Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Dorin terpaku di tempat ia berdiri sebelumnya. Sosok dengan topeng yang melekat di wajah itu tentu saja ia kenali dengan sangat baik. Sosok misterius yang sangat jarang ia temui sejak kecil hingga dewasa. Namun, tetap ia ingat siapa dia.
"Ba-- bagai ... mana bisa kak Wana yang menikahi Sinta?"
"Dorin."
"Mah. Yang menikah dengan Sinta bukan Rama. Tapi, kak Rahwana."
"Rahwana? Jangan ber ... canda," ucap sang mama terkejut saat matanya melihat siapa yang telah menikah di sana.
"Rahwana? Bagaimana bisa?" Mama Dorin malah bertanya lagi pada anaknya.
"Apa yang salah?" Papa Dorin malah ikut-ikutan. Namun, pertanyaannya berbanding terbalik dari anak dan istrinya. "Rahwana juga anak keluarga Hermawan. Dia juga tuan muda keluarga tersebut. Salahnya di mana kalau dia yang menikah."
"Tapi kan-- "
"Sudah. Jangan perlihatkan wajah kaget kalian di sini. Jangan kacau acaranya. Sudah datang terlambat, malah mau bikin ulah lagi. Jangan buat kakak ku kesal," ucap papa Dorin penuh dengan penekanan.
Ibu dan anak yang terkejut hanya bisa terpaku tanpa bisa menjawab lagi. Sesaat lamanya, mereka terdiam. Hingga akhirnya, Dorin berinisiatif untuk menghubungi Rama agar bisa mengatakan apa yang sedang terjadi.
Sayang, Rama mengabaikannya. Rama tahu kalau Dorin hanya ingin membahas prihal dia yang tidak pulang ke rumah, padahal ini adalah hari pernikahan antara kedua keluarga. Rama memilih untuk mematikan ponsel, lalu fokus ke Risa yang masih terlelap di depannya.
"Astaga, Rama. Kamu benar-benar tidak ingin menjawab panggilan ku? Padahal, aku punya kabar yang sangat penting untukmu. Yang mungkin saja akan bikin kamu pulang engan terburu-buru."
"Aish, Rama-Rama. Kamu sudah kehilangan dia. Apakah saat kamu tahu nanti, kamu akan baik-baik saja?"
"Apa sih yang kamu gumam 'kan, Dorin? Ayo ke sana. Jangan perlihatkan kebingungan mu itu sekarang," ucap mamanya sambil menarik tangan Dorin.
Si anak tidak bisa berkata-kata untuk membantah. Dia hanya bisa pasrah sambil mengikuti langkah kaki mamanya.
Acara berlangsung dengan baik. Setelah ijab selesai. Resepsi besar-besaran langsung di lanjutkan. Resepsi mewah di sebuah gedung ternama. Yah, meskipun tamu undangannya hanya orang penting karena Wana masih tidak terlalu suka akan keramaian. Tapi acara berlangsung dengan sangat lancar.
Resepsi yang dilangsungkan dari sore hingga ke malam itu akhirnya usai. Meskipun tidak yakin kalau malam pertama akan terwujud, Sinta dan Rama tetap tinggal di kamar hotel yang mewah usai resepsi pernikahan mereka selesai.
Hening tanpa bisa di tolong saat keduanya ada di kamar hotel indah dengan berbagai bunga yang memenuhi kamar tersebut. Tentu saja, persiapan kedua orang tua mereka tak tanggung-tanggung. Dengan di bantu kedua sahabat Sinta, kamar hotel itu di sulap layaknya taman bunga saja sudah.
Selain bunga kertas, beberapa bunga hidup yang memberikan aroma segar juga diletakkan di kamar itu. Tak lupa, kelopak bunga mawar segar di ukir dengan bentuk hati di atas ranjang. Hal itu cukup untuk membuat keduanya terpaku sambil berdiri selama beberapa saat.
"Jadi, ini kejutan dari mereka untuk kita?" Sinta bertanya tanpa menoleh.
"Se-- sepertinya iya."
Wana berjalan mendekat ke arah ranjang. "Mereka ternyata melakukan hal yang sia-sia dengan sungguh-sungguh. Kelopak bunga ini, entah seberapa banyak bunga yang telah mereka rusak," katanya dengan nada pelan seolah, dia sedang bicara pada dirinya sendiri.
Tapi, ucapan itu bisa Sinta dengan dengan sangat jelas. Sayangnya, saat Sinta ingin menjawab, Wana malah kembali berucap. "Sinta, kamu bisa tidur di ranjang. Sedangkan aku, kamar ini punya sofa yang cukup besar. Aku bisa tidur di atas sofa nanti."
Sinta terdiam. Tatapan matanya tertuju lekat ke arah Wana. Sesaat hening, akhirnya, Sinta berucap juga. "Baiklah. Tapi ... apakah kak Wana yakin untuk tidur di atas sofa? Apa ... tidak sebaiknya, kita-- "
"Gak papa. Kita bisa tidur terpisah dulu malam ini. Aku yakin, kamu lelah setelah seharian menghadapi banyak orang."
"Iy-- iya." Pada akhirnya, Sinta hanya menjawab singkat. Jawaban yang entah kenapa terasa ada sedikit rasa kekecewaan di dalamnya.
Keduanya pun kini sibuk dengan pikiran masing-masing. Wana berpindah ke sofa, sedangkan Sinta berjalan pelan menuju meja kecil yang ada di samping ranjang.
Sinta duduk di sana. Niatnya sudah jelas untuk membongkar apa yang masih melekat di tubuh. Mulai dari perhiasan kepala, sampai pernak-pernik perhiasan yang ia kenakan saat resepsi tadi. Kecuali baju tentunya. Sudah jelas Sinta gak akan melepaskan bajunya di depan Wana.
Walaupun siap menikah dengan pria tersebut, malam pertama tentu saja tidak akan terjadi secepat kilat. Dan satu hal yang paling penting, malam pertama itu tidak akan pernah terjadi jika Wana tidak memulainya. Karena bagaimanapun, Sinta adalah wanita. Gadis yang punya sifat ego yang tinggi. Seorang Sinta tidak akan memulai hal tabu itu duluan.
Awalnya, semua berjalan santai dan tenang. Sinta mencabut satu persatu perhiasan kepala dengan pelan. Sementara itu, Wana terus memperhatikannya. Pria itu memperhatikan dalam diam.
Sebenarnya, bukan Wana yang tidak perhatian pada Sinta. Hanya saja, pria itu takut untuk menganggu. Takut jika Sinta merasa tidak nyaman dengan bantuan yang ia berikan. Jangan lupa, ini bukan Rama. Dia adalah Wana. Pria yang punya keberanian diri hanya setipis tisu yang di belah dua. Sangat-sangat tipis.
Namun sepertinya, bantuan dari Tuhan datang untuk mendekatkan mereka berdua. Tiba-tiba saja, kancing kalung yang ingin Sinta lepaskan tersangkut di baju. Wana yang melihat hal itu tidak lagi bisa menahan diri.
Pria itu bangun secara perlahan. "Ee ... boleh aku bantu lepaskan?" Wana bertanya dengan sangat hati-hati.
Sinta mendong. Mata mereka bertemu seketika. Tatapan yang sontak membuat jantung Sinta terasa tidak normal.
"E ... bo-- boleh. Tolong," ucap Sinta pelan sambil menundukkan pandangan.
Tangan Wana pun akhirnya bergerak menyentuh kalung yang ada di leher Sinta. Lagi-lagi, bantuan Tuhan untuk mendekatkan keduanya datang. Kalungnya melekat terlalu kuat. Jadi, Wana harus mendekat untuk melihatnya lebih jelas.
Saat itulah, gerakan reflek dari keduanya terjadi. Jarak mereka berdua terlalu dekat. Sangat-sangat dekat hingga hampir terjadi ciuman tanpa perencanaan.
Ah, namun sayangnya, ciuman itu tidak benar-benar terjadi. Karena sesaat setelah mereka terdiam dengan mata yang saling tatapan dengan jarak yang sangat dekat, keduanya sama-sama kompak menarik diri dengan cepat.
Semu pun langsung tercipta di antara keduanya. Sayang, untuk Wana. Semu itu tidak bisa di lihat. Karena wajahnya masih terus tersembunyi di balik topeng yang tetap melekat di wajahnya dari tadi hingga saat ini.
"Hah. It-- itu ... aku ke kamar mandi dulu," ucap Wana sambil menahan gugup di hatinya.
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️