Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 19
Keempat mobil Land Cruiser hitam itu berhenti serentak di sebuah gang gelap yang berbatasan langsung dengan dinding belakang kediaman Jenderal Hermawan.
Mesin mobil dimatikan seketika, menyisakan suara desau angin malam dan rintik gerimis yang mulai membasahi bumi.
Farrel membuka pintu mobil tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Gerakannya begitu halus, berkat stat kecepatan 23 yang membuatnya bergerak seringan kapas.
Clarissa turun di belakangnya, jantungnya bertalu-talu menahan kombinasi rasa tegang yang luar biasa dan gairah yang aneh saat melihat tatapan dingin Farrel di bawah kegelapan.
"Clarissa, tetap di belakang Tiger,"
perintah Farrel, suaranya berupa bisikan rendah yang sarat akan otoritas mutlak.
Clarissa hanya mengangguk patuh. Di bawah pengaruh tingkat kesukaan yang telah menyentuh angka 50%, ia merasa separuh jiwanya telah berserah pada pria berdarah dingin di hadapannya ini.
Farrel menatap dinding beton setinggi tiga meter di depannya yang dipasang kawat berduri dialiri arus listrik.
Bagi manusia biasa, ini adalah benteng yang mustahil ditembus tanpa peralatan khusus. Namun di mata Farrel, dengan kekuatan fisik 25, dinding ini tak lebih dari sekadar mainan anak-anak.
Wuss!
Farrel menekuk lututnya sedikit, lalu melompat tegak lurus. Tubuhnya melesat ke atas melewati kawat berduri tanpa menyentuhnya sama sekali, lalu mendarat dengan mulus di atas rumput halaman belakang tanpa menimbulkan bunyi.
【 Ting! Kemampuan Pasif: 'Mata Sang Penguasa' mendeteksi dua penembak jitu asing di atas balkon lantai dua! 】
【 Jarak: 25 meter. Senjata: Rem700. Waktu reaksi musuh sebelum menyadari kehadiran Pengguna: 1,5 detik! 】
Farrel menyeringai kejam. Sebelum kedua tentara bayaran kaukasia di atas balkon itu sempat menggeser kekerannya, Farrel sudah melesat maju di antara bayangan pohon palem.
Kecepatannya yang tiga kali lipat manusia biasa membuat bayangannya menyatu dengan kegelapan malam.
Sret!
Farrel menjejakkan kakinya di pilar teras, melompat ke balkon lantai dua, dan langsung mendarat tepat di antara kedua penembak jitu tersebut.
Pria asing berambut pirang di sebelah kiri terbelalak. Namun, sebelum ia sempat berteriak, tangan kanan Farrel yang dilapisi sarung tangan taktis hitam sudah mencengkeram rahangnya, lalu memutarnya 180 derajat hingga terdengar bunyi patahan tulang leher yang renyah.
Krak!
Bersamaan dengan tumbangnya pria pertama, penembak jitu kedua mencoba menghunus pisau taktis di dadanya. Farrel bergerak lebih cepat.
Ia merebut pisau komando titanium miliknya sendiri di pinggang, lalu melakukan gerakan menusuk horizontal yang sangat presisi ke arah bawah dagu pria tersebut hingga menembus ke langit-langit otak.
Jleb!
Pria asing itu mengejang sesaat sebelum akhirnya lemas tak bernyawa dalam pelukan Farrel. Farrel meletakkan kedua mayat itu perlahan di lantai balkon agar tidak menimbulkan suara deburan. Kemeja taktis hitamnya kini semakin pekat oleh noda darah baru.
【 Ting! Anda berhasil mengeliminasi dua tentara bayaran kelas internasional secara senyap! 】
【 Selamat! Pengguna mendapatkan tambahan Saldo Tunai Pribadi sebesar Rp 200.000.000! 】
Farrel membersihkan pisau titaniumnya di seragam mayat tersebut, lalu melirik ke bawah halaman belakang.
Ia memberikan isyarat kode lampu senter kecil ke arah luar pagar. Detik berikutnya, Tiger beserta tim elit Garuda Hitam memotong arus listrik dinding dan melompat masuk bersama Clarissa untuk mengamankan area luar.
Sementara itu, di dalam ruang kerja utamanya di lantai satu, Jenderal Hermawan sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
Di tangannya terdapat sebotol wiski yang sudah tinggal setengah. Di sekelilingnya, delapan pengawal pribadi dengan setelan jas hitam dan senjata laras pendek bersiaga penuh.
"Bagaimana situasi di luar, Frank?" tanya Hermawan pada komandan tentara bayaran asing yang berdiri di dekat pintu.
Pria bernama Frank itu memeriksa tablet militer di tangannya.
"Semua aman, Jenderal. Tim penembak jitu saya di atas balkon belum melaporkan adanya pergerakan."
"Jika bocah bernama Farrel itu berani datang, dia akan mati sebelum sempat melewati pagar depan."
Hermawan mengembuskan napas lega, lalu meneguk wiskinya langsung dari botol. "Bagus. Kepala bocah itu harus dipajang di..."
Brak!!!
Belum sempat Hermawan menyelesaikan kalimatnya, pintu kayu ek tebal ruang kerja tersebut hancur berkeping-keping akibat hantaman dari luar.
Serpihan kayu melesat seperti anak panah, menancap di dinding dan melukai wajah beberapa pengawal jas hitam.
Dari balik debu yang mengepul, sebuah langkah kaki yang santai terdengar masuk.
Farrel Aditama melangkah masuk ke dalam ruangan. Di belakangnya, Tiger dan pasukannya mengunci seluruh jalan keluar dengan moncong senapan HK416, sementara Clarissa berdiri di samping Tiger dengan mata yang berkilat puas melihat wajah pucat sang Jenderal.
"M-Farrel?!"
Hermawan memundurkan langkahnya hingga menabrak meja kerja, botol wiski di tangannya jatuh dan pecah berantakan di atas lantai.
Wajah tuanya seketika memucat, kehilangan seluruh keangkuhan seorang mantan petinggi militer.
"Bagaimana bisa... Frank! Tembak dia!!!"
Frank, sang komandan tentara bayaran, dengan refleks kilat menarik pistol Glock dari paha kanannya.
Namun, di hadapan stat kecepatan 23 milik Farrel, gerakan Frank tampak seperti sebuah rekaman gerak lambat yang menggelikan.
Wuss! Bugh!
Farrel sudah berada di depan Frank sebelum pelatuk sempat ditarik. Sebuah pukulan lurus dengan kekuatan stat 25 bersarang telak di ulu hati Frank.
Hantaman itu begitu dahsyat hingga membuat organ dalam pria besar itu hancur seketika.
Frank terlempar ke belakang, menghantam dinding beton hingga retak, lalu tumbang ke lantai dengan mulut mengeluarkan busa darah hitam. Sembari kejang-kejang, ia tewas dalam hitungan detik.
Melihat petarung terbaik internasional mereka tewas hanya dengan satu pukulan tangan kosong, delapan pengawal jas hitam Hermawan langsung menjatuhkan senjata mereka ke lantai.
Mereka berlutut massal dengan tubuh gemetar hebat, tahu bahwa melawan pria di hadapan mereka sama saja dengan bunuh diri.
Farrel tidak memedulikan para cecunguk itu. Tatapan matanya yang sedingin es kini mengunci sosok Jenderal Hermawan yang sudah terkencing-kencing di celana kain mewahnya.
Farrel melangkah mendekat, setiap ketukan sepatunya terdengar seperti lonceng kematian di telinga Hermawan.
Ia mencengkeram rambut beruban sang Jenderal, mendongakkan wajah tua itu, lalu mendekatkan wajahnya sendiri yang terpercik noda darah.
"Pak Tua," bisik Farrel, suaranya begitu tenang namun memancarkan aura kematian yang absolut.
"Gua udah bilang tadi pagi... siapkan peti mati terbaik lu. Karena malam ini, Garuda Hitam datang buat nagih semua utang darah lu di kota ini."