Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 : Racun di Balik Jeruji dan Runtuhnya Langit Tinggi
Ruang rapat utama di kantor Solera terasa sedingin es. Di layar monitor raksasa, sebuah berita berjalan dengan tinta merah yang mencolok: "PENGADILAN MADRID RESMI MEMBEKUKAN PROYEK CIELO ALTO."
Alicia Valero berdiri mematung, menatap kata-kata itu seolah-olah itu adalah vonis mati baginya. Cielo Alto adalah segalanya. Ini adalah megaproyek gedung pencakar langit yang seharusnya menjadi bukti bahwa Alicia bisa berdiri melampaui kejayaan ayahnya. Namun kini, proyek itu berhenti total.
"Bagaimana mungkin?" suara Alicia bergetar, hampir berbisik. "Isabel ada di penjara! Bagaimana yayasannya masih bisa melakukan ini?"
"Tanda tangan terakhir, Alicia," jawab Don Mateo yang baru saja masuk dengan wajah layu. "Sebelum polisi membawanya, Isabel sempat menandatangani gugatan hak ulayat dan perlindungan cagar budaya atas lahan Cielo Alto. Dia menggunakan celah hukum yang sangat kuno. Selama yayasan Bumi Valero masih berdiri secara hukum, mereka bisa memblokir kita untuk waktu yang tidak ditentukan."
BRAKK!!!
Alicia memukul meja dengan kepalan tangannya. "Ini gila! Proyek itu bernilai miliaran Euro! Jika tertunda satu bulan saja, kita akan bangkrut!"
"Wanita ular itu ingin menarik kita bersamanya ke dasar neraka," sahut Rafael yang masuk ke ruangan menggunakan tongkat, langkahnya masih tertatih namun matanya tetap tajam. "Dia tahu dia tidak bisa menang, jadi dia menghancurkan papan catur itu agar tidak ada yang bisa bermain."
Rafael mendekati Alicia, mencoba menyentuh bahunya, namun Alicia menghindar. Emosinya sedang berada di puncak ledakan.
"Kau bilang kau sudah membereskan segalanya, Rafael! Kau bilang dia sudah tamat!" teriak Alicia, air mata frustrasi mulai menggenang.
"Dan dia memang sudah tamat, Alicia. Tapi seekor kalajengking tetap menyengat meski kepalanya sudah hancur," jawab Rafael dengan tenang, meski dadanya berdenyut menahan sakit akibat lukanya.
Tiba-tiba, asisten Alicia masuk dengan wajah pucat, membawa sebuah surat resmi dari penjara wanita Madrid. "Nyonya... ada pesan pribadi untuk Anda. Dari Isabel Santiago Valero."
Alicia merobek amplop itu. Isinya hanya satu baris kalimat yang ditulis dengan tangan yang rapi namun dingin:
^^^ "Cielo Alto tidak akan pernah menyentuh langit selama kau belum tahu siapa yang membunuh ibumu. Datanglah, atau hiduplah dalam kebohongan selamanya."^^^
...****************...
Penjara wanita Madrid adalah tempat yang suram, berbau pembersih lantai yang keras dan keputusasaan. Alicia duduk di balik kaca pembatas, tangannya mengepal erat di bawah meja. Ia merasa mual berada di sini, namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada rasa jijiknya.
Pintu di seberang terbuka. Isabel masuk mengenakan seragam penjara berwarna abu-abu. Rambutnya yang dulu selalu tertata sempurna kini hanya dikuncir kuda yang berantakan. Namun, saat ia melihat Alicia, sebuah senyum kemenangan tersungkur di bibirnya yang kering.
"Kau terlihat sangat cantik, Alicia. Kehancuran Cielo Alto sepertinya cocok dengan warna gaunmu," sapa Isabel, ia duduk dan mengambil gagang telepon.
Alicia mengambil teleponnya, suaranya dingin dan tajam. "Hentikan omong kosongmu, Isabel. Cabut gugatan yayasanmu sekarang, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari lagi bahkan setelah masa hukumanmu berakhir."
Isabel tertawa, suara tawa yang bergema hampa di ruangan sempit itu. "Kau masih mengancamku? Di sini? Aku sudah kehilangan segalanya, Alicia. Santiago sudah gila di bangsal jiwa, dan aku membusuk di sini. Aku tidak takut lagi padamu."
"Lalu apa maumu, Isabel?" tanya Alicia, matanya menyipit.
Isabel mencondongkan tubuhnya ke arah kaca, suaranya merendah menjadi bisikan yang mengerikan. "Kau pikir ibumu meninggal karena kecelakaan mobil biasa lima belas tahun lalu? Kau pikir itu hanya nasib buruk di jalanan yang licin?"
Jantung Alicia seolah berhenti berdetak. "Apa maksudmu?"
"Ibumu sedang membawa dokumen penting malam itu. Dokumen tentang sengketa lahan yang sekarang menjadi milik keluarga Montenegro," kata Isabel, matanya berkilat penuh racun. "Dia tidak kehilangan kendali, Alicia. Rem mobilnya sengaja dirusak."
"Kau bohong!" teriak Alicia, ia memukul kaca pembatas hingga petugas keamanan menoleh. "Kau hanya ingin menghancurkan hubunganku dengan Rafael!"
"Benarkah?" Isabel tersenyum licik. "Tanyakan pada Rafael... tanyakan padanya di mana ayahnya berada di malam kecelakaan itu. Tanyakan padanya tentang laporan polisi yang hilang secara misterius dari arsip nasional. Keluarga Montenegro tidak membangun kerajaan mereka dengan kerja keras, Alicia. Mereka membangunnya di atas mayat orang-orang yang menghalangi mereka—termasuk ibumu."
Alicia merasa sesak napas. Oksigen di ruangan itu seolah menghilang. "Kenapa kau memberitahuku ini sekarang?"
"Karena aku ingin kau melihat pria yang kau cintai itu sebagai monster yang sebenarnya," bisik Isabel. "Aku akan mencabut gugatan Cielo Alto besok pagi. Aku akan memberikanmu kesuksesanmu kembali. Tapi setiap kali kau menatap gedung tinggi itu, kau akan ingat bahwa fondasinya dibangun di atas darah ibumu."
Isabel meletakkan teleponnya, berdiri, dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan Alicia yang terpaku, gemetar, dan hancur di kursinya.
Alicia pulang ke rumah aman dengan perasaan yang kacau. Langit Madrid mulai mendung, mencerminkan badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia menemukan Rafael sedang duduk di ruang kerja, menatap maket Cielo Alto dengan penuh konsentrasi.
"Alicia? Kau dari mana? Aku mencarimu ke mana-mana," ujar Rafael, ia bangkit berdiri dengan bantuan tongkatnya, wajahnya penuh kekhawatiran.
Alicia tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, menatap Rafael seolah-olah ia sedang melihat orang asing. "Di mana ayahmu di malam tanggal 14 Mei lima belas tahun lalu?"
Langkah Rafael terhenti. Ekspresi wajahnya berubah seketika—sebuah kilatan keterkejutan yang sangat cepat namun berhasil ditangkap oleh mata Alicia yang tajam. "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Jawab aku, Rafael!" teriak Alicia, air mata akhirnya tumpah. "Ibumu meninggal karena kecelakaan, dan kau bilang itu murni nasib buruk. Tapi Isabel bilang ayahmu ada di sana. Isabel bilang keluargamu merusak rem mobilnya!"
Rafael terdiam lama, suaranya mendadak menjadi sangat rendah. "Isabel adalah ular, Alicia. Dia akan melakukan apa saja untuk memisahkan kita."
"Tapi kau tidak membantahnya!" Alicia memukul dada Rafael dengan kedua tangannya, melampiaskan seluruh rasa sakitnya. "Katakan padaku dia bohong! Katakan padaku bahwa pria yang aku cintai tidak memiliki darah keluargaku di tangannya!"
Rafael menangkap kedua tangan Alicia, memegangnya dengan erat meskipun Alicia meronta. "Alicia, dengarkan aku! Apa yang terjadi di masa lalu adalah urusan para orang tua kita. Aku tidak tahu apa yang dilakukan ayahku secara detail, tapi aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak pernah terlibat dalam hal itu!"
"Jadi itu benar?" bisik Alicia, suaranya pecah. "Jadi ayahmu benar-benar membunuh ibuku?"
Rafael memejamkan matanya, napasnya terasa berat. "Ayahku melakukan banyak hal untuk mengamankan posisi Montenegro. Dia ambisius, sama seperti ayahmu. Mereka berdua terlibat dalam permainan yang sangat kotor malam itu. Tapi aku mencintaimu, Alicia! Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri!"
"Cinta?!" Alicia tertawa histeris sambil terisak. "Kau menyebut ini cinta? Kau membiarkanku bertunangan denganmu, tidur denganku, berbagi rahasia denganku, sementara kau tahu keluargamu menghancurkan duniaku saat aku masih kecil?"
Alicia menyentakkan tangannya, mundur beberapa langkah. Ia menatap maket Cielo Alto—proyek yang kini terasa seperti monumen penghinaan baginya.
"Isabel benar," gumam Alicia, suaranya kini dingin seperti kematian. "Kau adalah predator, Rafael. Dan aku hanyalah mangsa bodoh yang jatuh ke dalam perangkapmu karena aku mengira kau adalah pelindungku."
"Alicia, jangan pergi! Kita bisa bicara!" teriak Rafael saat Alicia menyambar kunci mobilnya. Rafael mencoba mengejar, namun luka tembak di perutnya memaksanya jatuh berlutut di lantai. "Alicia!"
Alicia tidak menoleh. Ia memacu mobilnya menembus hujan deras Madrid. Ia merasa tercekik oleh kebohongan yang menyelimuti hidupnya. Setiap gedung tinggi yang ia lewati, setiap lampu jalan, semuanya terasa seperti saksi bisu atas penderitaannya.
Ia berhenti di pinggir jalan yang sepi, tempat di mana ibunya dulu ditemukan tak bernyawa. Di bawah guyuran hujan, Alicia keluar dari mobil dan jatuh tersungkur di atas aspal yang dingin. Ia meraung, melepaskan seluruh rasa sakit yang selama ini ia pendam.
"Ibu... maafkan aku..." isaknya. "Aku mencintai pria yang seharusnya aku benci."
Di saat yang sama, Isabel di dalam selnya duduk dengan tenang, menatap tetesan air hujan di jendela kecil penjara. Ia telah mencabut gugatan yayasannya. Cielo Alto akan kembali berjalan. Namun, ia tahu bahwa Alicia tidak akan pernah bisa menikmati kesuksesan itu lagi.
Penghancuran yang paling sempurna bukan dilakukan dengan membunuh fisik seseorang, melainkan dengan menghancurkan jiwanya. Dan malam itu, Isabel telah berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh Santiago atau siapapun. Ia telah membunuh cinta di dalam hati Alicia Valero.
Beberapa jam kemudian, Alicia kembali ke kantor Solera yang sudah sepi. Ia duduk di kursinya, menatap dokumen persetujuan Cielo Alto yang baru saja tiba. Isabel menepati janjinya; gugatan dicabut. Ia kini memiliki kekuasaannya kembali. Ia kini memiliki mimpinya kembali.
Namun, harga yang harus dibayar terasa terlalu mahal.
Pintu kantor terbuka. Rafael berdiri di sana, basah kuyup, dengan wajah yang hancur oleh penyesalan. Ia tidak mendekat, hanya berdiri di ambang pintu.
"Aku sudah memecat seluruh pengacara lamaku yang menyimpan berkas kecelakaan itu," ujar Rafael, suaranya serak. "Aku akan membongkar semuanya, Alicia. Jika kau ingin ayahku masuk penjara, aku akan membantumu. Aku tidak peduli pada nama Montenegro lagi. Aku hanya peduli padamu."
Alicia menatap Rafael dengan mata yang kosong. "Jika kau melakukan itu, kerajaanmu akan runtuh. Kau akan kehilangan segalanya, Rafael."
"Aku sudah kehilangan segalanya saat kau menatapku dengan kebencian tadi," jawab Rafael.
Alicia berdiri, berjalan perlahan menuju jendela, menatap lampu-lampu Madrid yang gemerlap. "Isabel ingin kita saling menghancurkan, Rafael. Dia ingin Cielo Alto menjadi kutukan bagi kita."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Rafael.
Alicia berbalik, wajahnya kini menunjukkan ketegasan yang menakutkan—sebuah transformasi dari wanita yang terluka menjadi penguasa yang tak punya belas kasihan.
"Kita akan membangun Cielo Alto," kata Alicia. "Tapi tidak ada lagi cinta di antara kita, Rafael. Mulai detik ini, kita hanyalah rekan bisnis yang saling mengawasi. Aku akan menggunakan setiap ons kekuasaan yang kau miliki untuk membalas dendam pada siapa pun yang terlibat dalam kematian ibuku—termasuk ayahmu. Dan kau... kau akan membantuku melakukannya sebagai tebusan atas dosamu."
Rafael terpaku. Ia melihat wanita yang ia cintai kini telah berubah menjadi sosok yang dingin dan haus darah—seorang penguasa sejati yang lahir dari abu pengkhianatan.
"Baiklah," bisik Rafael, ia menundukkan kepalanya sebagai tanda kepatuhan. "Apapun yang kau inginkan, mi reina."
Malam itu, di bawah bayang-bayang gedung yang belum terbangun, sebuah aliansi baru terbentuk. Bukan aliansi yang didasari oleh gairah atau janji suci, melainkan aliansi yang didasari oleh dendam dan kebutuhan akan kekuasaan. Cielo Alto akan berdiri tegak, namun kedua orang yang membangunnya kini hanyalah dua orang asing yang berbagi tempat tidur yang dingin.