NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Strategi Penaklukan Sang Calon Menantu

Sore itu, suasana di kediaman Agus dan Ayunda terasa tenang. Ayah dan Bunda Aiswa itu sedang menikmati teh hangat di teras rumah ketika sebuah mobil mewah berwarna hitam legam perlahan memasuki pekarangan mereka yang sederhana. Mobil itu terlihat sangat mencolok, seolah-olah ada bongkahan emas yang jatuh di tengah perkebunan.

"Mobil siapa ya, Mas? Kok rasanya tidak asing?" tanya Ayunda sambil menyipitkan matanya, mencoba menembus kaca film mobil yang gelap.

Agus meletakkan cangkir tehnya, mengamati logo di kap mobil tersebut dan mengangguk pelan. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari lalu saat putrinya mengalami alergi parah.

"Itu... sepertinya mobil Nak Devan, papanya Zianna. Gadis kecil yang waktu itu melamar Aiswa jadi mamanya," gumam Agus.

Begitu Devan turun dari mobil, Ayunda dan Agus langsung berdiri menyambut. Devan melangkah dengan wibawa yang luar biasa, namun ia sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.

"Maaf, Om, Tante, jika saya mengganggu waktu istirahatnya," ucap Devan dengan nada yang sangat sopan, berbeda 180 derajat dari nada diktator yang ia gunakan pada Aiswa sejam yang lalu.

"Eh, Nak Devan. Tidak mengganggu sama sekali. Ada apa ya nak?" tanya Ayunda ramah.

"Aiswa ada di dalam mobil, Tante. Dia tertidur," jelas Devan.

"Tadi saya bertemu dengannya saat dia sedang kehujanan. Ternyata badannya panas, jadi saya bawa ke rumah sakit sebentar untuk minum obat, dan sekarang dia tertidur karena efek obatnya."

"Ya ampun, Aiswa! Anak itu memang kebiasaan kalau sudah hujan-hujanan," keluh Ayunda sambil menepuk dahinya sendiri.

Agus dan Ayunda hendak berjalan menuju mobil untuk membangunkan putri mereka, namun Devan dengan sigap mencegahnya.

"Maaf Om, Tante, sebaiknya jangan dibangunkan. Kasihan, sepertinya dia sangat kecapekan. Kalau Om dan Tante mengizinkan, biar saya yang menggendong Aiswa masuk ke dalam."

Agus, sebagai seorang ayah yang merasa masih kuat, tentu saja merasa tidak enak hati.

"Duh, tidak perlu sampai merepotkan Nak Devan. Biar Om saja."

Agus baru saja hendak membungkuk untuk mengambil posisi menggendong, ketika tiba-tiba terdengar suara 'krek' dari arah pinggangnya. Agus meringis kesakitan sambil memegangi punggung bawahnya.

"Aduh, Mas! Ngapain sih sok kuat? Inget umur, Mas! Aiswa itu sudah dewasa, bukan bocah lima tahun lagi. Kalau asam urat atau saraf terjepitmu kambuh, siapa yang repot?!" omel Ayunda tanpa ampun.

Agus hanya bisa cengengesan menahan malu.

"Eh... iya ya, pinggang saya mendadak protes."

Akhirnya, dengan izin "resmi" dari sang kepala keluarga, Devan menggendong Aiswa ala bridal style. Tubuh Aiswa yang lunglai terasa begitu pas di pelukan Devan. Ia membawa Aiswa masuk ke kamarnya dengan sangat hati-hati, sementara Agus dan Ayunda mengikuti dari belakang dengan pandangan penuh selidik namun kagum.

Sebelum pulang, Devan menyerahkan sebuah tote bag berisi pakaian basah Aiswa yang tadi sempat diganti di toilet umum. Hal itu membuat Agus dan Ayunda saling pandang dengan alis terangkat.

"Om, Tante, kalau begitu saya pamit dulu. Mohon maaf atas kelancangan saya," ucap Devan sambil berpamitan.

"Terima kasih banyak ya, Nak Devan. Maaf sekali sudah merepotkan," ujar Ayunda tulus.

"Sama sekali tidak merepotkan, Tante. Aiswa tidak pernah merepotkan saya," balas Devan dengan senyum tipis yang penuh makna sebelum akhirnya melajukan mobilnya pergi.

Beberapa jam kemudian, begitu Aiswa membuka mata, ia tidak disambut oleh kicauan burung, melainkan oleh wajah "sidang" kedua orang tuanya yang sudah duduk di tepi ranjang.

"Jawab Bunda, Ais! Kamu habis ngapain sama Tuan Devan itu?!" tanya Ayunda dengan nada sinis, matanya memicing curiga.

Aiswa yang nyawanya baru terkumpul 10% hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hah? Enggak ngapa-ngapain, Bun..."

"Terus kenapa bisa kamu ganti baju, pulang-pulang pingsan, dan diantar sampai digendong sama dia?! Mana pakai baju bagus begini lagi!" seru Ayunda.

Agus hanya bisa merangkul pundak istrinya, berusaha menenangkan badai tersebut.

Aiswa menarik napas panjang, berusaha mengingat rangkaian kejadian gila hari ini.

"Ya Allah, Bunda... istighfar dulu. Jangan mikir aneh-aneh. Ais itu tadi kehujanan, terus bapaknya Zianna nolongin. Dia kasih baju ganti karena baju Ais basah kuyup. Terus karena Ais agak demam, dia bawa ke dokter. Ais ketiduran karena efek obatnya, Bunda Sayang..." jelas Aiswa sepanjang kereta api.

Ayunda mendengarkan dengan seksama. Penjelasan Aiswa persis dengan apa yang dikatakan Devan tadi. Namun, insting seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

"Bun... ayolah, percaya sama Ais. Ais nggak mungkin macem-macem," rengek Aiswa.

Ayunda menatap putrinya lekat-lekat sebelum berdiri.

"Awas saja kalau sampai kamu macem-macem atau bikin malu keluarga. Kalau ketahuan, Bunda nikahin kamu saat itu juga sama dia!" ancam Ayunda sebelum melangkah keluar kamar.

Agus menepuk pelan bahu Aiswa.

"Sabar ya, Nak. Bunda cuma khawatir," bisiknya sebelum menyusul istrinya ke dapur.

Aiswa menghempaskan tubuhnya kembali ke kasur.

"Duda sinting! Bukan cuma ngancem percintaan, sekarang dia bikin Bunda ikut-ikutan ngancem mau nikahin gue! Arghhh!" umpatnya dalam hati.

Baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang kini ia benci. Aiswa membiarkannya hingga muncul sebuah voice note.

Saat ia membukanya, suara cempreng nan ceria Zianna terdengar.

"Tante Guru, angkat dong teleponnya!"

Dengan berat hati dan perasaan terpaksa, Aiswa mengangkat panggilan itu. Namun, kalimat pertama yang keluar dari mulut Zianna membuatnya ingin segera pindah ke planet Mars saat itu juga.

"Tante Guru! Kata Papa, Tante Guru bakal jadi Mamanya Zianna! Yeayyy! Senangnya! Kalau gitu, mulai besok panggilannya bukan Tante Guru lagi ya, tapi Mama Guru!" seru Zianna dengan tawa bahagia.

Aiswa hanya bisa mematung, ponselnya nyaris terlepas dari tangan. Ia memberikan senyum paling palsu sedunia ke arah langit-langit kamar.

"Ya Tuhan... hamba mau resign jadi manusia saja kalau begini caranya."

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!