NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Langit malam dan orang tersayang

Tiba di rumah, Anindia dan Keanu duduk bersandar di sofa setelah membersihkan diri. Tubuh mereka sama-sama terasa lebih ringan, seolah lelah hari ini ikut larut bersama air yang mengalir tadi.

Di antara keduanya, Shaka duduk manis. Tubuh kecilnya bersandar santai, kakinya lurus ke depan dengan posisi sedikit terbuka. Tangannya sesekali bergerak, memainkan sesuatu yang tidak jelas.

Anindia menyandarkan punggungnya, menghela nafas pelan. "Capek juga ya, Mas," gumamnya pelan.

Keanu di sampingnya hanya tersenyum tipis. Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala Shaka yang duduk di tengah mereka. "Lumayan sayang." Jawabnya santai.

Shaka mengoceh kecil, seolah ingin ikut bergabung dalam percakapan meski tidak ada yang benar-benar ia mengerti.

Anindia terkekeh pelan melihat Shaka. Tangannya ikut terulur, merapikan rambut tipis Shaka yang sedikit berantakan. "Anak bunda juga capek ya, hmm?" Ujarnya lembut.

Shaka hanya membalas dengan tawa kecil, lalu kembali memainkan jemarinya sendiri. Keanu melirik sekilas ke arah Anindia, lalu beralih ke Shaka. Sudut bibirnya terangkat samar. Tidak ada percakapan besar, tapi justru di situ letak nyamannya.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan yang hangat. Hanya ada suara kecil dari ocehan Shaka dan hembusan nafas yang lebih teratur. Hari ini mungkin melelahkan, tapi di titik ini semuanya terasa terbayar.

Keanu menggeser sedikit posisinya, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Matanya menatap langit-langit kamar, kosong sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Malam mingguan enaknya kemana, ya?" Gumam Keanu.

Nada suaranya ringan, lebih seperti berpikir keras dengan suara yang sengaja dikeluarkan. Tangannya tetap berada di sekitar Shaka, sesekali menepuk pelan kaki kecil itu tanpa sadar.

Anindia menoleh sekilas ke arah Keanu, alisnya sedikit terangkat. Ia tidak langsung menjawab, hanya memperhatikan ekspresi Keanu yang terlihat santai, seperti benar-benar mempertimbangkan pilihan.

Keanu kembali menoleh ke arah Anindia. "Keluar bentar, atau di rumah aja?" Tanyanya.

Anindia tersenyum kecil mendengar itu. Ia memiringkan kepalanya sedikit, lalu menatap Keanu dengan tatapan yang lebih lembut.

"Di rumah aja, Mas," jawab Anindia pelan. "Bareng keluarga."

Nada suaranya lembut, ada kehangatan yang terasa jelas di sana. Lalu, ia menggeser sedikit tubuhnya, mendekat tanpa sadar. Tangannya kembali bergerak, merapikan baju Shaka yang sedikit terlipat.

Keanu menatap Anindia beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "Ide bagus," ujarnya.

Anindia tersenyum lagi, kali ini lebih hangat. Ia kembali menoleh ke arah Keanu, matanya berbinar seolah baru saja menemukan ide yang pas.

"Kita bisa bakar-bakar di rooftop, Mas," ujar Anindia.

Anindia memberi jeda sebentar, lalu menambahkan. "Bareng Mama sama Papa."

Tangan Anindia kini mengusap punggung Shaka pelan, penuh kasih sayang. Sementara Keanu sedikit mengangkat alis, menatap Anindia dengan fokus. "Bakar-bakar?" Ulangnya, ada nada ketertarikan di dalamnya.

Anindia mengangguk kecil, "Iya Mas, nyantai gitu. Ngobrol, makan bareng, pasti seru."

Shaka mengoceh lagi, kakinya bergerak kecil. Keanu terkekeh melihatnya, lalu mengangguk setuju. "Boleh juga." Ujarnya. "Sekalian quality time lagi."

Anindia langsung mengangguk cepat, senyumnya melebar. "Nah, itu dia, Mas." Jawabnya. "Mama sama Papa pasti juga capek... Sesekali ngumpul bareng keluarga kan enak." Lanjutnya pelan.

Pandangan Anindia kembali turun ke arah Shaka. Tangannya mengusap kaki Shaka yang masih bergerak-gerak. "Iya kan, sayang?" Ujarnya lembut, seolah mengajak si kecil ikut menyetujui.

Shaka kembali tertawa, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya sembari menendang kecil. Wajahnya cerah tanpa alasan yang jelas.

Keanu kembali tersenyum, matanya berpindah dari Shaka ke Anindia. Ada sesuatu yang sederhana, namun terasa penuh di momen itu.

"Ya udah," ujar Keanu pada akhirnya. "Kita bikin malam ini jadi milik keluarga."

"Makasih, Mas," ujar Anindia pelan, nadanya terdengar lebih ringan. Ada rasa senang yang tidak bisa disembunyikan, bercampur dengan nada manja.

Tangan Anindia menyentuh lengan Keanu sekilas, seolah itu cara kecilnya ia menunjukkan rasa bahagia.

Keanu melirik ke arah Anindia, tatapannya melembut. Ia menikmati reaksi sederhana itu lebih dari yang ia tunjukkan.

"Hmm..." Suara itu keluar begitu saja. Tangannya kembali terulur, kali ini bukan ke Shaka, melainkan menepuk pelan kepala Anindia sekilas. "Seneng banget ya?" Godanya.

Anindia mengangguk pelan, senyumnya masih ada. "Iya," ujarnya singkat.

Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah sedikit. Ia menghela nafas kecil, bahunya sedikit turun seperti melepas beban yang sejak tadi ia tahan.

"Tugas juga lagi banyak banget, Mas," keluh Anindia pelan. "Rasanya capek aja gitu."

"Tapi, kalau bisa kumpul bareng keluarga kayak gini," lanjut Anindia suaranya kembali melembut. "Rasanya kayak di recharge."

Anindia menoleh ke arah Keanu, lalu melirik sekilas ke arah Shaka yang asyik sendiri. "Jadi semangat lagi," tambahnya dengan senyum tipis.

Keanu mengangguk pelan, tatapannya tetap tertuju pada Anindia. Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi jelas penuh pengertian.

"Iya, paham..." Ujar Keanu tenang. "Kamu lagi banyak pikiran."

Keanu menggeser sedikit posisinya, lalu merentangkan satu tangannya di atas sofa, menepuk pelan pundak istrinya. "Makanya jangan di pendam sendiri. Jangan terlalu maksa," ujarnya. "Kalau capek, ya istirahat. Kalau butuh teman cerita, ada aku."

Keanu menatap Anindia lebih lama, senyumnya kembali terukir. "Dan kalau butuh recharge," tambahnya. "Kita bikin versi kita sendiri."

"Iya Mas," Anindia mengangguk pelan, lalu ia menyandarkan kepalanya di pundak Keanu.

Keanu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan, sedikit menyesuaikan posisi agar Anindia lebih nyaman. Di antara mereka, Shaka masih duduk tenang, seolah melengkapi momen sederhana itu. Tidak ada perbincangan lagi, hanya keheningan yang terasa cukup.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Malam datang perlahan, menggantikan hangatnya sore dengan udara yang lebih sejuk. Rooftop rumah keluarga Bramantyo, sudah berubah menjadi tempat yang hidup.

Lampu-lampu gantung menyala lembut, memantulkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa nyaman. Langit malam terbentang luas di atas mereka, seolah siap menjadi saksi kebersamaan yang akan terjadi malam ini.

Di satu sisi, alat pemanggang sudah siap. Bara api kecil menyala stabil, sesekali mengeluarkan suara percikan halus. Aroma bumbu mulai tercium samar, bercampur dengan angin malam yang berhembus pelan.

Bi Yeyen dan Mbak Tika tampak sibuk menyiapkan semuanya. Mbak Tika sibuk menyiapkan bahan-bahan di meja panjang, sementara Bi Yeyen memastikan proses bakar-bakaran berjalan lancar.

Beberapa kursi dan meja juga sudah tertata rapi, terlihat santai. Tempat yang pas untuk sekedar duduk, makan dan berbagi cerita.

Shaka sudah nyaman dalam pangkuan Oma-nya, sementara ayah Keanu duduk di samping sesekali mengajak sang cucu bermain dengan jari-jarinya. Tawa anak itu pecah ringan, membuat suasana semakin hangat.

Anindia tersenyum melihatnya. Lalu, ia cepat-cepat mendekat ketika melihat kedua mertuanya hendak berdiri.

"Eh, Ma, Pa... Udah, duduk aja," ujar Anindia lembut tapi tegas.

Keanu yang berada tak jauh dari sana langsung menimpali. "Iya Ma, Pa, gak usah ikut repot. Biar yang muda aja yang gerak."

Ayah Keanu sedikit mengernyit, merasa heran. "Lho. Papa masih kuat, Nak." Ujarnya.

Keanu langsung menggeleng kecil, sedikit terkekeh. "Tau, kali ini gantian, Pa. Kami yang handle."

Anindia ikut mengangguk cepat. "Iya Ma, Pa. Duduk santai aja, nemenin Shaka."

Ibu Keanu akhirnya tersenyum, menatap keduanya dengan tatapan hangat. Sementara Shaka sibuk dengan dunianya sendiri, matanya mengamati pergerakan di sekitar.

Keanu dan Anindia saling melirik sekilas, lalu langsung bergerak ke arah alat pemanggang tanpa kata. Yang tua duduk menikmati, sementara yang muda sibuk bergerak.

Tak lama, Bi Yeyen menghampiri keduanya. Tangannya membawa nampan berisi beberapa bahan yang sudah tertata rapi.

"Non, ini bahan barbeque nya udah siap semua," ujar Bi Yeyen ramah. "Biar Bibi aja yang kerjain, ya?"

Anindia yang sedang menggulung lengan bajunya langsung menoleh, lalu tersenyum. Ia menggeleng pelan. "Gak apa-apa, Bi. Nindi sama Mas Keanu aja."

Keanu yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk santai, seolah mengiyakan tanpa perlu banyak kata.

"Bibi bantu Mbak Tika aja, ya. Siapin minuman atau yang lain," lanjut Anindia.

Bi Yeyen sempat ragu sejenak, lalu mengangguk mengerti. "Baik, non."

Bi Yeyen pun berbalik, berbalik ke arah Mbak Tika yang sudah mulai menata gelas dan minuman.

Anindia dan Keanu akhirnya mulai sibuk di depan alat panggang, siap mengambil alih malam sederhana itu dengan cara mereka sendiri.

Di atas meja panjang, berbagai bahan sudah tersusun rapi. Mulai dari sosis, jagung manis yang sudah dipotong, daging yang sudah dibumbui, hingga beberapa tusuk sate. Saus dan olesan juga sudah siap, menambah aroma yang mulai menggoda sejak awal.

Anindia mulai mengambil satu per satu bahan. Ia meletakkan sosis dan jagung di atas pemanggang, suara kecil langsung terdengar saat permukaannya bersentuhan dengan panas.

Keanu juga ikut serta, ia membalik beberapa potong daging yang mulai berubah warna.

Aroma bakaran perlahan mulai menyebar, bercampur dengan sejuknya angin malam.

Tanpa banyak bicara, keduanya mulai bekerja sama. Sesekali tangan mereka bersenggolan ringan saat mengambil bahan yang sama, yang hanya dibalas dengan senyum kecil. Respon sederhana, tapi terasa menyenangkan.

"Ah, Mario. Akhirnya kau datang juga."

Di tengah-tengah bakar-bakar itu, suara ayah Keanu tiba-tiba terdengar dari arah kursi. Anindia dan Keanu refleks menoleh bersamaan.

Dari arah tangga rooftop, terlihat dua sosok yang begitu familiar. Langkah mereka tenang, disambut dengan senyum dari kedua orang tua Keanu.

"Mama, Papa?" Gumam Anindia pelan, nyaris tak percaya.

Keanu ikut memperhatikan, alisnya terangkat tipis. Ternyata, kedua orang tua Anindia juga hadir malam itu. Dan dari cara ayah Keanu menyambut, sudah jelas bahwa mereka memang diundang.

Senyum Anindia langsung melebar, ada rasa hangat yang datang begitu saja. Kedua orang tua Anindia dan Keanu saling mendekat. Mereka bersalaman hangat, disertai sapaan akrab yang langsung mencairkan suasana.

Setelahnya, keduanya melangkah menghampiri Anindia dan Keanu. Anindia langsung meletakkan penjepit yang ia pegang. Ia melangkah lebih dulu, lalu mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.

"Ma, Pa," ujar Anindia pelan, masih dengan senyum.

Keanu menyusul di sampingnya. Ia melakukan hal yang sama, mencium tangan kedua mertuanya dengan sikap hormat.

Di bawah langit malam itu bukan hanya satu keluarga yang berkumpul. Tapi dua keluarga yang kini terasa menjadi satu.

Ibu Anindia melirik ke arah meja dan alat panggang, lalu kembali menatap putrinya dengan senyum hangat. "Mama bisa bantu apa?" Tanyanya hangat.

Anindia langsung terkekeh kecil, diselingi dengan gelengan singkat. "Gak usah, Ma." Jawabnya ringan. "Mama duduk manis aja sama Mama Manda."

Anindia melirik ke arah ibu Keanu yang masih duduk menemani Shaka, lalu kembali tersenyum pada ibunya. "Sekali-kali yang muda yang ribet," ujarnya santai.

Ibu Anindia tersenyum, sementara ibu Keanu ikut tertawa kecil mendengar itu.

Keanu ikut menoleh ke arah ibu mertuanya, ekspresinya tenang tapi jelas ada perhatian di sana.

"Sekarang gimana, Ma? Udah enakan?" Tanya Keanu sopan.

Ibu Anindia tersenyum, mengangguk pelan. "Alhamdulillah, udah jauh mendingan, Nak."

Keanu mengangguk kecil, terlihat lega. "Kemarin Keanu sempat kaget juga dengarnya," ujarnya. "Soalnya tiba-tiba banget, Ma."

"Cuma kecapekan aja, kebanyakan pesanan," ujar ibu Anindia mencoba meyakinkan. "Sekarang pekerjaan Mama dikurangi sama Papa kamu."

"Iya Ma, jangan terlalu dipaksain," jawab Keanu dengan seutas senyum.

Ayah Anindia tersenyum, lalu ikut menimpali. "Iya, sekarang sudah Papa batasi." Ujarnya. "Kalau dulu seharian di ruang jahit, sekarang Papa paksa istirahat."

Ibu Anindia hanya tersenyum menanggapinya, membuat Anindia ikut tersenyum tipis. Sementara Keanu hanya mengangguk pelan, menyetujui tanpa banyak berkomentar.

Anindia dengan cekatan membalik sosis dan jagung, lalu kembali menoleh ke kedua orang tuanya. "Mama sama Papa duduk santai aja," ujarnya ringan. "Tunggu hidangannya siap."

Kedua orang tua Anindia saling melirik sekilas, lalu mengangguk kecil. Tanpa kata, mereka berbalik mengikuti permintaan putrinya.

Keduanya melangkah santai ke arah tempat duduk, lalu bergabung bersama kedua orang tua Keanu juga Shaka di sana. Shaka langsung menjadi pusat perhatian kakek neneknya, dengan gerakan lembut, ia langsung berpindah tempat ke pangkuan ibu Anindia.

Sesekali, obrolan mereka dan tawa kecil Shaka terdengar, menambah kebersamaan malam itu.

Aroma bakaran semakin kuat. Sosis mulai matang sempurna, jagung menguning dengan olesan mentega yang meleleh perlahan.

Keanu melirik ke arah Anindia yang masih fokus membalik jagung. Ekspresinya serius, terlalu serius untuk sesuatu sesantai ini.

Sudut bibir Keanu terangkat tipis. Tanpa suara, ia mengambil sedikit kecap di ujung jari telunjuknya. Perlahan, ia mendekat. Dan, ujung hidung Anindia langsung terkena olesan kecap.

Anindia terdiam sepersekian detik, belum sadar sepenuhnya. Lalu, ia mengernyit sedikit, tangannya refleks menyentuh hidungnya sendiri.

Begitu melihat ujung jarinya yang menghitam, matanya langsung membesar. Ia langsung menoleh ke arah Keanu. Sementara suaminya itu justru tertawa puas melihatnya.

"Mas Kean!"

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!