NovelToon NovelToon
My Boss, My Mistake

My Boss, My Mistake

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Kurniasih Paturahman

Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.

Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.

Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.

Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.

Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.

Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.

Selamat membaca❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Yang Memalukan

Hampir satu jam berlalu. Shana masih belum bisa memejamkan matanya. Ia berguling ke kanan lalu ke kiri. Tetap saja tidak bisa tidur.

"Kenapa susah sekali."

Namun, ternyata bukan hanya Shana yang sulit memejamkan mata.

Di kamar yang berjarak beberapa pintu darinya, Evan masih duduk di tepi tempat tidur. Jasnya sudah berganti dengan kaos lengan panjang berwarna gelap, tetapi pikirannya masih tertinggal pada senyum Shana malam ini.

Ia tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana Shana memanggil namanya.

"Evan..."

Satu kata sederhana. Namun entah kenapa, terdengar jauh lebih indah daripada semua penghargaan yang pernah ia terima.

Di sisi lain, Shana yang sedang berusaha untuk tertidur, mencoba mematikan lampu kamar. Namun, matanya masih menatap langit-langit. Padahal tubuhnya lelah. Yang tidak lelah justru pikirannya.

Pikirannya terus mengingat tatapan Evan... senyumnya... Dan bagaimana pria itu berkali-kali membuat jantungnya berdebar hari ini.

Dengan pelan, Shana meraih ponselnya yang berada di meja samping tempat tidur. Tanpa sadar, ia membuka kontak bernama Evan. Jarinya menggantung di atas layar.

"Tidak..."

Ia menggeleng pelan.

"Masa menghubunginya malam-malam begini."

Baru saja hendak meletakkan ponselnya, layar itu tiba-tiba menyala. Sebuah pesan masuk. Dari orang yang sedang ia pikirkan.

"Belum tidur."

Shana spontan tersenyum. Ia membalas beberapa detik kemudian.

"Belum."

Balasan datang begitu cepat.

"Saya juga."

Shana menggigit bibir pelan.

"Karena belum mengantuk?"

Beberapa saat tidak ada balasan. Lalu muncul satu pesan lagi.

"Karena terus memikirkan seorang."

Deg. Jantung Shana kembali berulah. Ia membaca pesan itu berulang kali. Apakah...

Tidak.

Pasti bukan seperti yang ia pikirkan. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia akhirnya membalas.

"Berani sekali orang itu."

Tak sampai lima detik, balasan kembali masuk.

"Kenapa?"

"Karena berhasil membuat seorang Evan tidak bisa tidur."

Di kamar sebelah, Evan tersenyum sendiri menatap layar ponselnya.

Entah sejak kapan, mengobrol dengan Shana menjadi bagian paling ia tunggu setiap hari.

Beberapa saat kemudian, ponsel Shana bergetar lagi.

Kali ini bukan pesan. Melainkan panggilan dari Evan. Shana membulatkan mata.

"Telepon?"

Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.

"Halo..."

"Halo."

Suara Evan terdengar lembut di balik sambungan.

"Kamu benar-benar belum tidur."

Shana tersenyum tanpa sadar.

"Iya."

"Kepikiran sesuatu?"

"Mungkin."

"Hm."

"Lalu kamu, masih memikirkan orang itu?"

Evan terdiam sesaat sebelum menjawab dengan jujur.

"Ya."

"Orang itu..."

Shana memberanikan diri bertanya.

"...penting?"

"Sangat."

Jawaban Evan datang tanpa ragu. Shana tersenyum kecil, meski ada rasa penasaran yang kembali muncul.

"Berarti orang itu beruntung."

Evan justru terkekeh pelan.

"Saya rasa... bukan dia yang beruntung."

"Hm?"

"Saya yang beruntung."

"Kenapa?"

"Karena akhirnya saya bertemu dengannya."

Shana terdiam. Ia mulai merasa pembicaraan ini mengarah ke sesuatu yang tak sanggup ia tebak. Untungnya, Evan mengalihkan topik.

"Kamarnya nyaman?"

"Iya."

"Benar?"

"Sangat nyaman."

"Syukurlah."

Hening kembali menyelimuti mereka. Aneh, tak ada topik yang benar-benar penting. Namun tak satupun dari mereka ingin mengakhiri percakapan. Shana kemudian tersenyum sendiri.

"Sebenarnya...".

"Iya?"

"Saya baru sadar."

"Apa?"

"Kita sedang berada di rumah yang sama."

Evan ikut tersenyum.

"Iya."

"Bahkan cuma terpisah beberapa kamar."

"Benar."

Shana terkekeh pelan.

"Tapi malah saling menelepon."

Evan mengangguk kecil. Lalu, dengan nada bercanda, ia berkata.

"Kalau begitu... Bagaimana kalau kita bertemu saja."

Deg. Shana langsung membulatkan mata.

"Sekarang?"

"Iya."

Shana tertawa pelan sambil menggeleng.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Nanti ketahuan Nenek."

Evan ikut tertawa.

"Pasti Nenek sudah tidur."

"Tetap saja."

"Jadi tidak boleh?"

"Tidak."

Shana menjawab cepat meski senyumnya tak kunjung hilang.

"Besok saja."

Evan terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Baik, aku tunggu besok."

"Ya."

"Sudah malam, istirahatlah." Pinta Evan kemudian.

"Ya."

"Selamat tidur, Shana."

"Selamat tidur... Evan."

Tak ada yang langsung menutup telepon. Mereka sama-sama menunggu beberapa detik, seolah berharap suara satu sama lain tetap terdengar sedikit lebih lama.

Akhirnya, sambungan terputus. Lagi-lagi mereka tertidur dengan senyum yang sama di wajah masing-masing.

***

Keesokan paginya.

Sinar matahari menembus tirai kamar tamu, membangunkan Shana yang semalam akhirnya tertidur dengan senyum diwajahnya. Ia melirik jam di meja samping tempat tidur.

"Pukul lima."

Masih terlalu pagi. Shana kemudian meraih ponselnya, ada pesan untuknya dan itu dari Evan. Ia membaca pesan itu perlahan.

Selamat pagi,

Ku siapkan baju ganti untuk kamu pakai pagi ini. Paper bag-nya ada di depan pintu kamar. Semoga ukurannya pas. Maaf tidak memberikannya langsung.

Sudut bibir Shana perlahan terangkat.

"Selamat pagi juga..."

Ia segera membuka pintu kamar. Benar saja, sebuah paper bag berwarna kream sudah terletak rapi di depan pintu. Shana membawanya masuk, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Pelan-pelan ia membuka isinya.

Di dalamnya terdapat sebuah blouse putih berlengan panjang, rok biru muda dengan panjang dibawah lutut, cardigan tipis berwarna senada dan di bagian paling dalam ia menemukan pakaian dalam wanita berwarna putih.

Matanya membulat, pipinya memerah. Semua ukurannya pas dan cantik sekali.

"Bagaimana ia bisa tahu ukuranku?"

Shana menatap pemberian Evan itu beberapa saat sebelum tersenyum kecil. Perhatian kecil dari Evan membuat hatinya terasa hangat.

Tak lama kemudian, ia bangkit, mandi lalu bersiap.

Beberapa menit kemudian, Shana membuka pintu kamar. Lorong lantai dua masih sangat tenang. Langkahnya pelan menyusuri koridor lantai atas itu. Namun tepat ketika melewati salah satu sudut lorong...

"Bruk!"

Seseorang tiba-tiba ke luar dari kamar berpintu coklat di depannya. Shana yang tidak siap kehilangan keseimbangan.

"Hati-hati."

Sebuah tangan sigap meriah pinggangnya sebelum ia benar-benar terjatuh.

Deg. Shana refleks mengangkat wajah dan membeku.

"E-Van."

Evan juga tampak sedikit terkejut.

"Maaf, ku kira kamu belum bangun."

Namun yang membuat Shana membeku bukanlah tabrakan itu. Melainkan karena penampilan Evan.

Rambutnya masih basah. Tetesan air masih terlihat di beberapa helai rambut hitamnya. Ia hanya mengenakan celana training panjang hitam dan kaos abu-abu tipis yang sedikit lembab karena baru selesai mandi.

Penampilanya jauh lebih santai daripada biasanya.

Untuk beberapa detik, otak Shana berhenti bekerja.

"Kamu baik-baik saja?" Tanya Evan.

Shana berkedip. Lalu berkedip lagi.

"I-ya."

Padahal jelas tidak.

Evan perlahan melepaskan pegangannya. Namun tatapannya tidak lepas dari wajah Shana yang sudah memerah.

"Kamu demam?"

"Hah?"

"Wajahmu merah."

Shana hampir tersedak udara.

"Tidak."

"Yakin?"

"Sangat yakin."

Evan menatapnya beberapa saat. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Sedangkan Shana tengah berjuang mati-matian untuk tidak menatap terlalu lama ke arah pria di depannya.

Sayangnya semakin ia berusaha menghindari, semakin ia sadar bahwa Evan terlihat... terlalu tampan pagi ini.

"Kalau begitu..."

"Iya?"

"Berarti bukan karena demam."

Shana mengernyit bingung.

"Lalu?"

Evan menatap matanya sambil tersenyum kecil.

"Karena sejak tadi kamu terus menatap saya."

Mata Shana langsung membulat.

"Aku tidak menatap!"

"Kamu menatap."

"Tidak."

"Kamu bahkan lupa berkedip."

Pipi Shana semakin merah. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Melihat reaksi itu, senyum Evan semakin jelas.

Senyum yang sangat jarang ia tunjukkan kepada orang lain.

"Kalau memang penasaran..."

Shana kembali menoleh.

"... lihat saja, tidak perlu diam-diam."

Deg. Shana langsung menahan napas. Belum sempat ia membalas, terdengar suara seseorang berdeham di ujung lorong.

"Ahem."

Evan dan Shana menoleh bersamaan.

"My Boss, My Mistake-

1
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
tinggal jwb aja saya juga suka sama km
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah mampir ketempat tinggal Shana, semoga kedepannya bisa cepat go publik 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Akhirnya jadian juga 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Shana : saya juga suka sama kamu boss🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
jawab iya Shana 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Nena ngapain sih datang segala, merusak suasana saja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah kan ketahuan nenek 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa kalian lucu 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kenapa gak duduk di balkon apa ruang tamu aja malah telfonan 🤣
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
sudah lah Evan, cepat sat set halalin aja 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
bener ya nenek cuma bilang apa yang terlihat 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
tidak merepotkan, malah senang ya Evan 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek menceritakan masa kecil Evan
@M⃠ⁿꫝieʸᵃɴᵉᵉʰʜɪᴀᴛ𓆊🎯™☂⃝⃞⃟ᶜᶠ
Diterima ga ya🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒: terima aja kak 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ngapain sih Nena ada disnaa JD kan ke ganggu
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nenek benar, Evan gak bisa berpaling darimu Shana 🤭
⃟ ⃟🐬🅿!💤©€$™_- 🐟
ehekkk... hayooo Shanaaa😂🤭
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
terus terang aja kalian tuh PD saling memikirkan
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
kalian sudah cocok kayaknya knp gak jadian aja
Maura Ayna
semangat terussss, halalkan hubungan mereka🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!