Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.
Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.
Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tahajjud
Pukul tiga pagi. Di luar jendela apartemen, gemerlap lampu kota yang tak pernah tidur tampak seperti taburan permata di atas kain beludru hitam. Suara angin yang bergesekan dengan kaca jendela menjadi satu-satunya musik yang menemani kesunyian di dalam kamar.
Dimas terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menatap wajah istrinya yang terlelap di sampingnya. Rambut Dinara yang sedikit berantakan di atas bantal tampak kecokelatan tertimpa cahaya lampu tidur yang redup. Dengan gerakan sangat pelan, Dimas menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Dinara, lalu mengecupnya singkat.
"Dek... bangun, Sayang," bisik Dimas lembut.
Dinara hanya melenguh pelan, ia menarik selimutnya lebih tinggi sampai menutupi hidung. Hawa dingin dari AC memang membuat kasur terasa seperti pelukan yang sulit dilepaskan.
"Bentar lagi, Mas... lima menit," gumam Dinara dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Dimas terkekeh kecil. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menyentuh jempol kaki Dinara—titik yang paling sensitif bagi istrinya. "Lho, katanya mau minta IPK bagus? Katanya mau skripsinya lancar jaya? Kok sik molor ae (kok masih tidur saja). Ayo, bidadarinya Mas harus bangun dhisik."
Mendengar godaan itu, Dinara akhirnya membuka mata. Ia mengerjap-ngerjap, berusaha mengumpulkan nyawa. "Mas sudah mandi?"
"Sudah wudhu saja. Ayo, Mas tunggu di sajadah. Airnya seger, lho, kayak es degan," canda Dimas sambil berdiri menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, ruangan tengah yang biasanya riuh dengan suara ketikan laptop dan perdebatan soal daftar belanja, kini berubah menjadi hening dan sakral. Dua lembar sajadah tergelar rapi. Dimas berdiri di depan sebagai imam, sementara Dinara di belakangnya dengan mukena putih bersih yang mengeluarkan aroma lavender dari pelembut pakaian.
Allahu Akbar.
Takbiratul ihram Dimas memulai perjalanan spiritual mereka. Di sepertiga malam itu, tidak ada lagi peran sebagai penulis yang jahil atau mahasiswi hukum yang kaku. Yang ada hanyalah dua hamba yang sedang mengadukan segala pelik dunia kepada Sang Pencipta. Suara Dimas saat melantunkan ayat-ayat suci terdengar bergetar, rendah, dan penuh penghayatan—suara vokal hadroh yang dulu ia banggakan kini ia gunakan untuk "merayu" Tuhan agar menjaga keutuhan rumah tangganya.
Setelah salam terakhir, Dimas membalikkan badan. Dinara segera mendekat, meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu lama. Dimas kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kepala Dinara, membacakan doa-doa perlindungan yang biasa ia panjatkan setiap malam.
"Mas..." panggil Dinara pelan saat Dimas selesai berdoa.
"Nggih, Sayang?"
"Makasih ya selalu bangunin Dinara. Kadang Dinara ngerasa malas banget, tapi kalau sudah shalat begini, rasanya hati tenang banget."
Dimas menarik Dinara ke dalam dekapannya. Mereka duduk bersimpuh di atas sajadah yang masih tergelar. "Dunia luar itu keras, Dek. Surabaya ini kota capek. Kalau kita nggak punya 'pegangan' di jam-jam begini, Mas takut kita bakal gampang emosi atau malah jauh satu sama lain. Shalat malam ini fondasi kita, biar kalau ada masalah dari Blitar atau dari kampus, kita nggak gampang ambruk."
Dinara menyandarkan kepalanya di bahu Dimas. Ia merasakan kehangatan yang menjalar, sebuah rasa aman yang tidak bisa diberikan oleh kemewahan apa pun. "Tadi Mas doain apa saja?"
"Rahasia dong. Mas lagi lobi-lobi sama Gusti Allah biar istrinya Mas ini dikasih sabar yang luar biasa menghadapi suaminya yang ganteng tapi agak ajaib ini," Dimas mulai kembali ke sifat aslinya, jemarinya mengelus pipi Dinara yang halus.
"Halah, narsisnya kumat," Dinara tertawa kecil, ia mencubit pelan pinggang Dimas.
"Tapi beneran, Dek. Mas juga doain biar skripsimu bulan depan nggak ada kendala. Mas nggak mau lihat kamu nangis di kamar mandi lagi gara-gara revisian dosen. Pokoknya kalau dosenmu galak, bilang ke Mas, biar Mas masukin ke karakter antagonis di novel terbaru Mas dan Mas bikin nasibnya apes di sana," Dimas mengerling jahil.
"Mas! Jangan gitu, itu kan dosen Dinara," protes Dinara, meski ia tak bisa menahan tawa.
Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan pagi yang mulai beranjak menuju subuh. Dimas kemudian beranjak ke dapur sebentar dan kembali membawa dua gelas air putih hangat. Ia memberikan satu kepada Dinara.
"Minum dhisik, biar tenggorokannya enak," ujar Dimas.
Saat Dinara meminum airnya, Dimas memperhatikan sisa-sisa kantuk yang masih ada di mata istrinya. Ia mengambil mukena Dinara yang sedikit miring, memperbaikinya dengan gerakan yang sangat telaten.
"Mas tahu nggak? Bagian favorit Dinara dari shalat malam kita itu apa?" tanya Dinara tiba-tiba.
"Apa? Pas Mas baca suratnya merdu banget ya?"
Dinara menggeleng. "Bukan. Tapi pas Mas pegang kepala Dinara habis shalat. Rasanya kayak... semua beban berat Dinara di kampus pindah ke tangan Mas. Dinara ngerasa bener-bener dijaga."
Dimas tertegun sejenak. Ia tidak menyangka tindakan sederhananya memiliki dampak sebesar itu bagi istrinya. Ia kemudian menarik Dinara lebih rapat, mencium dahi istrinya dengan sangat lama.
"Selama Mas masih ada napas, Mas bakal terus jagain kamu. Mas mungkin bukan suami yang bisa kasih perhiasan setiap bulan, tapi Mas janji, tiap jam tiga pagi, Mas bakal ajak kamu 'ketemuan' sama Yang Punya Alam Semesta buat jagain kamu."
Mata Dinara berkaca-kaca, namun ia segera menghapusnya sebelum air matanya jatuh. "Mas ini... katanya jangan alay, tapi omongannya bikin nangis terus."
"Lho, ini namanya puitis tingkat tinggi, Dek. Hasil begadang ngetik ribuan kata," Dimas nyengir, mencairkan suasana yang sempat haru. "Ayo, mumpung belum Subuh, kita baca Al-Qur'an bareng-bareng. Mas yang baca, kamu yang simak. Kalau Mas salah tajwid, langsung dijewer saja, nggak apa-apa."
Mereka pun menghabiskan sisa waktu sebelum fajar dengan mengaji bersama. Suara mereka bersahutan rendah, memenuhi sudut-sudut apartemen dengan keberkahan yang tak kasat mata. Fondasi yang Dimas maksud memang benar adanya. Melalui tahajud, mereka tidak hanya menyatukan tubuh dalam ikatan pernikahan, tapi juga menyatukan frekuensi jiwa dalam ketaatan.
Pagi itu, saat adzan Subuh berkumandang dari masjid di seberang jalan, mereka sudah siap menyambut hari dengan energi yang baru. Surabaya mungkin akan kembali macet, bising, dan panas, namun di dalam hati mereka, ada ketenangan yang tak tergoyahkan.
"Mas, habis Subuh nanti temani Dinara beli bubur ayam di depan ya? Lapar banget habis tahajud," pinta Dinara sambil melipat mukenanya.
"Beres! Pakai SUV apa jalan kaki saja?"
"Jalan kaki saja, Mas. Biar tangannya bisa gandengan terus," sahut Dinara sambil tersipu.
Dimas tertawa, hatinya membuncah. Ternyata, kebahagiaan itu memang sesederhana ini—bangun di malam hari untuk Tuhan, dan kembali melangkah di pagi hari bersama orang yang dicintai.