Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Siasat Sang Gadis Siren
"Aroma gadis Siren itu... kenapa bisa tercium lagi di tempat ini?" bisik Jacob pada kesunyian, napasnya tertahan selama beberapa detik.
Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha menepis akal sehatnya yang mulai goyah. "Ah, aku pasti sudah gila karena kurang istirahat. Tidak mungkin... tidak mungkin dia bisa sampai ke dimensi suci ini."
Bagi Jacob, kenyataan itu terasa sangat mustahil dan di luar nalar. Bagaimana mungkin seorang ras kedalaman laut luas seperti Elara—yang baru pertama kali menginjakkan kaki di daratan dan buta akan dunia atas—bisa menemukan letak Altar Perak?
Altar Perak adalah sebuah altar kuno yang menjadi gerbang dimensi gaib penghubung langsung menuju dimensi Alfheim. Jacob dan keluarganya bisa dengan mudah keluar masuk dari tempat ini hanya karena ia memegang posisi sebagai salah satu petinggi klan yang menjalin hubungan diplomatik erat dengan Raja Arthur.
Namun bagi makhluk asing, gerbang itu seharusnya terkunci rapat dan tak kasat mata.
Tanpa Jacob ketahui, aroma sedap malam yang ia cium bukanlah parfum, melainkan wewangian magis bawaan Elara yang kini tengah diseret melintasi pasar Alfheim oleh pasukan Elf Hutan, hanya beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri saat ini.
****
Sepuluh menit berlalu begitu saja di bawah naungan pilar gerbang istana.
"Ke mana anak itu?" gumam Jacob gelisah, melirik arloji di pergelangan tangannya.
Cucu perempuannya tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Jacob sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini Lyra justru tengah bergabung bersama Celine di dalam ruang makan istana. Gadis kecil itu rupanya langsung melupakan janji sucinya pada sang kakek begitu mencium aroma hidangan istana yang lezat dan menggugah selera.
Jacob melongokkan kepalanya ke arah pintu masuk istana, menatap lurus ke dalam koridor yang sepi. "Kenapa lama sekali? Apa dia tidak hanya buang air kecil?" pikirnya menerka-nerka.
Ia menduga mungkin saja cucunya itu sedang tertahan karena harus buang air besar.
Namun, rasa gelisah di dalam dada Jacob kian menjadi-jadi dari menit ke menit. Hal itu diperparah oleh aroma magis sang gadis Siren yang berembus semakin pekat, memenuhi indra penciumannya tanpa ampun.
Desiran energi yang asing dan aneh mendadak bergolak hebat di dalam tubuh imortalnya, mencoba memicu reaksi biologis yang mustahil—karena jantung seorang Vampir sejati tidak akan pernah berdetak lagi sejak malam mereka dibangkitkan.
Realitas magis itu menghantam kesadaran Jacob dengan keras. Ia menyadari apa arti dari desiran ini. Namun, egonya menolak mentah-mentah takdir gila yang sedang berusaha mengikatnya.
"Aku tidak tahan lagi. Siapa pun dirimu yang membawa aroma ini... aku tidak akan pernah sudi memiliki mate atau pasangan hidup baru," desis Jacob tajam pada kesunyian malam, rahangnya mengeras sempurna.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, meyakinkan hatinya yang dirundung duka masa lalu. "Cintaku sudah mati dan terkubur bersamamu. Cukup kau saja, Laura. Hanya kau."
Jacob bersumpah demi kesetiaannya pada mendiang sang istri. Namun, hukum alam imortal jauh lebih kuat daripada keputusasaan murninya.
Tepat ketika ia mencoba menepis takdir tersebut, aroma sedap malam bercampur samudra itu mendadak mendekat ke arah gerbang utama, memaksanya untuk membalikkan badan dan menghadapi kenyataan yang paling ia hindari.
Deg!
Sepasang manik mata merah darah milik Jacob seketika membulat sempurna saat tatapan mereka mengunci satu sama lain di bawah bayang-bayang pilar gerbang. Elara—sang gadis Siren yang menjadi pusat dari segala kegelisahannya—juga menatap Jacob dengan pandangan syok yang tidak kalah besar.
"Dia..." bisik Jacob tercekat.
Firasat dan indra penciumannya ternyata tidak bisa dibohongi. Gadis di hadapannya saat ini adalah sosok nyata dari pemilik aroma samudra dan bunga sedap malam yang mengusik batinnya.
'Dia... Raja Vampir yang mengusirku dengan kejam kemarin malam!' batin Elara terkejut setengah mati.
Rahang Elara mengeras sempurna saat ingatan pahit tentang kejadian kemarin kembali berputar di kepalanya. Ia ingat betul bagaimana dirinya diseret paksa oleh para pengawal Jacob hanya karena tidak sengaja terdampar di sebuah danau air asin tepat di belakang kastil pria itu.
Akibat pengusiran tanpa belas kasihan tersebut, ia hampir saja celaka dan mati diterkam oleh sekumpulan makhluk Ghoul di hutan jika saja Pangeran Justin tidak datang menolongnya tepat waktu.
"Cepat jalan! Jangan melambat!" gertak salah satu pengawal Elf Hutan yang menyeretnya kasar, membuyarkan tatapan magis di antara kedua makhluk imortal tersebut.
Elara tersentak. Rasa panik yang bercampur dengan trauma kurungan bawah laut membuat otaknya mulai berpikir keras. Ia harus menemukan cara darurat agar tidak berakhir membusuk di dalam sel penjara Istana Alfheim.
Sebuah ide liar dan nekat tiba-tiba melintas di benak sang gadis Siren. Mengumpulkan sisa-sisa tenaga di tubuhnya, Elara mendongak lalu dengan gerakan secepat kilat menggigit lengan kedua pengawal Elf yang mencengkeramnya secara bergantian.
"Arghhh!"
Pekikan kesakitan lolos dari mulut kedua pengawal tersebut. Cengkeraman kuat mereka pada lengan Elara seketika terlepas.
Memanfaatkan celah sempit itu, Elara langsung berlari kencang menerjang ke arah Jacob. Alih-alih melayangkan cakaran atau pukulan balas dendam atas pengusiran kemarin, gadis itu justru menghamburkan tubuhnya dan memeluk erat pinggang tegap sang Raja Vampir.
"Apa-apaan yang kau lakukan?!"
Jacob membelalakan matanya, tubuh imortalnya menegang kaku menerima pelukan tiba-tiba yang sangat erat dari sang belahan jiwa.
Elara semakin mengeratkan dekapannya, lalu mendongak menatap wajah rupawan Jacob dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi drama penuh kesedihan dan kerinduan semu.
"Sayang... Ke mana saja kau selama ini? Kenapa kau tega tidak pernah menemuiku lagi, hmm?" ratap Elara dengan suara yang sengaja dikeraskan agar menggema ke seluruh penjuru gerbang istana. "Kau harus bertanggung jawab! Sekarang... sekarang aku sedang mengandung anakmu!"
Jacob membeku, lidahnya mendadak kelu mendengar tuduhan gila tersebut.
"Kau ingat, kan, beberapa minggu lalu kita sering sekali menghabiskan malam bersama? Kau bahkan selalu mengeluarkan benihmu di dalam rahimku!" lanjut Elara tanpa tahu malu, air mata palsunya mulai berlinang sukses meyakinkan siapa pun yang melihat. "Kau harus menikahiku sekarang juga, Jacob Salvatore!"
Mendengar jeritan lantang Elara yang menggandeng nama sang penguasa Vampir, kedua pengawal Elf yang baru saja hendak meredam perlawanan Elara seketika mematung di tempat dengan raut wajah yang luar biasa syok.
Di balik pelukan nekat itu, batin Elara bersorak puas. Ia tahu bualannya sangat murahan, namun setidaknya taktik ini berhasil menghentikan langkahnya menuju sel penjara.
"A-apa maksud dari bualan gila ini?! Jangan berani memfitnahku, Gadis Siren!" desis Jacob dengan nada suara yang tertahan, matanya yang merah berkilat tajam memancarkan amarah yang bergejolak.
Wajah rupawan sang Raja Vampir seketika memerah, menahan rasa malu dan penghinaan yang sudah tidak ketolongan. Menjadi pusat tontonan di tanah suci kaum Elf dengan tuduhan murahan seperti ini adalah mimpi buruk terbesar bagi harga dirinya yang tinggi.
"Sudahlah, Sayang... Mengaku saja! Jangan menghindar dari apa yang sudah kau perbuat padaku!" ratap Elara, menyembunyikan wajahnya di dada tegap Jacob sembari semakin mengeratkan pelukannya. Suaranya sengaja dibuat bergetar, seolah-olah ia adalah pihak yang paling tersakiti di dunia ini.
"Anak di dalam rahimku ini adalah anakmu, darah dagingmu sendiri! Apa kau sama sekali tidak memiliki belas kasihan padaku dan calon bayimu ini, hmm?"
Di balik aktingnya yang luar biasa meyakinkan, batin Elara sejatinya tengah menjerit dan berdoa dengan sangat kencang.
'Ayolah... pergi kalian! Tolong cepat pergi dari sini!' rapal Elara dalam hati, melirik tajam ke arah para pengawal Elf Hutan dari sudut matanya.
Ia sangat berharap tuduhan skandal ini cukup kuat untuk membuat para pengawal itu bingung, mundur, dan membatalkan hukuman penjaranya. 'Kumohon, kali ini saja... biarkan aku terbebas dari jeruji besi itu.'