Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16.
...~•Happy Reading•~...
Rafael tidak menurunkan Juano dari punggung. Dia memegang belakang Juano dengan sebelah tangan sambil keluar dari kamar. Suatu hubungan persaudaraan yang hangat dan mesra di pagi hari.
Juano makin memeluk leher dan menyandarkan pipinya ke kepala Rafael dengan hati senang. Dia tahu, Rafael sayang padanya dan tidak akan meninggalkan dia. Hati Rafael pun menghangat dan terhibur. Rasa khawatir akan sikap Laras menguap bersamaan dengan pelukan Juano.
Ketika mereka masuk ke ruang makan, Pak Yafeth dan Bu Ester melihat mereka dengan perasaan sayang yang meluap. Kebahagian yang ditunjukan putra mereka bersama Rafael sangat menyentuh hati.
Meskipun kondisi itu sederhana dan biasa bagi Rafael, tapi itu sangat berati bagi orang tua Juano, terutama Pak Yafeth sebagai seorang Papa. Pak Yafet menyimpan momen itu di dalam hati, seakan memiliki dua orang putra.
Namun rasa senang Pak Yafeth menguap saat melihat Laras duduk membeku sambil memegang kuat gelas di atas meja. 'Ada sesuatu yang tidak baik.' Pak Yafeth menarik kesimpulan akan reaksi Laras yang matanya tidak beralih dari Rafael.
"Juan, ada apa ini? Mengapa seperti itu sama Kak Rafa? Turun, kau sudah besar." Pak Yafeth coba mencairkan suasana ruang makan yang terdiam melihat mereka berdua.
"Itu imbas dari tidur berdua seperti teletabis." Bu Ester menambahkan saat Rafael menurunkan Juano di atas kursi meja makan. Bu Ester ikut bantu mencairkan suasana, sebab tahu keadaan mereka dalam kamar.
"Abis badan Kak Rafa sangat hangat." Jawab Juano jujur dan polos, tanpa memikirkan dampaknya pada yang mendengar.
"Itu akibatnya, tidur di suhu terlalu dingin. Sarapan." Ucap Pak Yafeth sambil menggerakan kepala ke sarapan di atas meja.
"Tapi Papa, memang..." Rafael refleks menutup mulut Juano dengan tangan, sebab Laras masih melihat mereka. "Minum ini." Rafael meletakan cangkir minuman di tangan Juano. Dia khawatir ucapan jujur Juano akan membakar emosi Laras yang masih diam.
Yang dikhawatirkan Rafael benar terjadi. Hati Laras jadi panas melihat interaksi mereka, hingga aura disekitarnya mulai berubah. Di atas kepalanya seperti awan lava panas di puncak gunung Merapi.
'Dia bisa begitu sayang sama Juan, tapi samaku seperti hewan buas.' Laras membatin, lalu berdiri meninggalkan meja makan.
"Larasss..." Bu Ester terkejut dan memanggil. "Aku sudah kenyang." Jawab Laras dan terus berjalan keluar dari ruang makan.
Sontak Pak Yafeth dan Bu Ester saling pandang. Mereka heran dan bingung dengan sikap Laras.
"Sudah kenyang? Dia makan apa? Itu makanannya masih utuh." Bu Ester menunjuk piring berisi nasi goreng.
"Belum selesai ngambeknya?" Tanya Pak Yafeth sambil melirik Rafael. Bu Ester hanya bisa menggeleng dan mengangkat bahu, tidak mengerti.
Hanya Juano dan Rafael tahu penyebab Laras emosi dan tidak mau sarapan lagi. 'Ternyata Kak Laras masih marah sama Kak Rafa.' Juano berkata dalam hati, lalu melihat Rafael yang sedang minum.
"Ayo, sarapan. Mungkin mag kakakmu mulai bergolak, cari lawan tanding." Pak Yafeth coba bercanda untuk mengurangi rasa tidak suka akan sikap putrinya yang tidak simpatik.
"Iya, sarapan. Jangan menaru hati pada sikapnya. Dia kadang begitu, kalau ada yang mengganggu lambungnya. Sebentar juga mulai tenang." Bu Ester berkata demikian, karena melihat warna wajah Rafael berubah-ubah dan belum makan.
"Abis sarapan, kembali tidur Rafa. Lihat wajahmu seperti orang tidak tidur semalaman. Sama dengan mata Laras." Bu Ester melanjutkan, sebab melihat bayangan gelap di bawah mata Laras.
"Iya, Bu. Terima kasih." Rafael coba keluar dari tekanan akibat sikap Laras.
Namun yang dikatakan Bu Ester tentang wajah Rafael dan mata Laras mengganggu Pak Yafeth. 'Apa terjadi sesuatu dengan mereka?' Pak Yafeth bertanya sendiri dalam hati sambil menyuap nasi goreng.
Mereka sarapan dalam diam dengan pikiran masing-masing. "Rafa, selesai sarapan, jangan tidur dulu. Kita duduk sebentar di ruang nonton." Pinta Pak Yafeth yang penasaran dan ingin tahu penyebab perubahan perilaku putrinya.
"Iya, Pak." Rafael sudah bisa tebak arti permintaan Pak Yafeth.
"Juan juga, Pa?" Tanya Juano tiba-tiba membuat Rafael mengusap kepalanya.
"Usia Juan berapa?" Tanya Papanya sebelum menjawab. "Mau 14, Pa." Mamanya hampir tertawa melihat wajah putranya yang serius menjawab.
"Belum dewasa. Ini pembicaraan tingkat dewasa." Ucap Pak Yafeth sambil senyum untuk mengurangi ketegangan setelah ditinggal Laras.
Selesai sarapan, Bu Ester mengajak Juano ke kamar untuk merapikan kamar, agar pikirannya tidak tertuju ke ruangan nonton.
Pak Yafeth berjalan ke ruangan nonton dalam diam. "Rafa, apa tadi malam terjadi sesuatu di acara pesta kantor Laras?" Tanya Pak Yafeth setelah mereka duduk berhadapan.
"Terjadi sesuatu seperti apa, Pak? Di sana kantor Laras memberikan apresiasi kepada karyawan berprestasi, termasuk Laras." Rafael menjelaskan yang terjadi, tanpa menyinggung yang lain.
"Maksud saya, apa Laras berselisih dengan Jarem?"
"Kalau berselisih, mungkin tidak, Pak. Hanya tanya jawab. Saya lebih banyak bicara, karna Laras agak emosi." Rafael mulai berhati-hati menjawab.
"Lalu mengapa Laras seperti itu dari malam sampai pagi ini? Apa dia masih belum terima pisah dengan Jarem? Atau marah padamu?"
"Kalau yang itu, lebih baik Laras yang jawab, Pak. Dia lebih tahu." Rafael makin menutup penjelasan, karena yang terjadi berhubungan dengannya dan juga orang tua Laras.
"Baiklah. Kalau begitu, istirahat lagi." Pak Yafeth mulai mengerti, sikap Laras berhubungan dengan Rafael. Karena bukan saja keengganan Rafael menceritakan, tapi Rafael juga tertekan sejak pulang.
"Saya mau olahraga sebentar, Pak. Supaya bisa istirahat." Rafael segera berdiri setelah melihat Pak Yafeth mengangguk.
Rafael tidak kembali ke kamar Juano, tapi langsung naik ke lantas atas untuk olahraga. Dia merasa lega melihat cucian belum dijemur. Sehingga dia bisa berlari mengitari tempat jemuran.
Setelah merasa lelah dan keringat bercucuran, Rafael berjalan pelan untuk mendinginkan badan. Pikirannya tidak bisa beralih dari sikap Laras dan pertanyaan Pak Yafeth. 'Berapa lama aku bisa menyimpan ini dari Pak Yafeth?' Rafael merasa dadanya sesak dan hatinya berat.
Dia jadi ingat suasana rumah di kampung. 'Rose juga kadang berlaku seperti Laras, tapi bisa mengerti dan terima kalau diingatkan.' Rafael ingat adik perempuannya yang sering manja padanya. Kadang mendesak kalau inginkan sesuatu, tetapi kalau dinasehati, akan terima dan kembali tenang.
Pertanyaan Laras tentang punya pacar di kampung, mengingatkan Rafael pada seorang gadis berkacamata, adik tingkat di kampus. 'Gadis itu juga sangat ngotot, mengikutiku ke mana saja. Tapi diingatkan, dia bisa terima dan menjauh.' Rafael berkata sendiri.
Rafael ingat kejadian terakhir dengan gadis itu di kampus. Ketika dia sedang membaca di perpustakaan, gadis itu meletakan sebotol air mineral di depannya tanpa diminta.
Rafael mendekatinya untuk berterima kasih dan meminta tidak diikuti. Dia merasa terganggu, sebab sedang persiapan ujian. Sejak hari itu, dia tidak diikuti lagi. Rafael jadi membandingkan sikap gadis itu dengan Laras yang tidak bisa terima dan keras kepala.
...~•••~...
...~•○♡○•~...