Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Kenapa kamu diem aja, Dona? Ajak anak-anak masuk ke dalam," pinta Ilham, menatap wajah Dona sejenak lalu mengalihkan pandangan mata kepada Kaila dan Keano. "O iya, Ayah lupa ngenalin kalian sama Ibu baru kalian."
Baik Kaila maupun Keano seketika menoleh dan menatap wajah satu sama lain dengan wajah datar, tapi tatapan mata mereka menyiratkan kesedihan yang mendalam. Bagi keduanya, mereka hanya memiliki satu ibu dan gelar itu tidak akan pernah tergantikan oleh wanita manapun.
"Kakak juga bilang apa? Kamu sih gak percaya sama Kakak," batin Kaila, memandang lekat wajah Keano.
"Ternyata benar, Kak. Ayah udah punya istri baru, tapi aku gak akan pernah memanggil Tante ini dengan sebutan Ibu karena aku hanya punya satu Ibu yaitu, Ibu Aqilla. Titik!" ujar Keano dalam hatinya.
"Astaga, kenapa kalian malah bengong gini sih?" tanya Ilham, membuyarkan lamunan panjang anak-anaknya. "Kenalin, Ibu baru kalian, namanya Dona, panggil saja Ibu Dona."
Kaila bergeming, begitu pun dengan Keano. Yang mereka lakukan hanya menatap wanita bernama Dona dari ujung kaki hingga ujung rambut. Perutnya nampak membulat, tersembunyi dibalik daster bermotif batik yang dia kenakan, tanpa diberi tahu pun, keduanya sudah dapat menebak bahwasanya wanita itu sedang mengandung.
"Nggak, aku gak mau manggil dia Ibu. Aku cuma punya satu Ibu," batin Kaila seraya memalingkan wajah ke arah samping.
Dona menghela napas kasar lalu tersenyum ringan, lebih tepatnya hanya berpura-pura tersenyum. "Kenapa kalian diem saja? Gak mau kenalan sama Ibu?" tanyanya, memandang wajah kedua anak sambungnya secara bergantian.
"Boleh aku manggilnya Tante Dona aja? Aku cuma punya satu Ibu, rasanya agak gimana jika harus memanggil orang lain dengan sebutan Ibu," lemah Kaila, seraya menundukkan kepala.
Ilham mengusap kepala sang putri dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Nggak apa-apa, Sayang. Semuanya butuh proses, kamu boleh panggil Tante Dona aja."
"Dih, siapa lagi yang mau dipanggil Ibu sama kalian?" batin Dona dengan wajah kesal, tapi kembali tersenyum lebar. "Nggak apa-apa, Kaila. Tante gak masalah nggak dipanggil Ibu sama kalian," ujarnya seraya mengusap kepala Kaila dengan lembut.
"Baiklah, sekarang kita masuk. Keliatannya kalian lelah banget. Setelah makan, kalian langsung istirahat di kamar, ya," ujar Ilham dan hanya dijawab dengan anggukan oleh kedua buah hatinya.
***
20 menit kemudian.
Dona menarik telapak tangan Ilham, membawanya masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya dengan napas tersengal-sengal seraya mengusap perutnya yang sudah membulat.
"Sebenarnya maksud kamu apa sih Mas membawa mereka tinggal di sini? Udah bagus mereka tinggal sama Ibunya," cecar Dona dengan kesal. "Kamu gak liat aku lagi hamil lima bulan? Ngurus diriku sendiri aja repot, ini malah disuruh ngurus dua toddler? Gak waras kamu, Mas."
Ilham menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Mas 'kan udah minta izin sama kamu kalau Mas mau ajak anak-anak tinggal sama kita."
"Tapi aku belum ngasih izin!"
"Dengerin Mas, Sayang. Mas janji, mereka cuma sementara tinggal di sini. Mas yakin, Aqilla pasti akan ngejemput mereka lagi."
"Kalau nggak, gimana?"
"Itu pasti, Sayang. Apa kamu ingat, laki-laki yang kita temui di Rumah Sakit bersama Aqilla?"
Dona hanya menganggukkan kepala dengan wajah datar.
"Dia itu Presdir di perusahaan Mas, Dona, dan laki-laki itu mau menikah sama Aqilla."
"Terus, apa masalahnya? Biarin aja mantan istri kamu menikah sama laki-laki itu. Kenapa? Kamu cemburu karena si Aqilla mau nikah lagi? Kamu masih cinta sama dia, hah?"
"Astaga, jangan salah paham dulu, Sayang," decak Ilham seraya mengusap wajahnya kasar. "Pak Radit itu pemilik perusahaan tempat Mas kerja, Mas malu dong mantan istri Mas nikah sama dia. Mas gak masalah dia mau nikah sama siapapun, asalkan jangan sama Pak Radit, titik!"
Dona tersenyum menyeringai, seraya menatap wajah suaminya dengan tajam. "Alaah, bilang aja kalau kamu cemburu, Mas. Lagian, kamu sama si Aqilla itu udah cerai, suka-suka dia dong mau nikah sama siapapun! Kenapa kamu masih ngurusin urusan mantan istri kamu itu?"
"Ya Tuhan, Dona. Kamu gak ngerti juga, ya."
Dona menarik napas panjang dengan mata terpejam, lalu kembali memandang wajah suaminya dengan dingin. "Terus, apa hubungannya sama anak-anak? Kenapa kamu bawa anak-anak tinggal di sini, Mas? Kalau aku gak lagi hamil sih gak masalah. Ini, aku lagi hamil malah disuruh ngurus dua anak kamu. Gak mikirin perasaan aku, ya."
Ilham meletakan kedua tangan di pundak Dona, seraya memandang wajahnya dengan penuh rasa cinta. "Mas janji mereka tinggal di sini gak akan lama, dan kalau si Aqilla nggak ngegagalin pernikahan sama Pak Radit, Mas akan membawa anak-anak jauh dari sini. Biar dia tau rasa, gak bisa ketemu lagi sama mereka."
"Ma-maksud kamu?"
"Nanti juga kamu ngerti, Sayang. Sekarang sabar dulu, sebentar aja. Mas cinta banget sama kamu, Mas gak mungkin membebani kamu dengan mengurus anak-anak. Oke?"
Dona menganggukkan kepala dengan wajah datar.
"Apapun yang terjadi, Aqilla gak boleh nikah sama Pak Radit. Mau ditaro di mana harga diri Mas, Dona? Mas gak mau dia petantang-petenteng karena berhasil mendapatkan suami yang lebih baik dari Mas. Paham sekarang?"
Dona kembali mengangguk seraya memalingkan wajahnya ke arah samping. Benar juga apa yang diucapkan oleh suaminya. Harga diri sang suami seperti diinjak-injak apabila mantan istrinya menikah dengan atasannya sendiri. Sebagai seorang istri, dirinya harus mendukung apapun keputusan suaminya.
"Tapi kamu harus janji, anak-anak gak boleh tinggal lama-lama di sini," rengek Dona dengan suara manja. "Bukannya aku gak mau nerima anak-anak kamu, tapi kamu tau sendiri aku ini lagi hamil."
"Iya, Mas paham, Sayang. Sekarang kamu istirahat, muka kamu pucet banget. Anak-anak biar nanti Mas yang urus, oke?"
Dona kembali mengangguk untuk yang ketiga kalinya
Tanpa mereka sadari, Kaila mendengarkan percakapan mereka. Gadis itu berdiri di depan kamar dengan perasaan kesal. Kedua tangannya mengepal dengan dada naik turun, menahan emosi setelah tau seberapa jahatnya ayah kandungnya itu.
"Ayah benar-benar jahat. Tega sekali Ayah berbuat seperti itu sama Ibu? Pokoknya, aku dan Keano harus segera pergi dari rumah ini," gumamnya, lalu berbalik kemudian berlari menjauh dari pintu.
Bersambung ....