Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Kusir mengeluarkan sebuah balok penumpu dan menyuruh Lestari turun terlebih dahulu. Kemudian, dia baru memapah Kira untuk turun dari kereta. Danu dan Tony mengeluarkan dua kotak cendana dari dalam kereta,
Saat melihat keempat orang itu memasuki toko, pegawai toko pun menyambut mereka dengan ramah,
"Tuan, apa yang bisa aku bantu?"
Setelah melihat reaksi pegawai toko, Danu dan Tony langsung mengerti maksud Kira menyuruh mereka berganti pakaian.
Tadi pagi saat mereka berempat mau membeli barang, mereka bahkan sudah diusir terlebih dahulu sebelum mengatakan apa-apa. Sekarang, setelah melihat pakaian mereka, pegawai toko malah langsung bersikap sangat ramah. Kira berkata dengan penuh percaya diri,
"Aku datang untuk cari pemilik toko, suruh dia keluar!"
"Namaku Hendra Sutedjo. Siapa nama mu? Untuk apa kamu kemari?"
Hendra Sutedjo, tuan ketiga keluarga Sutedjo yang gemuk itu berjalan turun dari lantai dua. Dia mengamati Kira terlebih dahulu, lalu melirik Lestari, Danu dan Tony. Kemudian, seulas senyum ramah muncul di wajahnya.
Setelah melihat pakaian mereka yang bagus, Hendra langsung merasa Kira berasal dari keluarga yang sekaya keluarga Sutedjo.
"Namaku Kira. Pak Hendra, dengar-dengar kamu itu pedagang makanan manis yang paling berpengalaman di Kabupaten ini. Aku punya sedikit barang langka. Entah kamu pernah lihat apa nggak"
Sebelum menunggu Hendra mempersilakan nya duduk, Kira sudah langsung duduk.
Tony menuruti perintah Kira untuk meletakkan kotak cendana yang dia pegang di atas meja, lalu kembali ke tempatnya.
Setelah itu, Lestari pun maju dan membuka kotak cendana itu. Saat mengangkat tutup, dia menggunakan sapu tangan yang menutupi kotak itu, dia membatin,
'Kak Kira ngapain sih? Kenapa nggak langsung suruh Tony buka? Lagian, apa kegunaan sapu tangan ini.'
Saat Lestari melangkah ke samping, Hendra yang melihat gula putih di dalam kotak itu langsung terkejut. Dia buru-buru melangkah maju dan berseru,
"Ke.. kenapa lamu bisa punya begitu banyak lapisan gula?"
Pada saat merebus gula mentah, kadang-kadang bisa terbentuk lapisan gula, Namun, jumlahnya hanya sedikit. Di dalam kotak cendana yang sebesar ini, ada sekitar 5 kilo gram lapisan gula. Hendra sangat penasaran dari mana Kira mendapatkan nya.
"Pak Hendra, itu bukan lapisan gula, melainkan gula kristal dari Wilayah Barat!"
Kira memutar matanya, seolah-olah sedang menghadapi orang desa,
"Coba saja!" lanjut Kira.
Lestari membelalakkan matanya. Dia sangat terkejut saat melihat Kira yang mampu berbohong dengan begitu baik.
Siang tadi, Kira baru memberi tahu mereka bahwa itu adalah gula putih. Sekarang, dia malah memperkenalkan nya sebagai gula kristal dari Wilayah Barat kepada Pak Hendra.
Lestari merasa tindakan Kira ini sangat mengesalkan dan sombong. Sementara Danu dan Tony tetap terlihat cemberut sesuai perintah Kira,
"Gula kristal dari Wilayah Barat!?"
Pak Hendra dengan hati-hati mengambil sedikit gula untuk mencicipinya. Setelah itu, matanya langsung berbinar.
Gula ini jauh lebih manis dari pada gula cokelat dan juga terlihat jernih, memang cocok disebut sebagai 'gula kristal'.
Jika ada yang bisa memasok gula kristal untuk Hendra, dia bisa menjadi pedagang gula terbesar di Provinsi ini. Meskipun sangat menginginkan nya, Hendra tetap berkata dengan tenang,
"Apa kamu membawa gula kristal ini ke Toko Gula Keluarga Sutedjo supaya aku bisa membantu mu menjualnya? Tapi ini masih belum akhir tahun, bisnis gula masih belum begitu lancar."
Dari pengalaman berdagangnya selama ini, Hendra tahu bahwa dia tidak boleh bersikap terlalu antusias meskipun sangat menginginkan sesuatu. Jika tidak, penjual pasti akan menaikkan harganya.
Sebaiknya dia berpura-pura untuk tidak menginginkan nya. Jadi, orang lain yang akan memohon padanya. Dengan begitu, dia bisa mendapatkan keuntungan lebih besar.
"Pak Hendra, bukan begitu. Aku cuman datang buat tanya harga, lalu aku masih mau pergi tanya pada Pak Raul. Habis pulang ke kota pusat pemerintahan, aku baru bakal buat keputusan!"
Kira membuka kipasnya, lalu bangkit,
“Kalau Pak Hendra nggak mau, aku pamit dulu. Ayo, kita pergi ke Toko Gula Keluarga Wibowo!"
Saat melihat sandiwara Kira, Lestari pun tersenyum kecil.
Dia merasa akting Kira sangat bagus. Jelas-jelas dia berasal dari Dusun Samadi, tetapi malah mengatakan bahwa dirinya berasal dari kota pusat pemerintahan.
Lagi pula, sekarang dia punya utang 40 ribu rupiah dan harus segera menjual gula agar bisa bayar utang.
Namun, dia malah bertindak seolah-olah tidak mau menjualnya. Sementara Hendra, dia jelas-jelas sangat menginginkan gula ini, tetapi malah berpura-pura tidak menginginkan nya. Mereka berdua sama liciknya!
Setelah mendengar ucapan Kira, Tony buru-buru maju dan menutup kotak cendana. Kemudian, dia mengangkat kotak itu dan bersiap-siap untuk pergi.
Sebelum datang, Kira sudah berpesan kepada mereka semua untuk langsung mengikuti apa pun perintahnya.
“Haish, Kira, aku toh nggak bilang nggak mau!"
Hendra langsung menahan Kira dan berkata,
“Aku bakal beli gula kristal ini 1.000 rupiah per setengah kilo."
Keluarga Wibowo juga menjual gula. jika mereka mendapatkan gula kristal ini, bisnis mereka pasti menjadi jauh lebih baik dari pada bisnis keluarga Sutedjo.
Setelah mendengar ucapan Hendra, Lestari mendengus dalam hati. Tadi, dia yang mengestimasikan harga itu. Ternyata gula ini memang bisa terjual dengan harga setinggi itu!
"Seribu rupiah?"
Kira melirik Hendra dengan tatapan merendahkan, lalu berkata dengan cemberut,
"Minggir!"
"Kira, aku salah! Gimana kalau 1.500 rupiah? Nggak.. Gimana kalau . 2.500 rupiah?"
Hendra tersenyum sambil menaikkan harga. Saat melihat Kira masih tidak memedulikan nya dan hendak pergi, dia pun berseru,
"Baik, Kira. Aku nggak bakal dapat keuntungan. Anggap saja kita berteman, aku kasih 3.000 rupiah per setengah kilo."
Lestari memandang kejadian ini dengan gugup. Dia berharap Kira langsung setuju karena 3.000 rupiah sudah lebih tinggi tiga kali lipat dari perkiraan nya. Danu dan Tony juga sedikit lemas setelah mendengar harganya.
Meskipun penduduk desa bercocok tanam dengan susah payah selama setahun, mereka juga tidak mungkin bisa menghasilkan 6.000 rupiah. Namun, gula putih yang dihasilkan Kira ini malah bisa dijual 3.000 rupiah per setengah kilo gram.
"Aku nggak layak berteman sama Pak Hendra. Aku pamit dulu!"
Kira tersenyum dingin, lalu lanjut berjalan keluar.
"Kira, gimana pun juga, ini cuman makanan. Harga 3.000 rupiah sudah sangat tinggi! Baiklah, aku nggak masalah rugi dikit. Gimana kalau 4.000 rupiah?"
Hendra menaikkan harga lagi. Namun, saat melihat Kira yang tetap tidak menghiraukan nya, dia pun berkata dengan kesal,
"Kira, gimana kalau 5.000 rupiah!? Ini harga tertinggi yang bisa ku kasih. Kalau kamu masih nggak setuju, pergi saja ke Toko Gula Keluarga Wibowo. Lihat berapa harga yang bisa mereka kasih!"
Lestari, Danu dan Tony sudah tercengang. Kali ini, Kira juga menghentikan langkahnya. Hendra mengira Kira sudah setuju.
Dia pun mengeluh,
"Kira, meski gula kristal memang langka, gimana pun juga itu cuman makanan, Harga 5.000 rupiah sudah sangat tinggi."
Namun, Kira malah mencibir,
"Pak Hendra, kukira kamu itu pedagang paling berwawasan di Kabupaten ini, Tapi setelah dengar kata-kata mu itu, sepertinya aku sudah salah!"
Hendra menghela napas,
"Kira, aku tahu kamu masih pengin harga yang lebih tinggi. Tapi gimana pun juga, itu cuman gula. Memangnya bisa di jual seberapa mahal? Bahkan pemimpin kabupaten juga belum tentu sanggup makan gula yang harganya 5.000 rupiah per setengah kilo!"