NovelToon NovelToon
UNDYING

UNDYING

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: yersya

"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."

"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."

"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."

"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Malam semakin larut. Desir angin laut menusuk kulit, membawa aroma garam yang pekat. Aku menghentikan sejenak ceritaku, membiarkan keheningan mengalun di antara kami hanya untuk mengingat kembali detail demi detail waktu itu.

​“Apa itu benar-benar tidak masalah? Bahkan sampai sekarang, kesalahpahaman itu belum selesai, kan?” ucap pria yang sedari tadi setia mendengarkan renungan kelamku.

​Aku tersenyum getir, menatap pasir basah di bawah kaki kami. “Kesalahpahaman apanya? Aku benar-benar berniat membunuh pria itu, dan aku pantas mendapatkan hukumannya.”

​Pria itu berputar melangkah, lalu menatap lurus ke dalam mataku. Pandangannya yang dalam dan tanpa penghakiman seketika membuatku merasa canggung. Refleks, tangan kananku naik, memegang tengkukku sendiri sembari mengalihkan pandangan.

​“Yah... jujur saja, ada bagian yang sangat aku sesali,” bisikku lirih. “Bukan karena aku membunuh ayah Rania. Bukan pula karena aku tidak bisa lagi bersahabat dengannya. Tapi aku sungguh menyesali ketidakberdayaanku waktu itu. Andai saja aku memiliki solusi yang lebih cerdas dan elegan, maka semuanya akan terselesaikan tanpa ada yang harus hancur.”

​Sebuah senyuman kecil kembali merekah tipis di bibirku. “Tapi, tidak ada gunanya juga menyesali hal yang sudah berlalu, kan?”

​Pria itu terdiam sejenak, memandangi raut wajahku sebelum akhirnya melempar pandangannya jauh ke garis horison laut.

​“Aku tidak akan mengatakan apakah perbuatanmu itu benar atau salah,” gumamnya tenang, menyahut desir ombak. “Tapi bagiku, itu merupakan pilihan terbaik yang bisa kau ambil. Jika aku berada di posisi rumitmu saat itu, aku pun pasti akan memilih hal yang sama. Manusia tidak akan berubah semudah itu, Luna. Di kondisimu saat itu, pilihannya hanyalah mengubah pola pikir ayah Rania secara ajaib, atau menghilangkannya dari dunia ini.”

​Aku kembali terpana menatap pahatan wajahnya dari samping yang kini dibasahi oleh pendar lembut cahaya bulan. Namun, satu pikiran terlarang yang selama ini menggerogoti dadaku kembali mencuat, membuatku tak bisa tenang.

​“Apa kau... masih cinta pada Rania?”

​Pertanyaan itu akhirnya lolos dari bibirku, memecah kesunyian malam.

​Pria itu terdiam sejenak. Ia menjawab pelan, tanpa sedikit pun menoleh padaku. “Aku memang mencintainya... tapi bukan dalam hal romansa. Bahkan ketika kejadian di bangunan terbengkalai itu—hari di mana kau membunuh ayahnya, hari di mana aku harusnya merasa marah padamu dan memeluk Rania untuk menghiburnya—aku malah memilih pergi meninggalkannya begitu saja, dengan dalih keselamatannya...”

​Ia menghentikan kalimatnya, mendesah berat. “...Aku benar-benar pria yang terburuk.”

​Aku terpaku mendengarnya, lalu memalingkan wajah pelan, menyamai pandangannya yang menatap pendar perak rembulan memantul di atas riak gelombang laut. Di bawah langit yang begitu pekat, seulas senyum tipis—pahit namun pasrah—terukir perlahan di bibirku.

​“Jika kau bilang kau yang terburuk... maka aku pun sama terburuknya.”

​Sentuhan kelakarnya melayang pelan saat ia menoleh. Sebuah senyum samar menghiasi bibirnya, memancarkan kelelahan jiwa yang serupa denganku. “Apa karena kita sama-sama seorang pembunuh?”

​“Tidak...”

​Aku menggantungkan kalimat itu di udara. Sebuah jeda singkat yang dingin, sengaja menyisakan keraguan halus yang membuat dahinya berkerut bingung, menatapku mencari jawaban.

​Perlahan, aku menarik kedua kakiku merapat ke dada, merengkuh lututku erat-erat. Aku membenamkan sebagian wajahku di sana, memiringkan kepala pelan sembari menekan pipiku di atas kain celana—sebuah perlindungan kecil yang putus asa demi menyembunyikan rona merah padam yang tiba-tiba membakar seluruh wajahku. Di bawah sinar bulan yang temaram, jantungku berdegup kencang, memukul dadaku dengan kehangatan liar yang sudah lama tak kurasakan.

​“...Karena kau tidak jatuh cinta padanya, dan lebih memilih pergi menjauh darinya.”

​Suaraku bergetar tipis, nyaris tenggelam oleh suara gelombang yang memecah di pesisir, namun begitu jernih merayap masuk ke dalam keheningan di antara kami.

​Aku benar-benar manusia yang paling terburuk, batinku seraya menahan bisikan terisak yang tertahan di balik rona kebahagiaan yang tak menentu. Ada rasa lega gila dan kegembiraan samar yang merekah secara egois di dalam dada: bahwa pria yang kucintai—cinta pertamaku yang berdiri tepat di sampingku ini—sama sekali tidak pernah melabuhkan hatinya pada Rania, dan justru memilih melangkah pergi dari masa lalu mantan sahabatku itu.

​Aku benar-benar monster yang terburuk... namun di detik ini, di bawah curahan cahaya bulan ini, aku tidak peduli.

...****************...

​Di dalam penjara, aku mendapatkan sel tahanan pribadi. Mungkin karena usiaku yang saat itu masih tergolong di bawah umur, pihak lapas takut aku akan hancur atau mati jika disatukan dengan narapidana dewasa lainnya.

​“Mungkin mereka hanya malas mengurusi mayatmu jika kau mati dikeroyok,” bisik sebuah suara di dalam kepalaku.

​Kau benar, Sena.

​Kehidupan penjaraku jauh dari kata tenang. Di bulan-bulan awal, aku menjadi sasaran empuk: perundungan, hinaan, cemoohan, hingga makanan dan minuman basi yang dilemparkan ke mukaku. Aku sering diludahi, makananku direbut paksa, bahkan tubuhku pernah disiram air got yang berbau busuk oleh sesama narapidana, baik pria maupun wanita.

​Bahkan, tak jarang ada narapidana pria yang nekat mencoba memperkosaku di sudut-sudut remang.

​Tentu saja, aku langsung membunuh diriku sendiri sebelum jemari kotor mereka berhasil menyentuh kulitku.

​Awalnya aku sangat ketakutan. Ada masa di mana aku sempat pasrah dan menerima penyiksaan itu sebagai bentuk penebusan dosa atas kematian ayah Rania. Namun sosok peniru di dalam mental realm-ku—yang kini kupanggil dengan nama Sena—terus-menerus memprovokasi dan membakar mentalku untuk membalas dendam.

​Saat seorang narapidana mencoba menyerangku, aku akan menusuk leherku sendiri menggunakan garpu atau benda tajam lainnya. Dalam hitungan detik saat waktu terulang kembali beberapa menit sebelumnya, aku dan Sena menyusun taktik perlawanan yang dingin dan mematikan. Hal yang sama kulakukan pada narapidana lain. Kami membalas setiap perbuatan mereka tanpa ampun—bahkan jika aku harus mati berulang kali demi melancarkan pembalasan dendam yang sempurna.

​Hingga akhirnya, dalam rentang dua tahun semenjak aku dijebloskan ke tempat ini, aku berhasil merebut rasa hormat mutlak dari seluruh narapidana. Mereka takut padaku karena aku bertarung tanpa rasa takut akan kematian, dan yang paling membingungkan bagi mereka: aku selalu mengampuni nyawa mereka setelah meremukkan tulang-tulang mereka.

​Dan pada akhirnya... entah bagaimana prosesnya, aku malah dinobatkan sebagai penguasa tertinggi di lapas ini.

​Di dalam sel penjaraku yang sunyi, aku berbaring santai, menyandarkan kepala di atas kedua tanganku yang terlipat di belakang.

​“Hei! Kapan kau akan melarikan diri dari tempat busuk ini?” ujar Sena tak henti-hentinya mendesak di alam bawah sadarku.

​Sudah kubilang bertali-kali, aku tidak akan melarikan diri. Diamlah dan jangan ganggu tidurku.

​“Ck. Bagaimana dengan perasaan cinta yang pernah kau agung-agungkan dulu? Apa kau sudah menyerah total?”

​Ya. Aku sudah belajar dari rasa sakit. Di dunia ini, cinta adalah hal yang paling tidak berguna. Itu hanya pedang bermata dua yang siap menusuk jantungku kapan saja.

​“Tapi setidaknya kau tidak akan benar-benar mati jika tertusuk, kan?” kekeh Sena mengejek.

​Diamlah.

​CTLEK!

​Suara engsel kunci sel yang diputar kasar membuat mataku seketika terbuka lebar.

​“Tahanan nomor 323! Waktunya sarapan!” teriak sipir penjara dari balik jeruji besi.

​Aku segera bangkit dari tempat tidur semen yang dingin, merapikan baju tahananku, lalu melangkah keluar mengekor sipir tersebut.

​Di lapas ini, setiap pagi diadakan agenda sarapan bersama di aula besar. Rutinitas ini diikuti oleh seluruh narapidana yang berjumlah lebih dari 500 orang. Dan di tengah-tengah kerumunan kriminal itu, aku melangkah sebagai pimpinan yang tak tertandingi.

​“Yo, Bos! Apa kau duduk sendirian lagi?”

​Seorang pria berkepala botak dengan otot lengan besar dan kulit sawo matang menghampiri mejaku. Ia menyapaku dengan nada santai seolah kami kawan akrab—padahal dia adalah salah satu orang yang pernah mencoba memperkosaku di tahun pertama.

​Aku hanya diam, menatap lurus ke mangkuk buburku tanpa berniat merespons.

​“Haha! Si Doni bajingan gila itu memang tidak ada kapok-kapoknya menggoda Bos! Apa kau memang bosan hidup, Don?!” teriak seorang narapidana dari meja sebelah, disambut gelak tawa riuh.

​Doni menggeram kesal, memutar badannya. “Berisik kalian! Aku cuma mau lebih dekat sama Bos!” balasnya meneriaki mereka.

​“Duh, apa kau tidak punya malu sedikit pun, Don?” celetuk seorang wanita berambut sebahu berusia pertengahan 30-an yang ikut melangkah mendekati meja kami.

​“Buat apa malu? Toh kita semua di sini sama-sama narapidana!” cibir Doni pada wanita itu. “Bukankah kau sendiri juga suka menjilat Bos sekarang? Padahal dulu kau yang paling rajin membully-nya, Anis!”

​Anis tertegun, wajahnya memerah instan. “I-itu... kan dulu!”

​“Sudah, sudah...” lerai seorang pria berusia awal tiga puluhan, mencoba menengahi. “...Bos sedang sarapan sekarang, jadi kalian berdua jangan buat kegaduhan di depannya.”

​“Halah! Kau sendiri juga sedang berusaha menjilat Bos, Alex!” teriak narapidana lain melintasi aula.

​“Apa kalian bilang?!” amuk pria bernama Alex itu, bahkan sampai menaikkan satu kakinya ke atas meja makan. Seluruh aula aula seketika pecah oleh tawa dan sorak-sorai provokatif.

​TING!

​Aku menjatuhkan sendok besiku ke atas piring kaleng. Bunyi dentingannya memotong keriuhan.

​"Huuuhhh..."

​Aku menghembuskan napas panjang yang amat berat. Aku mengalihkan mataku pelan, menyapu pemandangan di depanku, lalu melempar tatapan tajam yang mematikan ke arah mereka.

​“Berisik.”

​Hanya satu kata dingin itu yang keluar dari celah bibirku.

​Seketika, bagai sihir hitam yang mencabut seluruh suara, 500 narapidana di dalam ruangan besar itu membeku sempurna. Tawa mereka terhenti di tenggorokan. Dengan wajah pucat ketakutan, mereka buru-buru menurunkan kaki dari meja, kembali duduk tegak, dan menyantap makanan masing-masing dalam keheningan yang mencekam.

​Aku terdiam sejenak, mengamati keheningan mendadak itu, lalu kembali menyendok sarapanku dengan tenang.

​Bukan berarti aku membenci mereka atau berniat mengancam... Hanya saja...

​“Hahaha...!” Sena tertawa terbahak-bahak di dalam mataku. “Padahal kau sudah jadi penguasa tertinggi di tempat kriminal ini, tapi kemampuan komunikasimu masih saja selevel sampah!”

​Aku tahu, keluhku dalam hati.

​Yang dikatakan Sena memang benar. Padahal tadi aku hanya berniat memberi tahu mereka: 'Sebaiknya habiskan makanan kalian sebelum petugas piket marah'. Namun karena saraf wajahku kaku dan tekanan sosial dikelilingi 500 penjahat bertubuh seram membuatku tegang, yang keluar dari mulutku justru tatapan membunuh dan bentakan "Berisik".

​Raut wajahku sulit kukendalikan setiap kali rasa canggung menyergap.

​“Hahaha... padahal kalau soal tampang, kaulah yang paling menyeramkan di ruangan ini, Luna!”

​Sena, bisakah kau diam sebentar?!

​Sena terus-menerus menertawakan sifat anti-sosialku ini di dalam pikiran. Aku benar-benar harus memperbaiki cara bicaraku.

​“Kenapa harus diperbaiki? Biarkan saja begitu!”

​Kau lupa kejadian minggu lalu?! batinku sengit. Saat ada tahanan baru yang tidak tahu aturan mencoba cari gara-gara denganku, orang-orang ini malah mengeroyoknya sampai babak belur hanya karena salah paham berpikir aku sedang marah! Jika aku tidak segera angkat suara, mereka bisa saja membunuh orang itu di tempat!

​“Dan lucunya, waktu kau menyuruh mereka berhenti memukuli orang itu, mereka malah mengira kau sedang mengklaim tahanan baru itu sebagai budak pribadimu! Hahaha... sumpah, itu kocak sekali!”

​Ugh... diamlah, Sena!

​Saat aku sibuk berdebat sengit dengan Sena di dalam mental realm-ku...

​“Lihat itu... wajah Bos kelihatan sangat kesal,” bisik Anis pelan, mengamati raut wajahku yang makin menekuk dengan mata terpejam saat menelan makanan.

​“Ini pasti gara-gara kau, Don!” bentak Alex setengah berbisik pada Doni.

​“Hah?! Kenapa cuma aku yang disalahkan?! Kalian berdua juga ikut-ikutan tadi!” balas Doni panik.

​"Huuuh..."

​Sekali lagi, helaan napas panjangku mengudara. Ketiganya langsung mengatupkan bibir rapat-rapat, berkeringat dingin. Mereka benar-benar takut jika aku akan mengamuk. Padahal, aku sama sekali tidak berniat menakut-nakuti siapa pun.

​"Tahanan nomor 323! Keluar! Ikut saya ke ruang besuk sekarang!"

​Panggilan keras dari petugas penjara di ambang pintu aula mendadak memutus ketegangan.

​Seluruh narapidana di kantin tersentak kaget mendengarnya. Bahkan aku sendiri sampai menghentikan sendokku di udara, merasa heran.

​"Ada yang membesuk Bos? Siapa?"

​"Mana kutahu! Keluarganya mungkin? Atau temannya?"

​"Bodoh! Bos kan sudah tidak punya siapa-siapa lagi di luar sana!"

​"Lalu... siapa yang datang membesuknya pagi-pagi begini?"

​Bisik-bisik penasaran mulai menjalar di setiap meja. Aku terdiam sejenak, menimbang beberapa kemungkinan yang melintas di kepalaku. Namun pada akhirnya aku memilih pasrah, menyapu sisa makanan di bibirku, lalu bangkit berdiri dan melangkah mengekor petugas tersebut menuju ruang kunjungan.

1
Sarah
For real. 😂
Sarah
Unik sekali, konflik bab 1: Mencari Paman. 😂😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!