Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Momen Bahagia Sejenak
Setelah kejadian tak terduga itu, Gua semakin yakin dengan apa yang terfikir dalam benak Gua, kalo Gua ini di berikan kesempatan kedua pasti ada maksud tertentu yang sudah lama di rencanakan sama tuhan.
Semesta emang menyimpan banyak rahasia, kejadian hari ini membuat mata Gua terbuka kembali soal keajaiban. Ini emang nggak masuk akal! tapi hal ini udah Gua mengalami hal ini sendiri. Setelah kejadian kemarin Gua kembali mengulik sebenarnya sampai bates mana sih imajinasi Gua ini?
Pagi harinya Erin, Yura beserta pasukannya menyerbu rumah Gua, tetangga pada liat kayak pada mau ngerampok rumah Gua. Untungnya Yura dengan pesona menjelaskan kesalapahaman tersebut.
"Pagi-pagi udah rusuh rumah orang aja kalian"ucap Gua sarkas menatap semua orang
Yura, Erin, Ghina, Edward, Alvin, dan Delvano hadir tapi Gua nggak liat Max hari ini kira-kira kenapa ya? males kalo mikirin orang gila itu. Tapi, syukurlah hari ini Gua nggak perlu liat tatapan aneh dari orang tersebut
"hehehe maaf lan, kami nggak bermaksud buat ngerusuh rumah elo, niatnya kami cuma bertiga doang tapi, para cowok ini malah ikutan"ucap Yura dengan senyum jahilnya yang selalu Gua liat setiap bertemu
"ih seru loh yur liat Delvano ketangkep basah diam-diam ngikuti kita"ucap Ghina menutup mulut sambil tersenyum jahil lalu melirik Delvano
"eh mana ada ya!"ucap Delvano dengan muka yang memerah malu
melihat tawa hangat serta senyuman mereka yang tulus membuat beban Gua merasa hilang. Meskipun harus membayar momen ini dengan nyawa, Gua oke. Mereka sadar dengan senyuman Gua yang kaku ini, Erin yang pertama kali sadar dengan gelagat aneh Gua, ia melangkah kemudian memeluk Gua yang membuat Gua sedikit tertegun.
"Gua tau lo ada masalah, tapi jangan di pendem sendiri lan. Nggak baik buat kesehatan lo"ucap Erin sambil menepuk pelan punggung Gua. Perlakuan kecil ini buat Gua sadar dari pikiran yang gila ini, Gua tersenyum menikmati sentuhan kasih sayang dari seorang sahabat.
"lo nggak perlu khawatir sebentar lagi semua akan berakhir"ucap Gua yang meskipun persidangan cerai antara Ayah dan Ibu belum terjadi. Tapi sebentar lagi itu akan selesai.
Yura dan yang lain nggak sadar dengan interaksi kami namun Gua ngerasa kalo ada yang mengawasi dari jauh. Meskipun ini hanya firasat tapi, Gua udah terbiasa dengan hal ini sejak SD.
Setelah itu Gua mempersilahkan mereka untuk masuk, Rumah Gua nggak besar namun juga tidak terlalu kecil, cukup lah untuk menyambut tamu dan tempat kami singgah. Alvin melihat kesana kemari seperti mencari sesuatu
"kak Kaylo dimana lan?"ucap Alvin yang matanya menelusuri sekitar rumah Gua namun, tak menemukan sedikitpun jejak kakak Gua satu itu.
"coba aja cek di halaman belakang, biasanya disitu"ucap Gua sambil menunjuk pintu menuju halaman belakang yang berada di dekat dengan dapur tak jauh dari ruang tamu.
"okeh aku kesana dulu ya ges"ucap Alvin pamit, Gua dan yang lain meresponnya dengan anggukan ada juga yang bilang "oke vin" namun, mata Gua tertuju pada Yura yang sepertinya masih belum bisa melepaskan perasaannya.
Setelah kepergian Alvin, Edward, dan Delvano, kami asik berbicara banyak hal, Meskipun ada obrolan yang diluar topik. Tapi, Gua menikmati momen ini setiap detik demi detik. Obrolan terus mengalir hingga kami tak jadi ke perpustakaan karna mereka sepakat untuk disini aja. Gua tentu nggak khawatir karna bajingan itu sudah nggak ada lagi di rumah sejak kejadian kemarin.
"tak terasa lagi yah kita mau semester 2 mana udah di ujung tanduk lagih kwkwk, oh ya lan sejak lo izin minggu ini banyak hal terjadi"ucap Yura yang seperti biasa apapun yang ia bawa pasti gosip panas.
"Kemarin anak bernama Leo itu sempat mukulin si cowok bajingan itu, rasanya puas banget sih akhirnya tahta dia di sekolah udah runtuh"ucap Ghina menimpali obrolan
"tapi Gua khawatir sama anak itu, soalnya sejak itu ia ngesok banget"ucap Yura dengan muka cemberut
"oh ya si Mella itu kabarnya nggak mau berteman ama dia, karna bokapnya itu salah satu mafia dunia bawah"ucap Ghina yang membuat Gua terkejut.
Buset Mella ini udah hoki tujuh turunan, udah kaya berkuasa lagi emang mantap dah. Tunggu... dia nggak punya teman? apa ini kesempatan Gua? Gua hafal sih sifat asli anak ini, awalnya emang keliatan introvert padahal nyatanya sama aja kayak Yura.
"dah gosipin orang aje nih, ada berita penting soal pentas seni sekolah... Yur lo bisa gitar kan? nggak mau coba ikutan?"ucap Erin meredakan suasana yang semakin memanas.Yura terdiam sejenak kemudian berkata
"Gua ikut aja deh... demi kelas kita"ucap Yura dengan senyum palsunya, apakah ini saatnya ia balas dendam?
"wuih tumben ikutan lo yur, kalo aku mah cuma bisa ikut lomba puisi doang"ucap Ghina yang meskipun Gua tau orang ini sepuh yang merendah.
"sepakat! untuk lana bagian lukis, dan untungnya lomba ini sifatnya nasional jadi data diri siswa nggak bakal di publish sembarangan"ucap Erin.
Gua mengangguk paham karna di kehidupan sebelumnya nama "QieronYc" berasal dari lomba ini. Dulu ketika Gua terpuruk semua Gua tumpahkan dalam bentuk seni yang dulu berjudul "AlterEgo" yang membuat heboh dunia sebab terlalu kontroversional.
"ah udah pasti menang mah kalo Lana ikut lomba seni"ucap Yura membusungkan dadanya bangga dengan kelebihan Gua
"kok lo yang sombong sih yur, tapi emang bener deh Gua malah kasian sama peserta lombannya nanti"ucap Ghina.
"kalian ini ya jangan terlalu memuji Gua entar hidung Gua kepanjangan"ucap Gua
"bukanya itu bohong ya kok hidung yang panjang sih"ucap Ghina kemudian kami tertawa terbahak-bahak
"eh Gua laper lan, masakin dong untuk kami, males soalnya kalo mau pergi keluar"ucap Ghina sambil tersenyum menjilati bibirnya. Mendengar masakan Gua seketika mata Mereka berbinar, termasuk Erin yang sering sekali berbagi bekal dengan Gua, sebenarnya kemampuan ini Gua dapetin dari hasil jerih payah belajar dengan Ibu sampai tangan Gua dulu banyak perban. Melihat mereka senang hati Gua ikut senang
"ngomongin apa kalian nich"ucap kak Viera yang nimbrung dari belakang
"eh nggak ada sih kak, cuma laper mau minta di masakin ama chef restoran bintang lima"ucap Ghina.
Kak Viera tertegun mendengar pujian berlebihan dari Ghina, ia adalah saksi bisu sekaligus kelinci percobaan Gua ketika Gua sedang belajar memasak. Mungkin karna lidah kak Viera yang sangat peka, membuat proses belajar Gua makin berkembang.
"ah... kalian terlalu memuji, masakan adikku ini kalah ama restoran bintang lima mah"ucap kak Viera meskipun terlihat santai namun, Gua bisa melihat jejak kekakuan dari wajahnya. Pasti lagi mengejek Gua dalam hatinya itu. ketika mata Gua tertuju pada dinding kulkas Gua terkejut melihat sesuatu yang bergerak gerak
"Kalian kenapa disini!"
Nyahoo sampai disini dulu ya makasih udah baca cerita ku sampai jumpa di bab selanjutnya see you MUACH