Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Dikhianati
Dengan senyum mengembang Kanaya berjalan masuk ke dalam sebuah apartemen milik Raditya yang tak lain kekasih Kanaya.
Sebelum menekan pintu lift, ia sempatkan untuk mengecek penampilannya. Hari ini ia terlihat cantik dengan memakai dress selutut berwarna pastel, dengan rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan sedikit gelombang lembut di ujung.
Ia meraih kaca di tas kecilnya, lalu merapikan poninya sedikit kemudian memasukannya kembali ke dalam tas.
Tangan kanannya terangkat, menatap bingkisan berisi kue ultah yang sudah ia siapkan untuk surprise ultah kekasihnya itu. Bibir mungilnya di hiasi senyum tipis yang manis.
"Semoga aja Radit suka dengan surprise kue nya. Jadi nggak sabar pengen cepet-cepet ketemu deh." gumamnya, lalu berjalan masuk ke dalam lift, begitu pintu lift terbuka.
Kanaya sudah sampai di depan apartemen milik Raditya. Ia pun langsung masuk ke dalam, karena ia sudah memiliki password untuk masuk kedalam apartemen itu.
Memang selama ini Raditya sering mengajak Kanaya ke apartemennya, namun hanya sekedar main dan tak berbuat aneh-aneh. Yah, walaupun mereka pacaran tetapi Kanaya masih tetap menjaga, tidak lebih dari sekedar berpegangan tangan, cium tangan, ataupun pipi tidak lebih dari itu.
Kanaya berjalan kearah dapur, ia letakkan kotak berisi kue itu di atas meja. Lalu membuka dan mengeluarkan kue dan menata lilin ultah diatasnya.
Ia sengaja tidak menyalakan lampu apartemen Radit, karena sengaja agar kejutan yang dibuatnya sukses.
Saat terdengar pintu apartemen akan terbuka, ia siap-siap menyalakan lilin. "Itu pasti Radit udah pulang deh." pikirnya.
Kanaya mengangkat kue itu, ia pun berjalan dengan senyum yang masih terpancar manis di wajahnya.
Namun senyum itu hilang begitu saja, berganti dengan ketegangan wajah yang mendadak pucat saat melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.
Di dalam apartemen yang gelap tanpa lampu menyala, Raditya berjalan masuk sambil mencium bibir seorang gadis dihadapannya. Tangan pria itu melingkar santai di pinggang sang gadis, sementara ciuman mereka terus berlanjut seolah dunia hanya milik mereka berdua saja.
Suara langkah dan desahan kecil memenuhi keheningan malam, tanpa keduanya sadari bahwa ada seseorang yang berdiri tak jauh di belakang.
Kanaya terpaku di tempatnya.
Tangannya mengepal kuat mencengkeram nampan kue yang di pegangnya, sementara matanya menatap nanar ke arah dua sosok di depannya. Napasnya tercekat seketika, dadanya terasa sesak saat melihat dengan jelas bagaimana Raditya begitu larut bersama wanita lain.
Kanaya merasa dadanya semakin sesak melihat pemandangan di depan matanya. Tangannya, bergetar pelan, hingga akhirnya tanpa sanggup menahan lagi, ia berjalan menuju sakelar lalu menekan tombol lampu apartemen.
Brak..
Cahaya terang seketika memenuhi ruangan.
Raditya langsung terkejut. Ia spontan melepaskan ciumannya dan menoleh cepat ke arah sumber cahaya. Namun detik berikutnya, sorot matanya langsung membeku saat mendapati Kanaya berdiri tidak jauh dari sana.
Wajah wanita itu terlihat pucat dengan dengan mata yang mulai memerah menahan air mata. Tatapannya penuh kecewa dan terluka.
Sementara gadis di samping Raditya hanya menatap datar Kanaya, tanpa menjauh sedikitpun dari Raditya.
Keheningan mendadak memenuhi apartemen itu.
Raditya terlihat kehilangan kata-kata. Untuk pertama kalinya, pria itu tampak panik saat melihat bagaimana Kanaya menatapnya dengan sorot mata yang begitu hancur.
"Kanaya..." suaranya terdengar pelan.
Raditya masih tak menyangka saat melihat Kanaya berada di dalam apartemennya. Pasalnya saat pagi tadi ia mendapat kabar kalau Kanaya sedang ikut acara keluarganya di Bandung. Dan Raditya percaya saja dengan apa yang di ucapkan oleh kekasihnya tanpa mengecek kembali.
Kanaya tertawa kecil lirih, tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Oh.. Jadi ini yang kamu lakukan ketika tak bersamaku. Hemmm.." ucapnya dengan suara bergetar.
Raditya melepaskan tangan yang masih merangkul pinggangnya itu, lalu berjalan menghampiri Kanaya.
"Sayang.. Tunggu. I-ini bisa aku jelaskan.." Raditya mencoba menyanggah.
Kanaya tersenyum sinis, "Apalagi yang mau coba kamu jelaskan lagi Radit, ini semua sudah jelas."
"Tadinya aku mau kasih kejutan karena kamu ulang tahun hari ini," suara Kanaya terasa tercekat, "Tapi.. tanpa di sangka-sangka malah kamu yang sukses kasih kejutan buat aku."
Raditya menggeleng pelan, ia mencoba meraih tangan Kanaya. Namun belum sempat tangannya terangkat, lebih dulu Kanaya maju lalu..
Plak.!
Kue yang sejak tadi dibawa Kanaya, kini sudah berantakan menempel di wajah Raditya. Krim putih memenuhi pipinya hingga mengenai hidung dan dagunya.
Ruangan langsung hening.
Gadis yang tadi bersama Raditya membelalak kaget sambil mundur beberapa langkah, sedangkan Raditya sendiri diam mematung dengan napas tertahan.
Kanaya menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi mati-matian ia tahan.
"Terimakasih atas kejutan yang kamu berikan," ucapnya lirih namun penuh luka. "Mulai sekarang kita putus !" lanjut Kanaya.
Ia meraih tas kecilnya, lalu berjalan keluar dari apartemen meninggalkan Raditya yang berdiri mematung tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Beby.. Sudahlah, kan masih ada aku disini." lirih gadis bernama Luna, "Ayo.. Aku bantu bersihkan. Gadis kasar seperti itu tidak pantas buat kamu." ucapnya sembari menyapu sisa-sisa krim yang masih menempel di wajah Raditya.
"Lepas..!" ia menepis tangan Luna, "Lebih baik kamu pergi sekarang.." ucapnya, lalu ia berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Luna sendirian disana.
* *
Pintu lift tertutup perlahan, memisahkan Kanaya sepenuhnya dari apartemen itu.
Begitu hanya dirinya seorang di dalam sana, pertahanan yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh begitu saja.
Tangisnya pecah semakin keras.
Kanaya menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam suara isaknya yang terus keluar. Bahunya begetar hebat, napasnya tersengal tidak beraturan. Air mata tanpa henti membasahi pipinya.
Bayangan Raditya yang mencium wanita itu terus terulang jelas di kepalanya.
Sakit... Sangat sakit.
Dadanya seperti di remas hingga ia kesulitan bernapas.
"Kamu jahat Radit.. Jahat.." lirihnya parau di sela tangis.
Tubuhnya perlahan melemas hingga ia bersandar di dinding lift. Tangannya mencengkeram sisi tas, seolah itu satu-satunya penopang agar dirinya tidak benar-benar jatuh.
Lift terus bergerak turun.
Namun bagi Kanaya, rasanya seperti dunianya yang sedang runtuh.
Ia teringat bagaimana Raditya yang selalu bersikap manis kepadanya. Perhatian kecil pria itu, ucapan sayangnya, bahkan tatapan hangat yang selama ini membuat Kanaya percaya bahwa selama ini dicintai dengan sepenuh hati.
"Bodoh.." ucapnya pada diri sendiri sambil tertawa kecil ditengah tangisnya, "Harusnya aku tidak mudah percaya dengan semua sikap manisnya selama ini."
Air matanya jatuh semakin deras.
Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, Kanaya buru-buru keluar sambil menundukkan wajah. Ia tidak ingin siapapun melihat keadaanya saat ini.
Namun karena langkahnya yang terlalu buru-buru dan pandangannya kabur oleh air mata, tubuh Kanaya tanpa sengaja menabrak seseorang tepat di depan lobby apartemen.
Brukk!!
Tubunya hampir saja terjatuh kalau pria itu tidak sigap menahan lengannya.
"Maaf.. Maaf Pak, saya nggak sengaja.." ucapnya terbata dengan wajah masih menunduk.
Pria di depannya memperhatikan wajah Kanaya yang basah oleh air mata. Keningnya sedikit berkerut melihat gadis itu menangis sampai sesegukan seperti itu.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Kanaya segera melepaskan lengannya lalu berlari menjauh. Langkahnya tergesa, seolah ingin kabur dari semua yang terjadi hari ini.
Sementara itu, pria yang tadi tidak sengaja di tabrak Kanaya masih berdiri di depan lobby apartemen. Tatapannya mengikuti mobil gadis itu tanpa berkedip.
Entah kenapa, wajah gadis itu sangat tidak asing dimatanya.
Ia memasukkan satu tangan ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang ponsel yang sejak tadi bergetar karena ada panggilan masuk yang belum terjawab.
"Ya.. " lirihnya saat ia menggeser tombol hijau di layar.
"Dasar bocah ! Pulang ke Indonesia tidak pulang ke rumah tapi malah keluyuran tidak jelas !" seru suara pria yang sudah lanjut usia di sebrang telepon.
"Apa kamu ini sudah tidak mau melihat Opa mu ini lagi, Rafa..?!"
Rafael reflek menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya, saat mendengar kakeknya selesai bicara baru ia mendekatkan kembali ponselnya.
"Sabar Opa. aku sekarang di apartemen, dan yang dikatakan Opa kalau aku keluyuran itu sedang mengurus bisnis." ucap Rafael saat merebahkan tubuhnya di sofa apartemen miliknya.
"Opa tidak mau tahu, besok kamu harus pulang kerumah besar. Ada yang ingin Opa bicarakan sama kamu."
"Ak--..."
"Tidak ada bantahan. Besok pagi Opa tunggu kamu dirumah." kata sang kakek, saat dirinya tahu apa yang akan di ucapkan sang cucu. Lalu mematikan teleponnya.
Rafael hanya menghela napasnya kasar. Lalu kembali merebahkan kepalanya di atas sofa miliknya.
Pikirannya kembali teringat dengan gadis yang tadi menabraknya di bawah. Ia merasakan wajah yang tak asing, saat menatap sorot matanya sekilas sebelum dia kembali menunduk tadi.
"Apa mungkin itu, dia...."
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣