Kayyisa nggak pernah mimpi jadi Cinderella.
Dia cuma siswi biasa yang kerja sambilan, berjuang buat bayar SPP, dan hidup di sekolah penuh anak sultan.
Sampai Cakra Adinata Putra — pangeran sekolah paling populer — tiba-tiba datang dengan tawaran absurd:
“Jadi pacar pura-pura gue. Sebulan aja. Gue bayar.”
Awalnya cuma kesepakatan sinting. Tapi makin lama, batas antara pura-pura dan perasaan nyata mulai kabur.
Dan di balik senyum sempurna Darel, Reva pelan-pelan menemukan luka yang bahkan cinta pun sulit menyembuhkan.
Karena ini bukan dongeng tentang sepatu kaca.
Ini kisah tentang dua dunia yang bertabrakan… dan satu hati yang diam-diam jatuh di tempat yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dagelan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Dunia yang Bukan Milikku (Tapi Aku Masuk Juga)
Ada hal-hal di dunia ini yang cuma terjadi tanpa kamu sadar. Kayak waktu kecil aku pernah makan es krim kepal lima—tanpa sadar uang saku seminggu ludes dan harus makan nasi uduk tiap hari. Atau waktu aku nonton drakor “cuma 1 episode”—tanpa sadar sudah jam 3 pagi dan aku nangis karena tokoh cowoknya mati di episode terakhir.
Tapi yang paling bahaya adalah…
Masuk ke dunia seseorang tanpa sadar.
Dan itu yang lagi terjadi sekarang.
Hari keempat kelas tambahan sore, suasananya beda. Biasanya aku duduk di pojokan dekat colokan, siap ngetik materi secepat mungkin supaya PR-nya nggak numpuk sampe bikin aku pengen lari ke bulan.
Tapi kali ini… begitu aku masuk ruang kelas, anak-anak “sultan squad” langsung nengok. Bukan cuma “nengok penasaran” kayak lihat hewan baru. Tapi nengok kayak aku baru muncul di acara red carpet pake gaun mahal.
“Eh, itu Kayyisa, kan?”
“Yang bareng Cakra tuh? Yang selalu duduk pojokan?”
“Kok dia duduknya deket kita sekarang?”
Dan parahnya lagi—“Sa, sini.”
Cakra manggil. Dari kursi tengah—tempat yang biasanya cuma ditempati anak-anak top ranking dan anak-anak kaya yang otaknya full subsidi guru privat seharian.
Aku berhenti di tempat, kaki ku kayak terasa berat banget. “…lo yakin?” bisikku lirih, takut dia salah panggil.
“Yakin.” Dia geser kursinya dikit—bikin ruang di sebelahnya yang pas banget buat gue.
Aku bisa dengar detak jantungku lebih kenceng dari bunyi AC tua di ruangan yang kadang nyebelin. Begitu aku duduk, aku merasa kayak anak kucing tersesat di ruangan pameran MacBook Pro—semuanya kinclong, semua terasa mahal, dan aku cuma yang “berisik” cuma karena nafas.
Cakra nyender, suaranya pelan banget sampe cuma aku yang kedengeran. “Relax.”
“Gue lagi latihan relaksasi, tapi gagal. Otakku cuma mikir ‘aku di tengah-tengah orang kaya, apa kalau baju gue kotor?’"
Dia ketawa kecil—suara tawanya yang lembut—dan—oh Tuhan—anak-anak lain langsung makin heboh, tapi berusaha pura-pura nggak ngeliatin. Seperti mereka lagi nonton drama rahasia.
Tapi pelajaran cuma awal. Yang bikin aku benar-benar masuk ke dunianya Cakra… adalah setelahnya.
Begitu kelas selesai, sebelum aku sempat kabur dengan alasan “gue lupa bawa buku” dan ada tangan narik tasku ku pelan.
“Sa.” Cakra menatapku, matanya ada cahaya yang nggak aku tahu apa. “Lo sibuk?”
“Gue kerja nanti jam tujuh. Kenapa? Mau anter lagi?”
“Temen-temen gue mau nongkrong sebentar. Mau ikut?”
Aku langsung membeku. Badan ku kaku kayak patung. “...Temen-temen lo?” ulangku, seolah tidak percaya.
“Maksudnya… yang sultannya kelas tambahan itu? Yang selalu bawa bekal dari restoran?”
Dia mengangguk. Sama sekali nggak ragu. "Maksudnya sama kayak gue gitu?"
Aku refleks mundur setengah langkah. “Oh no. No. NO. Gue bukan bagian dari dunia makanan 200 ribu per gigitan itu! Gue cuma bisa makan bakso 15 ribu dan puas!”
“Cuma sebentar.”
“Cuma sebentar bagi lo, trauma seumur hidup bagi gue! Nanti gue salah bicara, mereka ngomong ‘wah, anak miskin ini loh’!”
Dia menghela napas sambil menahan tawa, lalu—dia mendekat, sedikit… terlalu dekat—sampai suaranya cuma aku yang dengar: “Temenin gue. Tiga puluh menit aja. Gue janji nggak bikin lo malu.”
Sial. Sial banget. Kenapa nada pelan dia selalu jadi jurus fatal buat logikaku yang kaku? Akhirnya aku ikut. Dengan deg-degan. Dengan mental siap kualat.
Kami berjalan ke halaman belakang gedung sekolah, tempat biasanya dipakai buat makan siang anak-anak kaya yang nggak mau kulitnya kena matahari—ada payung besar dan kursi yang empuk. Begitu sampai… aku rasanya pengen pura-pura pingsan.
Di sana ada.
Nara—anak perempuan super cantik yang gaya fashion-nya kayak baru turun runway Milan.
Dipa—cowok tinggi, suaranya mirip penyiar radio mahal yang bikin cewek meleleh.
Rana—cewek sultan yang ketawanya halus tapi menusuk, kayak pisau yang manis.
Dan mereka semua menatap aku. Sekaligus.
“Eh, ini Kayyisa, kan?” Nara tersenyum ramah banget—ramahnya bikin aku malu. “Cakra banyak cerita soal kamu.”
AKU LANGSUNG BENGONG. CERITA? CERITA APA??? Bisa-bisa dia cerita gue lupa iket tali sepatu atau gue cuma makan permen buat makan siang!
Cakra cuma nyengir santai—NYENGIR—seolah dia nggak baru saja bikin jantungku mau copot dari tempatnya. “Dia yang selalu lupa bawa minum.”
“Akhirnya ketemu juga.” Dipa ngacungin tangan buat tos. “Katanya lo jago debat. Pas lomba debat tahun lalu, lo bikin lawan lo bingung sampe lupa ucapin salam.”
Aku nangis dalam hati. “Katanya siapa…” Tapi aku tos juga, karena aku manusia sopan yang nggak mau dianggap sombong.
Rana mendekat, mata dia ngeliat kaki ku. “Kaki lo kenapa? Pas masuk kelas kayaknya lo pincang dikit.”
Aku langsung tersedak udara—semua mata ke kaki ku! “Ah… itu… gue lupa iket tali sepatu tadi, jadi kesandung. Udah baik kok!”
Mereka ketawa kecil—bukan ngeledek. Tapi beneran ketawa lucu, kayak mereka udah nyaman sama aku. Gimana sih? Kenapa dunia mereka—yang biasanya aku pikir dingin dan eksklusif—tiba-tiba terasa… hangat?
Terus, Nara buka bekal bento fancy-nya yang dibungkus kain batik. Isinya nasi merah dengan lauk ayam panggang dan sayuran mentah yang segar. Lo tau nggak apa yang dia bilang?
“Lo mau? Aku bikin kebanyakan. Ayamnya dari restoran ayam panggang favoritku.”
Dan itu pertama kalinya dalam hidup aku ditawarin makanan seharga gaji harian aku dengan nada casual kayak dia nawarin ciki di warung. Aku mau nolak, tapi mulutku langsung ngomong. “Iya dong, makasih ya…”
Sambil duduk di sana, denger mereka ngobrol tentang acara ulang tahun, film yang baru tayang, atau tugas yang bikin kepala pusing, sesekali Cakra nyeletuk hal-hal kecil ke aku.
“Lo haus? Gue beli minum”
“Dingin nggak? Ini jaket gue”
“lo kayaknya ngantuk, tidur sebentar aja gak papa”. Aku ngerasain sesuatu yang… ngeri tapi indah.
Aku masuk ke dunia dia.
Dunia di mana mobil mahal cuma kendaraan biasa, bukan tanda status. Dunia di mana anak-anak ini saling suportif, nggak seangkuh yang aku kira—Nara ngasih saran baju ke Rana, Dipa bantu Cakra ngerjain soal matematika. Dunia di mana Cakra bukan “pangeran sekolah”, tapi cuma cowok biasa yang nyaman duduk dekatku, cowok yang mau ngelucu buat bikin gue senyum.
Dan yang paling gila?
Mereka nganggep aku bagian dari itu. Seperti aku sudah kenal mereka lama.
Padahal aku cuma… cewek yang kerja di kafe dan hidupnya diisi kalkulator hitung gaji dan pengeluaran.
Tapi justru itu yang bikin hati aku panas dingin. Karena kalau aku terlalu betah di sini… gimana caranya nanti keluar tanpa sakit?
Aku tiba-tiba sadar.
Dunia Cakra luas. Hangat. Aman. Dan aku, Kayyisa yang sederhana… benar-benar sedang tergelincir masuk. Tanpa peta. Tanpa pedoman.
Saat pulang, aku nyari alasan buat kabur secepat mungkin. “Gue ke kafe duluan ya! Kalau telat, supervisor gue marah!”
Tapi sebelum aku lari, Cakra manggil. “Sa.”
Aku menoleh, pipi ku panas sampe mau meleleh. Dia menatap aku lama—mata dia teduh… serius… dan entah kenapa, kayak dia ngerasa lega aku ada di sana hari ini.
“Thanks udah ikut.” Suaranya rendah, bikin dada aku terasa kaku. “Gue seneng.”
Dan tiba-tiba… dada aku terasa penuh. Seperti ada bunga yang baru mekar di dalamnya.
“Y-ya…” jawabku gagap, coba bercanda buat santai. “Gue… lumayan gak mati. Cuma hampir pingsan satu kali.”
Dia ngakak kecil. “Kemajuan. Besok coba nggak pingsan ya.”
Aku balik badan cepat. Takut kalau aku lama-lama bakal ngelakuin hal bodoh, kayak senyum lebar sampe mata bengkak atau… ngaku bahwa aku sudah mulai jatuh hati.
Karena masalahnya…
Sepertinya aku sudah mulai jatuh. Pelan-pelan. Tanpa sadar. Masuk ke dunia, ke ritme, ke orbit—yang namanya Cakra Adinata.
✨ Bersambung…