Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3: "USAHANYA RATNA"
****
Sinaran matahari minggu pagi menerangi taman belakang rumah Ratna dan Rio. Ratna sedang sibuk memasak hidangan kesukaan Rio dan Raisa – gulai kambing dan sambal matah yang pedasnya pas. Dia sudah merencanakan segala sesuatu dengan cermat. Hari ini, dia akan mengundang Raisa dan ibu mereka untuk makan siang bersama, dan dia berharap bisa membuat suasana menjadi lebih akrab antara Rio dan adik perempuannya.
“Sabar saja, ya, sayang,” ucap Ratna dengan senyuman lembut saat melihat Rio sedang membaca koran di teras. “Hidangan kesukaanmu akan segera siap.”
Rio mengangguk tanpa mengangkat matanya dari koran. Dia masih merasa tidak nyaman dengan rencana istri nya, tetapi dia tidak punya keberanian untuk membantahnya secara langsung. Dia tahu bahwa Ratna sedang dalam tekanan yang luar biasa dari keluarga nya, dan dia tidak ingin membuatnya semakin terluka.
Ketika Raisa dan Sri Wahyuni tiba, suasana awalnya terasa hangat dan penuh keceriaan. Sri Wahyuni bercerita tentang kegiatan warung makan nya yang semakin ramai, sementara Raisa berbagi cerita tentang pekerjaannya di kantor. Namun seiring berjalannya waktu, suasana mulai berubah menjadi sedikit canggung ketika Ratna mulai mencari cara untuk membuat Rio dan Raisa berinteraksi lebih banyak.
“Rio, kamu tahu kan kalau Raisa juga suka bermain tenis?” ucap Ratna dengan nada yang sengaja dibuat riang. “Kalian bisa main bersama di klub olahraga dekat sini. Pasti seru.”
Rio hanya mengangguk perlahan. “Mungkin lain kali saja. Saya sedang cukup sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini.”
Namun Ratna tidak menyerah. “Besok ada turnamen tenis kecil di sana lho. Kalian bisa ikut sebagai pasangan ganda. Pasti menyenangkan dan bisa menghilangkan stres kerja kamu.”
Raisa merasa sangat tidak nyaman dengan usulan itu. Dia melihat ke arah Rio, yang wajahnya menunjukkan bahwa dia juga tidak senang dengan ide ini. Namun sebelum mereka bisa menolak, Sri Wahyuni malah menyetujuinya dengan antusias.
“Itu ide yang bagus sekali, Nak,” ucapnya dengan senyuman lebar. “Raisa memang jarang berolahraga akhir-akhir ini. Bermanfaat juga buat kesehatan.”
Dengan demikian, mereka tidak punya pilihan lain selain menyetujui.
Hari berikutnya, Raisa dan Rio datang ke klub olahraga dengan hati yang berat. Raisa mengenakan baju olahraga yang simpel, sementara Rio tampak rapi dalam kaos polo dan celana tenis putih. Jessica juga ada di sana – ternyata dia juga anggota klub tersebut dan sedang berlatih dengan seorang teman.
Saat mereka mulai bermain, awalnya sangat canggung. Mereka jarang berbicara dan sering kali salah paham dalam permainan. Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai menemukan irama dan kemampuan untuk bekerja sama. Raisa terkejut melihat bahwa Rio ternyata sangat terampil dalam bermain tenis, sementara Rio kagum dengan kecepatan dan kelincahan Raisa di atas lapangan.
Di pinggir lapangan, Ratna dan Jessica sedang menyaksikan permainan mereka dengan perasaan yang berbeda. Ratna merasa senang melihat bahwa rencananya mulai bekerja, sementara Jessica merasa cemburu melihat kedekatan antara Rio dan adik iparnya.
Setelah permainan selesai, mereka duduk di area istirahat untuk minum jus buah. Suasana sudah menjadi lebih hangat dan akrab. Rio bahkan mulai bercerita tentang masa mudanya ketika dia pertama kali belajar bermain tenis, membuat Raisa tertawa lepas.
Namun suasana kembali menjadi dingin ketika Jessica datang mendekat dengan membawa handuk dan minuman untuk Rio.
“Permisi, Pak Rio,” ucapnya dengan senyuman manis. “Saya lihat kamu bermain dengan baik. Mau minum es kopi dingin? Saya sudah pesan untukmu.”
Rio menerima dengan rasa tidak enak hati. “Terima kasih, Jessica. Tapi kamu tidak perlu begitu, kok.”
“Sama-sama, Pak Rio,” jawabnya sambil melihat langsung ke mata Raisa dengan tatapan yang sedikit menyakitkan. “Saya hanya ingin membantu saja.”
Setelah Jessica pergi, suasana kembali menjadi canggung. Raisa merasa bahwa dia sedang berada di tengah perselisihan yang tidak dia inginkan, sementara Rio merasa kesal karena tidak bisa menolak bantuan Jessica dengan tegas.
Ketika mereka pulang ke rumah Ratna, istri nya langsung menyambut mereka dengan senyuman lebar. “Bagaimana? Seru kan bermain bersama?”
“Ya, cukup seru,” jawab Rio dengan suara pendek. Dia merasa tidak nyaman dengan kegembiraan Ratna yang terlalu jelas.
Di malam hari, Raisa tidak bisa tidur lagi. Pikirannya penuh dengan momen-momen bermain tenis bersama Rio dan tatapan Jessica yang penuh dengan cemburu. Dia mulai bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang benar-benar terjadi antara Rio dan sekertaris nya, ataukah itu hanya khayalan nya semata.
Sementara itu, di kantor Rio, Jessica sedang duduk di mejanya dengan wajah yang penuh dengan tekad. Dia sudah mencintai Rio sejak lama dan tidak akan menyerah begitu saja melihat pria yang dia cintai semakin dekat dengan wanita lain – bahkan jika itu adalah adik iparnya sendiri. Dia mulai merencanakan cara untuk membuat Rio melihat bahwa dia adalah wanita yang lebih layak untuknya.
Di rumahnya sendiri, Ratna sedang melihat foto-foto kenangan bersama Rio dengan wajah yang penuh dengan harapan. Dia berharap bahwa rencananya akan berhasil dan mereka akan segera memiliki anak yang menjadi harapan keluarga besar nya. Namun dia tidak menyadari bahwa setiap langkah yang dia ambil semakin memperumit situasi dan bisa menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki bagi semua orang yang terlibat.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...