Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Mengikuti Mobil Yang Disupiri Kafeela
"Makanya, lain kali jangan sok ingin antar jemput aku. Besok aku berangkat kerja tidak mau diantar kamu," tegas Anata marah.
"Oke. Besok kamu bisa pakai motor. Tapi hati-hati." Akhirnya Kafeela setuju dengan keinginan Anata. Sebab ternyata, hari ini dia tidak menduga kalau Komandan justru memberi tugas tambahan di luar jam dinas.
Keesokan harinya, setelah sarapan pagi, Anata pergi duluan untuk bekerja.
"Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamitnya tanpa salam.
"Tunggu sebentar," tahan Kafeela.
Anata menoleh dengan mata mendelik. "Kenapa? Aku sudah hampir telat."
"Biasakan gunakan protokoler yang benar saat mau pergi dari rumah. Di sini masih ada Abang dan kamu harus pamit yang benar pada suamimu," tegur Kafeela tegas dan tetap menjaga wibawanya sebagai suami.
Anata membalikkan tubuh, lalu meraih tangan Kafeela dengan sedikit kasar.
"Ulang, tidak boleh kasar. Kalau perlu kita itu harus pelukan dulu dan cium kening," ujarnya memberi peraturan yang harus Anata patuhi.
Anata terlihat ogah-ogahan, tapi tatapan mata Kafeela membuat dia harus mengikuti arahan suami protokolernya.
Anata meraih tangan Kafeela dengan lebih lembut daripada tadi. Kemudian menciumnya.
Setelah selesai, Kafeela menahan lengan Anata, lalu ia mencium kening Anata dengan kecupan sayang.
"Selamat bekerja, Sayang. Jangan marah-marah lagi. Maafkan Abang, ya. Hati-hati, aku mencintaimu," ujarnya seraya mengusap rambut panjang hitam legam milik Anata. Tatapannya teduh dan penuh cinta.
Untuk sejenak, Anata terpaku. Ia merasa sangat dicintai. Sebab, kalimat yang diucapkan Kafeela terdengar tulus.
"Ya sudah, aku pergi, ya. Assalamualaikum," ulangnya. Suaranya kini terdengar lembut, tidak seperti tadi yang ogah-ogahan.
"Hati-hati, Sayang." Kafeela menatap kepergian Anata sampai motornya tidak kelihatan lagi.
Beberapa menit kemudian, Kafeela pun berangkat ke kantor. Kali ini dia sedikit kurang bersemangat, sebab sudah beberapa hari ini sang komandan memberinya tugas di luar kedinasan.
"Hahhh, mengawal lagi anak gadisnya. Dia bukan lagi anak SMP atau SMA lagi, sudah kuliah bahkan usianya sudah 22 tahun," dumelnya, merasa berat hati mendapat tugas lain dari sang atasan.
Walau demikian, Kafeela tetap berangkat ke kantor, profesional dalam pekerjaan.
***
"Terima kasih banyak sudah mengawal putriku kemarin, Kaf."
Di luar ruang lingkup kedinasan, sang komandan yang berpangkat Mayjend itu, tidak bicara dengan nada formal atau kaku. Karena sudah merasa dekat dengan Kafeela, sang komandan juga sudah tidak menganggap Kafeela sebagai bawahan lagi, melainkan layaknya adik.
"Siap, Dan." Kafeela tetap membalas dengan sikap yang tetap hormat dan kaku.
"Nanti, kawal dia lagi. Saya tidak mau putri saya terjerat obat-obatan terlarang. Saya tahu putri saya memang bukan konsumen barang haram itu, tapi di luaran sana, tidak tahu kalau dia ada yang menjebak," titah sang komandan lagi dengan nada perintah yang datar tapi tetap terasa tegas.
Dalam hati Kafeela mendesah, ingin rasanya ia menolak perintah yang satu ini. Tapi, ia tidak bisa menolak karena ini perintah sang komandan.
"Pastikan putriku pulang kuliah langsung ke rumah," katanya lagi.
"Siap."
***
Sekitar jam tiga sore, Anata sudah keluar dari PT. Lokomoro. Ia menjalankan motornya dengan santai menuju pulang.
Sebelum pulang, Anata mampir terlebih dahulu ke sebuah toko asinan dan rujak. Setiap datang bulan, makanan khas itu menjadi makanan wajib Anata, entah kenapa.
Anata merasa bahagia kalau sudah menyantap asinan yang segar atau rujak buah yang gahar. Kalau menurut Feby sahabatnya, Anata justru dituding mirip orang lagi ngidam ketika datang bulan.
Motor Anata kembali melaju. Namun, saat tiba di tikungan terakhir menuju rumahnya, Anata melihat Kafeela di depan sebuah toko kosmetik.
Bukan sendiri, tapi dengan seorang perempuan muda kurang lebih seumurannya.
"Dia Kak Kafee, kan?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Eh, benar, dia Kak Kafee. Mau apa dia di sana dan sama siapa?" Anata sangat penasaran, sampai ia perlu mengintainya dari balik mobil orang yang terparkir di bahu jalan.
Beberapa saat kemudian, Kafeela dan perempuan muda itu menuju mobil berwarna hijau muda. Terlihat jelas Kafeela duduk di jok pengemudi.
Dada Anata mendadak panas, rasa cemburu menjalar sampai ke hati. Ia tidak suka dengan pemandangan ini.
"Siapa perempuan modis dan memakai pakaian yang kurang bahan itu? Apakah dia anak komandan yang pernah aku baca di chat WA Kak Kafee tempo hari?" duganya sedih.
Mobil Pageto (plesetan) warna hijau itu keluar dari area parkir toko, dan kini sudah berada di jalan utama. Entah ke mana tujuannya, yang jelas Anata bertekad akan membuntutinya.
"Mau diantar ke mana perempuan itu? Apa ke hotel atau ke penginapan murah? Akhh...aku tidak sudi dikhianati begini," kesalnya sembari menyalakan mesin motor. Motornya melaju sedang, mengikuti mobil yang dikemudikan Kafeela.
Rasa sedih dan kecewa serta ingin menangis, sudah berada di ubun-ubun kepala. Anata ingin menjerit sekuat-kuatnya menyaksikan kebersamaan Kafeela bersama seorang perempuan.
Sementara di dalam mobil Pageto warna hijau muda itu, Kafeela fokus menyetir tanpa menoleh ke samping.
"Rokok, Kak?" tawar perempuan muda bernama Jeny itu sambil mengeluarkan sebatang rokok keluaran luar dari tas sampirnya.
Kafeela menggeleng, ia hanya sesekali merokok, dan itupun kalau sedang bosan.
"Kak Kafee tidak merokok, ya? Kalau pria yang tidak merokok, bibirnya itu terlihat pink dan kalau dikecup, eum...rasanya nagih," racau Jeny tanpa rasa malu.
Kafeela diam, ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah sang komandan mengantar anak gadisnya yang sedikit nakal.
Tiba-tiba Jeny mengangkat pahanya, ia duduk bersilang sehinga rok pendeknya tersingkap sampai hampir terlihat batas normal.
"Dek, bisa tidak duduknya yang sopan. Ini di mobil yang sedang melaju, lho," peringat Kafeela lembut tapi tegas.
Jeny tidak menggubris, ia malah sengaja menyandarkan bahunya ke bahu Kafeela, sambil meniup-tiup asap rokok sampai masuk ke dalam hidung Kafeela.
Kafeela terkejut, sampai ia tidak fokus nyetir. Kafeela berusaha menyingkirkan tubuh Jeny ke posisi semula.
"Dek, tolong jangan begini. Abang sedang melaksanakan tugas dari seorang komandan." Kafeela kembali menegur dengan membawa nama komandan.
"Komandannya Papa aku, aku tidak takut," balas Jeny melawan.
"Kalau mobil ini sampai kecelakaan, kamu masih tidak takut? Kalau Abang takut, karena tanggung jawab Abang ada dua, di sini dan di rumah," tukas Kafeela geram tapi masih ditahan.
"Jangan takut, kita senang-senang tipis dulu di jalan ini mumpung belum sampai rumah," goda Jeny lalu dengan cepat mengecup pipi Kafeela.
Kafeela tersentak sampai ia ngerem mendadak.
Wajah Kafeela memerah, ia kesal karena Jeny seakan tidak menghargai profesinya sebagai ajudan komandan, terlepas Jeny anaknya komandan.
"Dek, bisa tidak bersikap lebih anggun dan cantik? Kalau sikap Adek seperti ini, saya tidak segan melaporkan Adek pada Papa Adek," ancam Kafeela kesal.
Sementara beberapa meter di belakang mobil Pageto warna hijau muda itu, motor Anata ikut berhenti. Ia mengamati gerakan mobil itu yang bergoyang mencurigakan.
"Sedang apa mereka di dalam?" tanyanya curiga.
Tidak lama kemudian mobil itu kembali melaju, Kafeela benar-benar marah dan kecewa.
"Besok Pengawal Dek Jeny bukan saya. Saya hanya pengawal Papa Anda," tegasnya.
Jeny merengut dan takut, kalau pengawalnya harus diganti.
Jangan lupa follow profil saya ya.
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu