NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengajian Bersama Warga..

Tak lama kemudian mereka akhirnya tiba di masjid. Di sana sudah terlihat beberapa warga desa yang lebih dulu hadir, meski jumlahnya tidak terlalu ramai. Mungkin sebagian warga lain masih sibuk bekerja di ladang.

“Sini nak…”

Suara Pak Kades terdengar memanggil.

Mendengar panggilan itu, mereka sEmua langsung berjalan mendekat ke arah Pak Kades.

Pak Arya terlihat berdiri bersama beberapa warga lain sambil tersenyum menyambut kedatangan mereka.

“Syukurlah kalian datang. Lumayan buat meramaikan acara pengajian hari ini,” ucap Pak Arya.

“Iya Pak,” jawab Arga singkat mewakili yang lain.

Tak lama kemudian mereka mulai bergabung. Anak-anak cowok duduk bersama para bapak-bapak sambil ikut mengobrol santai, sementara kelompok perempuan ikut duduk bersama ibu-ibu yang sudah datang lebih dulu.

Di tengah obrolan itu, seorang ibu paruh baya menatap Alya dengan senyum hangat.

“Ehh… kalau yang ini namanya siapa? Cantik sekali.”

Ibu itu ternyata bernama Bu Irma.

Alya langsung tersenyum sopan.

“Nama saya Alya, Bu.”

“Wahh…”

Beberapa ibu lain ikut menoleh.

“Cantik-cantik ya anak KKN sekarang.”

“Iya… cantik sekali.”

Alya hanya tersenyum kecil, sedikit malu menerima pujian mendadak dari ibu-ibu di sana.

Namun di tengah obrolan—

“Assalamu’alaikum.”

Suara seseorang tiba-tiba terdengar dari arah halaman masjid.

Semua orang spontan menoleh.

“Wa’alaikumsalam.”

Sosok yang datang ternyata cukup familiar.

Rehan.

Cowok yang tadi siang sempat berbincang dengan Alya.

Pak Anwar langsung melambaikan tangan.

“Wah nak Rehan, sini gabung.”

Rehan pun berjalan mendekat lalu ikut duduk bersama kelompok bapak-bapak.

Sebelum ikut duduk bersama yang lain, mata Rehan sempat melirik sekilas ke arah Alya. Tanpa disadari, Arga yang melihat kejadian itu langsung menangkap tatapan tersebut.

Entah kenapa rasa kesal kecil langsung muncul begitu saja.

Pak Arya kemudian tersenyum memperkenalkan.

“Eh kenalin ya semuanya…”

Ia menepuk bahu Rehan.

“Ini Rehan, adik saya.”

Rehan mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Halo semuanya.”

“Iya halo mas Rehan,” jawab Adrian santai.

Tidak lama kemudian suara adzan Ashar mulai terdengar menggema. Satu per satu warga perlahan berdiri lalu berjalan masuk ke dalam masjid.

Di tengah semua orang yang mulai bergerak, Kevin dan Alya justru masih berdiri canggung di tempat, hingga Pak Arya yang menyadarinya Langsung menoleh ke arah mereka.

“Ayo nak…”

Kevin terlihat sedikit salah tingkah sebelum akhirnya menjawab.

“Anu Pak… saya nonis… maaf.”

Mendengar itu Pak Arya justru tersenyum ramah.

“Ohh… gapapa nak.”

Lalu pandangannya beralih ke Alya.

“Nak Alya?”

Alya ikut menjawab pelan.

“Saya juga nonis Pak…”

“Hahaha… begitu ya.”

Pak Arya mengangguk santai.

“Gapapa.”

Di sisi lain, Rehan yang mendengar jawaban Alya seketika terdiam.

Tatapannya sempat tertahan cukup lama ke arah gadis itu, sebelum akhirnya ia menunduk pelan seperti sedang memikirkan sesuatu.

Alya sendiri sama sekali tidak memikirkan hal itu. Kini teras masjid mulai perlahan sepi setelah warga masuk untuk sholat.

Tinggal dirinya dan Kevin yang masih berdiri canggung di luar, sampai Kevin akhirnya menunjuk bangku panjang di sudut teras.

“Yaudah Al… kita duduk di situ aja.”

Alya mengangguk kecil.

“Iya… ayok.”

Kini Alya dan Kevin duduk santai di teras masjid. Suasana di luar jauh lebih tenang dibanding bagian dalam yang masih dipenuhi suara orang-orang bersiap melaksanakan sholat.

Alya menoleh ke arah Kevin.

“Kamu jurusan apa, Vin?”

Kevin yang sedang memainkan sandal langsung menjawab santai.

“Oh, aku Agribisnis.”

“Ohh begitu…”

Kevin lalu ikut bertanya.

“Btw gimana Al… udah nyaman di sini?”

Ia menahan senyum.

“Tapi kayaknya sih udah nyaman ya.”

Alya menatapnya bingung.

“Kenapa emangnya?”

Kevin terkekeh kecil.

“Ya… keliatan aja.”

Alya ikut tertawa kecil lalu bersandar di tiang teras.

“Lumayan nyaman sih…”

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Cuma yang nggak enak itu kalau mau poop aja.”

Mendengar itu Kevin langsung tertawa.

“Iya juga sih.”

“Gue aja kemarin sempat kaget pas mau poop.”

Alya menoleh penasaran.

“Kenapa?”

“Gue diajakin Dimas ke sungai… ternyata jamban umum.”

“Hahaha…”

Alya langsung ikut tertawa.

Tanpa sadar mereka asyik mengobrol cukup lama sampai tak menyadari kalau orang-orang di dalam ternyata sudah selesai sholat.

“Nak Kevin… Nak Alya… ayo masuk.”

Suara Bu Lestari terdengar memanggil.

Kevin dan Alya langsung refleks berdiri.

“Eh… iya Bu.”

Kini mereka berdua masuk ke dalam area utama masjid. Jujur saja, keduanya sempat gugup karena sadar mereka berbeda keyakinan dengan mayoritas orang di sana.

Namun Pak Arya justru tersenyum hangat.

“Nggak usah gugup gitu nak…”

“Sini nggak masalah kok.”

“Ayo duduk.”

Mendengar itu Kevin dan Alya akhirnya sedikit lega.

Warga lain yang hadir juga terlihat biasa saja, tidak ada tatapan aneh ataupun keberatan.

Tak lama setelah itu acara pengajian akhirnya dimulai. Lantunan ayat suci perlahan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana berubah menjadi jauh lebih tenang.

Semua warga tampak khusyuk mengikuti jalannya pengajian, sementara Alya dan Kevin hanyA duduk diam mendengarkan.

Meski tidak ikut mengaji, sesekali Alya terlihat memperhatikan dengan wajah serius, seolah benar-benar menikmati setiap bagian dari acara itu.

Sampai akhirnya sesi ceramah singkat dimulai, lalu berlanjut ke sesi tanya jawab.

Di tengah sesi tanya jawab yang mulai dibuka, tanpa diduga pandangan Pak Ustadz justru berhenti pada Alya sebelum akhirnya menunjuk gadis itu.

“Nak… mungkin ada yang ingin ditanyakan?”

Alya yang tiba-tiba ditunjuk langsung terlihat kikuk. Namun setelah diam beberapa detik, ia memberanikan diri bicara.

“Pak Ustadz…”

“Saya mau tanya…”

“Bagaimana hukumnya kalau seorang nonis ikut mengaji juga?”

Pertanyaan itu seketika membuat suasana di dalam masjid berubah sedikit hening. Beberapa warga yang tadi berbincang pelan kini Mulai fokus memperhatikan, sementara Alya kembali melanjutkan ceritanya dengan nada sedikit gugup.

“Jujur aja Pak Ustadz…”

“Waktu kecil dulu saya pernah ikut mengaji…”

“Karena waktu itu saya punya sahabat yang muslim.”

“Dia sering pergi mengaji…”

“Terus saya ikut dia…”

Pak Ustadz tersenyum tipis mendengar itu.

Alya kembali melanjutkan.

“Awalnya saya cuma ikut-ikutan…”

“Eh malah ketagihan.”

Beberapa orang mulai tersenyum kecil.

Pak Ustadz kemudian bertanya.

“Maaf nak Alya…Apakah mereka tahu kalau kamu sering ikut mengaji?”

Alya mengangguk.

“Iya tahu.”

“Awalnya saya sempat dilarang ikut lagi…”

“Tapi saya maksa…”

“Sampai nangis…”

“Papi saya akhirnya nggak tega…”

“Jadi dibolehin.”

Pak Ustadz tersenyum hangat.

“Oh begitu…”

Namun ia kembali bertanya.

“Kalau begitu…”

“Kenapa guru ngajinya dulu tidak tahu kalau kamu non muslim?”

Alya langsung menjawab polos.

“Itu karena saya pakai kerudung juga sama kayak anak-anak lain.”

Beberapa warga mulai menahan senyum.

Alya melanjutkan lagi.

“Terus kakak saya juga ikut…Karena dia nggak pernah mau ninggalin saya sendirian.”

“Awalnya nggak ketahuan…”

“Tapi suatu hari guru ngaji minta data anak-anak…”

“Di situ beliau baru tahu…”

“Itu terakhir kali saya ikut ngaji.”

Kini Alya menatap Pak Ustadz dengan wajah penasaran.

“Menurut Pak Ustadz…Bagaimana?”

Ruangan mendadak tenang.

Pak Ustadz tersenyum lembut sebelum akhirnya menjawab.

“Begini ya Nak Alya…”

“Dalam Islam, belajar hal baik itu sesuatu yang mulia.”

“Dan Al-Qur’an mengajarkan banyak sekali tentang akhlak, kejujuran, kebaikan, kasih sayang, dan bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat.”

Beliau berhenti sebentar.

“Kalau dulu kamu ikut mengaji karena ingin belajar sesuatu yang baik…”

“Karena rasa ingin tahu…”

“Atau karena memang senang belajar…”

“Maka itu bukan sesuatu yang buruk.”

Alya terlihat mendengarkan serius.

Pak Ustadz kembali melanjutkan.

“Allah melihat niat seseorang.”

“Dan rasa penasaran terhadap ilmu, apalagi ilmu tentang kebaikan…”

“Itu hal yang patut dihargai.”

Beberapa warga mulai mengangguk setuju.

“Tapi…”

“Yang paling saya kagumi justru bukan soal kamu ikut mengaji.”

Pak Ustadz tersenyum.

“Melainkan orang tua kamu.”

Alya terlihat sedikit terkejut.

“Karena meskipun berbeda keyakinan…”

“Mereka tetap membiarkan anaknya belajar mengenal sesuatu di luar dirinya…”

“Itu bentuk kedewasaan yang tidak semua orang punya.”

Kini suasana terasa semakin tenang.

Pak Ustadz menatap Alya hangat.

“Jadi jangan merasa bersalah.”

“Ilmu yang baik… akan tetap jadi ilmu baik.”

“Dan saya rasa…”

Beliau tersenyum kecil.

“Allah pasti senang melihat manusia saling belajar tanpa harus saling membenci.”

Setelah mendengar jawaban itu, suasana mendadak terasa jauh lebih tenang. Beberapa warga tampak tersenyum kecil, sementara Alya sendiri terdiam untuk beberapa saat.

Untuk alasan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan, kata-kata Pak Ustadz barusan justru meninggalkan rasa hangat dan tenang di dalam hatinya.

Pak Ustadz kembali menatap Alya dengan senyum hangat.

“Kalau begitu saya mau tanya lagi, Nak Alya…”

“Apakah kamu masih ingat mengaji?”

Alya terlihat sedikit berpikir sebelum menjawab jujur.

“Masih tahu huruf-hurufnya, Pak Ustadz…”

“Cuma… kalau surat-surat pendek yang dulu pernah saya pelajari…”

Ia tersenyum kikuk.

“Mungkin banyak yang sudah lupa.”

Beberapa orang di sekitar ikut memperhatikan jawaban itu.

Namun Pak Ustadz justru tersenyum semakin lebar.

“Tidak apa-apa, Nak.”

“Ilmu itu memang bisa terlupa kalau tidak sering diulang.”

Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Tapi yang menarik buat saya…”

Pak Ustadz menatap Alya lembut.

“Di usia kecil dulu, kamu pernah berusaha belajar sesuatu yang bahkan bukan bagian dari keyakinanmu…”

“Artinya sejak dulu hati kamu sudah punya rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu.”

Alya terlihat diam mendengarkan.

Pak Ustadz kembali berkata pelan.

“Dan percayalah…”

“Orang yang senang belajar hal-hal baik, biasanya punya hati yang juga baik.”

Beberapa warga mengangguk setuju.

“Jadi jangan pernah malu dengan masa kecilmu itu.”

“Mungkin dulu kamu datang hanya karena ikut teman…”

“Tapi bisa jadi…”

Beliau tersenyum.

“Itu cara Tuhan mengajarkan kamu bahwa perbedaan tidak pernah menghalangi seseorang untuk mengenal kebaikan.”

Suasana di dalam masjid seketika kembali sunyi. Alya hanya menunduk pelan sambil memainkan ujung bajunya.

Untuk alasan yang bahkan tidak Ia mengerti, ucapan Pak Ustadz barusan meninggalkan rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.

Tak terasa acara pengajian sore itu akhirnya selesai. Setelah berpamitan dengan warga yang hadir, mereka pun perlahan berjalan kembali menuju posko dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

1
Aylnn_
...
Aylnn
Bagus Sekali..
Aylnn
bagus kak..
cintaa
lanjut thor🙏🙏
Aylnn_: Besok sy update yah Kak..🙏🥰
total 1 replies
cintaa
ditunggu kelanjutannyaa 🙏💪
Aylnn_: Sudah update yaa kak..
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr tapi banyakin yaa maaf kalo ngelunjakk🙏🙏🙏
Aylnn_: Sudah Update yaa kak, itu saya buat kan 3 bab yahh kak semoga suka🥰
total 1 replies
cintaa
hmm... mana yaa kak lanjutannya🙏🙏
Aylnn_: sudah update ya kak, maaf kemarin² saya sibuk🙏🥰
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr💪💪💪💪
Aylnn_: Oke besok pagi yaa kk..
total 1 replies
Muh Adhil
hahah author nya tega banget sama alya 🤣
Aylnn_: Yaa Ampunn..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!