video pertama mulai diputar. Terlihat jelas Arsenio sedang bertemu dengan seorang hacker.

"Masuk ke sistem perusahaan Elvara. Aku ingin semua datanya hancur. Berapa pun biayanya akan kubayar."

Suasana ballroom langsung sunyi. Semua mata membelalak. Arsenio mendadak pucat.

"Itu... itu rekayasa!" teriaknya panik. Wajahnya memerah, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Namun video berikutnya kembali diputar. Kali ini terlihat bukti transfer uang dalam jumlah fantastis kepada kelompok peretas. Lalu muncul rekaman suara.

"Gagalkan semua proyek Elvara. Bikin dia bangkrut."

Bisik-bisik para tamu mulai terdengar di seluruh ruangan.

"Astaga..." bisik salah satu rekan disana.

"Jadi selama ini dia pelakunya?" tanyanya dengan penasaran.

"Tidak kusangka." ujar seorang klien Arsenio tak percaya.

"Kita hampir bekerja sama dengannya." lanjutnya

Arsenio semakin panik.

"Matikan layar itu! Cepat matikan!" teriak Arsenio dengan wajah merah padam menahan malu.

Sayangnya...

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Nathan tersenyum tipis.

Seluruh sistem hotel sudah ia kuasai sejak satu jam yang lalu. Video berikutnya kembali diputar.

Kini muncul rekaman percakapan Arsenio dengan Celine yang membahas cara merebut seluruh aset Elvara melalui manipulasi dokumen.

Para investor mulai berdiri.

Sebagian besar wajah mereka dipenuhi kemarahan.

"Pak Arsenio!" salah seorang investor menunjuk ke arahnya. "Apakah semua ini benar?"

Arsenio menelan ludah.

"Saya... saya bisa menjelaskan." ucap Arsenio terbaru.

Namun sebelum sempat berbicara lebih jauh...

Suara tepukan tangan terdengar dari pintu utama. Semua orang menoleh.

Edgar berjalan masuk dengan langkah tenang. Tatapannya dingin menusuk ke arah Arsenio.

"Tidak perlu menjelaskan lagi." Edgar berhenti tepat di depan panggung. Tatapannya penuh penghinaan, sementara senyum tipis terukir di wajahnya. "Karena semua bukti kejahatanmu sudah lengkap."

Nathan ikut melangkah maju.

"Bahkan server cadangan yang kau hapus pun berhasil kami pulihkan." lanjutnya

Wajah Arsenio berubah semakin pucat.

"Tidak mungkin..." ucap Arsenio menggeleng tak percaya.

Nathan mengeluarkan sebuah flashdisk.

"Teknologi memang bisa dihapus. Tapi jejak digital tidak pernah benar-benar hilang." ujar Nathan dengan wibawa.

Edgar kembali menatap seluruh tamu.

"Selama ini pria ini bukan hanya mencuri aset mantan istrinya, tetapi juga melakukan peretasan, penipuan, manipulasi laporan keuangan, hingga menyuap beberapa orang untuk menghancurkan perusahaan Elvara." lanjutnya

Ruangan menjadi gempar.

Beberapa klien langsung menutup map kerja sama mereka.

"Kami membatalkan kontrak." ucap klien kecewa.

"Kami juga." sahut klien lainnya.

"Perusahaan seperti ini tidak layak dipercaya." lanjutnya

Satu per satu investor meninggalkan kursi mereka.

Arsenio mencoba mengejar.

"Tunggu! Tolong dengarkan dulu!" cegah Arsenio

Tidak ada yang peduli.

Pada saat itulah belasan petugas berwenang memasuki ballroom. Langkah mereka tegas. Suasana mendadak hening.

Seorang petugas memperlihatkan surat penangkapan.

"Arsenio, Anda ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana peretasan sistem elektronik, penipuan, pencucian uang, manipulasi dokumen, dan perusakan data perusahaan." ucap petugas dengan suara tegas. Wajahnya datar tanpa sedikit pun menunjukkan simpati.

Arsenio mundur beberapa langkah.

"Tidak... kalian tidak bisa menangkapku!" teriaknya histeris.

Dua petugas langsung memegang kedua lengannya.

Klik...

Borgol besi melingkar di kedua pergelangan tangan Arsenio. Tatapan angkuhnya seketika berubah menjadi penuh ketakutan.

Di sudut ruangan, Edgar menatap pemandangan itu tanpa sedikit pun rasa iba.

"Ini baru permulaan." gumamnya pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi sorot matanya tetap dingin.

Nathan berdiri di samping Edgar.

"Elvara akhirnya mendapatkan keadilan." Ucapnya lirih. Senyum terukir di wajahnya, sementara matanya berkaca kaca karena rasa lega yang akhirnya datang.

Edgar mengangguk.

"Dan kali ini... tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan Arsenio." katanya mantap.

Di luar gedung hotel, kilatan kamera wartawan mulai memenuhi halaman. Nama Arsenio menjadi sorotan.

Video penangkapannya tersebar ke berbagai media hanya dalam hitungan menit. Karier yang selama ini ia banggakan runtuh dalam satu pagi.

Sementara itu, jauh di kantor pusat perusahaan, Elvara menerima sebuah pesan singkat dari Nathan.

"Semuanya sudah selesai. Orang yang menyakitimu akhirnya menerima balasannya."

Elvara membaca pesan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Ia tersenyum tipis.

Bukan karena dendamnya terpuaskan. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar bebas dari bayang-bayang masa lalu.

1
Lee Mba Young
nasib selingkuh an nya gimana itu.
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!