Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Dari dulu kau selalu menyuruhku untuk menunggu! Mana hasilnya? Sudah bertahun-tahun aku menunggu!" Bentak Alfian dengan suara yang keras.
"Kalau cara ayah tidak ada yang berhasil, maka aku sendiri yang akan membawa Bunda." Ucapnya pelan.
Kali ini Alfian terlihat sangat serius. Dia kalau sudah berkata seperti itu pasti dia sudah mulai menyusun rencananya.
"Semoga kamu berhasil." Ucap Lucas sambil tersenyum bangga.
Sebenarnya dalam hati dia sangat was-was. Apalagi dia sudah berjanji akan menjaga Alfian dengan sangat baik. Namun, ia juga tidak bisa menghentikan anak itu ketika sudah seperti ini. Yang bisa dia lakukan yaitu mengawasi dan membantu Alfian kalau dia dalam situasi darurat.
"Aku mau keluar dulu. Pikiran aku tiba-tiba jadi kacau. Aku ingin cari tempat untuk melampiaskan ini." Ucap Alfian Lalu pergi meninggalkan ruang makan.
Lucas tak melarangnya, karena ia sudah tahu ke mana Alfian pergi. Hal ini bukan terjadi hari ini saja, melainkan sering terjadi.
"Anak itu tak pernah berubah... Sayang, Lihat! Walaupun sedang kacau, dia punya tempat yang nyaman untuk pulang."
........................
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan dari jendela balkon membuatnya membuka mata. Padahal dia sudah bersiap untuk tidur siang.
"Ini pasti Alfian! Ganggu banget!" Umpat Kayla.
Dia kembali menutup matanya. Kayla sudah bisa menebak siapa yang ada di balkon kamarnya itu. Tapi dia lebih memilih untuk kembali tidur.
Tok! Tok! Tok!
Alfian tidak menyerah, dia kembali mengetuk Jendela. Kali ini ketukannya sangat keras. Kayla pun memutuskan untuk membukanya.
Cleck!
Kayla membuka jendela yang besar itu secara pelan-pelan.
Hap!
Saat jendela terbuka, Alfian langsung memeluknya dengan erat. Tubuhnya bergetar hebat, seperti seseorang yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Mau Bobo?" Tanya Kayla kepada Alfian.
Alfian hanya mengangguk pelan. Namun ia sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya.
"Lepasin dulu dong! Gimana mau masuk coba?" Protes Kayla sambil berusaha melepaskan tangan Alfian.
Perlahan Alfian melepaskan pelukannya. Kayla berjalan lebih dulu ke tempat tidur.
Setelah Kayla sudah berada di tempat tidur, dia merentangkan kakinya lurus ke depan. Ia menyiapkan tempat yang nyaman untuk Alfian istirahat.
Kayla menepuk-nepuk kakinya, seolah mengatakan"Ayo bobo disini".
Alfian mengangguk pelan, kemudian ia naik ke tempat tidur dan membaringkan kepalanya di paha Kayla.
"Trimakasih." Ucapnya pelan,
Setelah mengucapkan terimakasih Alfian pun tertidur nyenyak di paha Kayla. Seolah masalah yang tadi hilang sekejap. Ia terlihat sangat nyaman tidur dengan posisi seperti ini.
"Kenapa kau semakin mirip dengannya?" Ucap Kayla sambil memperhatikan wajah Alfian.
Melihat kondisi Alfian yang terlihat sangat sedih membuatnya ikut sedih. Dia ingin bertanya, kenapa Alfian seperti itu? Apa sebabnya?
Namun, semua pertanyaan itu terkunci di tenggorokan. Ia tak ingin bertanya apapun.
Bagi beberapa orang, bertanya saat ada masalah adalah hal yang wajar. Tapi dia bukan tipe yang sering membagi masalahnya. Kayla cukup jadi tempat ia menenangkan diri.
Pada saat seperti ini Alfian akan seperti orang bisu. Jadi percuma saja bertanya. Dan yang paling dia butuhkan adalah istirahat.
"Kamu tahu... Setiap kali melihatmu bobo di pahaku, ingin rasanya aku mengecup wajah ini." Ucap Kayla sambil tersenyum.
Ini benar-benar ujian besar untuknya. Dimana ada pria tampan yang terbaring dengan nyenyak di pahanya. Tapi ia sama sekali tidak boleh menyentuhnya.
Sebenarnya tidak ada larangan. Tapi Kayla berusaha menahan dirinya. Dia tidak ingin jadi wanita yang gampang tergoda.
"Pergi kalian! Jangan merusak otakku yang bersih ini!" Ujar Kayla pada pikiran-pikiran kotor yang sering muncul.
Kayla mengibas sesuatu di udara. Seolah sedang mengusir mahluk nyata.
Kayla mengambil earphone yang telah disiapkannya tadi. Ia mengambil earphone itu lalu memakainya. Setelahnya ia tertidur dengan posisi seperti itu.
Kalau dilihat-lihat mereka seperti pasutri baru. Terlihat sangat romantis. Tidur mereka juga terlihat sangat nyaman dan damai.
................
"Kayla! Kayla!" Teriak Agnes dari luar kamar.
Begitu mendengar suara itu, Kayla spontan menarik selimut tebal yang berada di bawah kakinya. Dengan cepat ia menutupi seluruh tubuh Alfian agar tidak terlihat.
Nafasnya naik turun karena panik, wajahnya terlihat pucat. Namun Kayla berusaha mengontrol sikapnya agar tidak di curigai oleh Agnes.
Sementara itu, Alfian masih terbaring di tempat yang sama. Ia segera mengatur posisinya sejajar dengan pinggang Kayla. Ia melakukan hal itu untuk mengelabui Agnes, Karena kalau dilihat dari luar ia tampak seperti guling biasa.
Klik!
Setelah pintu terbuka, Agnes berdiri di ambang pintu seraya tersenyum hangat. Ia tampak seperti orang tua yang penuh kehangatan. Senyumnya pun terlihat tulus. Entah itu memang tulus dari hati, atau cuma paksaan? Tidak ada yang tahu jawabannya.
Agnes yang tidak pernah sekalipun menanyakan Kayla sudah makan atau belum, kini mengajaknya makan bersama. Sungguh, ini kejadian yang langka dan baru pertama kali terjadi.
"Ayo makan bersama!" Ajaknya dengan suara yang lembut.
Rasanya aneh saat mendengar Agnes yang terbiasa marah-marah kini bersikap lembut.
Ohh... Apakah dunia sedang baik-baik saja? Mengapa dia jadi aneh seperti ini? Aku yang sudah terbiasa dengan sikapnya yang dulu malah merasa sangat aneh.
"Oke." Jawabnya singkat.
Kayla membalas senyum Agnes dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Tidak mungkin juga dia menampilkan wajah datar sementara Agnes tersenyum ramah padanya.
Agnes menatap sesuatu yang aneh di balik selimut tebal. Ia berjalan mendekat untuk memastikan ada apa di dalam selimut.
"Ini hanya guling." Jawab Kayla sambil memeluk Alfian.
"Oke," jawabnya singkat.
Ayo pergi! Kenapa masih disini? Lama-lama bisa ketahuan!
Kayla berharap agar Agnes segera pergi. Namun, Agnes malah belum beranjak dari sana. Wanita itu terdiam sambil memperhatikan sesuatu di balik selimut.
Memang dari luar tampak seperti guling biasa.Namun, jika lebih diperhatikan lagi, Ia terlihat aneh dan bukan seperti guling.
"Ini apa?" Tanya Agnes sambil menunjuk ke arah selimut.
Gawaaattt! Pliss... Jangan ketahuan...
Nafas Kayla naik turun, wajahnya mengkerut, jantungnya berdebar-debar. Kali ini ia tidak bisa mengontrol ekspresinya.
Apalagi tangan Agnes yang semakin lama semakin mendekat ke arah selimut. Membuat Kayla semakin gugup, ia merasa seperti sedang bermain Roller Coaster.
"Ibu sudah mengajak Claudy?" Segera Kayla memberikan pertanyaan untuk mengalihkan Agnes.
Agnes menepuk jidatnya pelan, "Ibu lupa ngajak dia! Sudah, Bersiaplah! Lalu turun ke bawah."
Huh! Aneh banget! Masa anak emas dilupakan?
Setelah kepergian Agnes Kayla merasa lega. Batu yang menghimpit paru-parunya kini sudah terangkat. Ia sudah bisa menghirup oksigen dengan nyaman.
Tidak seperti Kayla yang terlihat panik, Alfian justru merasa senang kalau nanti dirinya benar-benar ketahuan.
Kalau ketahuan kan dia bisa langsung memperkenalkan diri sebagai calon suami Kayla. Bahkan dia sempat bingung mencari kata-kata yang bagus untuk memulai perkenalan.
"Maaf ya... Aku lupa kunci pintunya." Ucap Kayla merasa bersalah.
"Nggak masalah juga kalo ketahuan." Ucapnya sambil tersenyum jahil.
Alfian tak mau beranjak dari posisi tadi. Ia sangat menikmati pemandangan indah di balik selimut.
Alfian mengangkat kepalanya, ia melihat pinggang ramping itu dengan tatapan liar. Walaupun tertutup baju, lekuk tubuhnya terlihat sangat menggoda.
Tanpa pikir panjang Alfian langsung membuka sedikit baju Kayla, dengan gerakan cepat ia langsung menjilati perut Kayla.
Serangan tiba-tiba itu membuat tubuh Kayla menegang. Ia merasakan nikmat sekaligus geli. Hampir saja Kayla hilang akal.
Ini tidak benar! Kayla, jangan bodoh!
Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, Kayla langsung mendorong kepala Alfian. Namun, dengan posisi sekarang ia tidak bisa memaksimalkan kekuatan. Apalagi Posisi Alfian sekarang sudah bangun dan sejajar dengan perutnya.
Alfian menghimpit tangan Kayla dengan tangannya yang kekar dan besar. Dia kembali mendekatkan mulutnya dengan perut Kayla. Lidahnya yang basah itu menari-nari di atas perutnya Kayla.
"AAAAAA!!"