NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: BANGUN TIDUR

Dunia digital yang cerah dan penuh partikel cahaya itu perlahan memudar, digantikan oleh sensasi berat yang familiar. Beratnya gravitasi. Beratnya tubuh fisik. Beratnya realitas.

Raka merasakan kedipan kelopak matanya yang berat. Suara bising di telinganya berubah dari dengungan statis digital menjadi raungan alarm kebakaran yang masih bergema, meski sudah lebih pelan. Bau asap gosong dan busa pemadam api menyengat hidungnya, menggantikan aroma ozon bersih dari dunia simulasi.

Dia membuka matanya.

Langit-langit markas Delta-7 terlihat kabur, lalu perlahan fokus. Dia berbaring di lantai logam yang dingin dan basah. Di sampingnya, tubuh Kai juga mulai bergerak. Jari-jari kecil itu mengedip, lalu menggenggam erat kain seragam Raka.

"Kai?" bisik Raka, suaranya serak karena tenggorokannya kering.

Sebelum Kai bisa menjawab, sebuah bayangan besar menutupi pandangan mereka. Bimo.

Raksasa baik hati itu sudah berdiri di atas mereka sejak lama, wajahnya pucat pasi, matanya merah bengkak karena menangis. Saat melihat mata Kai terbuka, Bimo tidak berkata apa-apa. Dia langsung jatuh berlutut, lututnya menghantam lantai dengan keras, dan menarik kedua sahabatnya itu ke dalam pelukan raksasanya.

Pelukan itu begitu kuat hingga membuat tulang rusuk Raka sakit, tapi itu adalah rasa sakit yang paling melegakan di dunia. Bimo mengubur wajahnya di antara leher Raka dan Kai, tubuhnya bergetar hebat.

"Syukur... syukur..." isak Bimo, suaranya pecah. "Aku pikir... aku pikir kalian nggak bakal bangun lagi. Aku udah siap ngebangunin kalian paksa kalau perlu."

Elara muncul dari sisi lain, wajahnya lelah namun sorot matanya bersinar lega. Dia tidak ikut memeluk, tapi tangannya gemetar saat memeriksa monitor vital di pergelangan tangan Kai dan Raka.

"Detak jantung stabil. Suhu tubuh kembali normal. Aktivitas otak... kembali ke pola alpha normal," lapor Elara, suaranya bergetar menahan emosi. "Kalian... kalian berhasil."

Kai, yang terjepit di antara pelukan Bimo yang ketat dan kehadiran Raka di sampingnya, akhirnya melepaskan diri sedikit. Dia menatap wajah-wajah teman-temannya satu per satu. Wajah Bimo yang penuh air mata. Wajah Elara yang cemas. Wajah Raka yang tersenyum lelah namun hangat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kai tidak mencoba menyembunyikan emosinya. Tidak ada topeng dingin. Tidak ada analisis logis. Dinding es yang dia bangun selama bertahun-tahun untuk melindungi dirinya dari rasa sakit telah hancur lebur, digantikan oleh kehangatan yang mengalir deras dari hati teman-temannya.

Air mata Kai meledak keluar.

Dia menangis. Bukan tangisan histeris seperti saat dia terserang virus, tapi tangisan pelepasan yang dalam, tersedu-sedu, dan murni. Dia membenamkan wajahnya di dada Bimo yang bidang, lalu meraihtangan Raka, menggenggamnya erat-erat seolah itu adalah satu-satunya hal nyata di alam semesta.

"Aku..." sesak Kai di antara isakannya. "Aku pikir... aku sendirian lagi. Aku pikir... aku harus balik ke sana. Ke kotak hitam itu. Sendirian."

Raka, yang masih berbaring di lantai, mengangkat tubuhnya sedikit agar bisa menatap Kai lekat-lekat. Dia mengusap rambut Kai yang basah oleh keringat dan air mata dengan lembut.

"Tapi kamu nggak sendirian, Kai. Lihat sekelilingmu. Kita di sini. Semua di sini."

Kai mendongak, matanya yang bengkak menatap Raka. "Kenapa... kenapa kamu mau masuk? Itu berbahaya banget, Rak. Kamu bisa kehilangan ingatanmu. Kamu bisa gila."

Raka tersenyum tipis, meski dadanya masih terasa nyeri akibat benturan mental di dunia simulasi. "Karena itu janji kita, kan? Tidak ada anggota Aurora yang tertinggal. Kalau kamu tersesat di dalam kepalamu sendiri, aku akan datang menjemput. Semudah itu."

Kalimat sederhana itu menghantam dada Kai lebih keras daripada pukulan monster data mana pun. Air matanya semakin deras, tapi kali ini disertai senyum kecil yang getir namun bahagia.

Elara akhirnya ikut berjongkok, memeluk bahu Kai dan Raka dari samping, menyatukan mereka dalam lingkaran persahabatan yang utuh.

"Jangan pernah lakukan itu lagi, kalian berdua," kata Elara, suaranya tegas namun lembut. "Jantungku hampir copot lihat grafik otak kalian datar selama tiga menit."

Bimo tertawa kecil di tengah tangisnya, mengusap hidung dengan lengan bajunya yang kotor. "Iya, jangan gitu lagi. Nanti mie gorengku jadi dingin. Dan aku nggak mau makan sendirian."

Mereka tertawa. Tawa yang lelah, parau, tapi penuh kelegaan. Di tengah reruntuhan ruang server yang hangus, di antara kabel-kabel putus dan bau asap, keempat sahabat itu menemukan kembali makna dari keluarga. Bukan darah yang mengikat mereka, tapi pilihan untuk tetap bersama di saat tergelap sekalipun.

Kai perlahan duduk, dibantu oleh Raka dan Bimo. Kakinya masih gemetar, tapi dia mampu berdiri. Dia menatap tangannya sendiri, lalu menatap Raka.

"Rak," panggil Kai pelan.

"Iya?"

"Terima kasih," bisik Kai. "Untuk mengingatkan aku... bahwa aku manusia. Bahwa aku punya nama. Bahwa aku... dicintai."

Raka menepuk pundak Kai. "Selalu, Kai. Selama napas kami masih ada, kamu nggak akan pernah sendirian. Itu janji."

Klik.

Suara shutter kamera terdengar dari sudut ruangan. Kai menoleh dan melihat drone kecil milik Elara sedang merekam momen itu.

"Untuk arsip," kata Elara sambil tersenyum, meski matanya masih berkaca-kaca. "Supaya nanti kalau kalian lupa betapa pentingnya satu sama lain, kalian bisa lihat ini lagi."

Kai tidak protes. Dia justru tersenyum, membiarkan air matanya yang terakhir jatuh. Dia merasa ringan. Beban trauma Project Mind, rasa bersalah karena selamat, dan ketakutan akan kesepian abadi—semuanya terasa lebih ringan sekarang karena dia tahu dia tidak harus memikulnya sendirian.

Namun, di balik senyum lega itu, Raka merasakan denyut aneh di dadanya. Partikel emas di tubuhnya, yang tadi sempat tenang saat dia fokus menyelamatkan Kai, kini kembali berdenyut cepat. Lebih cepat dari sebelumnya. Rasanya seperti jam pasir di dalam jiwanya yang baru saja dibalik ulang, mempercepat hitungan mundur.

Raka menyadari sesuatu yang tidak dikatakan pada siapa pun: Energi yang dia gunakan untuk menembus pertahanan mental Kai dan melawan Monster Data bukanlah energi biasa. Itu adalah bagian dari esensinya sendiri. Setiap kali dia menggunakan kekuatan itu untuk melindungi orang lain, dia sedikit demi sedikit mengikis keberadaan fisiknya di dunia nyata.

Selama napas kami masih ada, ucap Raka dalam hati, menatap Kai yang kini sedang dipeluk erat oleh Bimo. Janji itu benar. Tapi pertanyaannya bukan apakah kami akan selalu ada bersama. Pertanyaannya adalah... berapa lama napasku masih tersisa?

Dia menyembunyikan rasa sakit itu di balik senyumnya. Dia tidak ingin merusak momen kebahagiaan ini. Biarkan Kai merasa aman. Biarkan Bimo merasa bangga. Biarkan Elara merasa lega.

Karena bagi Raka, melihat mereka bahagia adalah harga yang layak untuk dibayar, bahkan jika harganya adalah nyawanya sendiri.

"Oke," kata Raka, berusaha berdiri, meski kakinya goyah. "Siapa yang mau makan? Perutku keroncongan banget habis 'berenang' di lautan data."

Bimo langsung berdiri, membantu menopang tubuh Raka. "Aku! Aku masakin spesial buat kalian bertiga. Mie goreng level dewa! Dengan telur mata sapi yang kuningnya masih lumer!"

Kai tertawa, usapan air matanya. "Aku mau dua porsi."

"Dua porsi? Lo kurus banget, Kai. Makan banyak biar sehat," goda Bimo.

Mereka berjalan keluar dari Ruang Kontrol yang hancur itu, saling menopang, meninggalkan masa lalu yang kelam di belakang pintu server yang tertutup rapat. Di luar, langit Neo-Solara masih berwarna merah pudar sisa gangguan sistem, tapi bagi mereka, matahari seolah baru saja terbit.

Mereka selamat. Mereka utuh. Dan ikatan mereka lebih kuat dari baja mana pun.

Tapi di kejauhan, di langit utara yang gelap, awan badai sesungguhnya masih berkumpul. Ancaman "The Void" dan misteri di balik serangan virus memori itu belum selesai. Ini hanyalah jeda singkat. Kalma sebelum badai terbesar menghantam mereka.

Dan Raka tahu, dia harus mempersiapkan diri. Karena perlindungan terbaik yang bisa dia berikan pada Kai, Bimo, dan Elara bukanlah senjata atau perisai. Melainkan memastikan bahwa ketika saatnya tiba, mereka cukup kuat untuk terus hidup tanpanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!