Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Perdebatan seketika terhenti saat pintu ruangan terbuka.
Keira menoleh—dan ia membeku melihat Ethan berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Sangat pucat. Tangannya otomatis menarik Aiden sedikit ke belakang, seolah melindungi.
Gerakan kecil itu menusuk Ethan lebih dalam.
Seolah Keira sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Sesuatu yang sangat besar.
Atau… seseorang.
Ethan melangkah masuk perlahan, matanya tidak pernah lepas dari Aiden, yang ia yakini sebagai anaknya. “Kamu…” napasnya berat. “Kamu—”
Keira buru-buru menyela. “Pak Ethan… Kenapa Bapak ada di sini?”
"Heh! Ibu ini sangat tidak sopan. Pak Ethan adalah pemilik sekolah ini. Jadi wajar saja kalau beliau ada di sini." ketus ibunya Reno.
Keira menegang.
Apa tadi katanya? Pemilik sekolah?
Keira benar-benar tak tahu fakta besar itu.
Tapi Ethan mengabaikannya.
Ia menatap Aiden dengan pandangan yang sulit dijelaskan—kaget, bingung, marah, takut, dan… harapan. Harapan yang tidak ia izinkan, namun tetap muncul.
“Namamu siapa?” suara Ethan rendah.
Aiden menatap balik—tanpa takut. Tatapannya sama persis seperti Ethan dulu saat remaja: dingin, keras kepala, dan tajam. “Aiden.” Jawabnya pendek.
Ethan mengulang pelan, seolah mencicipi nama itu. “…Aiden.”
Lalu ia menatap Keira. Dalam. Sangat dalam. “Keira.” suaranya serak. “Kenapa kamu tidak pernah bilang… bahwa kamu punya anak?”
Keira menegang. “…maaf, Pak. Tapi ini privasi. Jadi nggak ada kaitannya sama pekerjaan.”
Ethan mengangguk, lalu mendekat satu langkah—perlahan, tapi penuh tekanan.
Ia menatap Aiden. “…aku ingin tahu sesuatu.”
Keira cepat-cepat memotong. “Nggak, Pak Ethan. Nggak perlu—”
Tapi Ethan tetap menatap anak itu, seolah waktu berhenti.
“Aiden.” katanya pelan, tajam, bergetar. “Kapan tanggal lahirmu?”
Aiden menjawab tanpa curiga. “3 Januari.” katanya datar.
Tahun yang keluar dari bibirnya membuat darah Ethan berhenti mengalir.
Ethan mundur setengah langkah.
Matanya melebar perlahan.
Tahun itu…
Tepat tujuh belas tahun setelah malam di Eclipse.
Jatuh tepat di sembilan bulan setelah ia menyentuh Keira.
Ethan menatap Keira.
Tidak ada marah.
Tidak ada teriakan.
Hanya—
Hampa.
Tersentak.
Dan terluka.
“Keira…” suaranya hampir patah. “Kamu harus jelaskan setelah ini.”
Keira menegang.
Sementara Aiden mengerutkan keningnya, merasa ada yang tidak beres. Namun ia memilih diam.
“Pak Ethan! Tepat sekali Anda datang! Anak saya ini dipukul oleh anak… anak siapa pun itu! Tidak sopan! Ini jelas tindakan kekerasan!”
Ethan hanya menatap datar.
Lalu menoleh pada Aiden.
Lalu pada Keira.
Ethan: “Saya sudah mendengar penjelasan dari pihak sekolah… dan dari staf saya.”
Nada suaranya tenang, tetapi berat. “Jika anak ini memukul karena membela siswi yang hendak dilecehkan… maka ia berada di pihak yang benar.”
Ibu pelaku tersentak. “Tapi anak saya—”
“Kami bisa melihat rekaman CCTV. Atau jika Anda keberatan, kami bisa panggil langsung siswi yang hampir dilecehkan itu.” sela Ethan.
Ia menatapnya dengan dingin yang sangat menghukum. “Jika Anda yakin anak Anda tidak bersalah… Anda seharusnya tidak takut pada fakta.”
Ibunya Reno langsung menunduk, suaranya tercekat. “S-saya… saya…”
Ethan menutup percakapan itu dengan satu kalimat pendek, “Sekolah ini tidak menoleransi pelecehan dalam bentuk apa pun.”
Selesai.
Tak ada yang berani membantah.
Aiden—yang sejak tadi hanya diam—menatap Ethan cepat, bingung sekaligus seolah… merasa dilindungi.
Sementara Keira melirik Ethan dengan kening berkerut. Ia tidak senang, tetapi tidak bisa menyangkal… bahwa dukungan barusan sangat berarti.
...----------------...
“Keira.”
Suara itu membuat Keira refleks menghentikan langkah kakinya. “Sekarang... Jelaskan semuanya.”
"Ma?" ucap Aiden menatap Keira seolah bertanya, "Siapa Om itu?"
Keira berusaha tetap tenang dengan menampilkan senyum manisnya. “Aiden, kamu tunggu Mama di depan ya.”
"Di depan?"
"Iya. Mama nggak bawa mobil soalnya."
"Mobil Mama di mana?"
Keira menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Em... Mama tinggal di rumah teman."
"Tante Livia?"
Keira mengangguk ragu. "Iya." bohongnya, sebab mobilnya berada di mansion Ethan.
Ah... Sialan! Ini semua karena Ethan yang memaksa untuk berangkat ke kantor bersama tadi pagi setelah insiden ketiduran tadi malam.
Aiden mengangguk percaya, lalu pergi. Namun matanya sempat melirik Ethan sekilas. Sebenarnya Aiden sangat penasaran tentang siapa gerangan pria yang memiliki wajah nyaris mirip dengannya itu. Tapi ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Mungkin ia akan bertanya kepada ibunya nanti.
Begitu Aiden hilang dari pandangan, Ethan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Jadi?"
Keira memejamkan matanya sejenak seraya menarik napas dalam. Lalu berbalik menatap Ethan. "Aku rasa nggak ada yang perlu aku jelaskan."
"Apa itu artinya Aiden adalah anakku?"
Keira menegang.
Wajahnya langsung berubah—antara terkejut, panik, takut, dan marah bersamaan. “Tentu saja bukan! Aiden itu anakku, bukan anakmu!”
"Oh ya?" Ethan menatapnya datar. "Bukankah Aiden berusia 17 tahun."
Keira menegang sesaat, tapi dia buru-buru menyangkal. "Ya. Itu benar. Tapi bukan berarti Aiden anakmu."
"Keira... Akulah orang pertama yang menyentuhmu. Kalau Aiden bukan anakku, dengan kata lain kamu mau bilang bahwa setelah tidur denganku, kamu tidur dengan pria lain?"
Keira melotot tak terima. "Aku bukan wanita seperti itu!"
Ethan menyeringai. "Jadi... Aiden itu anakku?"
"Bukan! Aiden bukan anakmu! Dia hanya anakku!" kekeh Keira.
“Keira.”
Nada suaranya kali ini lebih tajam, lebih menusuk. “Aku menyentuhmu tanpa pengaman. Berkali-kali.”
Ia mendekat, suaranya menekan.
“Kalau Aiden berusia tujuh belas tahun… Kamu pikir aku tidak bisa menghitung?”
Keira menggigit bibir, kepalanya menunduk menatap lantai. Kepalan tangannya gemetar. "Aiden... Dia bukan anakmu."
Ethan terdiam sejenak. Pandangannya berubah—tidak lagi sekadar dingin. Ada luka. Ada marah. Ada rasa tidak dipercayai.
Kemudian ia menarik napas panjang, sebelum berkata pelan namun sangat tegas. “Kalau kamu tidak mau mengatakan kebenarannya…”
Ia menatap langsung ke mata Keira, kali ini tajam seperti pisau.
“Maka aku sendiri yang akan mencari tahu.”
Keira tercekat. “E-Ethan—”
“Dan saat aku menemukan kebenarannya… tidak akan ada yang bisa menghentikanku.” sela Ethan.
Ucapan itu bukan ancaman.
Itu janji.
Janji seorang ayah… yang baru saja mencium bau kebenaran.
Ia hendak berbalik pergi, tapi kemudian ia kembali menatap Keira. "Rowan sudah mengantar mobilnya ke sini. Sekarang dia menunggu di depan."
Setelah mengatakan itu, ia pun melangkah pergi meninggalkan Keira yang masih berdiri mematung dengan jantung berdebar kencang sambil menatap punggung tegap Ethan yang semakin menjauh.
...----------------...
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkah Keira terasa berat.
Aiden berada beberapa meter di depannya, tapi Keira nyaris tak melihat jalan—ia terlalu sibuk menahan gemuruh di dadanya.
Aiden…
Satu-satunya hal yang ia punya.
Satu-satunya alasan ia bertahan.
Anak itu adalah seluruh hidupnya. Nafasnya. Jantungnya.
Semua yang pernah ia lakukan selama tujuh belas tahun terakhir… hanya untuk melindunginya.
Dan kini—
Ethan muncul.
Seperti badai yang tidak pernah ia undang.
Keira menelan ludah, matanya memanas meski ia memaksa wajah tetap datar.
Tadi, tatapan Ethan—tatapan yang menusuk sampai ke tulang—tidak pernah seheboh itu.
Seolah ia bisa melihat semua kebohongannya sekaligus.
Kalau dia tahu…
Tangan Keira mengepal keras.
Ujung kukunya menggali telapak tangannya sendiri.
Ia ingat hari ketika Aiden lahir.
Bagaimana ia sendirian, takut, tidak punya siapa-siapa, tapi tetap menatap bayi itu dengan senyum paling tulus yang pernah terbentuk di wajahnya.
“Mama akan jaga kamu. Apa pun yang terjadi.”
Itu janjinya.
Janji yang tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun—hanya pada bayi kecil yang tertidur di dadanya.
Dan sekarang…
Jika Ethan tahu bahwa Aiden adalah darah dagingnya…
Ia tahu betul apa yang akan terjadi.
Ethan bukan tipe laki-laki yang mundur.
Bukan tipe laki-laki yang membiarkan sesuatu yang “menjadi miliknya” pergi.
Ethan akan menuntut haknya sebagai ayah.
Ia punya kekuasaan.
Ia punya nama keluarga.
Ia punya segalanya untuk menekan Keira sampai sudut paling sempit.
Dan Keira?
Ia hanya Keira.
Wanita yang membesarkan seorang anak sendiri, bekerja keras bertahun-tahun, belajar bertahan dari nol.
Wanita yang bukan siapa-siapa—setidaknya, dibandingkan Ethan.
Keira mengusap wajah cepat, menyembunyikan getaran di kedua matanya.
Nggak… aku nggak boleh kalah.
Aku nggak boleh biarkan siapa pun menyentuh Aiden.
Nggak Ethan.
Nggak siapa pun.
Ia tahu Aiden mungkin berhak mengenal ayahnya.
Namun pikiran itu saja membuat napas Keira tercekat.
Aiden yang begitu manis.
Aiden yang begitu hangat.
Aiden yang memeluknya setiap pagi dan berkata, “Mama, Aiden sayang Mama.”
Jika Ethan mengambilnya…
Itu bukan sekadar kehilangan.
Itu kehancuran.
Keira berhenti sejenak dan menatap punggung Aiden dari jauh.
Tubuh remaja itu sudah tinggi, tapi tetap terlihat seperti bocah kecil yang dulu ia gendong saat demam.
“Maafkan Mama…” bisiknya tanpa suara.
Keira menguatkan diri.
Ia harus berbohong.
Harus.
Kalau pun Ethan marah, biarlah.
Kalau pun dunia memojokkannya, biarlah.
Asal Aiden tetap di sisinya…
Ia rela jadi orang jahat dalam cerita siapa pun.
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪