Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Respons Sang Polisi
Setelah Alesha selesai meluapkan segala rahasia dan rasa sakit yang membelenggunya selama bertahun‑tahun, keheningan terasa menenangkan, bukan lagi menekan.
Zehar tidak menunjukkan tanda‑tanda kemarahan atau kekecewaan seperti yang dikhawatirkan Alesha.
Sebaliknya, tatapannya tetap lembut dan penuh pengertian.
Ia mengusap lembut punggung tangan Alesha, lalu berdiri dan tersenyum tipis.
“Ayo, ikut aku. Ada tempat yang ingin aku tunjukkan. Tempat di mana aku selalu merasa tenang saat pikiran terasa kacau dan hati terasa berat,” ajaknya dengan suara yang rendah namun menenangkan.
Alesha hanya mengangguk lemah, mengikuti langkah Zehar tanpa banyak bertanya.
Ia merasa aman hanya dengan berada di dekat lelaki itu, seolah semua kekhawatiran perlahan terangkat meski belum benar‑benar hilang.
Mereka meninggalkan kafe dan melanjutkan perjalanan ke arah pinggiran kota, menuju kawasan perumahan yang lebih sepi dan dikelilingi banyak pepohonan rindang.
Setelah memarkir mobil di halaman rumah sederhana milik keluarga Zehar, mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menanjak perlahan di belakang pekarangan.
Di tengah rimbunnya pohon‑pohon besar, tampaklah sebuah bangunan kecil yang dibangun kokoh di atas dahan pohon yang kuat.
Sebuah rumah pohon yang sudah tua namun masih terawat dengan baik.
“Ini tempatku sejak kecil,” ujar Zehar sambil menunjuk ke atas.
“Setiap kali aku marah, kecewa, atau merasa dunia ini terlalu berat, aku akan naik ke sini. Di sini, aku bisa melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda, dan pikiran pun menjadi lebih jernih.”
Ia memanjat terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Alesha naik.
Begitu sampai di teras kecil yang diberi pagar pengaman, pemandangan yang terbentang di hadapan mereka langsung membuat napas terasa lebih lega.
Dari ketinggian itu, hamparan kota terlihat jelas di kejauhan, lampu‑lampu jalan dan gedung bersinar bagaikan ribuan bintang yang jatuh ke bumi, sementara suara hiruk‑pikuk kota teredam menjadi dengungan lembut yang menenangkan telinga.
Mereka duduk berdampingan di atas papan lantai yang sudah dilapisi alas anyaman agar terasa nyaman.
Angin malam bertiup lembut, menerpa wajah dan membawa aroma segar dari dedaunan di sekitarnya.
Zehar menoleh ke arah Alesha, menatap matanya dalam‑dalam, seolah ingin membaca setiap perasaan yang tersisa di sana.
“Terima kasih sudah berani menceritakan semuanya padaku, Alesha.” ucap Zehar memulai pembicaraan dengan nada yang tenang dan mantap.
“Aku tidak marah, dan aku tidak menyalahkanmu sedikit pun, Sayang. Justru sekarang aku mengerti mengapa semuanya berjalan seperti ini, mengapa pesan perpisahan itu datang tiba‑tiba, dan mengapa selama ini kamu terasa begitu jauh meski hatimu sebenarnya tetap di sini.”
Mendengar kata‑kata itu, ketegangan yang selama ini tersimpan di hati Alesha akhirnya luruh kembali.
Air matanya yang baru saja kering kembali menetes, mengalir di pipinya yang terasa dingin. Ia menunduk, bahunya terguncang perlahan.
“Aku pikir setelah kamu tahu semuanya, kamu akan merasa terbebani atau bahkan berpikir bahwa kita tidak punya jalan keluar lagi…” gumamnya lirih.
Zehar segera mengangkat tubuhnya sedikit, lalu merangkul bahu Alesha dan menariknya mendekat hingga bersandar di dadanya.
Pelukan itu terasa hangat, kuat, dan sangat menenangkan, seolah menjadi perisai yang melindungi Alesha dari segala kekhawatiran.
Zehar mencium pucuk kepala gadis itu dengan lembut, gerakan yang menyampaikan rasa sayang dan dukungan tanpa perlu banyak kata.
“Dengarkan aku baik‑baik,” bisik Zehar di telinganya.
“Aku adalah seorang pria dewasa, dan aku juga seorang polisi yang dilatih untuk menghadapi masalah, bukan lari dari masalah. Aku mengerti betapa sulitnya posisi orang tuamu saat itu. Saat harta habis, sakit melanda, dan tidak ada jalan keluar, menerima bantuan apa pun dengan syarat apa pun terasa seperti satu‑satunya cara untuk bertahan hidup. Keputusan mereka terasa salah di matamu sekarang, tapi pada masa itu, itu adalah keputusan yang mereka ambil demi menyelamatkan nyawa dan masa depan keluarga.”
Ia mengeratkan pelukannya sedikit, lalu melanjutkan dengan nada yang bijaksana.
“Aku tidak memintamu untuk membenarkan apa yang Ibu lakukan sekarang, mempercepat pertunangan sebelum waktunya jelas melanggar kesepakatan awal. Tapi cobalah untuk tidak membenci Ibu, Sayang. Di balik sikapnya yang keras dan kaku, dia hanya bertindak berdasarkan apa yang dia yakini sebagai hal terbaik untukmu dan untuk menjaga nama baik keluarga. Dia tidak paham bahwa kebahagiaanmu justru menjadi harga yang harus dibayar untuk itu.”
Alesha mendengarkan dalam diam, air matanya perlahan berhenti mengalir.
Kata‑kata Zehar membuka sudut pandang baru yang selama ini tertutup oleh rasa kecewa dan sakit hati.
Ia sadar, meski tindakan ibunya menyakitkan, niat dasarnya memang bukan untuk mencelakakan dirinya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Zehar?” tanya Alesha dengan suara yang lebih tenang, menatap wajah lelaki itu dengan penuh harap.
“Pengumuman sudah disampaikan, waktunya belum habis, dan Ibu sudah bersikeras tidak mau mengalah. Apakah kita benar‑benar terjebak?”
Zehar tersenyum percaya diri, lalu mengusap pipi Alesha untuk menghapus sisa air mata yang masih tersisa.
Ia menatap lurus ke arah hamparan lampu kota di bawah sana, seolah sedang memetakan jalan keluar yang akan mereka tempuh.
“Kita tidak terjebak, selama kita masih memegang kebenaran dan kesepakatan yang sah,” jawabnya tegas.
“Ingat, kesepakatan sepuluh tahun itu belum berakhir. Secara lisan maupun kesepakatan perjanjiannya, kewajiban itu baru akan selesai tiga tahun lagi. Mempercepat pertunangan tanpa persetujuanmu jelas bukan bagian dari kesepakatan awal. Kita tidak akan melanggar aturan, tapi kita juga tidak akan membiarkan hakmu atas kebahagiaan dirampas begitu saja.”
Ia kembali menatap mata Alesha, suaranya terdengar seperti janji yang tidak akan diingkari.
“Aku berjanji padamu, Alesha. Sebagai kekasihmu, dan sebagai orang yang memiliki tanggung jawab untuk mencari keadilan, aku akan membantu menemukan jalan keluar yang terhormat untuk semua pihak. Kita akan menghadapi keluarga Argantara, kita akan bicara dengan kepala dingin, dan kita akan tunjukkan bahwa ada cara untuk menyelesaikan ini tanpa harus mengorbankan perasaan atau melanggar janji yang sudah dibuat.”
“Kamu tidak perlu berjuang sendirian lagi mulai malam ini,” tambahnya lembut.
“Aku ada di sini, di sampingmu, melangkah bersama apa pun rintangannya. Kita akan buktikan bahwa cinta kita bukan alasan untuk merusak nama baik keluarga, tapi justru alasan untuk mencari solusi yang adil dan benar.”
"Dan jangan lupa, sejak SMA kita adalah pasangan paling kompak dan selalu mengisi segala sesuatunya dengan kebenaran, dan hubungan kita selalu bernilai positif."
Mendengar janji dan kata itu, hati Alesha terasa seolah mendapatkan kekuatan baru.
Ia memeluk pinggang Zehar erat‑erat, menyandarkan wajahnya di dada lelaki itu, mendengarkan detak jantungnya yang teratur dan menenangkan.
Rasa takut dan bimbang yang selama ini menyelimutinya perlahan tergantikan oleh rasa percaya dan keyakinan.
Di atas rumah pohon tua itu, di bawah langit malam yang bertabur bintang, mereka berdua duduk dalam keheningan yang tenang.
Pemandangan kota yang luas di bawah sana mengingatkan mereka bahwa masalah yang terasa besar itu hanyalah sebagian kecil dari perjalanan hidup yang masih panjang.
Dan selama mereka berdiri bersama, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan kepala dingin, keberanian, dan jalan yang terhormat.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏